
Di sebuah rumah sakit yang berada di tengah-tengah jantung kota. Tempat diamana Jordan berbaring dengan mata yang masih terpejam. Sudah dua hari Jordan berada di sana. Menutup mata tapi hatinya tengah berkelana mencari-cari keberadaan istrinya. Semua urusan kini tengah Ron usahakan semuanya seorang diri. Mulai dari terus mencari keberadaan Gaby dan urusan kantor yang tidak bisa di tunda. Maklum saja, semenjak berita tentang Ayahnya Jordan dan Selana terungkap, perusahaan yang Jordan dirikan dengan usahanya sendiri ikut terseret dan terkena imbasnya. Untuk menstabilkan keadaan, Ron akhirnya meminta bantuan Ibunya untuk berperan dalam mengawasi pekerja yang berada di lapangan. Untunglah Ibunya Jordan memiliki kemampuan di bidang itu. Ditambah lagi usianya yang masih muda dan sehat, akhirnya semua berada di dalam kendali Ron saat ini.
" Selidiki terus tentang dia. Pastikan semua dengan jelas. Kita tidak bisa menebak-nebak dari bukti yang belum jelas. "
Ron menghela nafas lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Dilihatnya lagi Jordan yang masih belum membuka mata.
Ya Tuhan, bagaimana aku akan menjelaskannya kepada Tuan? kenapa semuanya menjadi begitu rumit. Ditambah lagi Tuan yang masih begitu drop.
" Ge? "
Ron tersentak dan langsung mendekati Jordan yang mulai membuka mata perlahan.
" Ge? " Panggil Jordan lagi.
" Tuan, sadarlah. Jangan begitu panik dan tenang. Secepatnya Nona Gaby akan segera di temukan. "
Jordan langsung bangkit dengan wajah paniknya. Dia meraih kerah Ron dan mencengkeramnya kuat. Matanya membelalak marah.
" Kenapa aku disini?! dimana istriku?! kenapa kau membuatku tertidur?! hah?! kau mau mati?! "
Ron hanya membiarkan Tuannya melampiaskan kemarahan yang mungkin sulit untuk ia bendung.
" Tuan, bersabarlah sedikit lagi. Semuanya belum jelas saat ini. Kemarin tubuh anda begitu drop. Kalau anda tidak istirahat, yang ada anda malah tidak akan bertemu dengan Nona Gaby selamanya. " Mendengar ucapan Ron, Jordan langsung melepaskan kerah kemeja Ron dengan wajah kesal.
" Bagaimana perkembangannya? " Tanya Jordan dengan tatapan yang begitu menuntut. Setidaknya ucapan Ron barusan mampu membuat Jordan berpikir jernih dan lebih tenang. Dia tidak mungkin asal bergerak tanpa tahu kemana tujuan pastinya.
" Tuan, meskipun ini tidak masuk akal, tapi saya mencurigai Tuan Rendy. "
Jordan mengeryit dengan tatapan bingung.
__ADS_1
" Alasan apa yang membuat mu mencurigai adik ipar ku sendiri? "
Ron menarik nafasnya pelan untuk mencari kekuatan dan keyakinan dari sana.
" Saya mencari tahu siapa saja yang tidak hadir di pesta pernikahan. Semuanya datang termasuk Tuan Rendy. Tapi Tuan Rendy menghilang cukup lama dan kembali saat Tuan sudah hampir selesai. "
Jordan mengepalkan tangannya kuat dengan wajah marahnya. Bahkan, sisi bibirnya juga naik turun karena kesulitan menahan rasa marahnya.
" Tidak ada yang bisa begitu teliti kalau tidak memastikan keadaan dengan cermat sebelum berencana, Tuan. Dan Tuan Rendy memiliki kemampuan itu semua. Kamera pengawas di manapun tidak ada yang busa merekam jejak kepergian Nona Gaby. Dan alibi mereka juga begitu matang, Tuan. Mereka membuat kekacauan sehingga semua pelayan fokus dengan kekacauan itu lalu mengambil kesempatan untuk membawa Nona Gaby. "
" Cari tahu! setelah semua pasti, seret bajingan itu kehadapan ku. Dan jangan berhenti mencari Gaby bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun. "
" Saya sudah jalankan, Tuan. "
" Bagus. "
" Persiapkan semuanya. Aku harus menemukan istriku secepatnya. "
Ron mengangguk dan mengikuti langkah kaki Jordan yang sudah lebih dulu melangkah. Baginya titah Jordan adalah sebuah kewajiban yang harus ia utamakan. Jadi tidak ada alasan baginya untuk menolak apalagi memprotes tidak setuju.
Jordan melangkahkan kaki keluar dari gedung rumah sakit menuju sebuah mobil yang terparkir menunggu kedatangannya.
Ge, kau harus baik-baik saja. Jagalah bayi kita dengan baik. Tunggu sedikit lagi ya sayang? aku akan menemukan mu, di manapun kau berada, aku akan menemukan mu, istriku.
Cukup lama Jordan di dalam perjalanan menuju sebuah kenalan. Di sana Jordan dan Ron memerintahkan orang untuk mencari keberadaan Gaby di tiap sudut kota, jalan raya, rumah sakit dan dimanapun itu yang penting bisa menemukan Gaby.
" Berapa lama waktu yang dibutuhkan? " Tanya Jordan setelah menyerahkan tumpukkan uang kepada orang yang terkenal memiliki banyak koneksi hampir di seluruh negeri.
" Paling lama nanti malam. "
__ADS_1
Jordan mengangguk.
" Aku tidak suka kegagalan. " Ancam Jordan.
" Tentu, Tuan. Saya tidak akan menyanggupi kalau saya merasa tidak mampu. "
" Bagus. " Jordan bangkit lalu pergi meninggalkan tempat itu lalu kembali ke mobil.
" Tuan, kemana kita akan pergi? " Tanya Ron yang bingung harus membawa kemana lagi Tuannya yang sedang kacau.
" Ke rumah. " Jawab Jordan tanpa ekspresi.
Sesampainya dirumah, Jordan membuka pintu kamarnya dengan perasaan sakit yang tidak bisa di ungkapkan hanya dengan kata-kata. Kamar yang ia kira akan membawa kembali istrinya seperti sedia kala. Kamar yang ia harapkan akan membuat istrinya kembali jatuh cinta. Tapi nyatanya, kamar inilah yang membuat istrinya memilih untuk pergi.
Jordan meraih photo pernikahannya yang tergeletak di atas nakas. Entah bagaimana bisa menangani hatinya yang kacau saat ini. Semuanya seolah beralih menyerangnya tanpa ampun. Tentulah dia menyadari luka yang telah ia torehkan kepada istrinya yang sedari awal hanyalah seorang korban.
" Ge, jika saja kesalahpahaman itu tidak terjadi, apakah kau dan aku akan berada di titik ini? apakah tatapan cinta mu akan tetap milikku? "
Jordan mengeluarkan hasil uji kehamilan mandiri yang Jordan temukan di kamar mandi beberapa hari yang lalu. Inilah yang ia tunggu, adanya bayi yang ia kira akan membuat Gaby terikat padanya untuk selama-lamanha. Sayang, justru adanya bayi ini justru membuat Gaby pergi darinya. Bukanya bersedih untuk kehamilan ini, hanya saja dia begitu tida percaya jika Gaby akan tetap memilih untuk pergi meski dia tahu dirinya tengah mengandung.
" Bertahanlah nak, jangan nakal dan menyusahkan Ibu mu. Tetaplah berkembang di perut Ibumu. Ayah akan datang dan membawa mu pulang. Tapi tolong tunggulah beberapa waktu lagi. Ayah janji, sebelum kau lahir, Ayah pasti sudah bisa membawamu dan Ibu mu pulang. "
Jordan menaruh kembali photo pernikahannya di tempat semula. Perlahan dia membaringkan tubuhnya di tempat yang biasa Gaby tertidur. Dia menghirup aroma Gaby yang masih melekat di sana. Rasanya memang begitu terasa di hidungnya, tai hatinya masih belum bisa tenang dan gelisah. Perlahan Jordan menutup matanya karena keadaan tubuhnya yang memang belum benar-benar baik.
Suara dering ponsel membangunkan Jordan dari tidurnya yang sedari tadi tak henti-hentinya mengigau menyebut nama Gaby terus menerus.
" Halo? benarkah? baiklah. Aku akan kesana sekarang. "
Bersambung...
__ADS_1