
Jordan dan Ele masih berada di tepian pantai. Tidak ada tawa bahagia seperti beberapa saat yang lalu. Kenapa? karena Jordan begitu panik sembari memeriksa seluruh tubuh putrinya. Sungguh, dia tidak tahan lagi saat melihat beberapa lebam selain di punggungnya.
" Sayang, apa ini sakit? " Tanya Jordan sembari memberikan tekanan pelan di bagian paha belakang yang ternyata juga terdapat lebam yang cukup besar.
" Tidak, Ayah. " Jawab Ele. Gadis kecil itu hanya diam sembari menatap Jordan yang terlihat sangat panik.
Tidak membuang waktu lagi, Jordan berjalan setengah berlari sembari menggendong putrinya untuk menuju ke rumah Gaby. Entah lah, perasaan akan menyakiti hati Gaby tiba-tiba hilang entah kemana. Karena rasa khawatir terhadap putrinya benar-brnar jauh lebih penting saat ini.
" Ge! " Panggil Jordan dengan suara yang lantang.
Gaby yang saat itu tengah menyiapkan makan siang untuk Ele, bergegas keluar dari dapur. Tidak ada senyum apa lagi tatapan ramah. Gaby langsung mengambil Ele dari gendongan Jordan.
" Pergilah! ini saat nya Ele makan siang lalu tidur. "
" Tunggu! ada yang ingin aku bicarakan. " Cegah Jordan karena Gaby sudah akan meninggalkannya.
" Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Pergilah! "
" Ge, ini bukan tentang hubungan kita Tapi tentang, putri kita. "
Gaby menatap tajam manik mata Jordan. Sungguh perasaan kesal dan marah sangat sulit untuk dia kontrol saat ini. Ele adalah hidup nya, semangatnya. Rasanya dia begitu tidak terima dengan ucapan Jordan yang seolah ikut andil dalam mengurus Ele.
" Ele adalah putriku. Aku mengizinkan mu bermain dengannya karena dia menyukai mu. Maka dari itu, pergilah sejauh mungkin agar putriku tidak semakin menyukai mu. " Gaby melanjutkan langkah kakinya.
" Ge! berhentilah menjadi egois sekarang ini. Lihatlah punggung dan paha belakang Ele! "
__ADS_1
Gaby mengeryit tapi sontak dia memeriksa punggung Ele.
" Ini, kenapa? " Gaby mengeryit bingung. Dia kembali memeriksa paha bagian belakang Ele dan kini dia semakin mengeryit bingung. Gaby menoleh ke arah Jordan. Perlahan tatapan itu menjadi tatapan marah. Dia berjalan mendekati Jordan dan menampar pipi Jordan kuat.
" Apa yang kau lekukan kepada putriku?! " Tanya Gaby dengan tatapan dan nada yang marah.
" Ayah! " Panggil Ele lalu menangis sekencang-kencangnya karena melihat Ayahnya di pukul oleh Ibunya. Gaby yang baru menyadari jika Ele melihat semuanya tiba-tiba merasa tak berdaya. Dengan sigap Jordan mengambil Ele dari gendongan Gaby. Dia mencoba menenangkan Ele agar lebih tenang.
" Berikan padaku! " Gaby masih saja terlihat marah. Dia dengan paksa menarik tubuh Ele lalu membawanya ke dalam gendongannya.
" Ayah... Ayah.... " Panggil Ele sembari menangis dan kedua tangannya terulur meminta sang Ayah untuk menggendongnya.
" Hentikan, Ge. Ele ketakutan melihat mu seperti itu. Kalau aku menyakiti Ele, mana mungkin sekarang dia lebih memilih untuk berada di gendongan ku. " Ujar Jordan yang sama sekali tidak menggunakan nada membentak sedikit pun. Sadar, tentulah dia sangat sadar kalau akan mendapatkan perlakuan kasar dari Gaby. Entah sekasar apapun, Jordan tentu akan tetap menerimanya dengan ikhlas.
" Ge, tolong biarkan aku yang menggendong Ele. " Tak menjawab, Gaby tetap diam dan membiarkan Jordan mengambil Ele dari gendongan nya.
" Kenapa Ele bisa lebam seperti itu? " Tanya Gaby yang kini sudah bisa tenang.
" Aku datang ke sini untuk menanyakan itu padamu. "
Gaby sungguh frustasi karena memang dia yakin jika Ele tidak jatuh sama sekali saat bersamanya. Gaby mengusap wajahnya beberapa kali. Sungguh dia begitu khawatir. Dia juga tiba-tiba teringat dengan noda darah yang ada di bantal Ele tadi.
Tidak! tidak mungkin! anakku tidak boleh kenapa-kenapa. Karena kalau terjadi sesuatu dengan Ele, aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk hidup
" Kita bawa kerumah sakit saja untuk diperiksa. " Ucap Jorda yang langsung di angguki oleh Gaby. Sudah tidak penting lagi bagaimana perasaan sakit yang ditimbulkan oleh Ayah dari anaknya, karena yang paking penting adalah Ele. Putri pembawa semangat dan kebahagiaannya itu.
__ADS_1
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Gaby memberikan makan siang terlebih dahulu untuk Ele. Sebenarnya Gaby juga sudah menyiapkan makan siang untuk Jordan, tapi laki-laki itu tampak sangat khawatir hingga tidak memiliki ***** untuk sekedar mencicipi makanan yang Gaby siapkan.
" Makan lah dulu. " Ucap Gaby lagi. Dia tahu benar jika Jordan sama sekali belum makan sejak kemarin. Karena dia melihat Ron saat mengantarkan makanan untuk Jordan dan ditolak begitu saja.
" Nanti saja. " Jordan benar-benar tidak memiliki minat untuk makan saat ini. Firasatnya terlalu buruk untuk bersikap tenang saat ini.
" Makan lah. Kau juga perlu tenaga untuk membawa Ele ke rumah sakit. " Jordan terdiam sesaat. Dia memandangi sepiring nasi beserta ikan goreng dan sayuran. Meskipun rasa laparnya sama sekali tidak terasa, dia mencoba untuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Benar apa yang dikatakan Gaby. Dia butuh tenaga untuk membawa putrinya ke rumah sakit. Tapi saat melihat Gaby yang menahan tangis sembari menatap Ele, jujur dia sama sekali tidak merasakan enak pada makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Dia tahu benar, Gaby pastilah jauh lebih takut kehilangan Ele dibanding dirinya.
" Buka mulut mu. " Jordan menyodorkan sesendok nasi ke pada Gaby. Tapi Gaby hanya diam seolah enggan menerima suapan itu.
" Makanlah, kau juga butuh tenaga untuk membawa putri kita kerumah sakit. " Gaby yang sedari tadi menahan tangis kini tak bisa lagi matanya menahan air mata yang jatuh ke pipinya. Dia mengangguk lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Jordan. Jika saja momennya bukan karena mengkhawatirkan Ele, mungkin saat ini Jordan akan sangat bahagia.
Setelah selesai makan siang, Jordan, Ele yang ada di gendongan Jordan serta Gaby, berjalan menuju jalan utama karena Ron sudah ada disana bersama sopirnya.
" Selamat siang, Tuan dan Nona dan juga adik kecil. " Ron langsung membukakan pintu belakang untuk Jordan, Ele dan Gaby lalu kembali masuk kedalam mobil dan duduk disebelah sopir.
" Cari rumah sakit terbaik, Ron. " Pinta Jordan sembari menepuk punggung putrinya yang kini tertidur di gendongannya.
" Sudah saya siapkan semuanya, Tuan. Sekarang anda juga sudah ditunggu oleh Dokternya. "
" Terimakasih." Ucap Jordan tanpa ekspresi. Sebenarnya dia ingin sekali menguatkan Gaby dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi sungguh, dia sendiri saja tidak sanggup jika terjadi sesuatu dengan putrinya.
Ele, baik-baik ya? semoga saja ini hanya firasat buruk Ayah saja.
Bersambung...
__ADS_1