
Selena masih saja menangis memohon agar Gaby melepaskan jemarinya. Tapi sayang, Gaby yang sekarang ini seperti tidak mengenal belas kasih sama sekali. Bahkan Selena sudah meminta ampunan hingga ratusan kali pun tidak satu pun yang mampu menggoyahkan hatinya.
" Ah! " Gaby menarik rambut Selena tanpa mengubah posisi tubuhnya. Iya, seperti inilah dulu Selena memperlakukannya jika Gaby membuatnya marah. Belum lagi, hukuman dari Ibunya Selena yang pasti akan menyakiti tubuhnya sampai beberapa minggu ke depan.
" Gaby, tolong ampuni aku. Aku mohon. Sakit, ini sangat sakit. "
" Sakit? kau bisa bayangkan bagaimana bayiku yang kau bunuh saat itu? dia pasti juga menangis dan memohon untuk tidak menyakitinya lagi. Dia juga, pasti menangis meminta ku untuk menolongnya. Tapi karena kau! "
" Ah! " Selena semakin kuat menangis saat tangan Gaby semakin mencengkram kuat rambut Selena.
" Aku benar-benar penasaran. Bagiamana rasanya melihat wajah indah mu itu saat putra mu sekarat dan memohon untuk mu menyelamatkan nya, tapi kau tidak bisa melakukannya. Wah, hanya dengan membayangkannya saja, aku sangat bahagia. Aku jadi semakin antusias untuk menjadikan itu sebagai kenyataan. "
" Tidak! aku mohon jangan Ge! tolong jangan lakukan itu. Aku akan menuruti semua yang kau katakan, tapi jangan sakiti putra ku. Aku mohon..." Pinta Selena yang entah seperti apa mimik wajahnya karena Gaby juga sama sekali tidak tertarik untuk melihat bagaimana ekspresinya.
" Kau sadar apa yang kau ucapkan tadi? "
" Iya, aku janji akan menuruti semua yang kau katakan. Tapi mohon jangan sakiti anak ku. "
Gaby tersenyum tipis lalu melepaskan tangannya dari rambut Selena. Tangisan Selena mereda seketika dan hanya tinggal jemarinya yang kini sudah mati rasa.
" Sekarang katakan padaku. Apa tujuan mu datang ke rumah ini? "
Dengan terisak-isak Selena mulai menjawab.
" Ayah yang menyuruhku. Dia meminta ku untuk memperhatikan celah aman dari rumah ini. "
" Apa tujuannya? "
__ADS_1
" Tidak tahu. "
" Ah! " Pekik Selena saat Gaby menekan sepatunya untuk memperdalam luka di jemari Selena.
" Sungguh, aku tidak tahu. Aku bersumpah. "
Melihat wajah Selena yang tidak berbohong, Gaby memutuskan untuk mengangkat kaki yang dilapisi sepatunya itu.
" Kau, harus mencari tahu apa yang sedang di rencanakan oleh Ayah mu dan Suami mu. Setelah itu, beri tahu aku apapun yang kau tahu. Tapi jika kau berkhianat, kau akan tahu bagaimana aku akan membereskan mu. "
Selena yang tahu benar bagaimana seorang Gaby ketika menggila, maka dia hanya bisa menyetujui saja semua yang dikatakan Gaby. Selain kurangnya keperdulian dari suaminya yang gila wanita, dia juga tida bisa bergantung terhadap Ayahnya yang hanya mencintai hartanya saja. Maka lebih baik dia hancur asalkan bisa menyelamatkan satu-satu nya orang yang mencintainya dengan tulus yaitu, anak kandungnya sendiri.
" Tali satu ha aku minta. Aku akan melakukan semua yang kau katakan. Tapi, kau harus melindungi putraku. Dia memang memiliki tubuh yang gemuk dan terlihat sehat. Tapi sebenarnya dia menderita secara mental. Aku melakukan hal ini hanya untuk putraku, kalau putraku tidak ada maka aku juga tidak punya alasan untuk mematuhi semua perintah mu. "
Gaby terdiam sesaat. Hatinya cukup berdesir kagum melihat cara Selena memohon saat ini. Selena yang dulu begitu manca, kasar, dan menjijikkan, sekarang terlihat begitu mencintai anak nya. Gaby juga seorang Ibu yang juga akan melakukan apapun demi anak-anaknya. Tentulah ancaman tadi sama sekali tidak akan dia lakukan dan hanya gertakan saja.
" Baiklah. Aku akan mencari alasan yang tepat. "
Gaby tersenyum penuh maksud. Padahal orang yang akan dia masukkan ke dalam rumah mertuanya itu adalah orang terpilih yang akan mengawasi Ayahnya Jordan dan memasang alat penyadap di beberapa titik penting dari rumah itu.
Setelah selesai menyepakati itu, Selena meninggalkan rumah besar Jordan dengan perasaan luka luar dalam. Selain bingung bagaimana menjelaskan kepada suaminya tentang tugasnya yang gagal, sekarang dia sudah di hadapkan dengan masalah yang baru. Tapi satu hal yang bisa dia yakini benar, bahwa dia hanya perlu melindungi putranya agar tidak berada di dalam bahaya. Sulit menjelaskan bagaimana situasi di rumah yang ia tinggali itu, karena disana berkumpul tiga istri lainya beserta anak-anak mereka. Sangat ketat peraturannya, belum lagi anak-anak yang sudah dewasa saing memusuhi satu sama lain demi untuk memperebutkan posisi Ayah mereka nantinya.
" Sayang, tadi kau sangat hebat loh. " Puji Jordan lalu mengacungkan jempolnya. Tapi lain hal nya dengan Ibunya Jordan yang terlihat begitu syok.
" Ge, tadi kau benar-benar seperti Ibu tiri. " Ujar Ibunya Jordan.
Sesungguhnya Gaby sendiri begitu tidak tega melakukan itu. Tapi mengingat bayinya yang meninggal karena ulah Selena, tiba-tiba kekesalannya muncul begitu saja menguasai dirinya. Untunglah, tadi Selena terlihat begitu menyayangi putranya dan membuat Gaby kembali bisa mengontrol dirinya.
__ADS_1
" Ibu, maaf karena Ibu harus melihat ini. Tapi sungguh, aku " Belum selsai Gaby berbicara, Ibu mertuanya memeluk erat tubuhnya. Seketika itu air matanya tumpah begitu saja. Hatinya berdenyut mengingat jika saja Ibunya masih hidup, dia pasti akan mendapatkan lebih banyak pelukan seperti ini.
" Tidak perlu menjelaskan apa-apa. Ibu percaya bahwa kau adalah wanita yang baik. "
Jordan tersenyum haru lalu memeluk dua wanita yang ia cintai itu. Sungguh melihat ini dia merasa begitu bahagia. Rasanya tidak ingin membuat dua wanita itu terluka sampai akhir hidupnya.
Setelah drama itu selesai, Jordan dan Gaby memutuskan untuk segera berangkat ke kantor. Sesampainya di sana, General Manager rupanya sudah menunggu untuk bertemu Jordan dan Gaby.
" Ada apa? " Tanya Jordan langsung saja karena pekerjaannya bari ini begitu banyak.
" Cucu saya sudah di kembalikan kepada saya, Presdir. Saya datang kemari untuk berterimakasih dan menanyakan langkah selanjutnya. "
Gaby tersenyum tipis.
" Bagus. Sekarang hanya tinggal menunggu saja bagiamana mereka memakan umpan itu dengan lahap. Sekarang, kembalilah bekerja lebih giat dari sebelumnya. Teruslah berpura-pura seolah anda sedang menangani proyek itu. "
" Baik, Nyonya. "
Setelah General Manager itu pergi, Jordan menghubungi Sammy untuk menanyakan kabar dari penyelidikannya seharian kemarin. Setelah mendapatkan informasi itu, Jordan akhirnya mengerti lalu menutup sambungan teleponnya.
" Bagaimana? " Tanya Gaby.
" Semua seperti dugaan. Tuan Arnold dan Ayah ku adalah orang di balik semua ini. Bisnis Ayah ku sedang tidak baik, makanya dia ingin menipu kita terlebih dulu. Baru setelah itu, dia akan membangkitkan kembali beberapa proyek yang sedang berjalan. "
" Tuan Arnold, tidak diangka dia menjadi semakin menggilai uang. "
" Iya, mereka memang sama. " Ujar Jordan.
__ADS_1
Bersambung