
Di sebuah rumah kecil yang tak jauh berbeda bentuknya dengan rumah Gaby. Tempat dimana Rose dan sepasang anak kembarnya bertahan hidup dengan mengandalkan sumber daya yang terbatas di sana. Hujan badai, ombak besar yang kadang menghantam rumahnya ketika air laut pasang, kelaparan, menahan sakit, dan berjuang sendiri seperti ingin mati saja rasanya. Tapi saat melihat kedua anaknya yang tumbuh dengan sehat, itu semua menjadikan Rise sebagai wanita kuat yang tak gentar melawan apapun. Tak jarang Rose berada di dalam bahaya saat berada di tengah laut. Mukai dari perahunya yang rusak, kehabisan bahan bakar, teromabang ambing saat air laut pasang, perahu yang dihantam oleh kawanan hiu, dan masih banyak lagi sad story milik Rose.
" Rose, maafkan aku. Menceritakan ini pasti menyakitkan untuk mu. "
Rose tersenyum.
" Tidak. Aku sudah tidak merasakan sakit lagi Ge. Aku sudah bisa berdamai dengan diriku dan keadaan ku sekarang. Benar, aku mencari nafkah seperti orang gila yang tidak mengenal mati. Tapi aku sudah bahagia, Ge. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana sakitnya, karena aku hanya menikmati bagaimana indahnya hari ini. "
Gaby tersenyum lalu meraih tangan Rose agar bisa saling menguatkan. Benar, yang dikatakan Rose adalah sebuah kebenaran. Sulit memaafkan dan berdamai dengan keadaan hanya akan membuat diri sendiri merasa sakit setiap kali mengingat sebuah peristiwa naas di dalam hidup. Ini adalah pelajaran yang amat penting untuk Gaby. Selama ini dia masih saja fokus memikirkan bagaimana dia tersakiti hingga sulit memaafkan dan akhirnya, dia sendirilah yang merasa tersiksa oleh pemikirannya.
" Rose, lalu bagaimana kau bisa sampai disini? "
" Dulu aku hanya berjalan mengikuti saja kemana kaki ku melangkah. Orang tuaku jelas tidak ingin aku kembali. Orang yang menghamili ku juga tidak tahu kemana. Maka biarkan saja kaki melangkah. Tanpa aku sadari, saat larut malam aku sampai disini. Sebuah pesisir pantai yang indah, angin yang sejuk, dan suasana hening yang memenangkan. Saat itu aku berpikir, betapa indahnya mati di tempat ini?. Tanpa aku sadari, kaki ku berjalan menuju laut. Bibir ku tersenyum membayangkan bahwa aku akan terlepas dari segala penderitaan ku saat itu. Tapi Tuhan tidak membiarkan ku mati terlalu cepat. Sepasang Nenek dan Kakek pemilik rumah ini membawa ku menjauh dari laut. Dia membawa ku masuk dan menanyakan apa yang terjadi kenapa aku ingin mengakhiri hidupku. Setelah mereka tahu, mereka mengulurkan tangan dan membantuku dalam banyak hal. Dia memberikan tangan mereka meski mereka tidak tahu aku siapa. "
" Kau beruntung sekali. " Gaby tersenyum.
" Iya, itu benar. Tapi keberuntungan itu tidak berlangsung lama. Dua bulan usia Deon dan Leon, mereka dijemput oleh anak-anak mereka dan tidak pernah kembali sampai sekarang. "
" Aku tahu, itu tidaklah mudah. Tapi terimakasih karena telah berjuang, Rose. " Ucap Gaby.
" Kau juga Ge. Aku tahu kau sedang dalam keadaan kacau. Tapi percayalah Ge. Saat kau menerima masa lalu mu sebagai bagian dari hidup mu, kau akan merasa baik-baik saja. Kau akan semakin menjadi muat dan tidak mudah menyerah. "
__ADS_1
Gaby memeluk Rose yang sedari tadi duduk disampingnya. Sungguh sangat dewasa cara berpikir Rose hingga Gaby begitu merasa malu karena tidak bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan seperti Rose. Meskipun Gaby tahu jika masih banyak cerita sedih ya g Rose Akami, tapi setidaknya Rose sudah tidak mempermasalahkan kan nya lagi. Dan begitu pun dia, mulai hari ini Gaby akan berusaha merelakan masa lalu menyakitkan dan fokus dengan kebahagiaan yang akan datang.
Setelah puas mengobrol dengan Rose, Gaby kembali ke rumahnya. Setelah sampai di dalam, dia tersenyum melihat Jordan dan Ele tidur dan saling memeluk. Tidak tahu harus apa di haru esok, tapi sepertinya memikirkan apa yang terbaik untuk Ele adalah pilihan yang paling tepat. Perlahan-lahan Gaby berjalan mendekati tempat tidur dan berbaring di samping Ele tang tengah memunggunginya karena dia sedang berpelukan dengan Jordan. Gaby memiringkan tubuhnya menatap punggung Ele. Dia kembali tersenyum mengingat saat pertama kali Ele lahir ke dunia. Suara tangisnya benar-benar sangat nyaring saat itu. Ele tersenyum, laku Ele yang belajar berjalan, semuanya memenuhi hari-hari yang tadinya kosong menjadi penuh warna dan banyak kebahagiaan yang Ele bawa.
Setelah beberapa saat Gaby berbaring, Jordan terbangun lalu perlahan dia bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke ruang tengah lalu menyalakan ponselnya. Dia mengambil sebuah pena dan jika selembar kertas untuk mencatat beberapa menu makan yang dipercaya akan membantu memulihkan kesehatan. Jordan begitu serius hingga tak sadar jika Gaby sedari tadi memperhatikannya. Karena merasa penasaran, akhirnya Gaby memutuskan untuk menghampiri Jordan menanyakan apa yang sedang dilakukan olehnya.
" Apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Gaby setelah beberapa langkah lagi berada di hadapan Jordan.
Jordan mengalihkan pandangan menatap Gaby sesaat, tersenyum lalu kembali ke kertas tang tengah ia tulis.
" Mencatat resep masakan yang bagus untuk memulihkan tubuh. "
" Bukanya otak mu sangat bagus? kau bahkan mengingat semua lesan dari dokter tadi. " Ujar Gaby.
" Berikan saja catatannya untuk ku nanti. Aku akan memasaknya untuk Ele. " Ucap Gaby.
" Maaf, kali ini aku ingin melakukanya sendiri. Aku ingin merawat putriku juga. Kau bagian yang lainya saja ya? "
Gaby menghela nafas panjangnya. Semenjak kedatangan Jordan, dia hampir tidak pernah melakukan apapun. Kecuali hanya sarapan pagi. Tapi sepertinya, sarapan pagi juga sudah tidak akan bisa ia lakukan lagi. Karena belum bisa tidur, Gaby akhirnya memutuskan untuk duduk juga disana. Lama dia hanya melihat Jordan menulis beberapa resep masakan hingga merasa lelah sendiri. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu yang membuatnya penasaran.
" Kau terlalu lama berada di tempat ini. Apa Selena tidak mencari mu? "
__ADS_1
Jordan langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Gaby. Benar, kesalahan ini adalah puncak dari bulatnya niat Gaby untuk lari dari dirinya.
" Ge, apakah menurutmu, aku benar-benar pria sebrengsek itu? "
Gaby mengalihkan pandangan.
" Aku bertanya, kenapa kau malah balik bertanya? "'
Jordan menghela nafas. Dia meletakkan penanya dan fokus menatap Gaby.
" Ge, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Selena. Aku juga tidak pernah tidur dengannya. Dan bayi yang dia kandung waktu itu, itu milik Ayah ku. "
Gaby sontak menatap Jordan dengan tatapan terkejut. Sungguh dia tidak menyangka kalau Selena dan Ayahnya Jordan bisa bertindak segila itu.
" Lalu bagaimana kabar Tuan Arnold dan keluarganya? "
" Tuan Arnold sudah pindah ke pedesaan. Kecuali Selena. Dia masih mendekam di penjara. Tapi putranya dirawat oleh Ayah ku. "
" Penjara? "
" Iya. Dia terbukti bersalah atas kecelakaan mu dulu. Dia adalah orang yang sudah membunuh anak kita. "
__ADS_1
Bersambung....