Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Seperti yang sudah di jadwalkan, hari ini Jordan dan Gaby datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Ele yang dipastikan lebih akurat. Jordan dan Gaby duduk berdampingan, berhadapan dengan seorang Dokter muda cantik yang sudah terkenal dengan kemampuannya. Sungguh, ini adalah momen yang paling Jordan dan Gaby benci. Membicarakan keadaan anak mereka, sama saja menghancurkan hati mereka sendiri. Tentu sebagai orang tua, mereka begitu tidak sanggup menerima ke kenyataan pahit yang bahkan jauh lebih pahit dibandingkan dengan empedu.


" Bagaimana keadaan putri kami Dok? "


Dokter muda yang bernama Stella itu menghela nafas lalu memaksakan senyumnya. Memberi tahu keadaan pasien yang menderita penyakit serius, tentulah menjadi kesedihan bagi seorang dokter. Apalagi, pasiennya masih sangat kecil.


Gaby yang merasa takut melihat ekspresi Dokter itu menjadi semakin gelisah. Dia bahkan tanpa sadar mencengkram tangan Jordan hingga tangannya gemetar. Tentulah Jordan Tahu jika Gaby merasa takut. Dia meraih tangan Gaby dan menepuk punggungnya agar menjadi lebih tenang. Meski itu tindakan kecil, sepertinya Gaby mulai terlihat tenang.


" Begini, Tuan dan Nyonya. Kanker sangatlah sulit di identifikasi saat stadium awal, gejala-gejala yang di alami oleh putri anda, dan menurut hasil pemeriksaan, kanker yang di derita putri anda sudah berada di stadium dua. Kami turut prihatin, tapi kami juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Putri anda sembuh. "


Gaby menggeleng tidak percaya. Matanya juga sudah mulai menjatuhkan air mata.


" Tidak mungkin! bagaimana mungkin ini terjadi?! tidak! tidak mungkin! " Gaby mulai histeris karena masih tidak mau mempercayai kenyataan ini. Sejujurnya, dia berharap kalau hasil pemeriksaan awalnya salah, tapi Tuhan berkehendak lain, justru harapan itu semakin menyakitkan karena kenyataan justru lebih menyakitkan dari pada dugaan.


" Ge, tenanglah. Ele bisa mendengar nanti. Tenangkan dirimu. " Jordan memeluk erat tubuh Gaby yang dengan jelas bisa ia rasakan. Gemetar dan dingin.


" Tenangkan dirimu. Ele akan mendengarnya nanti. "


Setelah Gaby cukup tenang, Jordan kembali fokus berbicara kepada Dokter. Bukanya dia tidak sedih, hanya saja dia lebih ingin fokus mencari cara agar putrinya bisa sembuh.


" Dok, kira-kira, kenapa anak kami bisa mengidap penyakit seperti ini? "


" Penyebab Leukimia secara umum sebenarnya belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab Leukimia, mulai dari kelainan kromosom, paparan polusi, paparan radiasi, merokok, obesitas, dan lain sebagainya.


Dengan kata lain, penyebab Leukimia bisa berasal dari faktor eksternal dan internal tubuh. Faktor penyebab Leukimia secara eksternal adalah termasuk paparan radiasi, polusi, zat kimia tertentu yang berbahaya. Karena putri anda masih sangat kecil, saya yakin bukan seperti ucapan saya yang pertama. Dugaan saya, ini adalah faktor genetik, Tuan. "

__ADS_1


Jordan mengeryit bingung. Iya, tentu saja dia bingung. Dari apa yang ia tahu, tida ada di keluarga nya yang pernah memiliki riwayat penyakit seperti ini. Lalu bagaimana bisa?


" Jadi, semua karena aku? " Ucap Gaby dengan wajah tidak percaya tapi masih saja matanya meneteskan air mata.


Jordan menatap Gaby penuh tanya. Dari yang ia tahu, Gaby juga tidak memiliki riwayat penyakit seperti yang Ele derita.


" Tidak, Ge. Ini semua bukan salah mu. " Ujar Jordan yang tengah berusaha menguatkan Gaby yang terlihat sangat terpukul.


Gaby menggeleng sembari mulai terisak.


" Nenek, Ibu, dan kakak ku memiliki sakit ini. Tiga bulan setelah dinyatakan mengidap leukimia, mereka justru terlebih dulu meninggal karena kecelakaan mobil. " Gaby menatap Dokter itu penuh tanya.


" Aku kan tidak mengidap sakit itu, kenapa putriku bisa? kenapa aku tidak?! kenapa harus putriku? " Gaby memegangi dadanya sembari menangis tapi sebisa mungkin dia tak mau bersuara. Dia takut jika nanti, Ele akan mendengar nya.


" Itu adalah sebuah keberuntungan untuk anda, Nyonya. Dan putri anda, mungkin kurang beruntung, tapi kami benar-benar akan berusaha sebaik mungkin. Kami akan sama-sama berjuang bersama anda dan putri anda tentunya. Nyonya, tolong tegar lah. Tetaplah kuat dan berikan semangat terus menerus agar putri anda semangat dalam menjalani pengobatan. "


" Seberapa banyak peluang kesembuhan untuk anak saya? " Tanya Gaby.


" Nyonya, seiring perkembangan zaman, saat ini tingkat ketahanan untuk sembuh anak terhadap kanker darah pada usia nol sampai lima tahun mencapai delapan puluh sampai delapan puluh lima persen. Peluang tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan peluang kesembuhan pada orang dewasa yang hanya enam puluh persen. Hal ini dikarenakan tingkat keparahan sel kanker pada anak lebih rendah dibanding orang dewasa. Jangan terlalu takut, Nyonya. Saya mengerti perasaan anda. Tapi ketakutan anda justru hanya akan membawa dampak buruk bagi putri anda. Berjuanglah bersama kami, mari kita sama-sama berusaha membunuh penyakit yang bersarang di tubuh putri anda. " Dokter Stella menggenggam erat tangan Gaby agar Ibu dari pasien nya menjadi lebih kuat lagi.


Gaby perlahan akhirnya terlihat lebih baik, dia juga sudah mulai bisa sedikit tersenyum. Lega, itulah yang sedikit terasa di hati Jordan. Sama seperti apa yang Gaby rasakan.


Setelah pembicaraan dengan Dokter Stella usai, Gaby dan Jordan akhirnya menemui putrinya yang tengah berbincang asyik dengan seorang perawat.


" Hai, princess. " Sapa Jordan dan Gaby bersamaan. Entahlah, rasanya mereka hanya ingin terus tersenyum dan terlihat bahagia di depan putri cantik mereka.

__ADS_1


Jordan meraih tubuh Ele lalu menggendongnya. Dia mengecup pucuk kepala putrinya lalu beralih ke pipi.


" Sayang, Ayah sangat menyayangi mu. "


" Aku juga sayang Ayah. " Ele memeluk sang Ayah lalu pandangannya beralih kepada Ibunya.


" Ayah, apa Ayah sayang Ibu juga? " Tanya Ele dengan tatapan polosnya.


Jordan menatap Gaby sesaat lalu kembali menatap putrinya yang masih saja menatapnya dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.


" Tentu saja. Ayah sangat menyayangi Ibumu. " Jawab Jordan yang jelas mengatakan semuanya dengan jujur.


" Kalau begitu, ayo cium pipi Ibu. " Titah Ele.


Jordan terdiam lalu menatap Gaby seolah bertanya kepadanya. Meski rasa cinta kepada Gaby masih lah begitu besar, tapi untuk hal seperti itu tentulah dia tidak bisa se enaknya saja.


" Kenapa Ayah tidak mencium pipi Ibu? " Tanya lagi Ele yang justru semakin penasaran.


" Itu, baiklah. " Dengan perasaan canggung, Jordan mulai mendekatkan wajahnya. Tapi sebelum mengecup pipi Gaby, Jordan membisikkan kata maaf terlebih dahulu.


Ele tersenyum bahagia melihat Jordan mencium Gaby di depan matanya.


" Kita pulang ya? mulai hari ini kau harus banyak istirahat sayang. "


Karena delapan puluh persen waktumu akan dihabiskan dengan pengobatan kanker, sayang. Ya Tuhan,bagaimana cara ku memberi tahu Ele? alasan apa yang akan ku gunakan saat Ele menjalani kemoterapi nya nanti?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2