
Hari ini adalah hari dimana Norita dan Ron berusaha dengan keras untuk mendapatkan salinan kartu keluarga lama milik keluarga Ibu nya Jordan yang lama. Tentu bukan hal mudah bagi keduanya untuk mencari data lama. Tapi syukurlah, berkat kekompakan keduanya, dan bantuan kekasih sialan Norita, akhirnya kartu keluarga yang mereka butuhkan akhirnya mereka dapatkan. Jujur, Ron sebenarnya sangat dan amat kesal dengan Norita yang terus menerus membanggakan kekasihnya. Bukanya tanpa alasan, karena kekasih Norita meminta bayaran mahal kepada Ron dan melarang Ron untuk memberi tahu Norita. Memalukan kan? di dalam hati Ron bergumam, pasti uang itu akan digunakan untuk berkencan dengan selingkuhannya. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Norita tahu dengan sendirinya. Karena percuma saja Ron msmberi tahu, pada kenyataannya dia hanya merasa mulutnya pegal saja tapi tidak didengar kan nasihatnya oleh Norita.
" Syukurlah, semuanya sudah selesai. " Ujar Norita sembari memeluk erat kartu keluarga dan beberapa identitas lama dari Ibunya Jordan, bahkan disana juga ada beberapa photo saat mereka balita, remaja, dan saat mereka belum terpisahkan karena kakak ya di penjara.
Tring....
Ron yang sedang mengemudi membiarkan saja ponselnya berbunyi. Tapi Norita yang tak sengaja melihat layar ponsel Ron menyala, dia melihatnya meski tidak memiliki niat sebelumnya. Dahi Norita mengeryit melihat pesan yang baru saja masuk karena sangat mengenal dengan jelas nomor siapa itu.
" Tuan Ron? kenapa kekasih ku mengirimi mu pesan? apa dia menanyakan tentang ku? lalu, dari mana kalian bertukar nomor telepon? " Norita yang tidak bisa menahan diri tentu saja memilih untuk menanyakan langsung apa yang membuatnya penasaran.
Ron menghela nafasnya. Malas, tentu saja dia sangat malas untuk menjawab pertanyaan Norita.
" Terserah saja. Mungkin memang dia menanyakan tentang mu. "
Norita terdiam sembari berpikir. Dia bahkan sama sekali tidak melihat Ron dan kekasihnya bertukar nomor telepon. Tapi dia tadi sempat membaca beberapa kalimat tapi yang dia lihat adalah berhubungan dengan uang. Uang apa? Norita kembali menatap Ron yang masih saja fokus mengemudi.
" Tuan, tolong beri tahu aku. Apa isi pesan itu? "
Ya ampun! dia benar-benar bisa gila kalau harus terus mendengarkan mulut Norita mengoceh terus menerus seperti ini.
" Ambil saja ponselku, dan lihat sendiri. Aku tidak pernah mengunci ponsel ku, jadi kau bisa melihatnya dengan jelas. "
Norita awalnya merasa ragu, tapi karena dia begitu penasaran hingga sulit untuk ditahan, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil ponsel Ron dan membaca semua pesan yang dikirim dari kekasihnya.
" Jadi dia meminta uang sebanyak ini? " Norita terperangah dengan tatapan pilu. Padahal selama ini, dia pikir kekasihnya adalah orang yang tulus dan akan membantunya melakukan apa saja. Tapi ternyata di belakang nya dia malah meminta upah yang mendekati angka seratus juta.
__ADS_1
" Aku sudah memberi tahu mu kan? laku-laki itu bukan pria yang baik. Jika masih tidak percaya, ikuti saja dia diam-diam dan lihat lah betapa berengsek nya dia. " Norita terdiam dengan wajah yang terlihat sedih. Padahal dia sudah berniat untuk segera menikah dengannya, padahal tanggal juga sudah ditentukan, dia bahkan sudah memberikan DP rumah untuk mereka tinggali nanti. Meskipun itu hanya kata-kata dari Ron dan dia belum melihat sendiri, dia merasa yakin kalau Ron tidak mungkin akan membohonginya.
" Tuan, setelah kita menyelesaikan urusan penting ini, bagaimana kalau aku meminta batuan Tuan Ron? " Norita menatap dengan tatapan yang begitu memohon.
" Tidak mau! "
Norita tersenyum.
" Terimakasih, Tuan Ron. "
" Aku bilang, tidak mau! "
" Iya, aku tahu. Terimakasih karena sudah bersedia membantu. " Norita kembali tersenyum.
" Dasar gila! "
***
" Bagus. Sekarang tinggal menjalankan rencana selanjutnya. " Ucap Gaby lalu tersenyum miring. Sebenarnya dia beberapa bulan terakhir ini merasa dewa keberuntungan selalu bersamanya karena setiap yang ingin dia lakukan selalu mendapatkan kemudahan. Tali tidak boleh terlaku puas dulu, ini barulah awal saja. Dengan sifat Tuan Edward, bisa saja dia mengelak dan membalikkan keadaan. Tapi tentu saja Gaby sudah menyiapkan rencana cadangan agar rencananya sukses dan tidak boleh gagal apapun alasannya.
" Bagaimana kita harus bertindak setelah ini, Nyonya? " Tanya Norita sekaligus mewakili Ron yang memiliki pertanyaan sama.
" Kirimkan ini kepada Tuan Edward tapi tidak boleh secara langsung. "
Bukan hanya Ron dan Norita yang mengeryit bingung, tapi Jordan juga merasa bingung dengan kalimat Gaby.
__ADS_1
" Maksudnya? " Taya mereka kompak.
" Mata-mata kita mengatakan, Tuan Edward sedang mengurus beberapa berkas terkait perizinan gedung miliknya. Tentu yang mengurus adalah sekeretaris nya kan? kirim satu orang kita untuk pergi kesana juga. Berikan berkas ini kepada orang yang akan ditemui sekretaris Tuan Edwar. Suruh orang itu meletakkan di meja kerjanya dan pancing dia untuk menyadari adanya berkas ini di sana. Jika dia sampai bertanya kenapa data ini ada di sana, katakan saja jika dia sedang mengumpulkan data dari orang itu dengan alasan yang masuk akal. Entah itu tentang kepemilikan gedung, atau apalah itu. " Jordan dan yang lainya mengangguk paham terkecuali Norita yang sedari tadi hanya menggaruk tengkuk karena sama sekali tidak paham apa yang di ucapkan oleh Gaby.
" Nyonya, kenapa tidak aku saja yang mengantarnya? aku janji akan mengantarnya langsung kepada Tuan Edward dan memastikan mata nya melihat data-data real itu. "
Gaby tersenyum, semenatara Ron dan Jordan menggeleng keheranan.
" Kalau kita yang mengatarnya, tentu saja dia tidak akan mempercayai bukti ini. Tapi kalau bukti ini di dapat bukan dari kita, pengaruhnya pasti akan jauh lebih besar. "
" Begitu ya? " Norita tersenyum kikuk. Memang benar sih dia terlalu lemot saat berpikir, tapi ya mau bagaimana lagi? dia biasanya akan memikirkan hal-hal yang mudah untuk dilakukan.
Setelah perundingan itu selsai, Ron memerintahkan salah satu tim untuk mengirim berkas itu. tentu, dia sudah mendapatkan konfirmasi terlebih duku dari pihak yang bersangkutan. Setelah semuanya beres barulah dia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk karena ia tinggalkan sedari pagi.
" Bagaimana? " Tanya Gaby setelah seharian menunggu kabar ini.
Ron tersenyum lalu mengacungkan jari jempolnya.
" Perhitungan anda tepat sekali. Dia begitu tertarik dengan data-data milik Nyonya besar. Sekarang, data itu pasti sudah ada si tangan Tuan Edward. " Gaby tersenyum membayangkan bagaimana sedihnya wajah tua Bangka ganjen itu.
***
Prang! bruk!
Semua barang-barang yang ada diruang kerja Tuan Edward melayang berhamburan dimana-mana. Seluruh tubuhnya gemetar, matanya juga memerah karena menahan gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan hanya dengan kata-mata.
__ADS_1
" Kenapa? kenapa jadi seperti ini? " Tuan Edaward memegangi dadanya yang terasa nyeri. Tadinya dia sama sekali tidak mempercayai apa yah dia lihat, tapi setelah meminta orang kepercayaan nya untuk menyelidiki dengan segera kebenaran tentang data itu, dia menjadi tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Bersambung