
Cika yang baru saja tersadar dari mimpi buruk itu tak henti-hentinya menangis memanggil nama Aldo.
"Aldo, Aldo, hiks,,, hiks,,," isak Cika sembari memanggil nama Aldo.
Aldo yang melihat Cika dari balik pintu kamar, bergegas berjalan menuju tempat tidur dan duduk di samping Cika.
"Cika kamu kenapa? Hei Cika, Ini aku." ucap Aldo sambil naik ke atas ranjang dan mengelus-elus kepala Cika dengan lembut.
"Aku takut, hiks,,,hiks. Bajingan itu datang ke sini!" ujar Cika sambil memeluk tubuh Aldo dengan sangat erat.
"Gak perlu takut, ada aku di sini!" ucap Aldo meyakinkan Cika. Aldo kembali menegaskan kalau cuma mereka berdua yang ada di apartemen itu saat ini.
"Itu semua hanyalah mimpi, tidak ada orang lain selain kita di sini." ucap Aldo sambil melepaskan pelukan Cika dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Ayo tidur lagi, nanti kamu bisa sakit kalau terlalu banyak pikiran seperti ini. Yang lalu biarlah berlalu, gak perlu kamu ingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja. Bajingan itu akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia akan membusuk di dalam penjara sana!" ucap Aldo panjang kali lebar sambil mengusap-usap rambut Cika.
Cika mulai merasa tenang dengan perlakuan Aldo terhadap dirinya, dia pun kembali terlelap di samping laki-laki tampan itu.
Aldo mencoba pelan-pelan untuk turun dari tempat tidur. Belum sempat Aldo melangkahkan kakinya, Cika kembali terbangun dan menggenggam tangan Aldo dengan erat.
"Jangan pergi!" rengek Cika meminta Aldo tetap berada disampingnya.
"Aku gak akan pergi Cika, aku hanya ingin kembali ke sofa!" jawab Aldo sambil membalikkan tubuhnya ke arah Cika.
"Tetaplah disini!" ucap Cika yang tidak mau melepaskan tangan Aldo.
Aldo ingin sekali menolak permintaan Cika, tapi disisi lain Aldo juga tidak tega meninggalkan gadis itu dalam kondisi seperti ini sendirian. Mau tidak mau Aldo akhirnya kembali naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Cika.
"Terima kasih," ucap Cika sambil tersenyum ke arah Aldo.
Cika semakin merapatkan tubuhnya ke arah Aldo dan langsung merebahkan kepalanya di atas dada bidang laki-laki itu. Tangannya pun ikut melingkar di atas perut kotak Aldo. Aldo kemudian tanpa ragu mendekap tubuh Cika dengan sangat erat.
__ADS_1
Cika sudah kembali masuk ke alam mimpinya. Sementara Aldo sama sekali tidak bisa untuk memejamkan matanya. Ini kali pertamanya bagi Aldo tidur satu ranjang bersama seorang wanita, apalagi wanita itu adalah wanita yang sangat dia cintai.
Perasaan Aldo semakin tak menentu melihat gadis cantik itu begitu lelap tertidur di dalam dekapannya.
"Aku mencintaimu Cika. Kau adalah wanita pertama yang mampu meluluhkan hatiku. Tetaplah seperti ini!" batin Aldo sambil mencium kening Cika berulang kali.
*****
Malam berlalu begitu cepat. Mentari pagi mulai terbit memancarkan kilauan cahayanya.
Aldo terbangun saat merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Perlahan dia mencoba membuka kedua kelopak matanya.
Seketika mata Aldo terbelalak melihat satu pemandangan yang tak biasa di depan matanya. Bagaimana tidak, tangan Cika yang sebelumnya ada di atas perut kotaknya, tiba-tiba saja sudah berada di bagian bawah. Tepat di atas pesawat tempur milik Aldo.
"Aduh Cika, kenapa kamu membangunkan adikku seperti ini?" batin Aldo sambil mengangkat tangan Cika dan memindahkannya sedikit menjauh dari pesawat tempur miliknya itu.
Aldo berniat untuk berlari ke kamar mandi. Dia merasa semakin gelisah dengan keringat yang mulai bercucuran. Dia merasa malu jika Cika terbangun dan ikut menyaksikan pemandangan itu.
"Cika, tolong jangan seperti ini!" batin Aldo sambil mengusap kasar wajahnya.
Cika terbangun dari tidurnya. Aldo yang menyadari itu, segera menutup kembali kedua matanya dan berpura-pura masih tertidur.
Sementara itu Cika yang melihat Aldo masih memejamkan mata, berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dia sudah tidak tahan lagi ingin membuang sesuatu ke kamar mandi.
Karena terburu-buru, kakinya tersangkut selimut yg digunakan oleh Aldo. Sontak saja selimut itu meluncur turun di atas lantai yang membuat Cika segera berbalik.
"Ahh..." teriak Cika sambil menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya.
Cika kembali berbalik membelakangi Aldo dan berlari menuju kamar mandi dengan wajah yang sudah memerah.
Aldo yang terkejut mendengar teriakan Cika tadi dengan sigap bangkit dan mengambil kembali selimut yang sudah ada di atas lantai.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, kenapa dia bisa melihat semua ini?" batin Aldo sambil menutupi kembali tubuhnya dengan selimut.
Aldo merasa sangat malu dengan keadaannya saat ini. Dia memilih kembali tidur dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Sementara itu Cika yang masih berada di kamar mandi berusaha untuk menjauhkan pikirannya dari hal-hal yang aneh.
"Besar sekali?" batin Cika yang teringat dengan apa yang baru saja dilihat oleh mata kepalanya.
"Aduh, kenapa pikiran ku jadi tak menentu seperti ini?" batin Cika sambil menepuk keningnya sendiri dan mengguyur tubuhnya di bawah air.
Selesai mandi, Cika berjalan keluar hanya menggunakan handuk karena dia sama sekali tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Cika pun berjalan meraba-raba menuju lemari agar tidak diketahui oleh Aldo.
Dengan sigap, Cika membuka pintu lemari dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan. Setelah mendapatkan pakaiannya, Cika dengan cepat berlari kembali menuju kamar mandi.
Cika keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya. Dia berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambutnya.
Tanpa dia sadari, ternyata Aldo sudah dari tadi menatapnya dalam posisi setengah duduk di atas ranjang. Aldo pun segera bangkit dan berjalan mendekati Cika. Aldo semakin mendekat dan mencium pipi Cika dengan begitu lembut.
"Aldo..." ketus Cika sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menjauhi Aldo.
Aldo meraih tangan Cika dan menariknya ke dalam pelukannya. Cika yang terkejut menerima perlakuan Aldo hanya terdiam seperti patung. Cika tidak berdaya untuk menolaknya. Cika memang merasa begitu nyaman berada di dalam pelukan laki-laki tampan itu.
Aldo mengangkat dagu Cika dengan kedua tangannya. Dia memandangi wajah cantik itu dengan tatapan yang sudah sedikit bernafsu.
Perlahan Aldo mulai mengecup bibir Cika dengan sangat lembut. Cika pun sama sekali tidak sanggup untuk menolaknya. Cika hanya memejamkan mata dan menerima setiap sentuhan dari bibir manis Aldo itu.
Aldo semakin berani karena tidak mendapat penolakan sama sekali dari Cika. Dengan penuh kelembutan Aldo mel*mat bibir atas dan bibir bawah Cika secara bergantian. Cika pun ikut terhanyut dalam permainan itu.
Cika mulai merasa aneh dengan sentuhan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya itu. Dia mencoba untuk mengikuti permainan Aldo.
Cika pun mulai berani memainkan lidahnya. Deru nafas yang semakin memburu membuat mereka berdua tidak ingin untuk melepaskan satu sama lain.
__ADS_1
Cika benar-benar melayang menikmati sentuhan bibir Aldo. Sesekali dia dengan berani menggigit bibir Aldo dengan lembut. Aldo pun semakin memperdalam ciumannya hingga mereka berdua saling menikmati satu sama lain.