Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Demi Ele


__ADS_3

Setelah memastikan Ele tidur, Jordan memutuskan untuk menemui Gaby yang duduk termenung di teras rumahnya. Nampak jelas beban penderitaan dari wajahnya. Sungguh, Jordan sangat tidak tega melihat Gaby dan juga putrinya. Tapi mau bagaimana lagi? mau protes? dengan siapa? Tuhan? lalu menyalahkan Tuhan? tidak mungkin kan? Jika boleh meminta, maka Jordan pasti akan memilih untuk menggantikan posisi Ele. Dengan begitu, dia bisa bahagia melihat anak dan istrinya tetap bahagia seperti sebelum penyakit Ele diketahui.


Perlahan Jordan mendekati Gaby dan duduk disampingnya. Gaby sempat menoleh sesaat, lalu dengan cepat pula juga dia kembali menatap ke arah sebelumnya. Jordan menatap Gaby yang masih enggan untuk menatapnya. Sejujurnya, Jordan juga merasa salut dengan kebaikan hati Gaby. Jika itu wanita lain, sudah pasti dia tidak akan pernah bisa sedekat ini dengan putrinya.


" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Jordan. Bukanya tidak tahu, hanya saja dia mencoba untuk mengawali pembicaraan dengan sebuah pertanyaan yang sekiranya bisa ia tebak apa jawabannya.


Gaby terdiam sesaat, tahu bahkan amat tahu kalau dia harus semangat agar bisa memberikan semangat kepada putrinya. tapi ada satu hal lagi yang kini tengiang-ngiang dikepalanya dan sepertinya sangat enggan untuk sirna.


" Aku hanya takut. Takut Ele tidak siap dengan efek dari kemoterapi nya nanti. " Gaby meremas ujung bajunya sembari menahan air matanya.


Jordan juga langsung terdiam. Benar, dia belum memikirkan akan ha ini karena terlalu sibuk mencari cara untuk menyampaikan kepada Ele tentang kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Benar sekali, efek dari kemoterapi yang sudah Dokter Stella beri tahu juga menjadi PR bagi mereka berdua. Mulai dari, Nyeri rambut rontok, Kehilangan ***** makan, Penurunan berat badan, Mual dan muntah,


Sesak napas dan kelainan detak jantung akibat anemia,


Kulit kering dan terasa perih,


Perdarahan, seperti mudah memar, gusi berdarah, dan mimisan,


Sering terkena infeksi, Sulit tidur,


Gangguan psikologis, seperti depresi stres, dan cemas, Rasa lelah dan lemah sepanjang hari, Konstipasi atau diare, Sariawan dan masih ada beberapa gejala sesuai dengan kondisi pasien sendiri.


Jordan menatap Gaby yang kini terlihat begitu sedih. Sejujurnya juga Jordan sangat membutuhkan dukungan dan semangat dari orang sekitar. Tapi keadaan benar-brnarv memaksanya untuk kuat dan lebih kuat lagi, agar bisa menguatkan Gaby.


" Aku tahu, kau pasti sangat sedih. Tapi Ge, bukan haha kau saja yang sedih. Aku juga merasakan hak yang sama, Ge. Aku sedih dan menderita karena harus disuguhkan kenyataan pahit setelah bertahun-tahun aku mencari keberadaan kalian. Jadi tolong, Ge. Mari kita saling menguatkan satu sama lain agar kita bisa menyemangati putri kita. "


Gaby menoleh ke arah Jordan. Benar, tentu saja Gaby tahu kalau apa ya g Jordan katakan benar. Tapi masalahnya, dia juga ingin menangis meski dia merasa yakin untuk kuat. Berpura-pura bahagia dan tidak terjadi apa-apa dihadapan Ele, rasanya sangat sulit hingga dadanya selalu terasa ditusuk belati. Lalu, apakah menangis itu adalah hal yang salah? apakah menangis itu menunjukkan bahwa diri tidak memiliki kekuatan? tidak! sungguh itu tidak benar. Sekuat apapun manusia, tentu saja akan menangis. Kenapa? karena menangis adalah respon dari perasaan yang sedang berduka. Dan masalahnya adalah perasaan alamaiah seseorang yang kadang juga ada masanya menjadi sensitif dan mudah menangis.


" Aku mungkin terlihat lemah di mata mu. Tapi kuatnya aku bertahan selama ini sudah menjadi bukti bahwa aku, sangatlah kuat. Jauh lebih kuat dari apa yang kau bayangkan. " Ucap Gaby lalu membuang pandangan setelahnya. Bukanya tidak mau berbicara lembut kepada Jordan, tapi membutuhkan waktu untuk bisa membiasakan diri dan berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan.

__ADS_1


" Maaf, aku tidak akan berbicara seperti itu lagi. " Ujar Jordan penuh rasa bersalah.


" Aku tahu kau orang yang kuat Ge. Maafkan aku karena sudah meremehkan kemampuan mu. "


Gaby terdiam dan terlihat enggan untuk merespon ucapan Jordan barusan. Entahlah, meskipun sudah mantap ingin memaafkan Jordan demi Ele, perasaan untuk menghindari Jordan masih sulit menghilang dari nya.


" Ge, masuklah, sebentar lagi malam. Angin pasti akan terasa sangat dingin. Banyaklah istirahat, karena besok adalah jadwal kemoterapi pertama Ele. "


Gaby menghela nafasnya. Iya, dia ingat jika dia dan Jordan memutuskan untuk segera melakukan tindakan agar lebih cepat pulih dan berharap, sel kanker yang ada di tubuh Ele di netralkan sebelum memasuki stadium ketiga, karena kanker Ele sudah masuk stadium dua akhir.


" Dimana kau akan tidur? " Tanya Gaby. Bukanya memperdulikan Jordan, dia hanya tidak ingin Jordan sakit lalu tidak bisa mengantar Ele di jadwal pertama kemoterapi nya.


Sejujurnya Jordan sedikit tersentak mendengar pertanyaan Gaby, tapi kembali dia menyadarkan diri agar tidak lagi larut dalam harapan dan membuatnya menjadi egois nantinya.


" Di tempat biasa. " Jawab Jordan yang itu berarti, dia akan tidur di kursi panjang yang berada di ruang tamu.


" Tidur saja di kamar. Biarkan Ele berada di tengah-tengah kita. Aku melakukan ini karena tidak ingin kau sakit dan absen dari kemoterapi pertama Ele. "


Jordan memutar kepalanya, tersenyum menatap Gaby lalu mengangguk. Tidak tahu mengapa, rasa tidak tahu malunya itu muncul dan membuatnya bahagia bisa tidur bersama anak dan istrinya. Setelah mendapat anggukan dari Jordan, Gaby memutuskan untuk masuk ke kamar tanpa mau bicara apapun lagi.


Jordan yang masih tertinggal disana seolah begitu rapuh setelah kepergian Gaby. Dia menaikkan pandangannya menatap ke langit malam yang dipenuhi banyak sekali bintang. Sungguh sangat cantik pemandangan langit malam itu. Tapi sayang, semua terasa tidak ada gunanya saat hati terasa kacau dan tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Beberapa Jam lalu saat berada di rumah sakit.


" Dokter, bisa kita bicara? " Tanya Jordan.


" Tentu. " Dokter cantik tang bernama Stella itu dengan wajah ramah nya menyetujui permintaan Jordan.


Setelah berada di dalam ruangan Praktek Dokter Stella, Jordan terlebih dahulu memastikan keadaan Ele sebelum Gaby mendengarnya langsung.

__ADS_1


" Dokter, bagaimana keadaan anak saya? "


Dokter Stella nampak begitu sedih sebelum menyampaikan kepada Jordan. Tapi ini adalah tugasnya yang harus dia lakukan dengan profesional.


" Begini Tuan, kanker darah yang bersarang di tubuh putri anda, sudah memasuki stadium dua akhir. Saya turut sedih mengeani hal ini. "


Jordan mengusap wajah nya dengan kasar beberapa kali. Hancur, sungguh sangat hancur hati Jordan saat ini.


" Berapa persen kemungkinan putri saya untuk sembuh? "


" Jika keadaan pasien terus stabil, kemungkinan untuk sembuh lumayan tinggi, Tuan. Tapi masalahnya, tubuh putri anda sangat lemah. "


" Lemah? bagaimana bisa? putriku selaku aktif dan tidak pernah mengeluhkan apapun. Bagaimana bisa anda menyebutnya lemah? "


Dokter Stella menghembuskan nafasnya pelan.


" Setelah melakukan pengecekan, putri anda memang memiliki anti body yang rendah, Tuan. Selain itu, saya mencurigai kalau penyakit ini tumbuh di tubuh putri anda karena disebabkan oleh faktor keturunan. "


" Apakah putriku akan sembuh? "


Dokter Stella terdiam sesaat.


" Kami akan mengusahakan yang tebaik, Tuan. "


" Tolong... " Jordan meraih kedua tangan Dokter Stella dengan tatapan memohon.


" Tolong sembuhkan putri ku. Dan juga, jangan mengatakan apapun yang bisa membuat istriku drop. "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2