
Hembusan angin laut pagi hari yang terasa begitu segar. Sinar matahari hangat juga mulai menyapa indahnya pagi hari yang akan mengantarkan umat manusia kepada hari baru, dan pengalaman baru.
Jordan mulai menggeliat lalu mengerjapkan matanya sebelum benar-benar membukanya dengan sempurna. Dia menarik nafas dalam-dalam sembari menadah sinar matahari yang menerpa wajahnya. Hangat dan menenangkan. Itulah yang Jordan rasakan. Entah itu karena angin menyegarkan dari laut, entah dari sinar matahari, atau mungkin, karena perasaan bahagia karena telah menemukan anak dan istrinya. Sungguh, hal kecil saja terasa begitu menyenangkan ketika suasana hati sedang bahagia.
" Mereka belum keluar juga rupanya. " Gumam Jordan karena dari tadi malam dia menyenderkan tubuhnya di pintu.
Semetara di dalam rumah, Gaby tengah menahan kesal karena Jordan tidak juga kunjung pergi. Pria itu justru melakukan gerakan-gerakan kecil untuk melenturkan ototnya. Sungguh dia sudah sangat sebal karena tidak bisa keluar dari rumah. Padahal hari ini dia harus mengantarkan hasil sulamannya kepada orang yang sudah memesannya dari jauh-jauh hari.
Gaby terus saja mengintip Jordan dari balik jendela yang tertutup tirai. Tanpa dia sadari, Ele sedari tadi kebingungan melihat sang Ibu yang terus mengintip lalu menghela nafas setelahnya.
" Ibu sedang melakukan apa? " Tanya Ele polos. Gaby yang terkejut hanya bisa menggeleng reflek.
" Ti tidak ada, sayang. Em, Ibu ambil sarapan untuk mu ya? " Gaby dengan langkah kaki cepat menuju dapur untuk menyiapkan sarapan Ele.
Sementara Ele yang tertarik dengan kegiatan Ibunya tadi, dia berjalan mendekati sebuah kursi lalu menggesernya tepat di dekat jendela. Dia naik perlahan dan melakukan apa ya g dilakukan Ibunya tadi.
" Itu kan paman yang semalam. " Ele membuka jendela yang hanya berukuran empat puluh centil meter itu perlahan.
" Paman? " Panggil Ele.
Jordan yang saat itu tengah menggerakkan tubuhnya sontak menoleh ke samping. Tempat dimana Ele menyembulkan kepalanya. Jordan memang sempat terkejut, tapi inilah adalah momen yang begitu membahagiakan. Jorda berlari ke arah Ele. Sungguh dia benar-benar tidak tahan lagi. Dia menarik tubuh Ele perlahan agar keluar dari jendela kecil itu. Dia langsung memeluk tubuh Ele erat.
" Ele, Ayah merindukan mu. " Jordan menatap manik mata Putrinya yang kebingungan. Tapi untunglah, gadis kecil nya sama sekali tidak terlihat takut. Padahal dia jarang bertemu dengan ptorang asing kan?
" Paman, paman salah. Aku tidak punya Ayah. Ayah kan hanya ada di negeri dongeng. "
__ADS_1
Jordan membeku sembari menatap manik mata polos anaknya yang memiliki warna yang sama dengan bola matanya. Sungguh kata-kata ini sangat menyakitkan baginya. Tapi Ele hanyalah anak-anak yang tidak paham atau belum paham tentang kehidupan orang dewasa yang rumit.
Jordan mencoba menguasai dirinya lagi. Dia tersenyum sembari mengusap rambut Ele lembut.
" Dengar sayang, aku adalah Ayahmu. Ayah bukan hanya ada di negeri dongeng, tapi Ayah juga ada di dunia nyata. "
" Benarkah? " Tanya Ele yang mulai terlihat bahagia.
" Lalu, apakah Paman akan menjadi Ayah seperti di negeri dongeng yang akan melindungi putri nya? "
Jordan mengangguk. " Iya, Ayah akan menjaga mu dengan sangat baik. Ayah tidak akan membiarkan mu terluka sedikitpun. "
" Apa Ayah tidak takut dengan penyihir? "
Jordan kembali tersenyum lalu memberikan sebuah kecupan sayang di dahi Ele.
Ele mengangguk bahagia meski dia tidak paham kalimat akhir yang di ucapkan Ayahnya. Dia hanya fokus dengan kata-kata Jordan yang menyatakan bahwa dia tidak takut dengan penyihir.
" Jadi mulai sekarang, panggil Ayah dan tidak boleh memanggil Paman lagi. Bagaimana? setuju? "
Ele mengangguk semangat dengan wajah yang begitu bahagia.
" Iya Paman Ayah. "
Jordan terkekeh lalu mencubit pelan pipi menggemaskan putrinya itu. Ini adalah kali pertama Jordan bisa menggendong tubuh putrinya. Dia begitu merasa bahagia hingga sangat tidak ingin kalau sampai kehilangan Ele.
__ADS_1
" Sayang, wajah mu benar adil ya? kau mirip dengan kami. Mata bulat mu dan hidung mu sama seperti Ibu mu. Warna matamu, bibir mu, lalu warna rambutmu mirip seperti Ayah. Bibir mu mirip Ayah tapi senyummu sangat mirip dengan Ibu. " Lain dari apa yang tengah Jordan rasakan, Ele yang memang masih belum paham itu justru lebih tertarik untuk bermain di pelataran rumah yang berisikan pasir pantai yang begitu bersih.
" Main, ayo bermain Ayah. " Ajak Ele. Gadis kecil itu tentulah menyamakan Ayahnya dengan tokoh yang ada di dongeng. Ayah yang selalu memiliki waktu untuk bermain bersama Putrinya, Ayah yang akan selalu menyayangi dan mencintai putrinya, Ayah yang akan selalu menjaga putrinya agar terhindar dari bahaya. Seperti itulah bayangan Ayah yang Ele ingat dari buku cerita pengantar tidurnya. Dan semoga Jordan bisa mnejadi sosok itu seperti yang ada di imajinasi Ele.
Didalam rumah. Gaby sebenarnya mendengar semua percakapan Jordan dan putrinya. Jujur, pada awalnya Gaby ingin sekali merebut Ele dan memaksanya untuk masuk ke dalam rumah, tapi untunglah dia tidak gegabah dan masih bisa berpikir dengan jernih. Kalau dia melakukan itu, otomatis Ele akan ketakutan melihatnya atau Ele akan penasaran dan terus bertanya kenapa dia seperti itu.
" Apa yang harus aku lakukan? " Gumam Gaby. Sebenarnya dia juga merasa bahagia saat melihat Ele dan Jordan bermain bersama. Mereka mengubur kaki mereka dengan pasir sembari terus bercanda entah apa juga yang menjadikan pembicaraan mereka begitu menyenangkan.
" Jordan, kenapa kau harus datang lagi? kenapa kau tidak bisa membiarkan ku hidup tenang? sebenarnya, apa yang kau inginkan? apa? mungkinkah Ele? apa kau ingin mengambil Ele dariku? padahal kau punya anak sendiri kan? "
Gaby begitu fokus dengan lamunannya hingga tanpa dia sadari sudah ada Ron di depan pintunya dan mengetuk beberapa kali. Gaby tersadar dan langsung membukakan pintu untuk orang yang mengetuk pintu.
" Selamat pagi, Nona? " Sapa Ron dengan tutur yang begitu sopan. Gaby mengangguk karena memang tidak ingin menjawab sapaan itu.
" Boleh saya bicara sebentar? "
Gaby mengeryit bingung. Sebenarnya dia benar-benar malas berurusan dengan Ron yang berarti berurusan dengan Jordan. Tahu memang, sedari dulu Ron adalah orang yang selalu mengingatkan Jordan untuk tidak berbuat jahat kepadanya. Tapi tidak tahu mengapa, rasanya dia masih ingin membenci Ron.
" Apa yang ingin kau bicarakan? " Tanya Gaby yang bisa Ron lihat jika Gaby benar-benar tidak ingin membicarakan apapun. Tapi demi Jordan, dia harus berpura-pura tidak melihat maksud dari ekspresi wajah Gaby.
" Begini, Nona. Tuan dari kemarin belum makan apapun. Bisakah anda memberinya sedikit makanan? "
" Dia bukan orang fakir. Kenapa meminta makanan dariku? " Sinis Gaby.
Ron tersenyum lalu memberanikan diri untuk menatap istri dari Tuannya.
__ADS_1
" Nona, Tuan menjalani empat tahun hidupnya dengan begitu menyedihkan. Hanya sedikit makanan dari anda, saya rasa itu bukan hal yang sulit kan? "
Bersambung...