
Gaby masih terdiam karena bingung. Bingung bagaimana bisa Deon dan Leon adalah anak dari Rendy dan Rose. Kapan mereka bertemu? bagaimana mungkin? Gaby mengusap wajahnya kasar. Meskipun dia tidak pernah dekat dengan adiknya Jordan ataupun Rendy sendiri, tapi Gaby tau bagaimana rasanya menjadi Jordan saat ini. Tatapan pilunya jelas begitu terlihat. Meskipun pria itu mencoba berpura-pura tida apa-apa, tapi raut kesedihan begitu jelas terlihat. Apalagi Rose, Jika waktu itu dia tidak bertemu Magdalena, mungkin Rendy pasti akan menemukan nya dan pasti juga akan bertemu dengan Rose.
" Ge? "
" Em? " Gaby menatap ke arah Jordan.
" Boleh aku bertanya? "
" Tentang apa? "
" Saat itu, kenapa kau memilih untuk pergi bersama Rendy? aku tidak menuduh mu melakukan hak buruk. Hanya saja aku penasaran. Bagaimana seorang Rendy bisa membuat mu mempercayainya. "
Gaby terdiam sesaat. Mengingat masa itu bukanlah hal mudah bagi dirinya. Kadang-kadang, dia bahkan sering mengalihkan fokus agar tidak teringat masa dimana dia mencoba lari dari Jordan, lalu mengecoh Rendy agar tidak bisa menemukannya. Gaby tidak berpikir lain saat itu. Karena yang dia tahu, Rendy tetap lah anggota keluarga Jordan yang suatu saat pasti akan memberi tahukan keberadaannya kalau sampai dia tinggal di tempat yang sudah di sediakan oleh Rendy.
" Ge? apa kau keberatan memberi tahu ku? "
" Aku hanya ingin lari. Aku tidak percaya kepada siapapun saat itu. Mengambil kesempatan yang ada di depan mata adalah pilihan yang harus aku pilih. "
" Jadi Rendy juga tahu kalau kau tinggal disini? "
" Tidak. Aku sudah bilang, aku tida mempercayai siapapun. "
" Maksud mu, kau juga kabur dari Rendy? "
" Iya. "
Jordan mengeryitkan dahi. Tentu saja, karena dia saja yang sudah mengerahkan banyak orang dan sumber daya tidak bisa menembus teka teki Rendy. Dan, untuk apa teka-teki itu Rendy ciptakan?
" Lalu bagaimana kau bisa lolos? "
" Saat aku berada di bandara, aku tidak sengaja bertemu dengan Mage atau Magdalena. Awalnya aku berpura-pura tidak mengenalnya. Tapi dia dengan tangan terbuka nya mengajak ku berbicara dan mengulurkan tangan untuk membantu ku. Dia membawa ku pergi dari sana dengan bantuan calon suaminya. " Gaby tersenyum pilu mengingat kejadian itu. Tanpa dia sadari, dulu dia begitu jahat kepada Mage. Wanita cantik yang memiliki hati begitu baik. Padahal, dia sudah menyakiti hatinya hingga berkali-kali. Dengan jelas ia bisa mengingat kata-kata Mage yang membuat hatinya tenang.
*Kau adalah wanita yang tangguh. Aku tahu, kau adalah orang yang baik meskipun kau sudah banyak menyakiti orang di masa lalu.
__ADS_1
Ge, kita tetaplah sahabat. Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kita, kau adalah sahabat ku*.
" Gadis bodoh itu, bagaimana kabarnya sekarang? " Gumam Gaby lirih.
" Gadis bodoh yang kau maksud, apakah wanita yang kau ceritakan? " Tanya Jordan.
" Iya. "
" Ge, maaf untuk saat itu. Aku tahu aku bahkan tidak pantas untuk mengatakan maaf, tapi jika ada yang bisa aku lakukan, maka akan aku lakukan untuk menebus kesalahan ku. "
" Saat ini, aku tidak ingin membicarakan tentang masa lalu yang menyakitkan itu. Fokus saja dengan Ele. " Ucap Gaby dengan ekspresi datarnya. Jordan mengangguk.
Setelah perbincangan dengan Jordan selesai, Gaby memutuskan untuk menemui Rose. Sementara Jordan, pria itu sudah bersama putrinya di kamar.
" Ini minumlah, malam ini benar-benar sangat dingin. " Ujar Rose sembari membenahi selimut yang menutupi bagian tubuhnya.
" Iya, memang benar. "
" Ini kemoterapi pertamanya. Aku harap semua akan cepat berlalu, dan Putri ku sehat kembali. "
" Aku juga berharap begitu. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan untuk Ele. "
Gaby tersenyum dan mengangguk.
" Rose, apa boleh aku menanyakan sesuatu? "
" Tentang apa? kenapa wajah mu serius begitu? "
" Ini tentang Deon dan Leon. "
Rose terdiam. Dia menang pernah menceritakan tentang kedua putranya. Tapi, tidak sekalipun dia mau menceritakan detailnya. Bukan karena malu memiliki anak tanpa suami, tapi rasa sakit karena kehilangan banyak hal membuatnya tidak memiliki keberanian untuk menceritakan detail nya.
" Ada apa dengan putra ku? "
__ADS_1
Gaby terdiam sesaat sembari menatap Rose. Sungguh dia ingin ini semua cepat selesai. Selama ini Rose menanggung hidup kedua anaknya sendiri. Dia susah payah membanting tulang agar anak-anaknya tidak kelaparan. Padahal, Rendy hidup mewah selama ini.
" Rose, apakah Deon dan Leon adalah anak mu dan Rendy? " Rose yang tadinya ingin menyeruput teh nya, akhirnya mengurungkan niatnya. Dia memang cukup terkejut karena heran, bagaimana Gaby bisa tahu tentang Ayah dari anak-anak nya?
" Siapa yang memberi tahu mu? "
" Jordan. "
Rose menghela nafasnya. Rasanya percuma juga menutupi kebenarannya, dilihat dari penampilannya, Jordan adalah orang mampu yang bisa dengan mudah mencari informasi tentangnya.
" Iya. "
Gaby menutup mulutnya karena sangat terkejut. Padahal dia berharap kalau hasil tes DNA itu salah. Tapi siapa sangka, dunia seakan begitu sempit dan selama ini dia tinggal di dekat anak-anakanya Rendy.
" Kenapa? kenapa kau diam saja? kau begitu susah payah mencari uang dengan mengorbankan nyawamu untuk menjadi nelayan. Kau bisa saja hanyut kapan pun! kenapa kau tidak menuntut Rendy untuk membiayai putra mu?! " Kesal Gaby. Sungguh dia sangat kesal. Selama ini dia selalu khawatir saat Rose menitipkan dua anaknya saat akan mencari ikan di laut. Rose adalah wanita yang tangguh dan cantik. Bukan hanya satu atau dua orang yang berniat mendekatinya, tapi wanita itu hanya memfokuskan diri untuk anak-anaknya.
" Lalu kau? kenapa kau juga tidak melakukan hal yang kau bicarakan tadi? " Tanya Rose yang seketika membuat Gaby terdiam untuk sesaat.
" Itu karena kesalahan Jordan sangat tida bisa ku terima saat itu. "
" Begitu juga dengan ku. Aku begitu membenci laki-laki itu. Bagaimana bisa aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan well come begitu saja? aku ini manusia bukan malaikat yang mudah memaafkan. "
" Kalau boleh tahu, apa yang terjadi di antara kalian? kenapa hubungan kalian terdengar begitu buruk? "
Rose menghela nafas nya.
" Saat itu, aku masih duduk di sekolah menengah pertama. Dan Rendy sudah berada di kelas menengah atas. Kami bertemu saat acara ulang tahun sahabat kami. Kami berkenalan, lalu menjadi dekat dan jatuh cinta. Aku begitu tergila-gika dengan pria itu hingga dengan bodohnya aku menyerahkan apa yang seharusnya aku jaga dengan baik. Hubungan kami berlangsung sampai di akhir masa sekolah menengah pertamaku. Tapi sial! aku hamil di saat ujian sekolah berlangsung. Aku memberi tahu apa yang terjadi kepada Rendy, tapi pria brengsek itu ketakutan dan mengusulkan agar menggugurkan kandungan ku saja. Tentu saja aki menolak, aku tidak ingin berdosa untuk kesekian kalinya. Tapi kau tahu apa yang dia lakukan? "
" Apa? "
" Dia justru pindah ke sekolah. Aku mencoba menghubunginya seperti orang gila. Aku mendatangi semua kenalannya tapi tidak ada hasil. Ada beberapa orang yang memberi tahu bahwa Rendy pindah ke luar negeri. Setelah dia pergi, rasa cinta yang aku miliki berubah menjadi rasa benci yang begitu besar. Ditambah lagi, orang tuaku juga mengusirku karena malu. Kau tahu Ge? untuk bisa berdiri di atas kaki ku sendiri, aku harus jatuh berulang kali dengan luka di sekujur tubuh ku. "
Bersambung...
__ADS_1