
Beberapa jam kemudian
Laki-laki asing itu masuk kedalam ruang rawat untuk melihat keadaan wanita yang telah di tolong nya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki asing yang berdiri di samping tempat tidur Cika itu.
"Aku tidak apa-apa! Hanya pusing sedikit. Terimakasih, sudah menolongku dan membawaku ke rumah sakit ini!" ucap Cika kepada laki-laki asing itu.
"Tidak usah berterimakasih! Sudah seharusnya saling membantu jika ada yang membutuhkan bantuan. Oh ya, kenalkan namaku Hans!" ucap laki-laki asing itu sembari mengulurkan tangannya kearah Cika yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Aku, Cika!"
Cika tidak membalas uluran tangan dari Hans. Dia hanya mengatupkan kedua tangannya sembari menyebutkan namanya.
"Hm, maaf!" ucap Hans sambil menarik kembali tangannya.
"Tidak apa-apa!" sahut Cika.
"Oh iya, aku hampir lupa. Ini hasil pemeriksaan kamu. Tadi dokter yang memberikannya kepadaku!" ucap Hans sambil memberikan sebuah amplop putih ke tangan Cika.
"Terimakasih!" sahut Cika dan langsung mengambil amplop yang diberikan Hans kepadanya.
Cika segera membuka amplop yang sudah ada di tangannya itu. Didalamnya ada sehelai kertas yang langsung dibaca oleh Cika.
"Positif...? ? ?"
"Ya Tuhan, apakah aku sedang bermimpi?" batin Cika yang terkejut melihat hasil pemeriksaannya.
"Aku hamil? Apa ini benar?" batin Cika yang sama sekali tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat.
Cika menarik jarum infus yang masih terpasang di punggung tangannya dan bergegas turun dari tempat tidur.
"Cika, kamu mau kemana?" tanya Hans sambil mengulurkan tangannya hendak membantu Cika.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" ucap Cika sambil melangkah terburu-buru meninggalkan ruangannya.
Merasa aneh dengan gelagat Cika, Hans pun mengikutinya dari belakang.
Cika melangkah memasuki ruangan Dokter untuk mencari tau kebenaran tentang hasil pemeriksaannya itu.
"Dokter, apa maksud semua ini?" tanya Cika yang langsung pada pokok pembicaraannya.
"Tenang dulu, Bu! Silahkan duduk!" jawab Dokter Hana yang yang bingung melihat kepanikan dari wajah pasiennya.
"Apa maksud semua ini, Dok?" tanya Cika yang sudah mulai sedikit tenang.
"Seperti yang telah Ibu lihat! Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Ibu sedang hamil 7 minggu. Selamat ya!" ucap Dokter Hana yang membuat Cika hampir mengeluarkan biji matanya.
"Mungkin Dokter salah, aku tidak mungkin hamil." ucap Cika yang masih tidak percaya dengan kehamilannya.
"Tidak ada yang salah, Bu! Kalau Ibu tidak percaya mari kita lakukan USG!" ucap Dokter Hana.
Setelah melakukan USG, Cika meneteskan air matanya karena merasa bahagia atas kehamilannya yang sudah lama dia tunggu-tunggu.
"Terimakasih, Dok! Aku permisi dulu!" ucap Cika sembari meninggalkan ruangan Dokter dengan langkah tertatih tatih.
Sesaat, Cika merasa bahagia setelah melihat sendiri janin yang sedang berkembang didalam perutnya. Namun di sisi lain, hatinya merasa sedih mengingat pengkhianatan yang sudah dilakukan oleh suami yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Aku mengandung buah cinta kita, Aldo! Nyawa yang tak berdosa ini sedang tumbuh didalam sini." gumam Cika sembari mengusap perutnya dengan lembut.
"Ada apa Cika?" tanya Hans yang sedang menunggu didepan pintu.
"Tidak apa-apa! Terimakasih, sudah membantuku. Aku ingin pulang!" ucap Cika sembari melangkah meninggalkan Hans.
"Aku antar ya!" ucap Hans yang kembali mengikuti Cika.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" sahut Cika yang kembali masuk kedalam ruang rawatnya.
Cika mengganti pakaiannya kembali dan bergegas meninggalkan rumah sakit.
"Kemana aku akan pergi?" batin Cika sembari menangis tersedu tanpa tau arah tujuan.
Hans kemudian mengikuti Cika dari belakang. Dia merasa kasihan melihat Cika yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu mau kemana? Biar aku antar!" ucap Hans.
"Hans, tolong tinggalkan aku sendiri!" Aku benar-benar berterimakasih kepadamu. Biarkan aku pergi!" sahut Cika yang tidak ingin menerima bantuan dari laki-laki asing itu.
Satu bulan kemudian
Satu bulan telah berlalu semenjak kepergian Cika. Malam itu Ilham dan Mila datang ke rumah orang tuanya untuk mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka.
Seminggu menjelang lahiran, Ara dan Alvin meminta putra bungsunya untuk tinggal di rumah mereka. Kelahiran cucu mereka yang tinggal menghitung hari, membuat Ara tidak ingin jauh-jauh dari menantu pertamanya.
Sementara, Aldo masih terpuruk dan lebih banyak menyendiri didalam kamarnya.
"Aldo mana, Ma?" tanya Ilham yang tidak melihat batang hidung adiknya sama sekali.
Ilham dan Mila naik ke lantai atas untuk melihat keadaan adiknya.
"Tok... Tok... Tok"
Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.
"Kreeek"
Ilham mendorong pintu kamar dan melangkah masuk untuk menemui adiknya.
"Aldo...!"
Ilham terkejut melihat adiknya yang sudah seperti mayat hidup. Kurus dan berantakan.
"Kak..."
Aldo menghampiri Ilham dan memeluk kakaknya sambil menangis di pelukan Ilham.
"Kamu jangan begini, Aldo! Kamu harus kuat!" ucap Ilham sembari menepuk nepuk punggung adiknya.
"Aku tidak bisa, Kak! Aku tidak bisa hidup tanpa Cika. Aku sangat merindukannya." sahut Aldo.
"Kakak mengerti, tapi kamu tidak boleh lemah seperti ini!" ucap Ilham yang begitu sedih melihat keadaan adiknya.
"Aku rasanya ingin mati, Kak!" ucap Aldo sembari melangkah kearah sofa.
"Aldo, itu foto siapa?" tanya Mila memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
Aldo menoleh kearah foto yang ditunjuk oleh kakak iparnya itu.
"Itu foto ayahnya Cika, Kak! Cika pergi tanpa membawa apa-apa dari rumah ini." ucap Aldo.
Mila melangkah kearah meja dan mengambil foto yang tadi sempat mencuri perhatiannya.
"Kakak seperti pernah melihat foto ini sebelumnya. Tapi kakak lupa dimana?" ucap Mila sembari menatap foto pria itu dengan seksama.
Ilham dan Aldo pun melirik kearah Mila dengan raut wajah kebingungan.
"Sayang, kamu pernah melihat ayahnya Cika?" tanya Ilham yang mulai penasaran dengan ekspresi istrinya.
"Tidak, sayang! Aku tidak pernah melihatnya, tapi aku seperti pernah melihat foto yang sama!" ucap Mila yang sedang mengingat ingat kembali dimana dia pernah melihat foto itu.
Mila seperti sedang berpikir keras untuk mengingat kembali dimana dia pernah melihat foto itu.
"Ya Tuhan, ini tidak mungkin!" gumam Mila sambil menekuk kakinya di atas ranjang Aldo.
"Kamu kenapa, sayang? Apa perutmu sakit?" tanya Ilham yang mulai khawatir melihat istrinya yang sedang terduduk lemas.
"Tidak, aku tidak apa-apa!" sahut Mila dengan tatapan yang aneh.
Mila terdiam sejenak, pikirannya sedikit terganggu dengan foto yang baru saja dia lihat itu.
"Papa, Mila telah menemukannya. Om Benny ternyata sudah tiada. Papa pasti sudah bertemu dengannya di alam sana." batin Mila sembari meneteskan air matanya.
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Ilham yang semakin bingung melihat istrinya.
"Sayang, kita pulang sebentar ya!" ajak Mila yang ingin memastikan sesuatu.
"Kenapa pulang? Kita akan tetap disini sampai kamu melahirkan!" ucap Ilham sembari memeluk tubuh istrinya.
"Sebentar saja, aku mohon! Ada yang perlu aku tunjukkan padamu." ucap Mila kepada suaminya.
"Baiklah, kita pulang!" sahut Ilham sembari membimbing tangan Mila keluar dari kamar Aldo.
Aldo hanya terdiam melihat reaksi kakak iparnya setelah melihat foto ayahnya Cika. Sementara, Ilham dan Mila kembali ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah, Mila segera masuk ke kamar ayahnya dengan raut wajah yang sudah gelisah tak menentu.
"Sayang, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" ucap Mila yang membuat Ilham semakin bingung.
Mila membuka lemari ayahnya dan mengeluarkan album foto yang tersimpan rapi didalam sana.
"Sayang, kamu lihat ini kan?" ucap Mila sembari melihatkan beberapa foto kepada suaminya.
"Ini,,, ini bukannya foto ayah Cika yang kita lihat dikamar Aldo tadi." sahut Ilham dengan wajah tidak percaya.
"Iya, kamu benar!" ucap Mila.
"Kenapa Papa bisa menyimpan foto ini?" tanya Ilham bingung.
"Ini tuh fotonya Om Benny, dia adalah adiknya Papa. Sebelum Papa meninggal, Papa pernah berpesan untuk mencari keberadaan Om Benny dan anaknya." ucap Mila menjelaskan kepada suaminya.
"Jika ini benar foto Om kamu, berarti Cika,,,"
"Cika adalah adikku, adik sepupuku." tambah Mila sembari menangis dan memeluk suaminya.
__ADS_1