Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Kemoterapi Pertama


__ADS_3

Malam ini, untuk pertama kalinya Ele, Gaby, dan Jordan tidur diranjang yang sama. Jika Gaby memilih untuk beroura-pura tidur, maka lain dari Jordan. Pria itu masih terjaga. Pandangannya terarah kepada Ele dan Gaby bergantian. Rasanya sudah cukup mereka menderita karena ulahnya, tapi sepertinya Tuhan masih ingin menguji kesabaran Gaby, dan masih ingin memberikan hukuman bagi Jordan.


Jordan menghela nafasnya, lalu memeluk tubuh Ele. Aroma tubuh mungil itu benar-benar membuat pikirannya menjadi tenang. Perlahan-lahan Jordan mulai menutup mata karena rasa kantuk yang perlahan datang melanda sudah tidak bisa lagi ia tahan. Beberapa saat setelah itu. Gaby perlahan membuka mata. Dia melihat Jordan yang memeluk tubuh Ele dan terlihat sangat hati-hati. Tidak tahu bagaimana menjelaskan suasana hati yang sebenarnya. Jujur, rasa cibtanya keada Jordan masih lah ada. Tapi rasa sakit yang ia rasakan masih saja tidak bisa hilang. Ditambah lagi apa yang terjadi saat ini. Semua nya semakin sulit untuk bisa ia pahami.


Ke esokkan paginya.


Jordan saat ini tegah asik bercanda ria bersama putrinya sembari mengikat rambut Ele. Perlahan dia menyisir rambut itu hingga ingatan Tetang sakit yang kini di derita putrinya kembali ia ingat. Jordan mulai menahan tangis saat menyisir rambut Ele.


Bagaimana Ayah harus memberi tahu mu, nak? bagaimana bisa Ayah menjelaskan padamu saat rambut mu hilang dari kepalamu? apa lagi saat kau menyadari rambut alis mu juga rontok, bagaimana Ayah akan menjelaskannya?


" Ayah! " Panggil Ele.


" Iya. " Jawab Jordan sembari mengusap matanya. Untunglah, Jordan berada di balik punggung Ele, jadi gadis kecil itu tidak bisa melihat nya bersedih tadi.


" Ayah, ayo kita ke pusat belanja. " Ajak Ele.


Jordan tersenyum.


" Boleh, apa yang ingin kau beli? "


" aku ingin membeli banyak ikat rambut Ayah. Warnanya harus merah muda dan bentuknya juga harus lucu. Aku juga ingin membeli baju, Ayah. Tapi bajunya harus yang lebih besar dari ukuran ku. Dengan begitu, akan lama terpakainya. "


Jordan terdiam dengan kedua tangan yang gemetar. Baru saja dia membahas tentang ini. Dan sekarang, Ele menginginkan banyak ikat rambut, bahkan membeli baju yang lebih besar dari pada ukuran yang seharusnya.


Ele, bagaimana bisa kita membeli baju yang lebih besar dari ukuran mu. Bulan depan saja, kau bisa saja lebih ringan dari sekarang. Ele putriku, Ayah sungguh hancur mendengar nya nak.


" Ayah, kenapa tidak menjawab? " Tanya Ele tapi tak menoleh kebelakang.


" Oh, Ayah sedang memikirkan, pusat belanja mana yang akan kita kunjungi. "

__ADS_1


Jordan kembali melanjutkan aktifitas tangannya yang sempat tertunda-tunda karena tangannya yang terus gemetar.


Gaby yang mendengar ucapan mereka hanya bisa terduduk lemas di meja makan yang sekaligus digunakan sebagai meja tamu. Sedih, rasanya sangat sedih mendengar permintaan putrinya. Tapi untuk kali ini, Gaby tida akan menyerah begitu saja. Dia akan melawan takdir yang selalu mengaturnya kepada kesedihan. Terserah lah, biarkan Tuhan marah. Dia juga berhak marah karena selalu di permainkan oleh Tuhan.


Tuhan, untuk kali ini, aku tidak akan dan tidak mau mengalah. Kau sudah cukup mempermainkan ku berulang kali. Tidak boleh untuk yang ini. Putriku tidak boleh kau ambil.


Gaby menyeka air matanya, dia membenahi penampilannya dan berjalan menuju kamar mereka.


" Ele, Ayah. Ayo kita sarapan. "


" Hore...." Sorak Ele bahagia.


Sementara Jordan, dia tersenyum senang karena mendengar panggilan untuknya begitu lembut dari Gaby. Ayah? Sungguh dia sangat bahagia meski tahu itu juga hanyalah sebuah kepura-puraan saja.


Sarapan berjalan lancar seperti biasanya. Setelah sarapan selesai, Jordan dan Gaby bergegas membawa Ele ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi pertamanya. Tapi sebelum pergi, Jordan dan Gaby mengajak Ele untuk bicara. Mereka mau tidak mah harus memberi tahu Ele tentang kondisinya. Tujuannya adalah agar Ele optimis sembuh dan tidak terkejut dengan apa yang akan dia jalani untuk masa penyembuhannya nanti.


" Kenapa harus disuntik bu? tidak mau! di suntik kan sakit! " Mendengar kata disuntik, Ele langsung berteriak histeris kayaknya anak-anak pada umumnya. Dengan sigap Jordan meraih tubuh Ele dan menenangkannya.


" Princess nya Ayah, dengarkan Ayah. " Jordan bersimpuh, meraih kedua tangan Ele dan menciumnya terlebih dahulu.


" Sayang, Dokter bilang, di dalam tubuh putri kesayangan Ayah ink ada virus jahat yang berbahaya. Dan Dokter bilang, putri Ayah ini butuh disuntik agar semua virus itu mati. "


Ele terdiam menatap manik mata Ayahnya.


" Virus itu apa, Ayah? "


" Virus adalah kuman jahat yang berbahaya. Dia sangat suka memakan darah. Kalau dibiarkan saja, Virus itu akan mencuri darah mu terus menerus. "


" Jadi, aku harus disuntik agar kuman itu mati? "

__ADS_1


Jordan mengangguk. Dia kembali mencium kedua tangan anaknya secara bergantian.


" Di dalam suntikan itu, ada obat untuk membunuh kuman jahat. Jadi, kau harus melawan kuman jahat dan menahan suntikan kecil itu. "


" Apa Ayah yakin? "


" Iya, Ayah yakin. Dengar sayang, Dokter akan menyuntik mu beberapa kali, jadi maukah menahannya? " Ele terdiam. Jordan sangat tahu jika putrinya tentulah sangat ketakutan.


" Sayang, Ayah dan Ibu akan menemani mu. Jangan takut. Ayah janji, setelah kau sembuh, Ayah akan membeli semua jepit rambut dan apapun yang kau inginkan. Bahkan, Ayah juga akan membeli pabriknya juga. "


" Ayah janji? " Jordan mengangguk. Iya mengangguk dengan tersenyum meski dia sendiri ingin menangis.


Setelah persetujuan dan kesiapan Ele, Jordan dan Gaby tak mau membuang waktu lagi. Mereka langsung bergegas menuju rumah sakit.


Sesampainya disana, Ele menjalani beberapa prosedur sebelum kemoterapi pertama dilakukan. Mulai dari memeriksa kesehatan gigi, mengecek kesehatan tubuh secara keseluruhan, lalu pemasangan intravena. Semuanya berjalan lancar karena Jordan memilih tempat dan Dokter khusus untuk menangani putrinya.


Seperti yang sudah dibayangkan. Ele tentu akan menangis, merintih kesakitan saat proses kemoterapi dilaksanakan. Hancur, sungguh sangat hancur melihat putrinya menangis seperti ini. Tangan Gaby yang gemetar juga begitu terasa di lengan Jordan. Tadinya dia terus menggandeng tangan Ele, tapi saat jarum suntik itu menembus kulit Ele, Gaby sontak menraih lengan Jordan agar Ele tidak tahu bagaimana Ibunya juga ketakutan. Jordan meraih tangan Gaby laku menggenggamnya dengan satu tangan.


" Tidak apa-apa. Kuatlah, Ele akan ketakutan kalau kita juga terlihat takut. "


Gaby mengeratkan genggaman tangan mereka mencari kekuatan dari sana. Benar, perlahan-lahan dia bisa tersenyum untuk menenangkan putrinya uang masih saja menangis.


" Ibu, Ayah, Sakit.... " Rintihan Ele.


Jordan juga semakin menguatkan genggaman tangannya. Sungguh tidak sanggup mendengar putrinya merintih seperti itu.


Kuatlah sayang, kalau kau sehat, kami benar-benar akan sangat bahagia. Tolong, berjuanglah nak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2