Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 28. Terpancing


__ADS_3

Aldo dan Cika berjalan menuju meja makan. Aldo segera duduk karena cacing dalam perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.


Sementara Cika melangkah menuju kamar mandi yang ada di dapur untuk mencuci wajahnya. Selesai mencuci wajahnya, Cika pun kembali ke meja makan dan duduk di sebelah Aldo.


Mereka semua makan dengan lahap tanpa bersuara. Ilham bahkan sampai geleng-geleng kepala melihat Aldo yang menambah makannya sampai 2 kali. Rasa lapar yang dari tadi Aldo tahan membuatnya tidak sadar kalau dia sudah makan terlalu banyak.


Selesai makan, Aldo dan Ilham kembali ke ruang keluarga. Sementara Mila dan Cika asik membereskan sisa makan malam mereka.


"Aldo, malam ini kalian nginap disini saja ya! Kakak masih ingin berbincang-bincang denganmu." ucap Ilham.


"Maaf Kak, bukannya aku mau menolak, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaan kantor secepatnya. Aku juga sedang sibuk mengurus persiapan pernikahan kami. Aku harap kakak mengerti." ucap Aldo.


"Ya sudah, kakak mengerti. Kamu adalah satu-satunya harapan papa untuk mengurus perusahaan." ucap Ilham.


"Jangan bilang begitu kak! Kakak adalah anak tertua di keluarga kita. Kakak yang lebih berhak untuk mengurus semuanya." balas Aldo.


"Kamu kan tau sendiri, kakak tidak bisa ikut mengurus perusahaan kita. Kakak percayakan semuanya sama kamu." ucap Ilham.


"Iya kak, aku akan menjaga amanah dari kakak dan papa." balas Aldo.


Hari sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Cika dan Mila sudah bergabung bersama mereka di ruang keluarga.


"Kak, aku pamit pulang dulu ya!" ucap Aldo.


"Ya sudah, kalian hati-hati ya!" sahut Ilham.


Aldo dan Cika menyalami dan mencium tangan kakak dan kakak ipar mereka secara bergantian. Mereka meninggalkan rumah Ilham dan melaju menyusuri jalanan Ibukota.


"Sayang, malam ini kita nginap di apartemen ya." ucap Aldo.


"Gak mau ah, aku mau pulang ke apartemen Sela saja." ucap Cika.


"Tapi ini sudah larut sayang, Sela pasti sudah tidur." tambah Aldo.


"Ke rumah kamu saja kalau begitu." ucap Cika.


"Jangan sayang! Kalau di rumah, pasti mama tidak mengizinkan kita tidur bersama." ucap Aldo.


"Ya memang sebaiknya begitu kan? Aku tidak mau tidur bersamamu sebelum kita menikah." ucap Cika.


"Aku janji tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin tidur di samping kamu. Tidak lebih," ucap Aldo.

__ADS_1


Cika hanya terdiam, dia tidak membalas ucapan Aldo sama sekali.


Sebenarnya dia juga ingin tetap di samping Aldo, tapi dia merasa takut dengan sikap Aldo yang susah untuk di tebak.


Tak terasa mobil Aldo sudah berhenti di depan apartemen. Aldo dan Cika turun dari mobil. Aldo meminta penjaga apartemen untuk memarkirkan mobilnya karena dia sudah merasa sangat lelah sekali.


Mereka berdua masuk ke dalam apartemen. Cika terus saja diam tanpa bersuara. Sesampainya di kamar, Cika segera membuka lemari untuk mencari baju ganti. Diapun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Cika keluar dan segera berbaring di atas kasur.


Aldo masuk ke dalam kamar, dia melihat Cika sudah terbaring di atas ranjang. Dia tidak ingin mengganggu Cika, karena dia ingat dengan janjinya sewaktu di perjalanan tadi.


Aldo segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Seperti biasa, setelah mandi Aldo hanya menggunakan singlet dan celana pendek.


Aldo mendekat kearah ranjang untuk menyelimuti Cika yang sudah terlelap. Aldo berpikir untuk tidur di luar, dia mengambil bantal dan melangkah menuju pintu. Namun, langkahnya seketika terhenti setelah mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya.


"Kamu mau kemana?" ucap Cika.


"Aku mau tidur diluar sayang. Aku sudah berjanji padamu, aku tidak akan mengingkarinya." sahut Aldo.


"Tidur disini saja!" pinta Cika.


"Tapi,,,"


"Aku ingin tidur bersamamu." pinta Cika lagi.


Aldo kembali melangkah kearah ranjang dan berbaring di samping Cika.


"Aku janji tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu sampai saat itu tiba." ucap Aldo sambil memejamkan kedua matanya.


Cika yang mendengar itu dengan segera bergeser mendekati Aldo. Dia memeluk tubuh calon suaminya itu dengan sangat erat.


"Aku mencintaimu." ucap Cika.


"Aku juga mencintaimu." balas Aldo sambil mendekap tubuh indah wanita di sampingnya itu.


Pagi telah datang. Cika terbangun dari alam bawah sadarnya. Dia menatap wajah tampan yang ada di sampingnya itu dengan penuh perasaan.


"Kau memang sangat tampan sayang, aku beruntung memilikimu." batin Cika sambil mencuri sedikit kecupan di bibir Aldo.


Aldo yang merasa ada sentuhan lembut di bibirnya itupun seketika terbangun dan melihat Cika yang masih memeluk tubuhnya.


"Kamu sudah bangun sayang." ucap Aldo.

__ADS_1


"Sudah," jawab Cika sambil melepaskan pelukannya.


"Aku barusan bermimpi, kamu mencium bibirku dengan sangat lembut." ucap Aldo yang sama sekali tidak menyadari kalau semua itu bukanlah mimpi.


"Kok bisa," jawab Cika sambil tersenyum.


"Aku juga gak tau." ucap Aldo sedikit bingung dengan mimpinya yang terasa begitu nyata.


"Ha, hahaha,,"


Cika tertawa sangat lepas melihat ekspresi wajah Aldo sambil bangkit dari atas kasur.


"Kenapa kamu tertawa?" ucap Aldo yang mulai merasa curiga.


"Gak apa-apa! Memangnya disini ada larangan untuk Cika gak boleh tertawa, enggak kan," jawab Cika dengan santainya.


Cika mulai melangkah meninggalkan Aldo. Namun, Aldo merasa sedikit tersiksa dengan mimpinya barusan.


"Tunggu sayang!" ucap Aldo sambil berlari menghampiri Cika yang sudah berada di pintu kamar mandi.


"Ada apa lagi?" sahut Cika yang sudah berhadapan dengan Aldo.


Aldo mendorong tubuh Cika ke dinding dan menahannya dengan kedua tangannya.


"Apa-apaan ini Aldo? Ingat, kamu sudah berjanji padaku," ucap Cika yang mulai merasa gelisah bertatapan dengan Aldo.


"Aku ingat dengan janjiku padamu, aku tidak akan mengingkarinya, kecuali kamu yang memulainya lebih dulu." ucap Aldo sambil mendekatkan bibirnya ke wajah Cika.


"Apa maksud kamu Aldo, aku tidak mengerti." jawab Cika yang sudah mulai ketakutan melihat raut wajah Aldo.


"Kau yang memulainya duluan, jadi jangan salahkan aku!" ucap Aldo dengan nafas yang mulai menggebu.


Aldo menarik tangan Cika masuk ke dalam kamar mandi dan dengan cepat mengunci pintu. Aldo segera menyalakan shower sehingga mengguyur tubuh mereka berdua. Guyuran air yang membasahi pakaian mereka, membuat lekuk tubuh Cika terpajang dengan nyata di hadapan Aldo.


"Aldo, apa-apaan ini?" dingin," teriak Cika sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Kamu merasa dingin, peluk saja tubuhku ini! Kamu pasti tidak akan merasa kedinginan lagi. Lakukan apa saja yang kamu mau," ucap Aldo sambil mendekati tubuh Cika.


Cika benar-benar merasa menggigil di sekujur tubuhnya. Bibirnya pun sudah mulai terbata-bata untuk berucap.


"To, to, tolong matikan shower nya!" ucap Cika bergetar sambil memeluk tubuh Aldo dengan sangat erat.

__ADS_1


Aldo dengan cepat mematikan shower yang ada di depannya.


Dia pun sedikit merasa bersalah melihat keadaan Cika yang benar-benar tidak seperti apa yang dia harapkan.


__ADS_2