
Siang hari yang panas. Sepanas hati Jordan dan Gaby yang kini tengah duduk berhadapan dengan seorang pria yang tak lain adalah Tuan Arnold. Iya, prianitu dengan percaya dirinya dayang ke perusahaan Jordan dengan alasan ingin bertemu dengan anak angkatnya. Tentu saja karena dia merasa jika Gaby dan Jordan tidak mengetahui bahwa selama ini dia lah yang terus mengintai Gaby beserta anak-anaknya. Tidak ada serangan apapun dari Jordan, jelas ia anggap sebagi angin segar karena dia berpikir untuk bisa mendekati Gaby dan merebut kelemahannya. Dan tentulah, dia tetap ingin mengambil satu anak Gaby sebagai ancaman agar Gaby mau menjalankan perusahaan yang baru dia rintis selama tiga tahun belakangan ini. Bukanya tidak mau mengurusnya sendiri, hanya saja perusahaan akan lebih cepat berkembang kalau Gaby yang memimpinnya.
" Apa yang membuat anda datang kemari, Tuan Arnold? " Tanya Jordan. Matanya menatap datar karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Apalagi, orang-orang yang di tugaskan untuk mengintai Tuan Arnold dan Ayahnya, mereka baru saja berhasil masuk ke rumah itu berkat Selena.
" Aku hanya merindukan putri angkat ku. " Tuan Arnold tersenyum menatap Gaby yang terlihat enggan untuk menanggapi ucapannya. Bahkan, Gaby sama sekali tak melirik ke arah pria yang sudah mengaku sebagai ayah angkatnya. Ayah yang dengan sengaja membuat nya menjadi seorang monster mengerikan. Monster yang dipelihara demi menghancurkan saingan bisnisnya, monster yang dipelihara untuk mencetak rupiah, dan Monster yang hampir ia jual setelah melimpahkan semua akibat dari ke bangkrutan perusahaan yang seharusnya adalah salah nya sendiri.
" Kau juga merindukan Ayah kan nak? " Gaby sontak menatap bola mata penuh ambisi itu. Sungguh, Dimata pria itu hanyalah uang, uang, dan uang. Caranya menatap Gaby benar-benar seperti menatap sumber uang yang tak terbatas.
" Sayang sekali, aku tidak merindukan anda barang sedikitpun. " Gaby tersenyum sinis setelahnya. Benar, dia memang harus menjaga sikap sesuai permintaan Jordan. Tapi, bagaimana hatinya bisa tenang saat bertemu dengan orang yang sudah menyakitinya sedari kecil? di tambah lagi, dia juga orang yang sudah mencelakai suaminya dan hampir membahayakan anak nya. Untunglah, untuk mengantisipasi segalanya, Gaby sudah menyiapkan rencana cadangan agar tidak perlu berpura-pura lemah lembut atau tidak tahu apapun di hadapan Tuan Arnold.
Tuan Arnold terdiam dengan tatapan tajam yang jelas ia tunjukkan kepada Gaby. Dia ingin sekali mencekik dan memukul wajah tidak tahu dirinya itu. Tapi, disana juga ada Jordan yang terus memperhatikan suasananya. Kalau sampai dia berbuat salah sedikit saja, bisa-bisa gagal semua rencana yang sudah ia susun dengan rapih.
__ADS_1
" Kau pasti sedang bercanda kan? " Tuan Arnold memaksakan senyumnya agar terlihat kalau dia sama sekali tidak terpengaruh oleh jawaban Gaby tadi.
Gaby tersenyum miring sembari mengaitkan kedua jemari di tangannya. Tatapannya terlihat biasa, tapi saat diperhatikan seperti ada rasa yang mengintimidasi Tuan Arnold. Iya, Tuan Arnold memang cukup paham bagaimana sifat Gaby. Tapi melibat reaksi Gaby barusan, dia menyadari bahwa Gaby benar-benar berkali lipat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Tatapan yang dalan itu juga menegaskan bahwa tidak la mudah menghadapi Gaby sekarang ini.
" Menghadapi predator seperti anda, bagaimana mungkin aku memiliki waktu untuk bercanda. " Ujar Gaby kembali tersenyum miring dengan tatapan yang berubah menjadi tajam
Predator? Tuan Arnold menatap bola mata Gaby yang tampak begitu gagah dan berani. Sungguh Gaby yang sekarang tidak akan mudah untuk di hadapi. Tapi, bagi Tuan Arnold adalah uang lebih penting untuk di pikirkan. Terserah Gaby akan menjadi seperti apa. Karena yang paling penting, dia harus bisa merebut satu anak Gaby, bahkan kalau bisa ketiga-tiganya untuk di jadikan sandra. Dengan begitu, Gaby akan menjadi boneka yang akan membuatnya kaya lagi seperti dulu.
" Putriku, kenapa setelah sekian lama, kau semakin suka bercanda? " Lagi, Tuan Arnold hanya bisa bertingkah bodoh agar bisa mengambil satu langkah agar jarak di antara mereka menjadi semakin dekat. Usahanya selama ini begitu sia-sia karena sama sekali tidak berhasil merebut satu anak saja dari Gaby. Maka mendekatkan diri dan mengambil kepercayaan Gaby tentulah perlu dia coba.
" Gaby, apakah kau lupa ikatan apa yang ada di antara kita? " Tuan Arnold menatap lurus manik mata putri angkatnya. Dari cara Gaby berbicara sedari tadi, sekarang dia semakin yakin kalau Gaby mengetahui banyak hak yang telah dia lakukan. Percuma saja berkata manis, karena itu tidak akan membuat Gaby dekat dengannya lagi.
__ADS_1
" Ikatan? " Gaby tersenyum miring lalu menatap tajam kedua mata Tua Arnold yang juga sudah menajam.
" Ikatan yang anda maksud adalah ikatan palsu atas nama jasa. Anda dan juga kakek tua itu mengendalikan ku untuk balas dendam, dan menghasilkan banyak uang untuk menunjang kehidupan kalian. Jika di hitung dengan uang, maka pasti sudah lunas kan? karena kalau bukan karena aku, perusahaan mu itu pasti sudah bangkrut belasan tahun yang lalu. "
" Bukankah itu kewajiban mu sebagai anak? coba kau ingat kembali. Kau adalah anak angkat tapi aku mempercayakan perusahaan ku padamu. Bukankah itu menegaskan bahwa kau tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih? "
" Tuan Arnold! " Jordan bangkit dengan tatapan marah. Sungguh dia ingin sekali memukul habis wajah sialan itu.
" Duduklah, sayang. Tenangkan diri mu. " Gaby meraih tangan Jordan lalu membuatnya kembali menjatuhkan tubuhnya untuk duduk.
" Dengar, Tuan Arnold. Masala kau menempatkan ku di perusahaan, apa kau menganggap ku sungguh idiot? " Gaby tersenyum menatap manik mata Tuan Arnold yang terlihat jengkel.
__ADS_1
" Saat itu, keadaan perusahaan sudah di ambang ke bangkrutan. Demi mempertahankan para pemegang saham yang menuntut ganti rugi, anda menyerahkan saya sebagai jaminan. Anda awalnya ingin menjual tubuh saya pada para tetua kan? demi untuk menyelamatkan diriku, aku tidak memiliki jalan keluar selain meminta waktu dan memohon untuk mereka meyakini ku yang tidak memiliki pengalaman di usiaku yang baru delapan belas tahun. Aku bekerja apa saja, mulai dari menjadi bintang iklan, model, pemain film, penyanyi, dan banyak lagi hal yang aku lakukan demi perusahaan itu. Setelah maju, kau mengirim ku untuk membalas dendam. Dengan bodohnya aku mengangguk saja dan mematuhi semua yang anda katakan. Tapi pada saat anda di serang balik, anda menyalahkan ku atas semua kerugian yang anda ciptakan sendiri. Taun Arnold, apa tida pernah terpikirkan dia otak anda kalau anda begitu bodoh dan menjijikkan? "
Bersambung