
Aldo merasa kesal dengan ucapan Cika yang asal-asalan. Dia bahkan tidak mengerti dengan tingkah Cika yang tiba-tiba saja berubah tanpa sebab yang jelas.
"Cukup kali ini saja aku mendengar kata-kata itu dari mulutmu! Jangan pernah mengulanginya lagi!" tegas Aldo meninggikan suaranya.
"Bukankah itu lebih baik untukmu. Jika aku mati, kamu bisa bebas berduaan dengan wanita itu!" balas Cika dengan suara yang tidak kalah tinggi dari Aldo.
"Apa? Wanita mana? Siapa? Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selain kamu." ucap Aldo menyerngitkan keningnya.
"Bohong, aku melihatnya sendiri. Tidak perlu berpura-pura polos di depanku!" ucap Cika yang mulai meradang.
"Dimana kamu melihatku bersama wanita lain?" tanya Aldo yang mulai bingung dengan ucapan Cika.
"Tadi, di parkiran." ucap Cika sambil memiringkan tubuhnya di atas kasur.
"Ya Tuhan, Cika! Jadi cuma gara-gara itu kamu sampai bertindak konyol seperti ini. Hahahaha,," ucap Aldo yang mulai tertawa menghadapi kecemburuan Cika.
Cika hanya terdiam didalam balutan selimutnya. Dia merasa kesal karena Aldo malah menertawakan dirinya.
"Dasar laki-laki gila! Bukannya meminta maaf, dia malah tertawa seperti orang bodoh." gumam Cika sambil menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
Aldo naik ke atas kasur, dia memeluk tubuh Cika dari arah belakang. Cika yang hanya dibalut selimut merasa gelisah dengan tindakan Aldo.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" bentak Cika.
"Tidak akan!" balas Aldo yang semakin mempererat pelukannya.
Cika semakin salah tingkah dengan kelakuan Aldo. Wajahnya seketika memerah karena takut Aldo akan bertindak konyol terhadap dirinya.
"Pergilah! Aku ingin memakai pakaian." ujar Cika yang mulai merasa bergetar di sekujur tubuhnya.
"Bolehkah aku masuk ke dalam selimut ini?" pinta Aldo yang mulai terbawa suasana.
"Jangan gila Aldo! Aku sedang marah kepadamu. Jangan berpikir macam-macam!" ketus Cika, dan dengan cepat menahan selimut yang membaluti tubuhnya.
"Jangan marah, sayang! Aku tidak pernah mengkhianatimu. Wanita itu mungkin saja menyukaiku, tapi aku tidak pernah mempedulikannya. Aku hanya milikmu seorang." bisik Aldo tepat di telinga Cika yang membuat bulu kuduk Cika berdiri seketika.
Sesaat Cika kembali terdiam karena merasa ada getaran yang aneh menggerogoti sekujur tubuhnya. Hembusan nafas Aldo membuat kemarahannya hilang seketika.
"Sayang, boleh ya!" pinta Aldo dengan deru nafas yang mulai tidak beraturan.
__ADS_1
Aldo mulai kehilangan akal sehatnya, pikirannya sudah kembali di kuasai oleh hal-hal aneh yang membuat hasrat di jiwanya meronta ingin mendapatkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tangan Aldo pun mulai menjelajah ke bagian pegunungan kembar milik Cika, yang dari tadi terlihat menggoda hanya berbalut selimut.
"Jangan Aldo! Apa yang kamu lakukan? Kita sudah berjanji tidak akan melakukannya sebelum hari itu tiba." ucap Cika sambil menahan tangan calon suaminya itu.
"Iya, aku ingat dengan janjiku!" ucap Aldo sambil mengecup kening wanita tercintanya itu.
"Jangan marah lagi ya! Aku hanya mencintai kamu seorang. Hati dan tubuhku ini hanya milikmu saja. Jadi, jangan pernah meragukan ku lagi!" tambah Aldo.
Aldo bangkit dari tempat tidur. Dia lebih memilih untuk menahan hasratnya daripada harus menyakiti wanita yang sangat dia cintai itu.
"Pakai pakaianmu! Aku tunggu diluar! Cacing di perutku sudah melompat-lompat meminta jatahnya." ucap Aldo sambil tersenyum dan meninggalkan Cika sendirian di kamar.
Cika bangkit dari tempat tidur dan segera memakai pakaiannya. Tidak lama Cika pun keluar menemui Aldo.
"Ayo, sini! Duduklah di sampingku!" ucap Aldo sambil membuka makanan yang tadi sudah dia beli di restauran.
Cika hanya bisa menurut. Dia pun segera duduk di sebelah Aldo sambil menyantap makanan yang sudah Aldo bukakan untuknya.
Selesai makan, mereka berdua duduk di sofa sambil menonton acara di televisi. Aldo merebahkan kepalanya ke pundak Cika.
"Sayang, lain kali jangan seperti tadi ya! Kalau ada masalah, lebih baik dibicarakan langsung. Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti tadi! Aku tidak suka." pinta Aldo sambil mencium tangan Cika dengan lembut.
"Kamu tau kan kalau calon suamimu ini sangat tampan, dan banyak digilai para wanita diluar sana. Untuk itu, kamu jangan langsung cemburu buta seperti tadi!" Aldo menasehati Cika agar lebih dewasa menghadapi setiap masalah yang datang diantara mereka.
"Lalu aku harus ngapain?" tanya Cika.
"Kamu gak perlu melakukan apa-apa! Kamu cukup berdiri di sampingku saja saat ada wanita lain yang ingin menggodaku." balas Aldo.
Cika sejenak terdiam memikirkan kata-kata Aldo. Dia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh calon suaminya itu.
"Aku tidak akan pernah berpaling darimu apapun yang terjadi. Kamu adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirku. Hanya maut yang akan memisahkan kita berdua." gumam Aldo sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa dan menggunakan paha Cika sebagai bantalan kepalanya.
Cika merasa terharu mendengar ucapan Aldo. Diapun mencium kening Aldo yang sudah mulai terlelap di pangkuannya.
"Terimakasih, sayang!" gumam Cika sambil mengusap kepala Aldo.
Aldo sudah masuk ke alam bawah sadarnya, Cika pun ikut memejamkan matanya dan bersandar di sandaran sofa.
Pukul 19.00 malam, Aldo terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum melihat wanita cantik yang sedang terlelap memangku kepalanya.
__ADS_1
Aldo mulai teringat dengan ucapan mamanya. Dia berniat untuk mengantarkan Cika ke apartemen Sela. Aldo pun bangkit dan segera duduk di samping wanita cantiknya.
"Sayang, bangun!" ucap Aldo sambil mengecup lembut bibir Cika yang selalu membuatnya tergoda.
"Hmmm,"
"Bangun, sayang! Atau aku akan menggigit bibirmu itu." tambah Aldo yang membuat Cika bergegas membuka kedua matanya.
"Ayo, buruan mandi! Aku akan mengantarmu pulang ke apartemen Sela!" ucap Aldo yang sebenarnya masih ingin bersama Cika.
Cika melangkah meninggalkan Aldo. Dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Cika keluar dari kamar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Aku sudah selesai, sekarang giliran kamu." ucap Cika sambil melangkah kembali ke dalam kamar untuk merapikan rambutnya.
Aldo masuk ke kamar mandi, sementara Cika membuka lemari untuk menyiapkan pakaian Aldo.
Aldo keluar, dia hanya bisa tersenyum melihat pakaiannya sudah ada di atas kasur.
Cika melangkah kearah Aldo. Aldo sedikit salah tingkah karena tidak biasanya Cika seperti itu. Aldo sempat berpikiran kalau Cika akan menggodanya begitu melihat tubuh Aldo yang hanya dibalut handuk.
Cika semakin dekat sehingga membuat Aldo sempat menahan nafasnya.
"Kamu kenapa?" tanya Cika yang mulai bingung melihat raut wajah Aldo.
"Kamu mau ngapain, sayang?" tanya Aldo balik dengan nafas yang mulai tak beraturan.
"Aku mau melihat lukamu, sudah kering atau belum." jawab Cika dengan santainya.
Aldo membuang nafasnya dengan raut wajah yang sudah tidak seperti biasanya. Dia hanya bisa mengusap kepalanya karena merasa malu dengan pikiran kotornya sendiri.
"Luka kamu sudah mengering, apa masih terasa perih?" tanya Cika sambil meniup luka di pinggang Aldo.
"Sudah tidak apa-apa, sayang! Tidak perlu khawatir!" balas Aldo sambil mengecup kening Cika.
"Ya sudah, pakai pakaianmu!" ucap Cika sambil melangkah meninggalkan kamar.
"Cika, kamu benar-benar telah membuatku seperti orang bodoh." batin Aldo sambil tersenyum dan menggaruk garuk kepalanya sendiri.
__ADS_1