Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
We Back


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu. Hari ini adalah hari dimana Jordan dan seluruh anggota keluarganya di berikan izin sepenuhnya untuk membawa Ele ke negara asal Ayahnya. Pada awalnya, Jordan sudah mempersiapkan segalanya ahar bisa membawa Ele dengan sesegera mungkin. Tapi karena larangan dari Dokter Stella, mau tidak mau Jordan beserta keluarganya hanya bisa menunggu dengan sabar sampai Ele benar-benar dinyatakan sembuh total. Cukup lama memang harus menunggu dengan sabar selama tiga tahun. Tapi mau bagaimana lagi, kesehatan Ele jauh lebih penting dari segala-galanya.


Tiga tahun ini juga tidak ada hentinya antek-antek Tuan Arnold mencoba menyerang Jordan agar bisa mengambil kelemahan Gaby. Tapi berkat bantuan Ron, Sammy, dan Rendy yang tidak tahu kenapa begitu mendekatkan diri seolah-olah menginginkan pengakuan dari Jordan dan keluarganya setelah apa yang di lakukan di masa lalunya. Tentu Jordan tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa diam dan membiarkan Rendy membantunya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi semenjak putri pertamanya dengan Diana lahir, dia terlihat semakin menyayangi Diana dan memperlakukan adik Jordan dengan baik.


" Sayang, bagaimana kalau kita tidak usah membawa ini? " Gaby menunjukkan rambut palsu yang dulu pernah di beli Jordan untuknya. Sebenarnya bukan tidak mau menyimpan lebih lama lagi barang itu, hanya saja saat melihat rambut palsu itu membuat rasa dendamnya sulit untuk di tahan lagi. Tiga tahun sudah Gaby mencoba menenangkan diri agar sabar menunggu waktu yang tepat. Tapi untunglah, hari ini segala penantian panjang selama bertahun-tahun untuk balas dendam akan segera berakhir berakhir.


" Ibu, biarkan aku membawanya. Rambut palsu itu adalah salah satu hadiah terbaik dari Ayah. Aku akan terus menyimpannya. " Ele menatap Gaby dengan tatapan memohon. Bagaimana tidak? setiap kali melihat rambut palsu pemberian Ayahnya, Ibunya akan terlihat sangat marah untuk alasan yang belum ia pahami apa maksud nya.


Gaby menghela nafasnya. Tentu saja dia merasa begitu terenyuh melihat tatapan iba dari putri satu-satunya itu. Dia memang sangat sebal melihat rambut palsu yang membuat Jordan mengalami kecelakaan. Tapi sudahlah, mungkin ini juga menjadi alasan Ele untuk terus menyimpan benda pemberian Ayahnya yang sampai harus bertaruh nyawa.


" Baiklah, tapi tolong jangan sampai kau pakai di depan Ibu ya? "


Ele tersenyum lalu mengangguk.


" Rambut ku sudah tumbuh, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Aku tidak akan menggunakan rambut palsu ini lagi. " Ele meraih rambut palsu yang sedari tadi berada di tangan Gaby. Gadis itu memeluk rambut palsu pemberian Ayahnya dengan perasaan bahagia. Dia memang tahu bagaimana perjuangan Ayahnya untuk mendapatkan itu. Tapi di banding itu, semua berang yang di hadiahkan Ayahnya tidak akan dia tinggalkan dan akan ikut bersamanya kemana pun dia pergi.


Sungguh, Gaby merasa begitu bahagia. Meski masih dalam keadaan yang kurang aman, tapi melihat Ele, Mark, dan Mike tumbuh dengan sehat dan kecerdasan mereka masing-masing, rasanya Gaby begitu bahagia hingga sering kali bertanya kepada Jordan. Sayang, apa ini mimpi? apa semua ini nyata? dan saat dia menyadari jika itu nyata, maka senyum di wajah wanita itu benar-benar terlihat selalu bahagia.


" Ibu, apa nanti kita akan tinggal bersama Nenek? "


Gaby mengangguk.

__ADS_1


" Iya, Nenek sudah janji kan? setelah kita semua kembali ke sana, Nenek akan tinggal di rumah bersama kita agar bisa menghabiskan banyak waktu bersama kalian. "


Di kamar lain.


Jordan yang kebingungan apa yang harus dia masukkan kedalam koper akhirnya memutuskan untuk meninggalkan banyak barang disana. Hanya ada beberapa lembar baju Mark dan Mike yang dia kemas ke dama koper. Bukan tanpa alasan, kedua bocah tampan yang kini berusia tiga tahun itu malah sibuk mengeluarkan semua mainannya untuk di masukkan ke dalam koper, sedangkan bajunya di biarkan saja seolah mereka tidak akan memerlukan baju dan keperluan lainya.


" Mark, Mike, kalian tidak perlu mengeluarkan semua mainan kalian. Tinggalkan saja di sini. Sesampainya disana, Ayah akan memberikan mainan yang baru untuk kalian ya? "


" Ah, tidak mau! " Mark dan Mike kompak menangis karena begitu sayang dengan mainan mereka. Padahal, mereka sudah begitu repot mengeluarkan seluruh mainannya. Tiba-tiba harus ditinggalkan begitu saja? tentu saja mereka merasa sedih dan berat.


" Dengar, jagoan Ayah. Ayah akan memberikan mainan yang sama persisi dengan ini semua. Tolong jangan menangis ya? Ayah janji tidak akan ada satu pun yang terlupakan. " Jordan mengangkat kedua jarinya bersumpah di hadapan anak-anaknya. Seperti inilah Jordan dan si kembar Mark dan Mike. Dua bocah tampan itu lebih dekat dengan Ibunya ketimbang Ayahnya. Jauh berbeda dengan Ele yang begitu lengket dengan Ayahnya.


Mendengar kedua anak laki-lakinya menangis, Gaby beranjak keluar dari kamar Ele yang kebetulan dia sudah selesai mengemas barang-barang milik Ele.


" Ayah! mana boleh Ayah seperti itu! kalau Ayah nakal lagi, Ibu akan memukul betis Ayah. " Mark dan Mike kompak terlihat bahagia seolah-olah merasa puas melihat Ayahnya di marahi.


" Baiklah, Ayah minta maaf ya? " Pinta Jordan seperti biasanya setelah Gany berpura-pura marah.


" Sayang, " Gaby mengangkat satu persatu putranya lalu mendudukkan mereka di pinggiran tempat tidur. Dia bersimpuh lalu menatap bola mata kedua putranya secara bergantian. Kedua tangannya juga mengusap kedua pipi putranya, seperti biasa juga bibirnya akan tersenyum untuk memberikan pengertian kepada kedua bocah tampan itu.


" Dengar, jika kalian memasukkan semua mainan kalian ke dalam koper, tentu saja kopernya tidak akan muat. Lagi pula, kalau terlalu banyak mainan di bawa, nanti pesawat terbangnya akan merasa keberatan dan kita tidak jadi terbang. "

__ADS_1


" Kita ingin terbang, Ibu. " Ucap Mike mewakili Mark yang terlibat setuju dengan ucapan Mike.


" Kalau begitu, bawa saja mainan yang paling penting. Mainan yang biasanya kalian bawa saat kalian tidur. Bagaimana? "


Mark dan Mike saling menatap lalu mengangguk setuju.


" Aku akan membawa pesawat tempur ku. " Ucap Mike.


" Aku akan membawa robot sakti ku. " Ucap Mark.


Kedua bocah itu beringsut turun dari tempat tidur lalu berlarian mengambil mainan yang paling mereka butuhkan.


***


Setelah satu hari penuh berada di udara untuk menuju negara asal, kini Jordan dan keluarga sudah sampai di bandara yang berada di negara asal mereka. Jordan dan Gaby berjalan beriringan dengan menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan kaca mata. Ele, Mike dan Mark berada di belakang mereka dan duduk di Stroler mereka. Tentunya ada banyak pengawal yang mendorong stroler mereka dan di jaga dari berbagai sisi.


Gaby dan Jordan kompak membuka kaca mata hitam mereka dan membiarkan sinar matahari menerpa wajah mereka.


" We back. " Ucap Jordan lalu tersenyum.


" Mari bertempur, Tuan Arnold tercinta. I'm ready now. " Gaby juga tersenyum.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2