
" Aku adalah orang yang transparan. Membenci, artinya aku membenci dan aku tidak akan menjadikan muka ku menjadi beberapa buah. Cukup gunakan satu wajah dan biarkan orang lain melihatnya secara langsung. Entah orang akan memilih untuk menyukainya atau membencinya, semua adalah hak manusianya sendiri. Kau juga lelah kan harus menjaga citra mu dan menjadikan dirimu munafik setiap saat? " Gaby tersenyum sinis dan menatap bola mata Maria yang jelas sekali terlihat keberatan dengan kata-kata Gaby.
" Kau benar-benar tidak dilahirkan dengan norma kesopanan rupanya. " Maria ya g dengan jelas tak terima hinaan dari Gaby, tentulah dia memberontak dan menyampaikan apa yang ingin dia katakan.
Gaby melipat kedua lengannya dan meletakkan nya di pinggang. Tatapan nya jelas ia perlihatkan bahwa dia mengejek Maria lewat matanya.
" Norma kesopanan? asal kau tahu, manusia memiliki norma atau tidak itu sama sekali tidak membuat pandangan dan cara berpikir ku berubah. Sekarang, apa yang kau dapatkan dari sifat kepura-puraan mu? apakah hanya memiliki banyak teman dan relasi? bergaul dengan para istri pembisnis kelas atas? berbelanja dengan mereka? lalu apa untungnya untuk mu? apa kau bisa mengubah hidup mu dengan itu? "
Maria mengepalkan kedua tangannya. Sungguh mulut Gaby sangat mengaduk emosinya hingga dia sama sekali tidak tahan untuk terus bersabar dan berpura-pura memaklumi.
" Dengar, jangan kau kira aku bodoh karena tidak bisa membaca bagaimana perasaan mu terhadap suamiku. Kau bisa melakukan apapun untuk menendang ku dari Jordan's Group. Tapi satu hal yang harus kau ingat. " Gaby menatap tegas bola mata Maria seolah menegaskan bahwa apa yang akan dia katakan adalah sebuah kebenaran yang tidak akan bisa terbantahkan.
" Wanita sepertimu tidak akan bisa menggoyahkan hati Jordan. Bahkan saat kau tidak memakai apapun di tubuh mu, Jordan tidak akan pernah melirik mu barang sedetik pun. "
" Lancang! " Maria melotot tajam karena merasa tidak lagi bisa bersabar dengan ucapan Gaby yang semakin menajam dan menyakitkan.
" Kalau kau tahu mulut ku lancang, maka tutup saja mulut mu dan jangan pernah kau buka saat maelihat ku. Aku bukan orang yang akan diam saja saat ada yang menyinggung ku. Kau menyakiti ku sekali, maka akan ku balas sepuluh kali. "
Maria yang tidak tahan lagi akhirnya mengangkat tinggi tangannya bersiap untuk menampar wajah Gaby.
" Hati-hati dengan tangan mu. " Gaby yang menyadari dengan segera menahan tangan Maria lalu menghempaskan dengan kasar tangan Maria.
" Kalau saja tangan mu sampai menyentuh kulit ku, aku tidak akan segan-segan menguliti mu dan memotong tubuh mu menjadi beberapa bagian. " Gaby mendekatkan posisinya dengan tatapan tajam.
" Kalau kau penasaran, silahkan kau coba dan setelah itu lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu. " Gaby mendorong mundur tubuh Maria lalu meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
" Dasar wanita tidak tahu malu. Kau hanyalah wanita licik dan jahat. Bagaimana bisa kau menjadi istri Jordan? cepat tau lambat, Jordan akan menyadari siapa dirimu dan membuang mu jauh dari hidupnya. Di saat itu tiba, aku benar-benar akan bertepuk tangan bahagia di hadapan mu. " Gumam Maria.
Kembalinya Jordan dan Gaby ke rumah, rupanya tak bisa santai seperti hari sebelumnya. Hari ini banyak sekali hal yang harus dilakukan secara diam-diam. Jadi mau tidak mau, Jordan dan Gaby harus tinggal di ruang kerja mereka bersama dengan Ron.
" Bagaimana kelanjutannya? " Tanya Jordan.
" Semuanya sudah siap, Tuan. Sammy juga sudah siaga. Memantau pergerakan yang akan dilakukan Ayah anda dan Tuan Arnold. "
" Jadi mereka sudah mau bergerak? " Tanya Gaby.
" Iya, Nyonya. Mereka sudah mulai mengumpulkan semua fakta masa lalu buruk anda, dan sudah bekerja sama dengan salah satu stasiun TV yang bersiap untuk menayangkan berita tentang anda nanti. "
" Mereka benar-benar bekerja keras rupanya. " Jordan menghela nafas.
" Ada lagi, Tuan. Besok mereka berencana mendatangi pemilik tanah dan membujuk nya untuk menjual ke mereka. "
" Sepertinya mereka juga sudah lama mengincar tanah itu. "
Gaby tersenyum. " Apa mereka pernah menawar tanah itu? "
" Iya, sekitar satu bulan yang lalu. " Jawab Ron yakin.
" Baiklah, berikan nomor telepon yang bisa dihubungi mengenai tanah itu. " Pinta Gaby penuh semangat.
" Tanah itu milik pribadi, jadi tidak ada perantaranya, Nyonya. "
__ADS_1
" Bukanya itu lebih bagus. Kalau begitu, besok kita berangkat lebih pagi dari mereka. "
" Baik. "
Setelah selesai membicarakan itu, Ron, Jordan dan Gaby kembali membahas bagaimana caranya untuk memperluas relasi bisnis dengan waktu singkat. Bukan tanpa alasan, kegiatan ini sungguh di butuhkan agar mereka lebih memilliki jangkauan yang lebih dan memperluas kekuatan bisnis mereka. Tentu tujuannya satu, yaitu untuk menekan Ayahnya Jordan yang cukup besar pengaruhnya di dunia bisnis.
" Mari kita persingkat waktu kita. " Ucap Gaby setelah merundingkan rencana untuk mengajukan kerja sama dengan salah satu perusahaan besar dari luar negeri.
" Satu bulan untuk apakah terlalu lama, Nyonya? " Tanya Ron.
" Buat menjadi dua minggu saja. " Jordan dan Ron saling menatap penuh tanya. Tapi karena Gaby yang mengucapkan itu, tentulah mereka menyetujui saja meskipun agak kurang yakin dengan keputusan itu.
" Tenanglah, dua minggu itu terlalu banyak. Selama aku masih hidup, semua pasti akan selesai sebelum hari H nya. " Gaby tersenyum penuh keyakinan. Tentulah Jordan dan Ron juga merasa yakin sekarang. Benar, Gaby bahkan mampu menaikkan saham mereka hanya dengan waktu beberapa bulan saja, maka bukan tidak mungkin untuk menyiapkan proposal yang menarik dan berbobot hanya dengan waktu dua minggu.
Esok paginya.
Sesuai dengan jadwal, hari ini Jordan, Gaby dan Ron berangkat menemui si pemilik tanah untuk mengajukan penawaran. Benar tebakan Gaby, mereka datang lebih cepat dari pada Ayah mertua dan Tua Arnold. Dengan sopan Gaby menyapa si penjaga rumah dan meminta izin untuk bertemu. Tidak lama setelah itu, sang pemilik tanah memutuskan untuk menemui Gaby dan yang lain karena ke uletannya untuk bertemu meski sudah di tolak beberapa kali dengan berbagai alasan.
" Apa kalian datang kemari untuk tanah itu? " Tanya wanita yang sepertinya berusia lima puluh tahunan itu. Dari tatapannya, jelas sekali bahwa beliau akan menolak. Tapi seorang Gaby tidak mungkin menyerah begitu saja.
" Nyonya, maaf jika niat kami memang seperti itu. Tanah itu pasti memiliki arti penting untuk anda. " Gaby tersenyum ramah. Tatapannya juga begitu lembut, berbanding terbalik saat dia bersama orang yang tidak ia sukai.
" Apa perduli mu? " Ketus wanita itu.
" Nyonya, bisakah kita bicara berdua? "
__ADS_1
Bersambung