Hati Berdarah

Hati Berdarah
Kena PHP


__ADS_3

Setelah melewati drama yang cukup panjang dan menegangkan, akhirnya mereka semua melangkah meninggalkan ruang keluarga.


Mila yang saat itu masih belum terlalu kuat sehabis melahirkan putri kecilnya, dibantu oleh mama mertuanya. Ara memapah menantu sulungnya itu menuju kedalam kamar Mila. Sementara Cika menggendong keponakan cantiknya dan menyusul kedalam kamar kakak sepupunya.


Cika benar-benar sangat bahagia saat ini, dia merasa menjadi wanita yang paling beruntung memiliki keluarga yang penuh dengan kasih sayang seperti yang dia rasakan saat ini.


Memiliki mertua yang perhatian seperti Ara, adalah dambaan setiap wanita. Ara bahkan memiliki kasih sayang yang sangat luar biasa terhadap kedua menantu cantiknya itu. Tidak ada perbedaan diantara mereka berdua.


Sesampainya didalam kamar, Ara membantu Mila berbaring di atas tempat tidur. Sementara Cika meletakkan keponakan cantiknya tepat di sebelah kakak sepupunya.


"Terimakasih ya Ma, Cika!" ucap Mila dengan lemah lembut.


"Iya Kak, kakak istirahat dulu saja! Cika mau menemui Aldo sebentar. Dia pasti sedang kesal saat ini." ucap Cika yang mulai kepikiran dengan suaminya.


"Pergilah sayang, ajak suamimu makan dulu! Mama sudah menyiapkan makanan untuk kalian di meja makan!" tambah Ara yang masih ingin menemani Mila di kamarnya.


"Iya Ma, Cika permisi dulu!"


Cika berjalan meninggalkan kamar kakak sepupunya dan melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Sesampainya didalam kamar, Cika mendekat kearah suaminya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


"Aldo...!" sapa Cika sembari duduk di pinggir kasur.


"Hmmm, ada apa?" sahut Aldo yang berpura-pura dingin kepada istrinya.


"Kamu kenapa, kamu marah ya sama aku?" tanya Cika yang merasa aneh dengan ekspresi suaminya.


"Pikir saja sendiri!" sahut Aldo tanpa menoleh kearah istrinya.


"Kenapa malah kamu yang marah? Harusnya aku yang marah sama kamu! Kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari istrimu sendiri. Kenapa tidak menjelaskannya sejak awal?" tanya Cika dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Bukankah aku ini suami yang tidak berguna? Untuk apa aku menjelaskan semuanya padamu?" jawab Aldo sembari membalikkan tubuhnya dan membelakangi istrinya.


"Itu kan salah kamu sendiri. Kalau kamu tidak diam saja seperti tadi, aku tidak akan mungkin bicara seperti itu!" ucap Cika menyalahkan suaminya.


Aldo tidak menjawab sama sekali. Laki-laki itu malah menarik selimut dan menutup tubuhnya dan berpura-pura tidak mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu saja! Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu! Aku turun dulu, mama sudah menyiapkan makanan di meja makan!" ucap Cika sembari melangkah kearah pintu kamar mereka.


Melihat sikap cuek istrinya, Aldo akhirnya melompat turun dari tempat tidur dan menarik tangan istrinya hingga merapat ke pelukannya.


"Kamu mau kemana sayang? Tidak bisakah kamu sedikit merayuku agar aku memaafkan dirimu?" tanya Aldo yang berharap mendapatkan rayuan maut dari istrinya.


"Untuk apa aku merayu mu? Aku tidak merasa mempunyai kesalahan apapun padamu!" ketus Cika sembari menarik tangannya kembali.


Saking kesalnya, dengan cepat Aldo mengangkat tubuh istrinya dan membawanya menuruni anak tangga.


"Aldo, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" ketus Cika yang terkejut dengan sikap suaminya.


"Kamu mau makan kan? Aku akan menemanimu!" sahut Aldo sembari terus melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Bukankah kamu sedang marah? Untuk apa berpura-pura baik seperti ini padaku? Makan saja kemarahan mu itu, siapa tau itu bisa membuatmu kenyang!" ucap Cika yang membuat Aldo langsung tersenyum malu.


"Hehehehe... Iya sayang, tadinya memang aku memang sedikit kesal sama kamu. Tapi entah kenapa perasaan kesal itu tiba-tiba hilang setelah melihat wajah cantikmu ini." goda Aldo sembari menempelkan bibirnya di kening istrinya.


"Dasar gombal!" ketus Cika sembari tersenyum malu.


Tidak lama, Ara pun keluar dari kamar Mila dan berjalan kearah anak dan menantunya itu.


"Cika, kamu makan yang banyak ya sayang! Ingat makanan itu bukan cuma untuk kamu seorang, tapi untuk cucu mama juga!" ucap Ara sambil mengusap kepala menantu bungsunya dengan lembut.


"Iya Ma, mama gak makan sekalian?" tanya Cika kepada mama mertuanya.


"Mama masih kenyang sayang, kalian teruskan saja! Oh ya, mama mau ke butik sebentar. Nanti kalau kamu butuh apa-apa, minta tolong Bibi saja ya!" ucap Ara yang mulai melangkah meninggalkan ruang makan.


"Mama tenang saja, Aldo yang akan mengurus menantu dan cucu mama ini!" sambung Aldo yang sudah siap menjadi suami siaga untuk istri yang sangat dicintainya itu.


Setelah kepergian Ara, Aldo dan Cika kembali kedalam kamar setelah selesai menghabiskan makanan mereka.


Sesampainya dikamar, Cika duduk di atas tempat tidur sembari mengunjurkan kedua kakinya.


"Kamu kenapa sayang, ada yang sakit?" tanya Aldo sedikit mencemaskan keadaan istrinya.


"Tidak apa-apa, akhir-akhir ini memang kakiku sering sekali terasa pegal. Mungkin bawaan orok." ucap Cika sembari mengelus perutnya.

__ADS_1


Sebagai seorang suami, Aldo tidak ingin membiarkan istrinya melewatkan tahap demi tahap proses kehamilannya begitu saja.


Aldo naik ke atas kasur dan memijat kaki istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Apa yang kamu lakukan Aldo? Tidak perlu seperti ini, sebentar lagi juga hilang dengan sendirinya!" ucap Cika yang merasa tidak enak hati kepada suaminya.


Aldo tidak mendengarkan ucapan istrinya, dia terus saja memijat kaki istrinya itu sembari tersenyum penuh kebahagiaan.


"Sayang, kamu masih ingat kan dengan taruhan kita pagi tadi? Kamu sudah kalah, jadi aku akan menghukum mu dengan caraku sendiri!" ucap Aldo sembari tersenyum licik kearah istrinya.


"Taruhan apa?" sahut Cika yang mulai merasa tidak tenang setelah mengingat kesepakatan diantara mereka pagi tadi.


"Kamu benar-benar lupa atau pura-pura lupa, sayang? Kamu tadi sudah melihat sendiri kan, wajah keponakan kita?" ucap Aldo yang sudah tidak sabar ingin menghukum istrinya itu.


Cika tidak menyahut sama sekali, wanita yang tengah berbadan dua itupun mulai salah tingkah karena sudah mengerti maksud pembicaraan suaminya.


"Sekarang, biarkan aku memijat mu terlebih dahulu. Bersiap-siaplah, nanti setelah pegal di kakimu hilang, aku akan menghukum mu sesuai perjanjian kita!" ucap Aldo dengan tatapan menuntut.


"Ya Tuhan, dia telah bertindak curang. Kalau saja dari awal aku tau Kak Mila itu sepupuku, aku tidak akan setuju dengan kesepakatan ini!" batin Cika yang sudah sangat gelisah memikirkan cara untuk menghindar dari suaminya.


Sementara Aldo masih asyik memijat kaki istrinya, Cika berdalih bahwasanya dia sedang mengantuk dan segera memperbaiki posisi tidurnya. Cika pun segera memejamkan matanya agar Aldo tidak menuntut hal-hal yang aneh darinya.


Melihat ekspresi istrinya, Aldo pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sangat lebar.


Setelah cukup lama memijat kaki istrinya, Aldo pun turun dari tempat tidur dan segera melepaskan pakaiannya. Yang tersisa hanyalah celana boxer yang membantu menutupi bagian pribadinya.


Karena sudah tidak sabar ingin menghukum istri cantiknya yang semakin menggoda itu, Aldo pun bergegas naik ke atas tempat tidur dan mengusap perut istrinya dengan lembut.


Aldo mulai mencium perut Cika, kemudian naik keatas dan mencium belahan pegunungan kembar istrinya dengan lembut. Setelah itu berpindah ke leher istrinya. Umbi batang Aldo pun mulai merespon dan sudah siap untuk bercocok tanam.


Namun sayang setelah berhadapan langsung dengan bibir Cika, Aldo hanya bisa menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


Cika ternyata sudah lebih dulu masuk ke alam bawah sadarnya sebelum Aldo berhasil menggarap ladang pertaniannya.



__ADS_1


__ADS_2