
Gaby berdiri dengan tubuh yang mulai gemetar menatap Jordan yang juga menatapnya. Rasa bahagia yang baru saja ia dapat seolah kini sudah berada di ujung akhir. Semua rasa sakit dan banyaknya luka yang telah diberikan Jordan kembali bermunculan di otaknya. Siksaan secara fisik maupun verbal kembali terasa di sekujur tubuhnya. Dia mendekap erat tubuh Nino. Dia benar-benar merasa takut jika Nino juga akan mendapatkan siksaan dari pria yang tengah menatapnya, Saat ini Jordan sudah seperti seorang monster bagi Gaby. Sakit karena kehilangan anaknya juga pasti ulah pria kejam itu.
" Ge, ayo kita pulang. " Ajak Jordan dengan nada suara yang lembut.
Gaby menggeleng sembari terus memeluk erat Nino. Jika saja itu Gaby yang dulu, tentu saja dia akan dengan senang hati menyambut uluran tangan yang mengarah padanya. Tapi wanita mana yang tidak akan trauma setelah luka luar dalam yang ia alami? Gaby memundurkan langkah seraya kaki Jordan yang maju menghampirinya. Pengurus panti yang melihat reaksi Gaby begitu ketakutan, membuatnya mengeryit bingung sembari menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya di antara mereka. Melihat Gaby yang sudah tidak sinkron, pengurus panti memutuskan untuk mengambil Nino dari Gaby. Meski berat, Gaby akhirnya menyerahkan Nino karena merasa Nino akan dalam bahaya jika ada bersamanya.
" Ge, kita bicara sebentar ya? " Gaby yang tadinya bisa tersenyum kini kembali terlihat seperti frustasi dengan sejuta ketakutan.
Gaby yang tak bisa lagi mundur karena tubuhnya menabrak dinding, hanya bisa menggeleng dan mulai menangis meski tak mengeluarkan suara. Jika Gaby merasakan ketakutan yang luar biasa, maka yang saat ini Jordan rasakan adalah sakit. Sakit karena melihat wanitanya ketakutan saat melihatnya.
" Ge, aku tidak akan menyakiti mu lagi. Ikut aku ya? "
Jordan meraih tangan Gaby yang begitu dingin dan gemetar hebat. Dia menuntun langkah Gaby agar mengikutinya. Tentu saja Gaby memberontak, dia mencoba untuk menjauhkan tangannya dari Jordan. Tapi pria itu semakin memperkuat cengkeramannya dan mau tidak mau tubuh Gaby yang kini sangat kurus hanya bisa mengikuti Jordan sembari menangis.
Jordan membawanya memasuki mobil dan tak menunggu lama, mobil itu langsung melesat cepat menuju kediaman Jordan.
" Ayo kita masuk. " Jordan meraih tangan Gaby berniat membawanya keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya. Tapi sayang, gadis itu justru semakin ketakutan melihat rumah Jordan.
" Tidak! jangan! jangan pukul aku lagi. Tolong biarkan aku pergi. " Gaby menangkupkan kedua telapak tangannya untuk memohon. Gadis itu juga semakin menangis tersedu-sedu. Jika beberapa saat lalu dia begitu tak takut mati, maka beda cerita kali ini. Gaby merasa bahagia saat menggendong Nino dan berada ditengah-tengah anak-anak yatim piatu. Dia kini takut tidak bisa melihat mereka lagi jika kembali ke rumah tahanan itu.
Jordan menatapnya sendu. Kini dia sadar benar jika perlakuannya membuat Gaby begitu trauma dan merasa takut setiap bersamanya.
__ADS_1
" Aku tidak akan memukul mu lagi, aku berjanji. Aku akan memperlakukan mu dengan baik, tidak akan ada lagi Jordan jahat seperti kemarin. Percayalah padaku kali ini saja. "
Gaby masih menggeleng. Dia kini memegangi kursi kemudi yang ada didepannya erat-erat. Dia tidak mau kalau sampai harus masuk kerumah itu lagi.
" Tidak! tolong biarkan aku pergi. Aku ingin hidup sekarang. Tolong maafkan kesalahan ku. Jangan hukum aku lagi. Tolong.."
Jordan semakin mengeraskan rahangnya. Bukan marah, tapi kini dia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis melihat istrinya begitu ketakutan.
" Sayang, aku janji. Jordan yang jahat itu tidak akan kembali lagi. " Jordan kembali mendekat untuk membujuk Gaby perlahan.
" Jangan! jangan mendekat! aku tidak mau mati! " Gaby yang panik akhirnya membuka pintu yang ada disampingnya. Dia berlari tanpa arah sekuat tenaga. Tentu saja Jordan dan yang lain mengejarnya.
" Ge! "
Jordan berlari ke tengah-tengah dengan mengangkat tangan agar memberinya jalan untuk menyebarang. Dia langsung memeluk Gaby langsung saat sudah sampai didekatnya lalu membawanya untuk menepi sampai ke trotoar jalan raya.
Gaby terus memberontak dan memohon untuk dilepaskan. Tapi Jordan tidak mau mendengarnya dan membopong Gaby kedalam mobil yang sudah disiapkan Ron untuk mengikuti tuannya.
" Lepaskan aku! aku tidak mau kembali! lepas! " Teriak Gaby yang tak henti-hentinya memberontak.
Jordan semakin erat memeluk tubuh Gaby. Benar, dia sangat paham rasa takut yang Gaby rasakan. Tapi, hati nya tidak bisa menerima kepergian nya setelah kebenaran itu terungkap. Biarlah dia menjadi egois karena memaksa Gaby untuk kembali pada nya. Tapi dia juga akan berusaha sekuat tenaga untuk meluluhkan hati istrinya perlahan.
__ADS_1
" Ge, setelah ini kau bisa membalas ku. Aku tidak akan marah. "
Gaby mendorong tubuh Jordan dan itu berhasil. Entah dari mana keberanian dan kemarahan itu, tiba-tiba saja muncul.
" Kau sudah membunuh bayiku! kau membuat ku celaka! kembalikan bayiku! bawa dia padaku! hidupkan dia lagi! kembalikan! cepat kembalikan! " Gaby mencengkram kerah kemeja Jordan dengan tatapan marah.
Jordan yang sedari tadi menahan tangis akhirnya tak bisa lagi melakukan itu. Kini matanya mulai menjatuhkan buliran-buliran air mata. Momennya memang sangat tepat. Dia bersikap seolah tidak menginginkan bayi itu, lalu paginya kecelakaan mobil terjadi. Dan yang lebih parahnya, mobil yang Gaby gunakan adalah mobil lama miliknya. Tentu saja Gaby akan menuduhnya melakukan itu. Meski pada kenyatannya, mobil yang Gaby kendarai selalu dirawat dengan baik dan tidak pernah dibiarkan begitu saja, karena mobil itu adalah mobil pertama miliknya yang banyak menyimpan kenangan dan kisah perjuangan Jordan merintis usaha dari nol hingga sukses seperti sekarang.
" Ge, entah kau percaya atau tidak, aku juga terpukul karena bayi kita pergi. Tapi- "
" Bohong! kau dan Delena akan memiliki bayi, dan aku membunuh bayiku! kau jahat! aku tidak akan memaafkan mu! aku bersumpah akan membunuh mu demi bayiku yang kau bunuh! aku akan- ''
Ucapan Gaby terhenti saat Jordan kembali memeluknya erat. Dia bahkan sampai terisak mendengar semua ucapan Gaby. Jika saja dia lebih memilih untuk tidak mengutamakan kemarahannya, mungkin wanita cantik yang sudah menjadi istrinya itu tidak akan menjadi seperti sekarang ini.
" Anak itu bukan anakku, Ge. Aku bersumpah atas anak kita. Aku tidak menyentuhnya. "
Gaby tak menjawab, tubuhnya juga terasa lemas. Jordan seketika melihat wanita yang sedari ia dekap. Dan ternyata, dia tidur karena kelelahan.
" Bayiku, kembalikan bayiku. Bayiku, kau ada dimana? jangan bersembunyi sayang. Datanglah pada Ibu. " Dalam tidurnya Gaby selalu mengigau mencari anaknya. Dan itu kembali menjadi pukulan bagi Jordan.
Bersambung......
__ADS_1