
Sebuah ruangan yang biasa digunakan Gaby dan Jordan untuk bekerja, kini tengah kedatangan tamu yang tidak biasa. Tamu dari kerabat dekat tapi hubungan yang amat jauh hingga hampir tidak sudi untuk saling mengenal. Yah, dia adalah Tuan Edward. Pria berusia lima puluh dua tahun yang masih terlihat gagah dengan postur tubuh tinggi besar mirip seperti Jordan. Laki-laki yang di kenal dengan otak encer nya dalam berbisnis kini terlihat tajam menatap Gaby dan Jordan bergantian.
" Apa kalian sengaja ingin mencari masalah? " Satu pertanyaan yang paling lucu menurut Gaby. Mencari masalah? yang benar adalah mencari untung besar agar menambah kekuatan dan menghentikan mu untuk membuat banyak masalah. Batin Gaby.
" Sayang sekali, kami lebih tertarik dengan cuan di banding dengan masalah. Lagi pula, masalah selalu datang kepada kami meskipun kami tidak mencari kok. " Jawab Jordan santai sembari menyelipkan anak rambut Gaby ke belakang telinganya. Tentu saja dia sengaja melakukan itu untuk menunjukkan bahwa tidak semua wanita yang dia inginkan, bisa jatuh ketangannya.
" Kalau begitu, serahkan tanah itu kepadaku. " Sebenarnya dia sangat kesal karena melihat bagaimana beruntungnya Jordan mendapatkan hati Gaby. Padahal dari awal melihat Gaby secara langsung, dia benar-benar menginginkan Gaby dan berniat menjadikan Gaby istri terakhir dan istri yang akan dia kenalkan di publik. Sial! putra yang selama ini dia anggap hasil dari perselingkuhan istrinya malah merebut wanita idamannya.
" Serahkan? tentu saja tidak mungkin. Sesuatu yang sudah aku dapatkan, tidak akan pernah mungkin akan aku berikan padamu. Bahkan debu yang ku anggap milikku, tidak akan ku biarkan di ambil oleh mu. " Jordan berbicara tanpa menatap Tuan Edward. Dia malah asik saja memainkan rambut Gaby yang terurai indah hari ini.
" Kalau kau masih saja membuat ulah, kau akan mendapatkan akibatnya. " Ancam Tuan Edward yang masih saja betah menatap tajam Jordan. Tapi sayang, pria itu malah sengaja mendekatkan diri dengan Gaby agar lebih leluasa memainkan rambutnya yang ia rasa lebih menarik dari pada seekor lalat yang sedari tadi membuatnya sebal.
" Tidak memuat ulah aku juga sudah biasa mendapatkan perlakuan buruk dari mu. Lagi pula, ini adalah dunia bisnis. Kalau kau merasa kau mampu, rebut saja tanah itu dengan cara yang benar bukan mengancam seperti pengecut. " Jordan melirik Tuan Edward sesaat lalu kembali fokus memainkan rambut Gaby. Gaby yang sedari tadi memilih diam, tentu saja dia tengah menunggu momen dimana dia bisa berbicara di antara anak dan Ayah yang bagaikan musuh tujuh turunan itu.
" Kau sedang menantang ku? "
__ADS_1
Jordan mendesah sebal. Sungguh, dia sama sekali tidak tahan lagi dengan cara Ayahnya mengajak bicara. Bukan berarti menginginkan untuk berdamai dan saking menyayangi layaknya anak dan ayah pada umumnya, Jordan hanya ingin mulut si tua itu diam dan jangan berbicara di depannya. Tapi mau bagaimana lagi? walau bagaimanapun dia adalah orang menyebalkan yang tidak akan perduli bagaimana perasaan orang lain.
" Anda ini sudah selesai bicara apa belum? " Kesal sudah hingga berbicara dengan begitu formal.
" Dengar, kau akan tahu akibatnya jika masih tidak mau menyerahkan tanah itu kepadaku. " Tuan Edward mengeraskan rahangnya menaham kekesalan yang hampir saja tidak bisa ia tahan. Sebenarnya dia sungguh tidak mau datang ke perusahaan Jordan secara langsung. Tapi karena Tua Arnold tidak akan mungkin bisa mengancam Jordan dan Gaby, dia terpaksa sudah datang sendiri. Kalau pun dia mengantar sekretaris atau orang kepercayaan lainya, mereka semua tidak akan berani mengancam Jordan seperti dirinya.
" Tuan Edward, apa tujuan anda hanya mengancam saja? " Tanya Gaby yang sudah tidak tahan lagi kalau harus terus mendengar kalimat yang sama dan bermakna memaksa dengan ancaman.
" Kami tidak akan memberikan tanah itu kepada anda dengan alasan apapun. Selian kami harus menjalankan proyek kami, kami juga memiliki janji kepada Nyonya pemilik rumah. Jadi mohon pengertiannya dan jangan lagi mengancam. " Gany dengan tegas menatap Tuan Edward. Gestur tubuhnya benar-benar anggun saat berbicara dengan begitu serius. Keberaniannya ya g luar biasa,serta kecerdikannya memang tida bisa di sembunyikan di balik wajah cantik itu.
" Tanah itu sudah aku incar dari dua tahun yang lalu. Aku bahkan sudah membuat proposal sebelum berhasil mmmebeli tanah itu. Tapi kalian merebutnya begitu saja tanpa bertanya terlebih dulu. " Tuan Edward tidak sadar jika nada bicaranya mulai melembut saat berbicara dengan Gaby. Tidak tahu apakah karena dia terpesona dengan Gaby yang terlihat mempesona hari ini, atau karena rasa yang ia miliki selama ini belum hilang sepenuhnya.
" Apa kau tidak melibat situasi? " Tanya Tuan Edward yang merasa terganggu dengan cara Jordan yang terus saja memamerkan kemesraan di hadapannya. Bahkan, hampir tidak sedetikpun Jordan tidak menatap mesra ke arah Gaby. Dan itu, benar-benar membuat Tuan Edward merasa risih sekaligus kesal.
" Cih! "
__ADS_1
" Tuan, bisakah anda pergi? kami benar-benar harus bekerja agar tidak terlalu lama tertahan di kantor. " Pinta Gaby yang mulai menyadari jika suaminya mulai cemburu.
" Tanda tangani surat penyerahan atas tanah itu baru aku akan pergi. "
Gaby dan Jordan kompak menghela nafas mereka. Memnag keras kepala sekali Guan Edward. Sebenarnya Gany benar-benar ingin sekali memukul wajah sialan yang sedari tadi menatapnya penuh maksud. Tapi tenang, dia masih bisa menahan diri dan mencoba yang terbaik agar tidak menimbulkan masalah lain sementara waktu ini.
" Tuan, anda kan bisa mencari tanah lain? tolong jangan mengusik kami. Kami sudah memberi tahu anda dengan jelas. Apapun alasannya, kami tidak akan menyerahkan tanah itu kepada anda. " Gaby sebisa mungkin lembut dan tidak membuat Tuan Edward kesal. Kenapa? agar Tuan Edward sedikit betah disana dan membiarkan Sammy meretas sistim kemanan di perusahaan Ayahnya Jordan. Sammy mengirimnya pesan beberapa sat lalu bahwa sedang berlangsung jadi sebisa mungkin untuk menahan Tuan Edward. Sungguh beruntung memang karena Tuan Arnold terlihat sama sekali tidak menyerah dan akan terus memaksa untuk mendapatkan tanah itu dari Jordan dan Gaby.
Tring...
Sudah selesai, Nyonya.
Gaby tersenyum membaca pesan itu. Dia kembali meletakkan ponselnya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk perang mulut jahat dengan Tuan Edward.
" Aku sudah menghabiskan banyak waktu, tanda tangani atau aku akan menghancurkan perusahaan kecil kalian ini. " Ancam Tuan Edward. Jordan yang merasa kesal juga tersinggung kini sudah mulai memasang wajah tak enak.
__ADS_1
" Tuan Edward, kenapa mulut anda tidak bisa berhenti mengancam? aku benar-benar tidak tahan hingga ingin memotong lidah anda. " Ucap Gaby lalu menyeringai dengan menyeramkan. "
Bersambung