Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bertamu


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju kediaman Alvin, Hans tak henti-hentinya mengajak gadis cantiknya itu mengobrol. Hans benar-benar merasa senang bisa berduaan dengan wanita yang sudah mengaduk-aduk hatinya itu.


Sementara Sela terlihat sedikit gelisah memikirkan sesuatu yang akan terjadi saat tiba di rumahnya nanti.


"Apa yang kamu pikirkan Sela? Kamu tidak senang jika aku datang menemui keluargamu?" tanya Hans yang sedang memperhatikan kegelisahan Sela yang terlihat jelas diwajahnya.


"Tidak Hans, aku hanya takut jika kamu bertemu dengan sepupuku! Dia orangnya sedikit posesif. Sebenarnya dia itu sangat baik, tapi caranya menjagaku selama ini terlalu berlebihan." sahut Sela dengan tatapan penuh keraguan.


"Tidak apa-apa Sela! Bagus dong kalau dia memperhatikanmu seperti itu, berarti dia peduli padamu. Kamu tidak perlu takut, aku siap menghadapi apapun asalkan aku bisa bersamamu!" ucap Hans penuh keyakinan.


"Kamu terlalu berharap padaku, Hans. Aku takut mengecewakan dirimu." ucap Sela yang belum yakin dengan hatinya sendiri.


Hans melirik kearah Sela, tatapannya semakin menuntut sesuatu yang belum bisa Sela berikan padanya. Laki-laki gagah itu meraih tangan gadis cantik itu dan mengecupnya dengan lembut.


"Aku siap menerima segala konsekuensinya. Yang penting kamu percaya padaku, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku secepat ini. Aku hanya butuh waktu untuk membuktikan ketulusanku padamu!" ucap Hans dengan gamblang.


Sela kembali mengalihkan pandangannya dan menatap lurus kearah jalanan. Namun, dia tetap membiarkan tangan kanannya berada didalam genggaman laki-laki gagah itu.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua tiba di kediaman Alvin. Hans memarkirkan mobil Sela langsung kedalam garasi yang sudah tersedia di rumah mewah itu.


Sementara, sopir Hans memarkirkan mobilnya didepan gerbang sembari menunggu majikannya yang ingin bertamu di rumah mewah itu.


Seperti sebelumnya, Hans turun lebih dulu setelah mematikan mesin mobilnya. Laki-laki tampan itu turun dan melangkah kearah pintu lainnya dengan begitu gagah.


"Ayo, turunlah!" ucap Hans setelah membukakan pintu dan mengulurkan tangannya kearah Sela.


"Jangan Hans, aku takut ada yang melihatnya!" ucap Sela menolak uluran tangan Hans.


"Ya sudah, tidak apa-apa!" ucap Hans sembari menarik tangannya kembali.


Sela turun dari mobilnya dengan raut wajah yang mulai terlihat gugup. Tangan Hans pun dengan cepat mendorong pintu mobil hingga kembali tertutup rapat.


Perlahan kaki mereka berdua mulai melangkah beriringan menuju pintu utama kediaman Alvin. Hans bahkan berjalan begitu santai dengan sebelah tangan yang dimasukkan kedalam kantong celananya.

__ADS_1


Sesampainya didalam rumah, Sela mempersilahkan Hans untuk duduk di sofa ruang tamu. Gadis cantik itupun melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga untuk memanggil Alvin.


"Om, Tante!" sapa Sela sembari menundukkan kepalanya karena takut.


"Sela, kamu sudah pulang sayang?" ucap Alvin dan Ara berbarengan.


"Iya Om, Tante. A... Ada tamu yang ingin bertemu dengan Om Alvin di ruang tamu!" ucap Sela yang mulai terbata-bata.


"Siapa yang bertamu jam segini?" tanya Alvin dengan tatapan kebingungan.


"A... Anu Om, Ha..."


"Selamat malam Om Alvin!" sapa Hans yang tiba-tiba muncul di belakang Sela.


Sesaat gadis cantik itu langsung terperanjat saking kagetnya mendengar suara Hans yang begitu dekat dengan dirinya.


Sela hanya bisa melotot kan matanya menatap Hans yang dengan beraninya masuk menyusulnya ke ruang keluarga.


"Hans, ternyata kamu Nak! Om pikir siapa yang datang bertamu malam-malam begini." sambut Alvin yang langsung bangkit dari tempat duduknya.


Cika yang awalnya membelakangi Sela, dengan cepat memutar tubuhnya dan membuka matanya lebar-lebar.


Cika benar-benar tidak menyangka kalau Hans yang sudah menolongnya tempo hari adalah Hans yang sama dengan yang dibicarakan papa mertuanya.


"Hans, kamu..."


"Cika..."


Dua orang yang pernah bertemu itupun saling menatap satu sama lain. Pemandangan yang tidak disangka-sangka itupun seketika membuat Aldo merasa panas dan menghalangi pandangan istrinya dengan segera.


"Kemari lah Hans, duduklah disini!" ucap Alvin kepada laki-laki yang masih terpaku di samping Sela itu.


Mendengar ucapan Alvin, Hans pun langsung menggenggam tangan Sela dan membawanya berjalan kearah sofa.

__ADS_1


Sontak saja pemandangan itu membuat Alvin tersenyum bahagia. Tidak disangka, ternyata Sela dan Hans sudah saling mengenal sebelum di pertemukan.


"Duduklah disini bersama Om Alvin, aku duduk dibawah saja!" ucap Sela sembari melepaskan tangannya dari genggaman Hans.


Sela benar-benar merasa malu di hadapan keluarganya. Sikap Hans sepertinya sudah membuat Alvin salah paham dengan hubungan mereka.


Dengan raut wajah yang mulai merah merona, Sela menekuk kedua kakinya dan duduk tepat di sebelah Cika.


"Maafkan aku Om Alvin, tadi Sela keluar untuk menemui ku. Jangan memarahinya ya Om!" ucap Hans kepada Alvin.


"Hahahaha, untuk apa Om memarahi Sela. Dia itu sudah besar, Om yakin Sela bisa menjaga dirinya sendiri. Hanya saja, Om tidak menyangka kalau Sela itu ternyata janjiannya sama kamu." sahut Alvin sembari tertawa lepas.


"Iya Om, aku juga tidak menyangka kalau gadis yang aku sukai ini ternyata adalah gadis yang ingin kalian kenalkan. Tau gitu, aku tidak akan menolaknya!" ucap Hans tanpa ragu sedikitpun.


Mendengar perkataan Hans, Sela hanya tertunduk sembari menyembunyikan senyumnya yang begitu manis.


Tidak lama, Ilham pun keluar dari kamarnya setelah mengantarkan istri dan gadis kecilnya untuk beristirahat. Sesaat, kakak sepupu Sela itu hanya terdiam melihat laki-laki asing yang duduk di sebelah papanya tanpa berucap sepatah katapun.


Sementara, Cika dan Sela melangkah menuju dapur dan membuatkan minuman untuk tamu mereka.


"Sela, kamu ternyata sudah bertemu dengan Hans. Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Cika menggoda sahabatnya itu.


"Dia itu laki-laki yang aku ceritakan tadi, mana aku tau kalau ternyata dialah laki-laki yang di maksud Om Alvin!" sahut Sela dengan suara begitu pelan.


"Hahahaha, mungkin kalian sudah ditakdirkan untuk bersama. Padahal tadi Papa bilang dia menolak untuk dipertemukan sama kamu. Eh ternyata wanita yang disukainya itu adalah kamu." ucap Cika menertawakan sahabatnya itu.


"Hust, diamlah Cika. Jangan menggodaku lagi!" sahut Sela tersipu malu.


"Ya sudah, bawa minuman ini ke depan. Berikan kesan yang baik pada calon suamimu itu!" ucap Cika sembari memberikan minuman yang sudah mereka buat ke tangan Sela.


"Hei, dia bukan calon suamiku!" sahut Sela sembari menatap tajam kearah Cika.


Melihat ekspresi Sela, Cika hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Wanita yang tengah berbadan dua itu sangat senang melihat sahabatnya yang sudah bertemu dengan laki-laki sebaik Hans.

__ADS_1


Sela dan Cika pun kembali ke ruang keluarga membawa minuman dan cemilan untuk Hans yang sedang asyik mengobrol dengan Alvin.


__ADS_2