Hati Berdarah

Hati Berdarah
Tersudutkan


__ADS_3

"Hans, ini dia Om Alvin yang Papa bilang tempo hari! Kamu masih ingat kan, Nak?" ucap Lukman kepada putra semata wayangnya yang tengah tersenyum manis itu.


"Ingat dong Pa, mana mungkin Hans lupa!" sahut Hans yang masih sangat mengenali sahabat Papanya itu.


"Halo Om Alvin, senang bisa bertemu lagi dengan Om!" sapa Hans dengan gagahnya.


Hans mengulurkan tangannya dan menyalami sahabat baik Papanya itu dengan sopan. Laki-laki gagah itu kemudian ikut duduk dan berbincang-bincang sembari menikmati kopi yang sudah tersedia di atas meja.


"Bagaimana kabar Ilham sekarang Om? Sudah lama sekali Hans tidak bertemu dengannya." tanya Hans yang juga masih mengingat teman masa kecilnya itu.


"Ilham baik Hans, hanya saja dia tidak bekerja di kantor ini. Setelah menikah, dia memutuskan untuk mengurus perusahaan Papa mertuanya." jelas Alvin kepada laki-laki gagah itu.


"Wow, hebat sekali dia. Lalu siapa yang membantu Om disini?" tanya Hans mulai sedikit kepo.


"Ada Aldo, putra bungsu Om dan juga sepupunya." jawab Alvin yang membuat Hans mengangguk-anggukkan kepalanya.


Pembicaraan mereka pun terus berlanjut dan semakin serius hingga tak mengenal waktu. Lukman bahkan langsung saja pada pokok pembahasan mereka yang ingin sekali mengenalkan putranya dengan keponakan Alvin.


"Dimana gadis cantik yang kamu bilang tempo hari, Alvin?" tanya Lukman yang sudah tidak sabar melihat calon menantunya.


"Ada di ruangannya, sepertinya hari ini dia sedikit sibuk." sahut Alvin yang membuat Hans sedikit kebingungan.


"Siapa gadis yang Papa maksud?" sambung Hans yang mulai penasaran dengan pertanyaan papanya.


"Tentu saja gadis yang ingin Papa kenalkan padamu!" sahut Lukman sembari tersenyum lebar.


"Maaf ya Pa, Hans sudah memikirkan semuanya. Papa tidak perlu membawa dan mengenalkan Hans dengan gadis lain." ucap Hans yang membuat Lukman dan Alvin saling menatap satu sama lain.


"Apa maksud kamu, Hans? Jangan bikin malu Papa!" ketus Lukman yang mulai marah mendengar ucapan putra semata wayangnya itu.


"Sebelumnya Hans minta maaf ya Pa, Om! Sepertinya Hans sudah memiliki pilihan sendiri. Hans tidak mau mengecewakan gadis itu. Jadi sebaiknya rencana ini tidak usah dilanjutkan!" ucap Hans yang membuat wajah Lukman memerah menahan malu.


"Hans, kamu..."


"Tidak apa-apa Lukman, kamu tidak perlu marah pada Hans! Dia juga berhak menentukan pilihan hatinya sendiri. Jangan memaksakan kehendak mu padanya, itu tidak akan baik untuk kedepannya!" jelas Alvin yang sangat mengerti dengan keinginan anak muda seperti Hans.


"Tapi Alvin, aku sudah berjanji padamu!" sahut Lukman yang merasa tidak enak hati pada sahabatnya.

__ADS_1


"Itu hanya janji diantara kita berdua saja Lukman, tidak masalah! Kalau yang akan menjalaninya tidak bersedia, jangan dipaksakan! Sama halnya dengan kedua putraku, mereka menikah dengan pilihan mereka masing-masing. Yang penting mereka memilih wanita yang baik, itu sudah cukup!" jelas Alvin yang membuat Lukman terdiam sejenak.


"Terimakasih Om Alvin, Om benar-benar pengertian!" sanjung Hans sembari tersenyum.


Karena Hans sudah menolak, Lukman pun akhirnya memilih untuk pamit dan meninggalkan kantor sahabatnya dengan perasaan sedikit bersalah.


"Dasar anak bodoh! Kenapa tidak bicara dari kemarin, mau dikemanakan mukaku ini?" ketus Lukman sembari masuk kedalam mobilnya.


"Mau bagaimana lagi Pa, aku juga baru bertemu dengan wanita itu!" sahut Hans dengan santainya.


"Kamu benar-benar gila Hans, baru bertemu saja sudah begini. Apa kamu tidak takut tertipu lagi? Zaman sekarang susah sekali menemukan wanita baik-baik!" ucap Lukman mewanti-wanti putranya agar tidak salah memilih calon istri.


"Papa tenang saja, biar Hans menjalaninya dulu. Hans tidak mungkin sembarangan dalam memilih calon ibu untuk anak Hans!" sahut Hans sembari melajukan mobilnya meninggalkan Alvin Group.


"Terserah kau saja, Papa sudah malas berdebat denganmu setiap hari!" sahut Lukman yang sudah tidak sanggup lagi meladeni kelakuan putranya itu.


*****


Sore harinya, Sela sedang melangkahkan kaki menuju parkiran kantor. Pekerjaan yang sangat banyak, membuatnya pulang sedikit telat dari yang lainnya.


"Drrt... Drrt..."


"Laki-laki tampan?"


Raut wajah Sela langsung berubah, saking kesalnya dengan ulah laki-laki asing yang sama sekali tidak penting baginya.


Sela tidak menjawab panggilan itu dan sengaja mengabaikannya. Wanita cantik itupun mulai menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju rumah.


Berkali-kali Hans mencoba menghubungi Sela, namun tetap saja diabaikan oleh wanita cantik yang tengah mengemudi itu.


Tiba-tiba ponsel Sela kembali berdering. Kali ini bukan panggilan masuk, melainkan pesan singkat yang dikirim oleh Hans kepadanya.


"Ting..."


"Jangan coba-coba menghindar dariku, jika tidak ingin melihatku berbuat nekat!" Isi pesan dari Hans yang bernada ancaman.


"Ya Tuhan, laki-laki itu sungguh menakutkan. Apa yang harus ku lakukan?" batin Sela yang mulai ketakutan menghadapi sikap manusia yang satu itu.

__ADS_1


"Ting..."


"Tunggu aku di cafe mawar pukul 19.00 malam. Kalau kamu tidak datang, aku yang akan datang ke rumahmu!" Bunyi pesan kedua yang dikirim oleh Hans.


Setelah membaca pesan itu, hati Sela mulai tidak tenang dan memutuskan untuk menelepon laki-laki yang sudah mengganggu kenyamanannya itu.


"Aku akan menemui mu nanti malam. Tolong jangan ganggu aku lagi, aku sedang menyetir!" ucap Sela dari balik telepon.


"Aku tau," jawab Hans dengan santainya.


"Jika kamu tau, berhentilah bermain-main denganku! Sampai jumpa." ketus Sela sembari memutuskan sambungan teleponnya.


Sesampainya di rumah, gadis cantik itupun turun dari mobil dengan raut wajah penuh kekesalan. Sela bahkan tidak menyapa seorangpun dan langsung naik menuju kamarnya di lantai atas.


"Ada apa dengan anak itu?" tanya Aldo yang bingung melihat raut wajah sepupunya.


"Biarkan saja, mungkin dia capek!" sahut Cika kepada suaminya.


Melihat keanehan pada sahabatnya, Cika langsung naik menyusul Sela ke kamarnya.


"Tok... Tok... Tok..."


"Sela, ini aku. Buka pintunya dong!" ucap Cika dari balik pintu.


Mendengar suara Cika, Sela pun segera membuka pintu kamarnya dan menarik sahabatnya itu kearah tempat tidur.


"Ada apa Sela? Kenapa tiba-tiba mukamu jadi cemberut seperti ini?" tanya Cika yang mulai penasaran.


"Aku sangat membenci orang itu, Cika. Aku tidak ingin menemuinya!" ketus Sela yang membuat Cika langsung menggaruk keningnya.


"Apa maksudmu Sela? Siapa yang kau benci?" tanya Cika yang semakin penasaran.


Dengan polosnya, Sela langsung menceritakan semua yang sudah dia alami kepada sahabatnya itu.


"Hahahaha..." Cika justru tertawa mendengar cerita yang disampaikan oleh Sela kepadanya.


Untuk saat ini, Sela hanya bisa percaya kepada Cika saja. Sela tidak ingin anggota keluarganya yang lain tau, karena dia takut menjadi bahan ejekan oleh sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2