
Setelah Hans meninggalkan kediaman Alvin, satu persatu anggota keluarga yang masih duduk di ruang keluarga itupun berlalu dan masuk kedalam kamar masing-masing.
"Sela, kesini sebentar!" ucap Alvin yang hanya tinggal sendirian di sofa ruang keluarga.
Sela yang hendak melangkah ke lantai atas itupun dengan segera menoleh kearah Alvin. Dengan raut wajah penuh kegelisahan, Sela mengayunkan kakinya dan berdiri tepat di hadapan saudara papanya itu.
"Ada apa, Om?" sahut Sela sembari menundukkan kepalanya.
"Duduklah disini sebentar!" ucap Alvin dengan sebelah tangan menepuk pelan sofa kosong di sampingnya.
Melihat keseriusan di wajah Alvin, Sela mulai bergetar ketakutan. Perlahan, gadis cantik itu melangkah maju dan menekuk kakinya untuk duduk di sebelah Alvin.
Alvin meraih pundak keponakannya itu dan memeluknya dari arah samping. Tatapan mata Alvin pun membuat Sela semakin gelisah tak menentu.
"Sayang, apa kamu menyukai Hans?" tanya Alvin dengan santainya.
"Ti... Tidak Om!" sahut Sela terbata-bata.
"Sela, kamu tidak perlu malu terhadap Om! Om ini sudah menganggap kamu seperti anak Om sendiri. Jangan menyembunyikan perasaan kamu didepan Om!" ucap Alvin yang membuat mata Sela langsung berkaca-kaca.
"Tidak Om, Sela tidak menyembunyikan apa-apa dari Om! Sela dan Hans baru saja bertemu, kami tidak mempunyai hubungan apa-apa!" sahut Sela dengan kepala yang masih tersandar di lengan Alvin.
"Tapi, Hans sepertinya sangat menyukai kamu Sela. Om bisa membaca dari tatapan matanya ketika melihat kamu." ucap Alvin yang sangat ingin keponakannya membuka hati untuk Hans.
"Iya Om, Sela tau. Hans sudah mengatakannya pada Sela. Tapi, Sela butuh waktu untuk mempertimbangkan semuanya. Sela hanya ingin menikah sekali seumur hidup, tidak seperti Mama dan Papa!" sahut Sela dengan bening kecil yang mulai menetes di pipinya.
"Om sangat mengerti dengan ketakutan kamu itu. Tapi, Om juga yakin kalau Hans tidak akan menyakitimu. Dia itu laki-laki yang baik, sayang. Belajarlah membuka hatimu untuknya!" ucap Alvin sembari menyeka air mata keponakan cantiknya itu.
Mendengar ucapan Alvin, Sela semakin tak kuasa menahan kesedihannya. Gadis cantik itu kemudian memeluk Alvin dengan air mata yang terus mengalir dari kelopak matanya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi! Semuanya akan baik-baik saja. Om hanya ingin melihatmu bahagia." ucap Alvin menenangkan gadis cantik yang sudah seperti putrinya sendiri itu.
"Iya Om, terimakasih!" sahut Sela yang sudah mulai merasa sedikit tenang.
"Sudah waktunya istirahat, pergilah ke kamarmu!" ucap Alvin sembari melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Sela bangkit dari tempat duduknya, perlahan kakinya mulai melangkah menuju lantai atas. Kasih sayang Alvin dan Ara terhadapnya selama ini begitu tulus, itulah yang membuatnya selalu semangat menjalani hari-harinya.
Sesampainya didalam kamar, gadis cantik itu segera masuk kedalam kamar mandi. Di tatapnya kearah cermin yang dengan jelas memperlihatkan raut wajahnya yang sedang tidak baik-baik saja.
Namun, seketika raut wajahnya berubah saat mengingat sosok laki-laki yang sudah membuat hatinya berdebar-debar tak menentu.
Sela kemudian memutar kran dan menampung air dengan kedua telapak tangannya. Diusapnya air itu ke wajah cantiknya yang sudah kembali tersenyum dengan manis.
Setelah membasuh wajahnya, gadis itu kembali melangkah dan menganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Diapun berbaring sembari memeluk bantal guling di dekapannya.
Dikamar lain, Aldo tengah termenung di atas tempat tidurnya. Suami Cika itu tengah gelisah memikirkan ucapan Hans yang dari tadi mengganggu pikirannya.
"Aldo, kamu kenapa sayang?" tanya Cika yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Cika melangkah kearah suaminya mengenakan lingerie yang sangat transparan. Wanita yang tengah berbadan dua itu terlihat begitu seksi dengan lekuk tubuh yang terpampang nyata didepan kedua mata suaminya.
Seketika pikiran Aldo menjadi buyar, penampilan istrinya malam ini membuatnya kehilangan konsentrasi dan melupakan sejenak apa yang sedang mengganjal di benaknya tadi.
Aldo meraih tangan Cika hingga terjatuh di atas tubuhnya. Pelan-pelan laki-laki itu menggenggam rambut istrinya dengan sebelah tangannya.
Aldo menghisap bibir istrinya seperti sebuah permen yang terasa begitu manis di lidah. Hisapan itupun semakin memanas saat Cika juga ikut mengulum bibir suaminya penuh hasrat.
Tahap demi tahap, Aldo mulai semakin leluasa saat lidahnya menyusup kedalam mulut istrinya. Persilatan diantara lidah mereka pun tidak bisa dielakkan lagi. Mereka saling menyerang dengan lidah yang mulai menari-nari didalam mulut masing-masing.
"Huft... Hah..."
Cika melepaskan serangannya dari bibir suaminya. Nafas yang mulai ngos-ngosan, membuatnya tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.
Melihat istrinya yang sudah kewalahan, Aldo pun hanya bisa tersenyum sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.
Cika beranjak dari tubuh Aldo dan berbaring ditempat kosong tepat di sebelah suaminya.
"Sayang, aku ingin!" bisik Aldo tepat di telinga istrinya.
Melihat raut wajah suaminya yang sudah menuntut, Cika pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju untuk melayani hasrat suaminya.
__ADS_1
Aldo bangkit dari tempat tidur dan langsung melucuti seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya.
Sejenak, pemandangan itu membuat Cika tersipu malu. Tongkat sakti mandraguna suaminya terlihat begitu jelas tengah menunjuk kearah dirinya.
Aldo yang sudah siap melayangkan aksinya, mulai naik ke atas kasur dan mencumbu tubuh istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Aldo bahkan sampai bergelayut manja pada balon kembar istrinya yang semakin hari semakin menantang. Hisapan laki-laki yang sudah terbakar api gairah itu benar-benar membuat Cika mengerang hingga menggema di seluruh ruangan.
Tak berhenti disitu, Aldo juga menempelkan bibirnya pada pekarangan yang sudah dipenuhi oleh semak belukar.
Aldo menjajal lahan pertanian istrinya dengan jilatan yang membuat tubuh Cika bergetar berulang-ulang kali.
"Ahkk... Ahkk..."
Semakin Cika mengeluarkan erangannya, Aldo malah semakin tertantang membuat tubuh istrinya menerima rangsangan bertubi-tubi.
"Sayang, cukup. Aku sudah tidak kuat lagi!"
Cika berteriak saat merasakan panas yang membuat sekujur tubuhnya menggeliat begitu hebat.
"Ahkk..."
Melihat istrinya yang sudah terbakar api gairah, Aldo pun dengan cepat menyodorkan tongkat saktinya kearah yang seharusnya.
"Jleb..."
Tongkat itupun masuk kedalam sarungnya. Aksi tarik menarik pun tak bisa terelakkan lagi.
Aldo semakin menggila saat Cika tak henti-hentinya mengeluarkan suara yang terdengar begitu seksi di telinga suaminya itu.
Deru nafas Aldo terdengar semakin memburu. Detak jantungnya pun ikut berpacu dengan pergerakan yang sedang dia nikmati. Hingga akhirnya krim vanilla itupun meleleh yang membuat Aldo mengerang begitu hebat.
"Ahkk..."
Dengan raut wajah keletihan, Aldo menenggelamkan wajahnya di dada istrinya. Pergulatan panas itu membuat Aldo tak sanggup lagi menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Sudah Aldo, tubuhmu berat sekali!" ucap Cika dengan nafas terengah engah.