
Jordan datang dengan senyum yang terlihat begitu bahagia hari ini. Semua tamu undangan langsung menyambutnya bahagia. Tak terkecuali seluruh anggota keluarga yang merasa lega karena Jordan akhirnya datang juga. Tapi tidak dengan Ibunya. Perasaan tak menentu dan lebih cenderung sedih itu tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Entah mengapa ia merasa sedih membayangkan perasaan istri pertamanya Jordan yang tidak ikut hadir saat ini. Dia tahu benar bagaimana rasanya saat suami menikah lagi, sakit hingga ingin mati rasanya.
Selena datang dengan gaun pengantin yang begitu indah. Semua mata kini mengarah padanya. Tak bisa dipungkiri, Selena memang memiliki paras yang cantik dan menawan. Tapi tetap saja sampai sekarang dia tidak bisa menaklukan hati Jordan dengan kelebihannya itu.
Enggan untuk menatap Selena, Jordan kini tersenyum ke arah Ron yang sudah lebih dulu berada di sana. Jordan mengangguk dan mengisyaratkan Ron untuk segera mendekat padanya.
" Ready? " Tanya Jordan. Ron tersenyum dan mengangguk.
Ron berjalan menuju podium yang sudah berada dua MC disana. Ron memohon izin kepada MC itu untuk mengambil waktunya sebentar.
" Selamat pagi, Tuan dan NYonya sekalian. Perkenalkan, nama saya Ronaldo Khetter. Saya adalah Sekretaris Tuan Jordan. Maaf jika saya menyita waktu Nyonya dan Tuan sekalian. Tapi penting bagi saya untuk menunjukkan sesuatu yang amat penting. "
Ron tersenyum ke Jordan yang kini menganggukkan kepala.
" Untuk pertunjukkan selanjutnya, saya akan menyerahkan kepada Bos saya, Jordan. "
Jordan berjalan ke podium dengan perasaan yang tak bisa ia sampaikan hanya dengan kata-kata. Dia menerima pengeras suara dari Ron. Jordan kembali mengangguk lalu Ron juga melakukan ha yang sama. Ron berjalan menuju layar monitor yang memang berada di sana. Satu persatu Ron menampilkan photo-photo Selena saat memasukkan obat bius di minuman Jordan. Lalu photo saat Selena meminta bantuan dua security untuk membawa tubuh Jordan yang saat itu sudah tak sadarkan diri. Photo berikutnya adalah, photo Selena mengunjungi rumah sakit untuk memeriksa kandungannya yang pertama kali. Nampak sekali tanggal yang tertera disana lebih dulu dari pada Jordan yang dibius.
" Jadi, ini adalah salah satu kejutan dariku, Selena. Masih ada beberapa kejutan lain. " Ron dan Jordan tersenyum dingin ke arah Selena yang kini tengah menggelengkan kepala dengan tatapan takut juga masih tidak percaya jika Jordan mampu mengetahui itu semua.
__ADS_1
" Next, Ron. " Ucap Jordan yang di angguki Ron.
Ron mengeluarkan kembali rekaman kecelakaan melalui kamera dasbor yang ia dapatkan dari salah satu mobil yang melintas sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi. Setelah itu, dua penjaga membawa yang entah dari mana datangnya menyeret seorang pria paruh baya yang mengendarai Truck besar penyebab kecelakaan yang membuat Gaby kehilangan bayinya.
" Katakan, siapa yang menyuruh mu mencelakai istriku. " Titah Jordan. Pria paruh baya itu dengan tubuh yang gemetar menunjuk ke arah Selena.
Bagaikan tersambar jutaan petir suasana hati Selena saat ini. Semua kebusukannya kini tengah menjadi tontonan masyarakat umum. Tidak sampai disitu, kedua orang tuanya juga kini tengah menunduk malu karena ulahnya. Ayah dan Ibunya Jordan juga menatapnya dengan tatapan yang sudah bisa ia mengerti apa itu artinya. Selana meremas kain gaunnya dan mencoba mencari dalih yang masuk akal untuk pembelaannya saat ini. Setidaknya, masih ada harapan baginya untuk tidak terlalu buruk pandangan masyarakat kepadanya.
" Itu semua karena kau, Jordan! kau sudah merenggut kesucian ku tapi kau tidak mau mengakuinya. Dan pada saat aku hamil, kau juga masih saja mengelak. Aku terpaksa membius mu dan mengambil gambar sebagai bukti agar kau mau bertanggung jawab terhadap ku dan bayi ku. "
Jordan tersenyum miring lalu menatap tajam manik mata Selena yang tengah berpura-pura tak berdaya. Mungkin Selena pikir mudah untuk membodohi Jordan. Tapi, Jordan tentu saja tidak akan percaya begitu saja segala ucapan Selena. Dan yang membuatnya lebih percaya diri lagi adalah bukti valid yang tentu saja tidak akan bisa dibantah oleh Selena.
" Kau sangat pintar berpura-pura ya? "
Saat photo itu terpampang di layar monitor, sontak membuat seisi ruangan menjadi riuh dan saling melempar tatapan bingung.
Jordan menatap Ibunya yang kini tengah memegangi dadanya dengan air mata yang tengah mengisi pelupuk matanya. Hatinya juga sakit melihat Ibunya begitu terluka. Tapi mau bagaimana lagi? semua yang terjadi ini sungguh di luar dugaan. Photo-photo itu menunjukkan jika Selena dan Ayahnya Jordan memiliki hubungan rahasia. Mereka bahkan sering sekali menghabiskan waktu di hotel yang berbeda-beda.
" Bu, so sorry for that. " Tatapan Jordan berubah menjadi begitu sendu. Sakit, sangat sakit melihat Ibunya begitu menderita saat ini.
__ADS_1
" Ibu, baik-baik saja. " Ucap Ibu lirih dan mungkin hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.
Selena semakin menunduk malu begitu juga dengan Ayahnya Jordan. Semuanya benar-benar memalukan hingga ia tidak bisa mengatakan apapun. Ayahnya Jordan memilih untuk pergi meninggalkan tempat yang kini sudah terkepung kamera. Acara pernikahan yang direncanakan dengan begitu baik dan megah, kini berubah menjadi pertunjukkan besar-besaran yang akan menghancurkan dua keluarga besar.
" Semuanya sudah jelas sekarang. Selena, terimalah hukuman mu. Hukuman karena membunuh anakku dan membuat istriku terluka. "
Selena menggeleng lalu memberontak tak jelas. Rasanya tidak bisa ia terima begitu saja semua ini. Dia sudah bekerja sangat keras agar mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sudah susah payah mengorbankan dirinya agar bisa memuluskan rencananya untuk memiliki Jordan meski harus menyodorkan tubuhnya kepada Ayahnya Jordan. Tapi sekarang semua menjadi kacau dan hancur. Polisi yang memang sudah bersiap akhirnya membawa Selena dan pria yang membawa Truck itu.
" Tidak! jangan lakukan ini! lepaskan aku! " Selena terus memberontak tak perduli lagi dengan para wartawan yang sedari tadi meliputnya.
Jordan menatap nanar kepergian Selena. Sebenarnya dia ingin sekali menghukum Selena dengan caranya sendiri, tapi saat ini dia lebih mementingkan waktu untuk bersama Gaby dari pada mengurusi Selena.
Setelah Selena pergi, Jordan menghampiri Ibunya dan memapah nya lalu membawanya ke sebuah kursi dan mendudukkan Ibunya perlahan. Jordan bersimpuh di kaki Ibu ya memohon maaf atas apa yang dia lakukan hari ini.
" Bu, maafkan aku. Maaf, hukumlah aku, Ibu. Tapi aku tidak bisa menerima pernikahan gila ini. " Pinta Jordan.
Ibu meraih kepala Jordan dan mengusapnya pelan.
" Semua ini salah Ayahmu, Nak. Bukan salah mu. Ibu saja yang terlalu bodoh dan selalu memberinya maaf. Kau tidak bersalah nak, anak itu juga bukan milik mu. Tapi milik Ayah mu. "
__ADS_1
Jordan memeluk Ibunya agar bisa saling menguatkan satu sama lain.
Bersambung