
Tujuh bulan telah terlewati. Perut Gaby juga sudah membesar. Semua suka cita mereka lalui bersama. Meski tak jarang Gaby dan Jordan menangis secara diam-diam saat Ele merintih kesakitan, bahkan dia juga sering sekali kejang beberapa waktu terakhir. Pipi gembul Ele kini menjadi tirus, matanya melekuk pucat, rambut di kepalanya juga sudah habis tak tersisa. Alis, bulu mata juga sudah tak ada lagi. Sejujurnya begitu berat bagi mereka untuk menjalani hari-hari seperti ini. Apalagi saat Ele terus bertanya, kenapa rambutnya habis? padahal dia sudah membeli banyak ikat rambut. Wajahnya juga terlihat berbeda dari sebelumnya. Maka dari itu, Gaby dan Jordan memutuskan untuk meniadakan cermin di rumahnya.
Hari ini seperti biasa, saat pagi mereka akan berjalan menelusuri pantai indah dengan kaki telanjang untuk menikmati hamparan pasir yang bersih. Gaby yang sudah kesulitan karena perutnya membesar, sekarang sudah tidak pernah menggendong Ele. Tapi beruntungnya, Ele begitu manja dengan Ayah nya. Dia bahkan hampir tidak pernah mau lepas dari gendongan Ayahnya.
Setelah cukup puas berjalan-jalan, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
" Ele, apa yang ingin kau makan pagi ini? " Tanya Jordan sembari tersenyum.
" Tidak. " Ucap Ele yang beberapa bulan terakhir menjadi begitu pendiam. Tentu saja sebabnya adalah fisik nya yang membuat nya sedih. Apalagi saat dia melihat banyaknya ikat rambut, bando, dan juga penjepit rambut kesukaannya, dia semakin tidak mah berbicara lagi.
Gaby yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menahan tangisnya sembari membekap bibirnya sendiri agar tidak bersuara. Tapi Jordan, pria itu tetap begitu sok cool dan terlihat biasa saja. Tapi sebenarnya, dia begitu ingin menangis sejadi-jadinya.
" Ele, Tuan putri Ayah. " Jordan meraih kedua tangan Ele. Hadis kecil itu hanya diam di kursi rodanya tanpa ekspresi.
" Sayang, hari ini adalah hari ulang tahun mu. Bisakah kau sebutkan apa permintaan mu? Ayah akan berusaha untuk memberikannya. " Jordan kembali tersenyum, Sungguh dia begitu berharap jika putrinya akan segera sembuh dan kembali ceria seperti dulu.
" Benarkah? " Tanya Ele yang mulai tertarik dengan ucapan Ayahnya.
" Iya. Sekarang katakan, apa yang kau inginkan? "
__ADS_1
Ele terdiam sesaat sembari menatap manik mata kedua Ayahnya.
" Aku ingin rambut ku kembali. Aku tidak ingin menjadi sakit. Ayah, kenapa seluruh tubuh ku sakit? aku tidak mau seperti ini. "
Jordan menghembuskan nafas menahan tangis nya.
" Sayang, bertahanlah sebenatar lagi ya? saat adik kembar mu lahir, kau juga akan segera sembuh. Saat ini adikmu belum bisa dilahirkan, tunggulah dua minggu lagi ya? "
" Ayah, Ayah bilang akan memberikan apa yang aku mau. Kalau begitu, tolong kembalikan rambut ku. Dan jangan buat aku sakit lagi. " Pinta Ele lalu mulai menangis.
Jordan menunduk pilu. Bukan hanya pilu, tapi dia juga merasa begitu kecewa dengan dirinya sendiri. Padahal dia sudah berjanji untuk memberikan apapun. Tapi nyatanya? dia bahkan tidak bisa memenuhi satu pin dari permintaan anaknya.
" Aku hanya mau sembuh dan rambut ku kembali. Aku tidak mau yang lain, Ayah. "
Jordan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh dia ingin memberikan itu jika bisa. Tapi, dia juga hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kekuasan atas hidup seseorang. Jordan berpikir sejenak untuk memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Setelah dia mendapat kan ide, barulah dia bisa tersenyum. Dia kembali mengeratkan pegangan tangannya. Dia mencium kedua punggung tangan Ele bergantian. Ditatapnya lagi manik mata sayu milik putrinya itu.
" Sayang, tunggulah disini ya? Ayah akan pergi sebentar. Jangan menangis ya? tinggallah bersama Ibu. Ayah janji akan segera kembali. " Ucap Jordan lalu bangkit dan meraih kunci mobilnya. Dia berlari dengan semangat menuju mobil nya dan melajukan dengan segera.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke sebuah pusat belanja. Dengan langkah kaki lebar, Jordan menelusuri beberapa toko yang menjual alat-alat kecantikan. Bukan untuk membeli make up, melainkan dia ingin membeli rambut palsu untuk putrinya. Hampir satu jam Jordan menghabiskan waktu untuk mencari dan memilih rambut palsu yang akan nyaman digunakan oleh putrinya. Setelah itu, tanpa mengulur waktu lagi Jordan segera menuju ke parkiran. Jordan menghentikan langkahnya dengan dahi mengeryit. Tidak tahu mengapa, ia merasa seperti sedang di ikuti oleh seseorang saat ini. Jordan membalikkan tubuhnya menatap ke beberapa sisi mencari dan memastikan apa yang ia pikirkan itu benar atau salah. Jordan menghela nafasnya karena tak menemukan apapun. Tidak tahu itu karena dia merasa panik atau karena dia merasa terburu-buru jadi berpikiran aneh.
__ADS_1
Jordan yang merasa sudah terlalu lama berada di luar, dengan cepat menuju mobilnya agar bisa segera sampai di rumah.
" Ele, semoga kau suka dan berhenti bersedih ya sayang. " Gumam Jordan sembari tersenyum memeluk tas belanja yang berisi rambut palsu untuk putrinya. Bibirnya semakin mereka saat tersenyum membayangkan betapa senangnya saat dia melihat putrinya tersenyum lagi nanti.
Karena jalanan yang terasa sepi, Jordan dengan percaya diri akhirnya menambah batas kecepatannya. Sungguh dia ingin sekali cepat bertemu putrinya untuk memberikan rambut palsu itu. Dia benar-benar ingin melihat senyum manis di bibir Ele lagi. Karena dengan itu juga, Gaby juga akan tersenyum bahagia.
" Sial! kenapa rem nya blong? " Jordan yang merasa gugup mencoba mengimbangi kemudinya dan lebih konsentrasi. Tapi saat melihat sepasang anak dan Ibu yang sedang berjalan kaki dan hampir saja tertabrak olehnya, Jordan membanting setir hingga menabrak pembatas jalan. Mobil yang ia Kendari terpelanting lalu berguling beberapa kali karena kuatnya tabrakan itu. Cukup jauh mobil Jordan terpelanting hingga kurang lebih hampir sepuluh meter. Saat ini mobil Jordan dalam keadaan terbalik dan body mobil yang tujuh puluh lima persen bisa dikatakan ringsek. Jordan memeluk erat tas belanja berisi rambut palsu untuk putrinya. Darah juga mulai mengucur dari beberapa bagian tubuhnya.
Tes.. Tes... begitu banyak darah keluar dari tubuh Jorda. Tapi pria itu tak merasakan apa-apa. Di kepalanya hanya ada Ele, Gaby dan calon bayi kembarnya. Erat dan semakin erat Jordan memeluk tas belanja itu sembari meneteskan air mata.
" Ele, maafkan Ayah. "
Perlahan mata Jordan mulai tertutup dan tangannya masih saja memeluk erat hadiah untuk putrinya. Bahkan dalam keadaan duduk terbalik Jordan sama sekali tidak terlihat kesulitan memeluk tas belanja itu.
Di rumah.
Gaby berjalan ke kanan dan ke kiri karena merasa gelisah. Ini sudah hampir dua jam tapi Jordan belum juga kembali. Gaby juga sudah menghubunginya, tapi tidak sama sekali Jordan mengangkat nya.
" Ya Tuhan, kenapa dadaku terasa sesak? kenapa aku gelisah sekali? "
__ADS_1
To Be Continued.