
Semua orang telah berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing. Sesaat rumah besar itu terasa sepi, hanya ada Aldo dan Cika yang memang tidak ingin pergi kemana-mana.
Cika sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Dia tengah asyik menonton film di layar ponselnya. Tiba-tiba Aldo datang menghampirinya.
"Sayang,!" ucap Aldo sambil meraih tangan istri cantiknya.
"Ya, ada apa?" sahut Cika dengan wajah sangat santainya.
Tanpa berkata-kata, Aldo segera menarik tangan istrinya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka berdua.
"Kita mau kemana?" tanya Cika yang sedikit kaget dengan tindakan suaminya.
"Menagih janji." jawab Aldo sambil memperlihatkan senyuman mesumnya.
"Apa tidak bisa menunggu sampai nanti malam?" ucap Cika yang mulai gugup melihat tatapan tajam suaminya.
"Sama saja! Tidak ada bedanya sekarang atau nanti malam. Kita akan tetap melakukannya!" sahut Aldo yang sudah semakin tidak sabar untuk mendapatkan haknya.
Sesampainya didalam kamar, Aldo segera membaringkan istrinya di atas tempat tidur. Dia pun segera mengunci pintu agar lebih leluasa melakukan aksinya.
"Sudah waktunya, sayang!" ucap Aldo sembari naik keatas kasur dan menindih tubuh istrinya.
Cika hanya bisa melotot menatap wajah suaminya yang sudah sangat dekat dengan wajahnya.
"Boleh aku lakukan sekarang?" tanya Aldo sambil mencium lembut kening istri cantiknya penuh perasaan.
"Tapi, Aldo,,,!"
Aldo bahkan tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada istrinya untuk mencari-cari alasan lagi. Deru nafas yang mulai menggelora membuat Aldo tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Dia segera ******* bibir merah jambu istrinya itu dengan penuh perasaan. Aldo bahkan tidak melewatkan setiap inci pun dari bibir manis istrinya yang sangat menggoda itu.
Cika pun seketika masuk kedalam jeratan hasrat suaminya. Dengan nafas yang mulai menyesakkan dada, Cika mulai membalas permainan suaminya. Mereka pun saling membalas satu sama lain.
Aldo semakin tidak terkendali setelah mendapatkan perlawanan dari istri cantiknya, tatapan matanya mulai menunjukkan kalau dirinya benar-benar menginginkan itu.
Aldo mulai turun sembari mengecup setiap inci leher istrinya. Sentuhan itupun membuat bulu kuduk Cika berdiri seketika. Cika hanya bisa menutup mata sembari menikmati setiap sentuhan lembut dari suaminya.
__ADS_1
Aldo sudah seperti macan haus, dia mulai merasa panas dengan keringat yang sudah bercucuran membasahi tubuhnya. Tangannya perlahan menyelinap masuk menjelajahi pegunungan kembar istrinya.
Seketika tatapan Aldo berubah, melihat pemandangan indah yang ada didepan matanya. Cika lagi-lagi hanya bisa menutup mata karena malu dengan apa yang sudah disaksikan oleh suaminya.
Aldo sudah tidak sanggup menahan keinginannya, dengan cepat dia melahap pegunungan kembar istrinya sembari bermain-main dengan biji kelengkeng yang ada di ujung sana.
Suara ******* Cika membuat Aldo semakin menggila, yang membuat Cika tak kuasa menahan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"A... Aldo!" Berkali-kali sekujur tubuh Cika dibuat bergetar.
Keinginan yang sudah semakin menggelora, membuat Aldo tidak tahan lagi untuk segera melakukan apa yang selama ini dia tahan.
"Sayang!" ucap Aldo sambil mengecup lembut kening istrinya.
Cika hanya menatap dalam ke wajah suaminya tanpa bisa berkata-kata.
"Boleh kan?" ucap Aldo meminta izin kepada istri cantiknya itu.
Cika hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin berdosa menolak keinginan suaminya, apalagi tubuhnya juga sudah sangat merespon setiap sentuhan yang dilayangkan oleh suami tampannya itu.
"Tahan ya, sayang!" ucap Aldo dengan nafas yang terasa hangat di telinga Cika.
Sesaat Aldo merasa iba, mata istrinya sudah mulai berkaca-kaca. Sejenak Aldo berpikir untuk menghentikan aksinya. Namun dia juga tidak sanggup menahan keinginannya itu.
Aldo mundur dari posisinya, dia segera bermain di permukaan sawah yang ada didepan matanya itu. Aldo berupaya untuk mengairi sawah itu.
"Sayang,,,!" Cika menggeliat sembari mencakar pundak suaminya.
"Jeblek..."
Pesawat Aldo berhasil lepas landas setelah bersusah payah lumayan lama.
Selama kurang lebih satu jam, akhirnya lumpur lapindo itupun menyembur dan seketika membuatnya tersungkur di atas kasur.
Cika bahkan tidak sanggup lagi untuk menggerakkan tubuhnya. Kebuasan Aldo membuatnya terkulai tidak berdaya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang! Aku sangat mencintaimu!" ucap Aldo sambil mengecup kening Cika dan memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat.
"Aku juga sangat mencintaimu, Aldo!" balas Cika sambil tersenyum dan mengusap kepala suaminya.
Apa yang baru saja terjadi, membuat mereka benar-benar lelah dan terlelap di atas kasur sambil berpelukan.
Sementara di rumah sakit, Mila sudah selesai diperiksa oleh dokter. Mereka bertiga sudah tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan yang masih berada di tangan dokter yang menangani Mila.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ilham yang semakin khawatir dengan kondisi istrinya.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Pak Ilham!" jawab dokter Nia dengan sangat ramah.
"Maksud dokter apa? Kalau istri saya tidak apa-apa, kenapa tubuhnya lemah dan mual-mual seperti ini?" tanya Ilham yang semakin penasaran.
"Itu semua hal yang sangat wajar untuk seorang wanita yang tengah mengandung seperti istri bapak." jawab dokter Nia sambil tersenyum.
"Apa? Maksud dokter menantu saya sedang hamil?" sambung Ara yang juga penasaran dengan kondisi menantunya.
"Iya, benar Buk! Selamat ya, saat ini kandungan menantu ibu sudah memasuki usia 8 minggu. Tolong dijaga baik-baik ya! Ibu Mila harus banyak beristirahat." jelas dokter Nia sambil memberikan resep obat dan vitamin untuk Mila.
"Baik, Dok! Terimakasih!" sahut Ara dan Ilham secara bersamaan.
Ilham tak kuasa menahan kebahagiaannya, dia segera memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Begitupun dengan Ara yang sangat bahagia karena akan menjadi seorang nenek.
"Selamat ya, sayang! Mama sangat bahagia karena sebentar lagi akan memiliki cucu dari kalian berdua." ucap Ara dengan penuh rasa haru.
"Terimakasih, Ma!" sahut Ilham dan Mila secara bersamaan.
"Ayo, kita segera pulang! Mama sudah tidak sabar ingin memberitahu papa dan adik-adik kalian tentang kabar bahagia ini." ucap Ara dengan wajah yang berbinar-binar.
Mereka bertiga pulang ke rumah setelah menebus obat dan vitamin penguat kandungan untuk Mila.
Saat ini Ara merasa sangat beruntung. Kebahagiaan yang dia dapatkan tidak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Baru saja dia merasakan kebahagiaan setelah mendapatkan menantu yang sangat cantik dan baik untuk putra bungsunya, hari ini ditambah dengan kebahagiaan akan kehadiran calon bayi didalam kandungan menantu pertamanya.
Hari sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Keadaan rumah masih terasa sangat sepi karena Aldo dan istrinya masih terlelap didalam kamar.
__ADS_1
"Sayang, bawa istri kamu ke kamar dulu ya! Mila harus beristirahat!" perintah Ara kepada putra sulungnya.
"Iya, Ma!" sahut Ilham sambil memapah istri cantiknya.