Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Perpisahan Ron dan Jordan


__ADS_3

Hari ini, adalah hari dimana Ron akan segera kembali ke negara asal. Seperti yang seharusnya, Jordan akan mengantar Ron sampai ke bandara. Ini adalah perpisahan pertama mereka setelah bertahun-tahun selalu bersama kemana lun Jordan pergi. Memnag ada sesuatu yang berbeda, tapi ini adalah jalan satu-satunya ya g harus dijalani Ron dan Jordan. Sekarang ini Jordan harus fokus kepada Ele, dan Ron akan fokus untuk perusahaan yang sudah susah payah mereka bangun. Tapi beruntungnya, Ibunya Jordan adalah orang yang bisa membantu Ron dalam banyak hal mengenai perusahaan. Setidaknya Ron masih bisa sedikit memiliki waktu untuk menyelidiki hubungan antara Leon, Deon dan pria yang menjadi sasaran kecurigaan mereka.


" Ron, perketat keamanan perusahaan. Untuk sementara waktu sampai Ele sembuh dan aku kembali nanti, pindahkan Sammy ke kantor agar tetap bisa mengawasi keamanan perusahaan. Tugas untuk memantau Rendy, alihkan kepada orang terpercaya kita lainya. Ron, aku yakin dengan kemampuan mu. Tapi jika kau membutuhkan ku, tidak apa-apa kau menghubungi ku. Aku akan berusaha untuk datang. "


Ron tersenyum lalu memeluk Jordan. Entahlah, rasanya dia sudah seperti suami istri dengan Jordan karena selalu bersama.


" Jaga diri dan keluarga anda, Tuan. Sampaikan salam ku kepada Nona kecil. Aku berdoa supaya kalian bisa kuat menghadapi ini dan Ele cepat kembali sehat. "


" Terimakasih, Ron. Aku titip Ibu dan adikku ya? jaga mereka dengan baik. "


" Baik Tuan. "


Setelah kepergian Ron, Jordan memutuskan untuk segera kembali ke rumah kecil yang ditinggali oleh istri dan anaknya. Tapi sebelum pulang, Jordan memutuskan untuk membeli beberapa bahan pokok yang sepertinya begitu terbatas di rumah Gaby. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, susu, vitamin, quinoa bulgur, oatmeal kesukaan Ele dan masih banyak lagi. Untungnya, sebelum Ron pergi, pria itu sudah menyiapkan mobil baru untuk Jordan dan keluarganya gunakan.


" Ayah! " Panggil Ele yang melihat Jordan dari kejauhan karena dia tengah berada di pinggiran pantai bersama Gaby. Tadinya Ele sudah bersiap akan berlari saat melihat Jordan. Tapi dengan sigap tangan Gaby menahan tubuh Ele lalu menggendongnya.


" Jangan berlari, sayang. Ayah mu tidak kemana-mana. " Gany tersenyum sembari mengelus rambut Ele.


" Aku pikir, Ayah pergi jauh dan Ibu berbohong. " Ucap Ele wajahnya sedikit terlihat sedih.


" Tidak, sayang. Ayah tidak akan kemana pun. Ayah akan bersama kita. "


" Janji? " Gaby mengangguk dengan bibir tersenyum.


" Ibu, jangan memarahi Ayah seperti kemarin ya? " Pinta Ele dengan wajah yang begitu memohon.


Gaby mengangguk dengan genangan yang dengan tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya. Sungguh dia begitu menyesal karena sudah melakukan tindakan gegabah dan pada akhirnya membuat putrinya begitu takut akan kehilangan sosok Ayah.


" Maaf, sayang. Ibu janji, mulai dari hari ini, Ayah dan Ibu tidak akan bertengkar. Ibu juga janji, Ibu tidak akan memarahi Ayah lagi. "

__ADS_1


Ele tersenyum dengan begitu manis. Sungguh, sangat manis hingga membuat Gaby justru menangis karena ketakutan. Takut kalau tidak bisa melihat senyum itu lagi. Takut jika tida bisa memiliki banyak waktu lagi untuk membuat putrinya tersenyum manis seperti ini.


" Ibu, kenapa menangis? "


Gany dengan cepat menyeka air matanya lalu memaksakan tawanya.


" Tidak ada. Ibu hanya sangat bahagia karena kau bahagia. "


" Ayo kita temui Ayah. "


Gaby berjalan sembari menggendong Ele menuju Jordan yang tengah sibuk menurunkan banyak belanjaan dari mobilnya.


" Ayah, apa yang Ayah beli? " Tanya Ele sembari merentangkan tangan meminta Jordan untuk menggendongnya.


" Ayah membeli bahan makanan, dan boneka untuk mu. " Sadar jika putrinya meminta gendong, Jordan meminta Ele untuk menunggu sebentar karena dia harus mencuci tangannya terlebih dahulu.


Setelah selesai mencuci tangan, Jordan langsung mengambil Ele dari gendongan Ibunya. Dia kembali ke mobilnya untuk mengambil sebuah boneka beruang berwarna putih untuk putrinya.


Ele langsung menerima boneka itu dan memeluknya. Jordan sengaja membelikan boneka itu karena melihat boneka di kamar Ele sudah mulai rusak.


" Aku suka, Ayah. "


" Apa yang sedang kau lakukan tadi? " Tanya Jordan kepada sang putri yang terlihat begitu bahagia di gendongannya sembari memeluk boneka beruang berukuran sedang.


" Aku ingin bermain dan berlari seperti biasa, Ayah. Tapi Ibu selalu melarangku untuk berlari. "


Jordan terdiam sesaat sembari memikirkan alasan apa yang bisa diterima oleh anak seusia Ele.


" Dengar, Ibu mu sangat menyayangimu hingga takut jauh darimu. Kalau kau berlarian terus menerus, lama-lama kaki mu akan semakin lincah. Dan jika kaki mu semakin lincah, Ibu tidak akan bisa mengejar mu lagi. Apa kau mau Ibu mu sedih karena tidak bisa mengejar mu? " Ele menggeleng dengan wajah sedih.

__ADS_1


" Dengar, My princess. Ayah juga tidak bisa mengejar mu kalau kau terlalu lincah. Jadi, mulai sekarang kau tidak boleh banyak berlari ya? " Ele mengangguk dengan semangat.


Setelah obrolan kecil itu, Jordan, Gaby dan Ele memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


" Ele, Ayah dan Ibu ingin berbicara sebentar. Kau tunggu disini ya? ingat! tidak boleh kemana pun. " Ele mengangguk lalu fokus dengan boneka beruang putihnya.


Setelah berpamitan dengan Ele, Jordan dan Gaby memutuskan untuk keluar sebentar karena ada hal yang harus Jordan diskusikan dengan Gaby.


" Ge, bagaimana kalau kita pindah ke apartemen? "


Gaby terdiam sesaat.


" Ele tidak akan setuju. Dia sangat menyukai tempat ini. Aku juga pernah beberapa kali mengajaknya pindah. Tapi dia benar-benar tidak mau. "


" Tapi jika ada di pusat kota, itu akan lebih mempermudah kita dalam banyak hal. "


" Aku tahu. Tapi tempat ini adalah tempat yang paling Ele sukai. Karena tempat inilah, aku bisa melihatnya selalu tersenyum bahagia. Dia sangat menyukai pasir putih yang selalu bisa ia pijak. "


Jordan menghela nafas panjangnya. Bukanya merasa keberatan, tapi dia merasa sedih karena membiarkan anak dan istrinya tinggal di sebuah rumah kecil yang begitu sederhana. Apalagi melihat pekerjaan Gaby yang hanya begitu membutuhkan ketekunan tapi upah yang murah. Rasanya dia benar-benar begitu gagal.


" Apakah baik-baik saja tinggal disini? "


Gaby menatap Jordan yang bisa ia tahu, Jordan pasti tengah merasa bersalah.


" Tempat ini memang jauh dari keramaian. Tempat ini begitu sepi karena jarak tetangga yang berjauhan. Tapi tempat ini aman, nyaman dan indah. Kami baik-baik saja selama ini. Seterusnya juga akan begitu. "


Jordan kini menundukkan pandangannya. Ia benar apa yang dikatakan oleh Gaby. Terkadang, sesuatu yang mahal tidaklah membawa kebahagiaan serta ketenangan. Maka dia hanya perlu mengikuti apa yang membuat anak dan istrinya merasa nyaman.


" Baiklah, kalau kau dan Ele nyaman disini, maka aku pasti bisa merasakan hal yang sama. " Gaby terdiam tanpa ingin merespon ucapan Jordan yang barusan.

__ADS_1


" Baiklah, kita siapkan makan siang sekarang. Karena pukul empat belas nanti, kita harus ke rumah sakit untuk memastikan dan mendiskusikan beberapa hal mengenai tindakan untuk penyembuhan Ele nanti. " Gaby mengangguk lalu berjalan bersama dengan Jorda untuk masuk kedalam Rumah mereka.


Bersambung...


__ADS_2