Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 39. H-1 Pernikahan


__ADS_3

Sela masuk ke dalam kamar setelah selesai menonton film kesukaannya. Dia sedikit gemetar ketika mendengar suara tangisan dari arah balkon kamarnya. Sejenak pikirannya di penuhi dengan hal-hal yang menyeramkan yang membuat bulu kuduk nya merinding.


Namun, setelah menyadari Cika tidak ada di tempat tidur, Sela bergegas berlari kearah balkon.


"Cika! Kamu kenapa?" Sela segera memeluk Cika yang sudah tidak bisa mengendalikan tangisannya.


"Sela,,,!" Cika membalas pelukan Sela sambil menangis terisak-isak.


"Kenapa nasibku seburuk ini, Sela? Kenapa aku harus dilahirkan ke dunia ini jika ibuku sendiri tidak menginginkanku sama sekali? Hiks,,hiks,,hiks,," Cika menangis sejadi-jadinya, perasaan sedih dalam hatinya sama sekali tidak bisa dia tahan lagi.


"Tenang lah, Cika! Jangan seperti ini!" ucap Sela sambil mengusap usap punggung Cika.


"Apa salahku, Sela? Mengapa ibuku sangat membenciku? Hiks,,hiks." Cika bertanya seakan-akan Sela mengetahui jawaban dari pertanyaannya itu.


"Kamu diam dulu ya! Tenangkan hatimu dulu!" pinta Sela yang semakin bingung harus berbuat apa.


Sela berupaya untuk membantu menenangkan Cika. Dia juga merasa sedih melihat keadaan sahabat sekaligus calon iparnya itu.


Sela membawa Cika kembali ke dalam kamar.


"Duduklah! Aku akan mengambilkan air minum untukmu." ucap Sela dan berjalan meninggalkan kamar.


Sela berjalan kearah dapur dan mengambilkan segelas air untuk Cika.


"Minumlah, Cika!" ucap Sela sambil memberikan segelas air ke tangan Cika. Cika yang sudah merasa sedikit tenang, segera meminum air yang diberikan oleh Sela.


"Terimakasih ya, Sela!" ucap Cika yang masih sesekali terisak.


Sela kemudian duduk di atas kasur tepat di samping Cika. Dia kembali memeluk sahabat nya itu dari arah samping.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu kenapa? Kenapa bisa seperti tadi?" tanya Sela yang mulai mencari tau penyebab menangis nya Cika.


"Aku baru saja menghubungi ibu." sahut Cika sambil mengusap kedua matanya dengan kasar.


"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Sela yang semakin penasaran dengan apa yang dialami sahabatnya.


"Aku tidak mengerti, Sela! Seorang ibu harusnya senang mendengar kabar pernikahan putrinya, tapi tidak dengan ibuku. Dia sama sekali tidak mempedulikan ku. Dia bahkan menuduhku menjual diri demi pernikahan ini." ucap Cika sambil kembali meneteskan air matanya.


"Astaga, Cika! Kenapa jadi seperti itu?" tanya Sela yang juga tidak habis pikir dengan sikap ibunya Cika.


"Aku juga tidak tau, Sela! Entah siapa aku ini sebenarnya?" balas Cika sambil meremas jari jemarinya.


"Kamu yang sabar ya, Cika! Kita akan mencari tau tentang semua ini setelah pernikahan mu dan Aldo selesai! Untuk sekarang jangan pikirkan ini dulu! Kamu harus fokus dengan pernikahan mu yang tinggal beberapa hari lagi!" ujar Sela yang tidak ingin Cika terlalu banyak pikiran karena hari pernikahan sahabatnya itu sudah semakin dekat.


Cika tidak bergeming sama sekali. Hanya ada kekecewaan yang begitu besar menyelimuti relung hatinya. Dia bahkan sudah pasrah dengan cobaan hidupnya yang datang bertubi-tubi tiada habisnya.


Ditengah keheningan malam yang mulai mencekam, Cika hanya bisa berbaring meratapi nasibnya sambil menatap foto ayah tercintanya hingga akhirnya terlelap.


Semua persiapan pernikahan telah selesai sesuai keinginan Ara. Mulai dari baju, undangan, catering, dekorasi, surat-surat, keamanan dan lain-lain, semua sudah aman terkendali tanpa ada yang kurang sedikitpun.


Semua keluarga sudah berkumpul di rumah Aldo. Bahkan sejak dua malam terakhir, Ilham dan Mila sudah menginap di sana membantu orang tuanya. Hanya Sela yang tidak bisa menginap karena harus menemani Cika di apartemen.


"Sela! Bagaimana keadaan Cika, sayang?" tanya Ara yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengan calon menantunya.


"Baik-baik saja, Tan! Dia hanya sedikit merasa sedih karena tidak ada yang akan mendampinginya di hari bahagianya besok." sahut Sela dengan raut wajah sedihnya.


"Biar kakak saja yang mendampinginya!" ucap Mila yang merasa kasihan dengan calon adik iparnya itu.


"Mama setuju, kalian berdua yang akan mendampinginya besok!" tambah Ara yang menunjuk Mila dan Sela sebagai pendamping calon menantu barunya.

__ADS_1


Hari sudah semakin sore, Sela harus segera pulang ke apartemen. Dia masih kepikiran dengan kejadian beberapa malam yang lalu, sehingga membuatnya tidak bisa meninggalkan Cika lama-lama sendirian.


"Tan, aku pulang dulu ya!" Sela berpamitan kepada tantenya dan semua keluarga yang ada di rumah itu.


"Besok, kalian tunggu saja kakak di apartemen! Kakak yang akan menjemput kalian berdua!" ucap Mila yang merasa sangat senang karena akan mendampingi calon pengantin baru itu.


"Iya, Kak! Terimakasih!" balas Sela dan berlalu meninggalkan semua orang.


Cika benar-benar sangat beruntung mendapatkan laki-laki sebaik dan setampan Aldo. Apalagi keluarga Aldo juga orang-orang yang sangat baik dan penyayang. Mereka tidak pernah membedakan dan menilai seseorang dari harta dan kekayaan yang dimilikinya.


Malam ini adalah malam terakhir Cika berada di apartemen Sela. Dia merasa sedih karena harus meninggalkan Sela sendirian. Wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.


"Kamu kenapa Cika? Besok adalah hari paling bersejarah dalam hidupmu. Kamu harus berbahagia!


Kamu tidak boleh sedih seperti ini lagi! Masa lalu biarlah berlalu, sekarang saatnya menatap masa depan. Kamu adalah wanita yang sangat beruntung, kamu akan menjadi istrinya Aldo sebentar lagi." Sela meyakinkan Cika untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan nya, karena kesedihan yang ditanggung Cika selama ini akan berubah menjadi kebahagiaan.


"Terimakasih ya, Sela! Aku sedih karena harus berpisah denganmu dan meninggalkan apartemen ini. Kamu adalah malaikat yang telah membuat hidupku berubah dalam waktu yang sangat singkat. Kalau saja waktu itu kita tidak bertemu, mungkin entah apa yang akan terjadi dengan hidupku saat ini." ucap Cika yang kembali meneteskan air mata dan memeluk sahabatnya dengan penuh rasa haru.


"Sudah, tidak perlu memikirkan itu lagi! Kita akan selalu bertemu, bila perlu aku juga akan tinggal di sana beberapa hari untuk menemani kamu. Yang penting kamu gak boleh sedih lagi! Kami semua sangat menyayangimu." ucap Sela yang membuat Cika langsung mengeluarkan senyuman manisnya.


"Terimakasih! Aku do'akan semoga kamu cepat bertemu dengan jodoh yang telah Tuhan siapkan untukmu. Aku juga ingin kamu segera menyusul agar nanti anak-anak kita bisa seumuran." ucap Cika yang membuat Sela sedikit salah tingkah.


"Bagaimana mungkin aku akan menyusul mu dalam waktu dekat? Aku saja masih sendiri sampai saat ini. Aku juga tidak tau dimana jodohku berada. Hahahaha." Sela hanya bisa tertawa mendengar ucapan dan doa dari calon iparnya itu.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Sela! Contohnya saja aku dan Aldo. Aku bahkan masih merasa seperti bermimpi hingga saat ini. Masa pendekatan kami cukup singkat, tapi jodoh membawa kami sampai ke titik ini." ucap Cika.


"Hehehehe,,, aku berharap suatu hari nanti Tuhan akan mengirimkan laki-laki yang baik untukku, seperti Tuhan mengirimkan Aldo kepadamu." Sela berharap suatu hari nanti bisa bertemu laki-laki seperti sepupunya.


"Aamiin,,,!" sahut Cika.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya tersenyum dan kembali saling berpelukan. Beban di hati mereka setidaknya bisa sedikit berkurang karena bisa berbagi satu sama lain.


__ADS_2