Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 36. Cemburu


__ADS_3

"Kalian berdua adalah wanita yang sangat aku sayangi setelah mama. Aku tidak ingin membedakan kalian berdua. Cika adalah cintaku, dan kamu adalah adikku. Aku ingin melihat kalian semua bahagia." ucap Aldo yang seketika membuat Cika dan Sela merasa terharu.


Mata Cika mulai berkaca-kaca mendengar ucapan calon suaminya itu. Aldo benar-benar sosok laki-laki yang sangat baik dan bertanggungjawab.


Sela berlari kearah sahabat dan sepupunya itu, dia memeluk mereka berdua dengan penuh rasa sayang.


"Aku menyayangi kalian berdua." ucap Sela yang juga mulai berkaca-kaca.


"Sudah cukup drama nya! Sekarang selesaikan pekerjaan kamu!" ucap Aldo yang secara tidak langsung ingin Sela kembali ke ruangannya karena dia ingin berdua saja bersama Cika.


"Aku lagi," ucap Sela sedikit keberatan.


"Iya, kamu! Siapa lagi?" balas Aldo.


"Kapan aku punya waktu untuk pacaran kalau setiap hari harus berkutat diruang kerja seperti ini." umpat Sela.


"Kamu punya pacar?" tanya Aldo menyelidik.


"Tidak," jawab Sela.


"Tenanglah, nanti aku carikan! Mau yang hitam, pendek, pesek atau gimana?" tanya Aldo yang berniat menggoda Sela.


"Aldo!" Sela meninggikan suaranya karena merasa kesal dengan ucapan Aldo.


"Iya, iya, nanti aku carikan yang tampan buat adikku yang cantik ini." ucap Aldo sambil mengusap kepala Sela.


Aldo merasa senang berada di antara kedua wanita cantik itu. Hatinya yang dulu hampa, sekarang sudah terisi dengan kehadiran Cika bersamanya. Begitupun Sela yang tidak pernah jauh dari dirinya.


"Sela, kami mau pulang dulu ke apartemen. Tolong selesaikan berkas yang diperlukan untuk besok, ya!" ucap Aldo.


"Iya, beres." ucap Sela sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.


Sela kembali ke ruangannya membawa berkas yang ada di meja kerja Aldo. Sementara Aldo dan Cika melangkah meninggalkan kantor.


Di perjalanan menuju apartemen, Cika kembali kepikiran dengan ibunya. Dia ingin sekali menghubungi ibunya, tapi dia tidak ingin melakukannya di dekat Aldo.

__ADS_1


"Sayang, lagi mikirin apa?" tanya Aldo yang melihat raut wajah Cika seperti memikirkan sesuatu.


"Gak ada, aku cuma sedikit lelah." ucap Cika berbohong kepada calon suaminya.


Mobil Aldo berhenti di sebuah restauran. Aldo ingin mengajak Cika untuk makan di sana. Tapi mengingat ucapan Cika tadi, Aldo mengurungkan niatnya dan memilih untuk dibungkus saja.


"Kamu tunggu di mobil ya! Aku mau beli makanan dulu." ucap Aldo sambil mematikan mesin mobilnya.


Aldo berjalan memasuki restauran, dia memesan beberapa makanan untuk dibawa ke apartemen.


Setelah mendapatkan makanan yang dia pesan, Aldo segera melangkah mendekati mobilnya kembali. Namun, disaat memasuki parkiran, langkah Aldo terhenti karena mendengar suara yang memanggil namanya.


"Aldo!" ucap Melia yang kebetulan juga berada di sana.


"Iya, Melia! Ada apa?" jawab Aldo dengan santai.


"Kamu mau kemana? Temani aku makan dong!" ucap Melia sambil menggandeng tangan Aldo.


Cika yang berada di dalam mobil, seketika merasa kesal melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Hatinya merasa panas melihat laki-laki yang dia cintai bersama wanita lain.


Sementara Aldo yang merasa risih dengan kelakuan Melia dengan segera menarik tangannya dan menghindar dari Melia.


Aldo masuk ke dalam mobil dan melaju menuju apartemen. Di dalam perjalanan Cika sama sekali tidak bersuara. Hatinya masih sakit mengingat kejadian di parkiran tadi.


Mereka masuk ke dalam apartemen milik Aldo. Cika bergegas melangkah ke dalam kamar dan masuk ke kamar mandi. Dia menumpahkan segala kekesalannya dengan mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Dasar laki-laki buaya, katanya tidak pernah dekat dengan wanita lain. Tapi dengan santainya dia bergandengan tangan dengan wanita itu di tempat umum." gumam Cika yang benar-benar sudah di kuasai amarahnya terhadap Aldo.


"Sayang, kamu ngapain di dalam?" teriak Aldo dari balik pintu kamar mandi.


Cika hanya terdiam, dia tidak ingin menyahut apalagi membukakan pintu. Hatinya terasa hancur mengingat semua yang telah dia lihat didepan mata kepalanya.


Rasa cemburu yang bersarang didalam hati Cika, membuatnya semakin rapuh. Bahkan tanpa sadar dia telah menyakiti dirinya sendiri. Tubuhnya mulai bergetar karena masih berada dibawah guyuran air.


Aldo sedang menunggu Cika untuk makan bersama. Sudah setengah jam, tapi Cika masih belum keluar dari kamar mandi. Perasaan Aldo mulai gelisah memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi dengan wanita cantiknya itu.

__ADS_1


"Cika, sayang! Cika, kamu ngapain didalam selama ini?" teriak Aldo yang mulai terlihat panik.


Tanpa berpikir panjang, Aldo mencoba untuk membuka paksa pintu kamar mandi. Dia sudah benar-benar kalut karena tidak mendapat jawaban sama sekali dari Cika.


Gubraaaaak...


Pintu kamar mandi terbuka. Aldo masuk dan betapa terkejutnya dia melihat Cika yang sudah setengah sadar terduduk di lantai kamar mandi.


"Astaga, Cika! Sayang, kamu kenapa?" Aldo segera mematikan shower yang masih mengguyur tubuh Cika. Aldo juga mencoba menyadarkan Cika sambil menepuk nepuk pipi calon istrinya itu.


"Kamu jahat," Cika hanya mengatakan dua kata itu sebelum akhirnya dia benar-benar tidak sadarkan diri.


Aldo semakin panik melihat Cika yang sudah terkulai lemas di dalam dekapannya. Tanpa berpikir panjang, Aldo segera mengangkat tubuh Cika dan menggendongnya ke atas kasur.


Aldo semakin gelisah memikirkan Cika yang masih menggunakan pakaian basah. Dia berpikir kalau Cika bakalan sakit jika masih menggunakan pakaian itu.


Tanpa memikirkan akibat yang akan dia tanggung, Aldo dengan cepat menutup tubuh Cika dengan selimut.


"Maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini." batin Aldo.


Setelah tubuh Cika tertutup, Aldo mulai membuka satu persatu pakaian Cika tanpa melihat ke dalam selimut.


Setelah semua terbuka, Aldo kembali menutup rapat tubuh Cika agar tidak kedinginan. Aldo membiarkan Cika dalam posisi seperti itu, dia juga bingung harus bagaimana. Kalau dia memakaikan baju ganti untuk Cika, otomatis semua pemandangan indah pedesaan akan terpampang nyata didepan matanya. Termasuk pegunungan dan sawah sepetak yang belum pernah dia garap sebelumnya.


"Sayang, bangun! Cika, sayang, bangun!" Aldo masih saja mencoba untuk membangunkan Cika.


Tidak lama, Cika pun membuka kedua matanya. Dia melihat Aldo tengah duduk disampingnya dengan raut wajah sedih.


"Sayang, kamu sudah sadar?" ucap Aldo sambil mengusap rambut Cika.


Cika merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia mencoba mengintip ke dalam selimut.


"Ahhhk,,, apa yang sudah kamu lakukan Aldo?" Cika berteriak histeris melihat tubuhnya yang sudah polos dan hanya ditutupi selimut.


"Tenang, sayang! Aku tidak melakukan apa-apa kepadamu. Aku hanya membantu melepaskan pakaianmu yang sudah basah kuyup. Aku tidak mungkin membiarkanmu dalam keadaan seperti itu. Itu bisa membuatmu sakit." jelas Aldo.

__ADS_1


"Biarkan saja aku sakit! Bahkan jika aku mati sekalipun, itu tidak ada urusannya denganmu. Pergi saja! Aku tidak ingin melihatmu lagi," teriak Cika yang membuat gempar seisi kamar.


"Cika! Tolong jaga bicaramu!" tegas Aldo yang tidak suka mendengar ucapan Cika.


__ADS_2