Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 35. Hadiah Untuk Cika dan Sela


__ADS_3

Mau tidak mau, akhirnya Cika menuruti permintaan calon suaminya. Dia tidak ingin mengecewakan Aldo dengan menolak perhiasan yang dibelikan Aldo untuknya.


Cika mengangkat rambutnya sesuai permintaan Aldo, Aldo pun segera memasangkan kalung itu di leher wanita yang sangat dicintainya itu.


Cika merasa terharu karena seumur umur baru kali ini dia mendapatkan hadiah semewah dan semahal itu.


"Ini benar untukku, Aldo!" tanya Cika yang masih terpaku didepan cermin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Iya sayang, itu untukmu! Kamu suka kan?" tanya Aldo sambil menatap wanitanya yang semakin terlihat cantik mengenakan kalung pembeliannya.


"Aku suka," jawab Cika yang mulai meneteskan air matanya.


"Kalau suka kenapa menangis, sayang?" tanya Aldo lagi sedikit penasaran dengan ekspresi wajah Cika.


"Aku menangis karena bahagia, Aldo!" balas Cika sambil berbalik dan memeluk tubuh calon suaminya dengan sangat erat.


"Terimakasih, sayang!" ucap Cika sambil terisak didalam pelukan Aldo.


"Sudah, jangan menangis! Nanti cantiknya hilang, cup, cup!" Aldo menggoda Cika sambil mengecup kening wanitanya tersayangnya itu.


Cika hanya bisa tersenyum sambil menyeka wajahnya dengan telapak tangannya.


Penjaga toko kembali setelah selesai membungkus perhiasan yang diminta Aldo.


"Ini, sudah selesai, Pak Aldo!" ucap penjaga toko sambil memberikan kotak perhiasan yang sudah di bungkus dengan rapi.


"Terimakasih!" ucap Aldo dengan senyum yang sangat menawan dan memberikan sebuah kartu kepada penjaga toko.


Aldo memberikan sebuah kartu kredit untuk membayar perhiasan yang sudah dia beli untuk Sela dan wanita yang sangat dia cintai.


"Sudah, Pak! Terimakasih! Kami tunggu kunjungannya kembali." ucap penjaga toko sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala kearah Aldo.


Aldo dan Cika melangkah meninggalkan mall, dan melajukan mobil mewahnya menuju perusahaan.


"Sayang, kita ke kantor dulu ya! Aku harus memeriksa semua pekerjaan yang aku tinggalkan hari ini. Aku takut Sela akan kewalahan menyelesaikannya sendirian." ucap Aldo sambil fokus menyetir mobilnya.


"Iya,," Cika hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


Jarak antara mall yang mereka kunjungi tadi memang tidak terlalu jauh dari kantor. Hanya butuh 15 menit untuk sampai di parkiran kantor.

__ADS_1


Setibanya di depan kantor, Aldo kembali menggenggam tangan Cika dan melangkah masuk kedalam perusahaan besar itu.


"Aldo, aku bisa jalan sendiri! Aku malu dilihatin karyawan kamu." bisik Cika yang membuat Aldo hanya bisa tersenyum menatap wanitanya itu.


"Sayang, kamu itu calon istri pewaris perusahaan ini. Buat apa malu? Sebentar lagi kamu juga akan mondar-mandir di kantor ini." jelas Aldo yang membuat Cika hanya bisa terdiam dan membisu.


Aldo kembali melanjutkan langkahnya. Semua karyawan yang mereka lewati menatap bingung kearah mereka berdua. Para karyawan kantor tidak menyangka kalau atasan mereka ternyata sudah punya kekasih yang sangat cantik.


Mereka berdua sampai di ruangan kerja Aldo setelah menaiki lift menuju lantai atas.


"Sayang, kamu tunggu di sofa dulu ya!" ujar Aldo sambil mengecup bibir merah jambu Cika yang terlihat sangat menggoda.


"Aldo! Jangan aneh-aneh ya! Ingat, ini tuh kantor bukan apartemen!" ketus Cika yang merasa malu dengan kelakuan nakal Aldo terhadap dirinya.


"Hmmm,,, berarti kalau kita pulang ke apartemen boleh kan, sayang!" Aldo mulai menggoda wanita cantiknya yang sudah memerah karena malu.


"Iiih, gak boleh!" ketus Cika sambil tersenyum tipis dan mencubit bagian dada Aldo.


"Auuu, tuh kan mulai lagi. Katanya gak mau, tapi tangannya hobi banget nyubitin tubuh aku." ucap Aldo sambil menatap dalam ke bibir Cika.


"Udah ah, susah ngomong sama kamu," Cika merasa kesal dan berjalan menuju sofa yang ada di pojok ruangan.


Sementara Cika tengah termenung menatap ke luar jendela. Hatinya sedikit gelisah memikirkan pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi. Dia teringat akan ibunya yang sampai saat ini tidak pernah menanyakan kabarnya sama sekali.


"Aku harus mengabari ibu secepatnya. Bagaimanapun juga ibu harus tau tentang pernikahanku ini." batin Cika yang sama sekali tidak ingin menjadi anak durhaka, meskipun selama ini dia tidak pernah dianggap ada dalam keluarganya.


Sela masuk ke ruangan Aldo dengan beberapa berkas penting yang ada di tangannya.


"Hai, Aldo! Sudah selesai pemotretannya." tanya Sela sambil melangkah kearah meja kerja Aldo.


"Sudah, semua berjalan lancar sesuai rencana." jawab Aldo dengan santai.


"Cika, kamu di sini juga." sapa Sela yang baru menyadari keberadaan Cika di ruangan itu.


"Iya, Sela! Aldo mengajakku ke sini." balas Cika.


Sela memberikan berkas yang ada di tangannya kepada Aldo. Dia pun melangkah menghampiri Cika kearah sofa.


"Kamu kenapa? Kok jadi murung gini." tanya Sela mencari tau perubahan raut wajah Cika.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Sela! Nanti kita bicara di apartemen saja ya. Gak enak, ada Aldo di sini." balas Cika yang tidak ingin membuat Aldo ikut memikirkan masalahnya.


"Ya sudah, tapi benar ya nanti cerita semuanya sama aku." ucap Sela yang mulai penasaran dengan apa yang sedang di pikirkan Cika.


"Iya, aku janji!" balas Cika sambil tersenyum kearah sahabatnya itu.


Sela kembali ke meja kerja Aldo. Aldo masih sibuk memeriksa berkas yang ada di tangannya.


"Gimana? Ada yang salah?" tanya Sela.


"Gak ada, cukup baik." jawab Aldo.


"Ingat, Aldo! Semuanya gak gratis ya." ucap Sela sambil mengingatkan kembali janji Aldo kepada dirinya.


"Iya, iya, dasar bawel!" ketus Aldo yang sedikit jengkel dengan sepupunya itu.


Aldo mengeluarkan sebuah paper bag dan meletakkannya di atas meja. Sejenak Sela terdiam, dia tidak menyangka kalau Aldo benar-benar menepati janjinya. Padahal sebenarnya Sela hanya ingin menggoda sepupunya saja.


"Ini, ambillah!" ucap Aldo sambil memberikan paper bag berukuran sedang itu ke tangan Sela.


"Ini apa?" ujar Sela yang sedikit penasaran.


"Buka saja sendiri!" jawab Aldo.


Sela yang sudah tidak sabar ingin mengetahui isi dari paper bag pemberian Aldo, dengan cepat mengeluarkan isi paper bag itu. Seketika Sela dibuat melotot melihat sebuah kalung mewah yang ada di dalam kotak perhiasan.


"Ya ampun, Aldo! Ini cantik sekali." ucap Sela sambil berlari memeluk sepupunya itu.


"Sudah, gak usah drama." ucap Aldo sambil menahan tawanya.


"Terimakasih, sepupuku yang baik hati dan tidak sombong!" ucap Sela yang benar-benar merasa bahagia.


"Iya, sudah, lepaskan aku!" ketus Aldo.


Sela melepaskan pelukannya dari Aldo. Dia merasa sangat bahagia bahkan sampai tidak sadar kalau ada Cika di dekat mereka. Sejenak Sela merasa tidak enak hati karena Aldo memberikan hadiah untuknya di depan Cika.


"Aldo! Harusnya kamu berikan hadiah ini untuk Cika saja. Dia lebih berhak menerima ini karena dia calon istrimu." bisik Sela tepat di telinga Aldo.


Aldo hanya tersenyum mendengar perkataan Sela sambil melangkah kearah wanita cantiknya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu merasa tidak enak dengan Cika. Aku sudah membelinya untuk Cika juga." ucap Aldo sambil menyibakkan rambut Cika kebelakang.


__ADS_2