
Pagi harinya, Aldo bangun dan duduk di samping istrinya yang masih tertidur pulas.
Aldo mengangkat baju istrinya dan seketika terpaku menatap perut Cika yang sudah mulai terlihat membesar.
Air mata Aldo pun jatuh berguguran mengingat perjuangan istrinya, melewati masa-masa sulit mengandung buah hati mereka tanpa kehadirannya.
"Selamat pagi sayangnya Papa! Maafkan Papa ya Nak, Papa sudah lalai menjaga Mama. Papa bahkan tidak menyadari keberadaan kamu didalam perut Mama."
Aldo meletakkan wajahnya di perut Cika sembari mencium perut istrinya dan mengusapnya dengan lembut. Tanpa terasa, air mata Aldo kembali berlinangan penuh penyesalan.
"Aldo, kamu lagi ngapain?" tanya Cika yang baru saja membuka kedua matanya.
"Maafkan aku, sayang. Gara-gara aku, kalian berdua harus hidup menderita seperti ini!" ucap Aldo sambil mengusap perut istrinya.
"Sudahlah Aldo, semua sudah terjadi. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri lagi!" sahut Cika sembari mengusap kepala suaminya.
Cika mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Yang sudah terjadi, tidak bisa kita ubah lagi. Sekarang kita mulai semuanya dari awal lagi ya!" ucap Cika yang juga ikut menangis didalam pelukan suaminya itu.
"Maafkan aku sayang! Aku sudah gagal..."
"Ssttt...!"
Cika menahan bibir Aldo dengan jarinya. Cika pun menenggelamkan wajahnya dileher suaminya itu. Aroma tubuh Aldo benar-benar membuat Cika merasa nyaman dan tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya.
"Aku sangat merindukan bau ini Aldo. Disaat aku dan anak kita benar-benar merindukannya, aku hanya bisa memeluk bantal guling untuk melepaskan keinginan ku itu. Hiks... Hiks... Hiks."
Cika menangis melepaskan rasa rindunya yang sudah tidak mampu dia tahan lagi.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi! Sekarang suamimu sudah ada disini, lakukanlah apa saja yang ingin kamu lakukan!"
Aldo melepaskan pakaiannya dan membiarkan istrinya melakukan apa saja yang selama ini Cika inginkan.
Cika lagi-lagi menangis setelah menenggelamkan wajahnya di ketiak suaminya.
"Aku merindukan bau ini juga!" ucap Cika sambil menghirup aroma ketiak suaminya.
"Hehehehe,,, setelah itu apa lagi?" tanya Aldo yang berniat menggoda istrinya.
Cika hanya menggelengkan kepalanya karena tidak menginginkan hal lain lagi dari suaminya.
"Kamu tidak merindukan yang lain lagi?" tanya Aldo sambil tersenyum.
"Tidak Aldo, hanya itu saja!" sahut Cika dengan polosnya.
__ADS_1
"Tapi aku merindukan yang lain sayang." ucap Aldo sambil mengangkat kepala istrinya.
Aldo mencium kening Cika dengan lembut dan melahap bibir istrinya yang sudah dari tadi membuatnya tergoda.
Aldo ******* bibir istrinya dengan rakus dan bermain semakin dalam sehingga Cika mulai kesulitan untuk mengambil nafas.
"Maafkan aku sayang, aku sudah tidak sanggup lagi menahannya." ucap Aldo dengan tatapan menuntut.
Aldo membaringkan tubuh istrinya dan memulai pertempuran yang sudah lama dia rindukan.
Mulai dari bibir, leher, pegunungan kembar, bahkan sampai ke lembah yang dipenuhi semak belukar itu tak luput dari serangan Aldo yang mulai membabi buta.
"Akhh,,, Aldo...!"
Cika terbuai dan dibawa terbang melayang oleh Aldo dalam pertempuran yang mulai memanas itu.
"Pelan-pelan Aldo, ingat ada anakmu didalam sana!" ucap Cika yang sudah bergetar di sekujur tubuhnya.
Aldo pun memperlambat permainannya karena takut mengagetkan darah daging nya yang sedang tertidur pulas.
Setelah kurang lebih 1 jam menggila di atas tubuh istrinya, akhirnya krim vanila itupun meleleh dan menyirami bunga yang sedang bermekaran itu.
"Akhh..."
Aldo terkulai lemas dan terbaring di samping istrinya.
Setelah berbaring cukup lama, Aldo pun bangkit dan menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi yang ada di sudut dapur.
Aldo membantu menggosok tubuh Cika dan memandikan istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Aldo, jangan berlebihan seperti ini. Aku masih bisa melakukan segalanya sendirian!" ucap Cika yang merasa terlalu dimanjakan oleh suaminya.
"Diam saja, sayang. Biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang suami! Aku ingin menebus waktu yang sudah terbuang sia-sia selama hampir dua bulan ini." ucap Aldo sembari mencubit hidung Cika hingga memerah.
"Sakit, Aldo..." ketus Cika dan langsung membalas mencubit perut suaminya.
"Aw,,, lepaskan sayang, sakit!" ucap Aldo sambil tersenyum geram menatap istri cantiknya.
"Tuh, sakit juga kan? Makanya jangan nyubit duluan! Hahahaha,,," sahut Cika menertawakan suaminya.
Mereka berdua akhirnya bisa kembali bercanda dan tertawa dengan lepas tanpa ada lagi beban yang mengganggu pikiran.
Selesai mandi, Aldo kembali menggendong istrinya masuk kedalam kamar dan membantu Cika mengenakan pakaiannya. Aldo juga dengan senang hati membantu menyisirkan rambut istri yang sangat dia cintai itu.
"Sayang, hari ini kita pulang ke rumah ya! Mama sama Sela pasti sangat senang melihat kamu kembali. Apalagi Kak Mila yang akhir-akhir ini selalu sedih memikirkan kamu." ucap Aldo yang membuat Cika tampak sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Ada apa dengan Kak Mila? Kandungannya baik-baik saja kan?" tanya Cika yang mulai sedikit khawatir.
"Kak Mila baik-baik saja, sayang! Keponakan kita juga pasti sudah lahir saat ini. Kemarin kami mengantar Kak Mila ke rumah sakit. Aku belum sempat melihat gadis kecil itu, aku lebih dulu meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari Dokter Hana." ucap Aldo kepada istrinya.
"Anak Kak Mila perempuan ya, pasti sangat cantik seperti mamanya!" sahut Cika sembari tersenyum membayangkan wajah cantik gadis kecil itu.
"Iya, sayang. Gadis kecil itu pasti sangat cantik, sama seperti kamu tantenya!" ucap Aldo sambil mencubit pipi istrinya.
"Mana mungkin mirip sama aku, Aldo. Pasti mirip mamanya! Hahahaha,,," sahut Cika sambil menertawakan suaminya.
"Bagaimana kalau kita taruhan? Yang salah harus menerima hukuman!" ucap Aldo yang begitu yakin kalau keponakan mereka itu akan lebih mirip dengan istrinya.
"Ok, siapa takut." sahut Cika yang sangat siap bertaruh dengan suaminya.
Aldo membantu Cika membereskan barang-barang dan bersiap-siap untuk meninggalkan kontrakan.
Setelah semua beres, mereka berdua keluar dan berpamitan kepada Bu Meri yang merupakan pemilik kontrakan itu.
*****
Setelah kurang lebih satu jam berada didalam perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di kediaman orang tua Aldo dengan selamat.
Aldo memeluk tubuh istrinya dari arah samping dan berjalan masuk kedalam rumah sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Pagi Ma, Kak Mila." sapa Aldo yang sedang melangkah menuju ruang keluarga.
Ara dan Mila menoleh kearah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka setelah melihat Cika yang sedang berdiri di samping Aldo.
"Cika..." ucap Ara dan Mila secara bersamaan.
Ara dan Mila sama-sama melotot kan mata mereka kearah Cika, semua terasa bagaikan sebuah mimpi.
"Sayang, kamu pulang Nak?" ucap Ara sambil berlari menghampiri Cika.
Ara langsung memeluk menantunya itu sambil meneteskan air matanya. Ara benar-benar bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan anak-anak dan menantunya.
"Kamu kemana saja sayang? Kenapa tidak pernah memberi kabar pada Mama?" tanya Ara yang masih menangis didepan menantunya itu.
"Maafkan Cika ya Ma. Cika tidak bermaksud membuat Mama sedih. Waktu itu Cika benar-benar marah sama Aldo dan sengaja pergi meninggalkan kalian semua." ucap Cika yang ikut meneteskan air matanya.
"Ya sudah sayang, jangan menangis! Mama tidak menyalahkan kamu. Semua ini salah suami kamu itu." ucap Ara menenangkan menantu bungsunya.
Ara kemudian menatap perut Cika yang sudah mulai tampak membesar.
"Sayang, bagaimana keadaan cucu Mama?" tanya Ara sembari mengelus perut Cika dengan lembut.
__ADS_1
"Kata Dokter, kandungan Cika baik-baik saja Ma. Tidak ada masalah!" ucap Cika kepada mertuanya.
Ara kemudian membawa Cika kearah sofa dan duduk di sebelah Mila yang sedang menidurkan gadis kecilnya.