Hati Berdarah

Hati Berdarah
Hasrat Aldo


__ADS_3

Setelah kepergian Hans dan papanya, Sela memutuskan pergi ke kamarnya dan berbaring sejenak untuk meregangkan ototnya yang mulai terasa kaku.


Berbeda dengan Cika dan Ara yang justru tengah sibuk membahas rencana pernikahan Sela yang tinggal menghitung hari.


Ara bahkan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik. Dia ingin pernikahan Sela berjalan dengan lancar dan meriah, sama seperti pernikahan Ilham dan Aldo sebelumnya.


"Apa Mama butuh bantuan Cika?" tanya Cika yang ingin ikut andil mengurusi persiapan pernikahan Sela.


"Tidak perlu sayang, Mama sudah menyerahkan semuanya kepada wedding organizer. Tugas kita saat ini hanya menyelesaikan gaun pengantin Sela." jawab Ara.


"Baiklah Ma, semoga saja semuanya berjalan sesuai keinginan. Cika sudah tidak sabar ingin melihat Sela menjadi ratu sehari, dia pasti akan terlihat sangat cantik pada hari itu." ucap Cika dengan senyumnya.


"Tentu saja, gadis itu pasti terlihat cantik sekali di hari bahagianya nanti." sahut Ara.


Karena sudah tidak ada lagi yang ingin Cika bahas dengan mama mertuanya, dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat sembari menunggu kepulangan suaminya dari kantor.


*****


Pukul 16.00 sore, Aldo pulang ke kediamannya dan mendapati Cika yang tengah terlelap di atas tempat tidur mereka. Aldo kemudian melepaskan pakaiannya dan melangkah ke arah tempat tidur.


Saking lelahnya setelah seharian bekerja di kantor, Aldo memutuskan untuk berbaring sejenak di samping istrinya yang masih tertidur pulas.


Menyadari ada yang bergerak di sampingnya, Cika pun terperanjat kaget dan bergegas membuka kelopak matanya.


"Aldo, kamu sudah pulang?" tanya Cika yang masih terlihat mengantuk.


Aldo yang melihat ekspresi istrinya itupun tampak tersenyum sumringah dan memeluk istrinya dengan erat.


"Sudah sayang, kenapa melihatku seperti tadi?" tanya Aldo balik.


"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja barusan. Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Cika lagi.


"Tidurmu begitu nyenyak, aku tidak ingin mengganggu istirahat istriku." sahut Aldo dengan tatapan yang tak biasa.


Aldo melepaskan pelukannya dan menatap wajah Cika dengan intens. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi jelas sekali terlihat dari sorot matanya kalau dia sedang menginginkan sesuatu.


"Kenapa menatapku seperti itu, apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Cika heran.


"Tidak ada yang aneh, aku hanya sedang memikirkan sesuatu." sahut Aldo sembari tersenyum tipis.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Cika mencari tau.

__ADS_1


"Entahlah, tapi sepertinya aku sedang menginginkan dirimu." sahut Aldo dengan tatapan penuh hasrat.


"Jangan mulai Aldo, ini masih sore!" ketus Cika.


Cika mencoba menghindari Aldo dan bangkit dari tempat tidur. Namun Aldo yang sudah tidak bisa menahan keinginannya, bergegas menghadang langkah kaki istrinya dan langsung membungkam bibir Cika penuh hasrat.


"Uhm..."


Cika yang awalnya menolak, pada akhirnya langsung terbuai dalam permainan suaminya. Ciuman itupun terlihat makin memanas saat Cika mulai mengimbangi permainan suaminya.


Cika membalas luma*an Aldo dan memainkan lidahnya dengan liar. Hisapan maut itupun membuat tubuh mereka mulai panas dan satu persatu pakaian Cika pun mulai terlepas dari tubuhnya.


Aldo melepaskan luma*annya dan menatap perut Cika dengan penuh gairah. Dia kemudian menekuk kedua kakinya di atas lantai dan mencium perut istrinya dengan lembut.


"Papa pinjam Mama sebentar ya sayang." ucap Aldo di perut buncit istrinya.


Aldo merebahkan kembali tubuh Cika di atas tempat tidur. Dia mulai menggerayangi tubuh istrinya dan menciumi setiap bagian sensitif Cika dengan hasrat yang mulai bergelora di jiwanya.


Aldo melepaskan kacamata yang digunakan istrinya dan menatap gunung kembar itu sembari menelan air ludahnya. Tubuh Cika yang semakin padat berisi, membuat Aldo benar-benar terangsang dan bergegas memainkan gunung kembar itu dengan tangannya.


Aldo kemudian melahap gunung kembar milik istrinya dan menghisap nya dengan sangat rakus. Dia juga memainkan lidahnya dan menggigit biji kelengkeng itu dengan hati-hati.


Sentuhan demi sentuhan yang dilayangkan Aldo itupun membuat tubuh Cika menggeliat tak henti-hentinya. Aldo benar-benar berhasil membuat istrinya melayang dalam permainannya itu.


De*ahan demi de*ahan pun mulai keluar dari mulut Cika yang membuat Aldo semakin tak kuasa mengendalikan hasratnya dan ingin segera menikmati liang surganya.


Aldo mulai mengarahkan senjatanya ke arah sasaran empuk yang sudah sedari tadi dia inginkan.


Pertempuran sengit itupun tak bisa dielakkan saat senjata Aldo sudah berhasil menguasai taman bermainnya.


Seketika itu juga gemuruh suara Cika dan Aldo saling sahut menyahut memenuhi seisi ruangan.


Pergerakan yang dilakukan Aldo membuat Cika tak bisa berkata-kata lagi. Hanya de*ahan manja yang bisa terdengar dengan jelas di telinga Aldo.


"Akhh... Akhh..."


Setelah cukup lama mondar-mandir di dalam taman bermainnya, akhirnya lumpur surga itupun menyembur dengan cepatnya.


"Akhh..."


Aldo mengerang dengan hebatnya saat hasratnya sudah tersalurkan dan terkulai lemas di samping tubuh istrinya.

__ADS_1


Mereka berdua tampak saling memandang satu sama lain dan melebarkan senyuman di wajah mereka masing-masing.


"Terima kasih sayang." ucap Aldo sembari memicingkan kedua matanya.


Cika hanya bisa tersenyum melihat suaminya. Dia kemudian menyentuh wajah Aldo dengan lembut dan menyeringai mengingat keganasan suaminya itu.


Setelah beberapa menit terbaring, Cika kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara itu Sela yang tadinya tertidur, seketika langsung terbangun saat mendengar dering panggilan masuk dari ponselnya.


Sela meraih ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian tampak tersenyum sembari menatap layar ponselnya yang masih berdering itu.


"Halo Hans, ada apa?" tanya Sela setelah menerima panggilan tersebut.


"Halo Sela, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja!" sahut Hans.


"Memangnya kenapa dengan suaraku?" tanya Sela dengan polosnya.


"Aku merindukan suaramu." sahut Hans.


"Hahahaha... Kamu ingin menggodaku?" ucap Sela sembari tertawa.


"Tidak Sela, untuk apa aku menggoda mu?" sahut Hans.


"Kalau begitu ada apa, kenapa kamu menelepon ku?" tanya Sela.


"Aku merindukan kamu Sela, bisakah kita bertemu malam ini?" ajak Hans.


"Jangan Hans, untuk sementara sebaiknya kita tidak usah bertemu dulu!" sahut Sela.


"Kenapa Sela, apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Hans sedikit kecewa.


"Bukan begitu Hans, aku tidak ingin mengecewakan Om Alvin. Kita akan bertemu jika memang ada yang perlu dibicarakan!" sahut Sela.


"Ya sudah, kalau begitu kita video call saja ya. Aku ingin melihat wajahmu!" pinta Hans.


"Baiklah."


Hans yang tengah berbaring di atas kasur, kemudian memutuskan sambungan telepon mereka dan menghubungi Sela kembali melalui video call.


Sela yang saat itu juga masih berbaring di atas kasurnya, segera mengangkat panggilan dari Hans.

__ADS_1


Wajah mereka berdua pun saling terpajang di ponsel masing-masing. Mereka berdua akhirnya berbincang-bincang dan membahas tentang pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.


__ADS_2