Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Keberuntungan


__ADS_3

Hari ini adalah jari dimana Jordan dan Ron terpaksa mengunjungi negara A. Awalnya Jordan memang menolak untuk pergi. Tapi berkat bujukan dari Ron, dan semangat dari Ibu serta Diana, Jordan jadi memiliki niat meski sebenarnya dia enggan untuk pergi. Baginya meninggalkan kamar yang menyimpan banyak kenangan bersama Gaby, seperti meninggalkan jiwa raganya disana.


Tidak ada obrolan apapun selama perjalanan darat dan udara yang membutuhkan waktu delapan belas jam. Jordan hanya diam dengan tatapan yang tidak bisa Ron artikan. Sebenarnya dia ingin sekali mengajak Jordan berbincang seperti dulu saat mereka berpergian bersama. Berbagi pengalaman baik dan buruk, dan saling menguatkan satu sama lain layaknya sahabat saat di luar jam kantor. Tapi Jordan yang sekarang sangatlah jauh berbeda dengan Jordan yang dulu. Mau merespon pertanyaan saja sudah sangat beruntung.


" Tuan, saya ada di kamar sebelah. Jika Tuan membutuhkan saya, tolong panggil saya atau hubungi saya. " Ucap Ron yang hanya mendapatkan anggukan tanpa suara.


" Baik, saya permisi Tuan. " Ron pergi meninggalkan Jordan yang hanya diam mematung memandangi suasana malam di pusat kota negara A. Entah bagaimana lagi caranya untuk membujuk Jordan agar lekas bangkit. Rasanya bukan hanya satu atau dua cara saja sudah Ron dan anggota keluarga lakukan. Tapi tetap saja hasilnya sama. Jordan masih sibuk menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan dan kerinduan yang sepertinya belum tahu kapan akan berakhir.


Jordan memejamkan mata untuk sedikit menenangkan dirinya. Walau bagaimanpun besok pagi dia harus bekerja dengan meninjau proyek yang mengalami masalah. Sadar bahwa dia tidak boleh terlalu larut karena ribuan karyawan menggantungkan nasib kepadanya.


Jordan merebahkan tubuhnya menatap langit-langit yang dipenuhi wajah Gaby yang tergambar dari otaknya. Wajah cantik itu benar-benar membuatnya rindu hingga terasa ingin mati setiap saat. Jika saja tidak mengingat bahwa ada anak diantara mereka, mungkin Jordan akan memilih memenjarakan diri di ruang kosong siang dan malam.


" Ge, apa kabar mu hari ini? apa kabar juga anak kita? apa kau dan anak kita bahagia hari ini. Apa yang kalian makan? apa saja yang kalian lakukan? pernahkan kalian merindukan ku walau hanya se ujung kuku? "


Jordan mengingat kembali saat pertama kali bertemu Gaby. Wanita cantik yang tengah mabuk berat tapi masih bisa menjaga diri dengan baik. Wanita cantik yang tidak mudah di dekati, wanita cantik yang memiliki segudang pesona tiada henti. Senyumnya, tawanya, cara bicaranya, semua polah Gaby benar-benar menggambarkan wanita dengan masa depan penuh bintang.


Jordan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka galery yang berisikan wajah-wajah Gaby saat mereka berpacaran dulu. Dia nampak begitu anggun dan manis setiap waktu. Dulu dia begitu cerewet melarang ini dan itu, dengan dalih demi kesehatan atau kebaikannya.


" Kapan aku bisa melihat Gaby yang seperti ini? kalaupun tidak mungkin, aku berharap bisa bertemu dengan mu dan memiliki kesempatan untuk membahagiakan mu dan juga anak kita. "


Cukup lama Jordan melihat-lihat Photo dan Video masa lalunya bersama Gaby hingga lama kelamaan dia terlelap dalam alam mimpi.


Pagi harinya.


Ron dan Jordan sudah siap untuk berangkat ke sebuah gedung yang rencananya akan dibangun sebuah hotel disana.


" Bagaimana kabar disana hari ini? " Tanya Jordan kepada Ron sembari melangkahkan kaki menuju Lobby hotel karena sopir dan mobil sudah siap disana.


" Sedang menunggu kita, Tuan. Mereka tidak berani mengambil tindakan apapun. "


" Baiklah. "


" Bagaimana dengan Rendy? " Tanya lagi Jordan.

__ADS_1


Ron terdiam sesaat setelah meminta sopir untuk menuju ke lokasi.


" Tuan, saya tidak berniat ikut campur. Tapi sepertinya Nona Diana semakin tertekan belakangan ini. "


" Apa masih karena Rendy? "


" Sepertinya begitu, Tuan. Sebenarnya dari awal saya keberatan tentang pernikahan mereka, tapi karena Tuan merasa begitu yakin, saya jadi tidak berani membantah. "


Jordan menghela nafas panjangnya. Benar, dari awak dialah yang bersalah. Dengan tidak memikirkan situasi dan kondisi, dia meminta Rendy untuk menikahi adiknya. Saat itu dengan jelas bisa melihat tatapan penuh cinta dari mata Diana. Dia berpikir kalau Diana dan Rendy akan hidup dengan bahagia. Tapi sialnya, kehidupan manusia atau makhluk hidup tidak akan ada yang bisa memprediksinya dengan benar.


'' Kau benar, jika saja aku tidak terburu-buru, mungkin adikku tidak akan menderita seperti ini. "


" Saya minta maaf Tuan, maaf karena lancang menyalahkan anda. "


Jordan tersenyum sesaat lalu memilih untuk menatap kaca mobilnya.


" Apa Diana ingin bercerai? aku sudah menyarankan tentang ini, apa dia setuju. "


" Beberapa waktu yang lalu, saya dengar Nona Diana berkonsultasi dengan pengacara untuk membicarakan perihal perceraian. Tapi bisa saja dia Nona Diana hanya berkonsultasi saja. "


" Saya juga demikian, Tuan. "


Setelah obrolan itu, Jordan kembali terdiam. Diam karena tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi kerena ulahnya. Menikahkan Diana dengan Rendy adalah kesalahan nya, Gaby meninggalkannya juga adalah kesalahannya. Tidak tahu bagaimana cara menghukum diri sendiri yang sudah begitu banyak menimbulkan luka bagi dua wanita yang dia sayangi. Jika saja di kehidupan ini ada mesin pengulang waktu, mungkin bukan disini akhir dari seorang Jordan. Mungkin dia juga membesarkan anaknya bersama Gaby.


Setelah beberapa saat, Jordan Ron telah sampai ke tempat tujuan.


" Sebenarnya tidak separah yang ku bayangkan. " Ujar Nathan sembari menatap bangunan yang sudah empat puluh persen dari kerampungan.


" Iya. Mungkin mereka panik dan tidak tahu harus bagaimana. "


" Usahakan untuk merampungkan ini dalam waktu satu pekan. Kalau bekerja lebih keras dan teliti lagi, semua pasti akan selesai sesuai jadwal. "


" Baik, Tuan. "

__ADS_1


Setelah menghabiskan beberapa jam di lokasi pembangunan, Jordan memutuskan untuk kembali ke mobil. Sibuk seperti ini memang sedikit membuatnya lupa sesaat dengan semua masalahnya. Tapi, sudah tidak ada lagi yang harus dilakukan disana. Mau tidak mau Jordan harus kembali ke mobil.


" Tuan, apa anda ingin ke pantai? "


Jordan menghela nafasnya sejenak melirik Ron.


" Untuk apa? "


" Para pekerja disini mengatakan jika, udara di pantai itu sangat segar. Tempatnya bersih dan dirawat dengan baik. Pasirnya juga putih. Siapa tahu akan membuat anda sedikit lebih baik, Tuan. "


Belum juga sempat Jordan Menjawab, dering ponselnya membuatnya teralihkan.


" Ada apa? " Tanya Jordan setelah sambungan teleponnya terhubung.


Kabar baik, Tuan.


" Apa? "


Keberadaan Nona Gaby sudah kami dapatkan.


Jordan langsung menegakkan tubuhnya dengan semangat.


" Dimana? "


Negara A. Tidak jauh dari pusat kota. Dia tinggal di pesisir pantai. Aku akan mengirimkan titik tepatnya kepada Tuan.


" Baguslah. Aku sedang ada di negara A. "


Apa? wah, kalian pasti memiliki keberuntungan yang luar biasa ya?


" Jangan banyak bicara! kirim aku titik posisinya, dan aku akan segera menuju ke pesisir pantai. " Jordan tersenyum setelah memutuskan sambungan teleponnya.


" Ada apa Tuan? " Tanya Ron yang begitu penasaran saat melihat senyum indah terbit dari bibir Jordan.

__ADS_1


" Istri dan anak ku, mereka ada disekitar sini. "


Bersambung


__ADS_2