Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Menyapa


__ADS_3

Hari senin, awal dari semua hari yang membuat Gaby dan Jordan begitu lelah. Mulai dari mendatangi langsung beberapa proyek yang sedang berjalan, meeting di sore hari, belum lagi banyak sekali dokumen yang perlu mereka periksa. Jordan yang melihat istrinya kelelahan sebenarnya sudah berulang kali memintanya untuk istirahat dan membiarkan dia yang mengerjakan semuanya. Tapi mau bagaimana lagi? Gaby adalah wanita yang tidak bisa dilarang dengan mudah.


" Sayang, berikan saja itu padaku. " Pinta Jordan yang kini sudah ada didepan meja kerja Gaby. Pria itu nampak khawatir dan juga kasihan, tapi sayangnya, bahkan Gaby sama sekali tidak mengasihani dirinya sendiri.


" Tidak apa-apa, kalau sudah cepat selsai kan kita juga bisa cepat pulang. Pokonya selama bekerja bersama ku, tidak ada yang akan bekerja lembur. Terutama kau dan aku. Kita punya anak-anak yang juga membutuhkan waktu kita. Selesaikan saja pekerjaan mu, dan aku juga begitu, Ok Presdir Jordan? " Gaby mengerlingkan sebelah matanya dengan bibir yang tersenyum manis. Benar-benar sudah menjadi dugaan Jordan, memang tidak akan mungkin bisa melawan Gaby. Jordan kembali ke kursinya dan mulai mengerjakan lagi tugasnya. Sesaat dia meraih ponsel dan melihat pesan masuk dari putrinya yang mengirimnya sebuah lukisan yang beberapa hari ini ia tekuni.


" Dia benar-benar putri yang sangat manis, bagaimana mungkin aku betah lama-lama di kantor? " Jordan menyimpan kembali ponselnya setelah memberikan balasan emoji berbetuk hati kepada putrinya. Gaby yang samar-samar mendengar ucapan Jordan, dia ikut tersenyum lalu kembali fokus bekerja agar bisa lebih cepat bertemu dengan anak-anaknya.


Selesai! hari menunjukkan pukul, enam belas tiga puluh menit, yang artinya mereka selesai tiga puluh menit dari biasanya. Tentulah dengan cepat mereka bersiap untuk segera kembali ke rumah agar bisa bertemu dengan tiga anak mereka.


" Tuan, Nyonya? " Sapa Ron dan Norita yang baru saja kembali dari meninjau salah satu proyek yang ada di perbatasan kota.


" Ron, Norita? " Sapa Gaby juga lalu tersenyum setelahnya.


" Saya ingin mengingatkan, jangan lupa hadiri pesta peringatan ulang tahun Tuan Ghani dan istrinya. " Ucapan Ron barusan benar-benar membuat Jordan dan Gaby mendesah lesu. Sementara Ron, dia yang tahu kalau kedua atasannya ini ingin segera bertemu dengan anak-anaknya tentu hanya bisa tersenyum kikuk.


" Norita, kenapa wajahmu begitu sedih? ada apa? " Gaby yang menyadari wajah Norita begitu tidak seperti biasanya tentu saja merasa perlu untuk bertanya.


" Itu, tidak ada apa-apa, Nyonya. " Jawab Norita lalu memaksakan senyumnya.


" Lebih tepatnya, dia melibat kekasihnya sedang berken, "


" Diam! aku bilang diam! " Kesal Norita. Jordan dan Gaby hanya bisa tersenyum karena tahu benar apa yang akan diucapkan Ron selanjutnya.

__ADS_1


" Baiklah, kalian lebih baik saling menghibur saja. " Ucap Gaby yang sukses membuat Ron dan Norita menatap Gaby dengan tatapan penuh tanya.


" Norita kan sedang patah hati, sementara Ron, dia sama sekali tida tahu rasanya patah hati. Bagi saja perasaan sedih mu, ceritakan apa yang kau rasakan agar Ron juga tahu apa itu patah hati, bila perlu kau ajari juga caranya untuk jarltuh hati. " Setelah mengucapkan kalimat yang membingungkan bagi Norita dan Ron, Gaby melangkah pergi begitu saja bersamaan dengan Jordan.


" Maksud Nyonya tadi apa ya? " Ron menggaruk tengkuknya karena benar-benar tidak paham dengan apa yang dia dengar tadi.


" Yang aku tahu, nyonya pasti sedang menyindir anda yang tidak pernah tau rasanya jatuh cinta, apalagi patah hati." Norita yang memang sedang kesal berjalan begitu saja meninggalkan Ron yang masih ingin berkata-kata.


" Meskipun aku jatuh hati, aku tidak akan sudi merasakan patah hati, dan menjadi gila sepertimu! " Kesal Ron sembari berjalan menuju ke ruangannya.


***


Sesampainya dirumah, Gaby dan Jordan langusung bermain bersama dengan anak-anak mereka. Hari ini ada yang sedikit berbeda, yaitu mainan mereka sudah diganti yang baru entah kapan. Ele juga kini memiliki banyak sekali cat dengan warna baru yang lebih bagus dan banyak serinya.


" Ini semua dari Kakek, Ayah. " Sontak Jordan terdiam dengan rahang yang mengeras. Tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan karena dia juga tidak paham dengan perasaannya sendiri.


" Ayah, kakek bilang kalau Ayah sedang marah karena Kakek melakukan kesalahan. Tapi Kakek juga bilang, kalau kakek akan berusaha agar Ayah tidak marah lagi. " Ele meletakkan pewarnanya lalu menatap bola mata Ayahnya.


" Ayah, sebesar apapun seseorang membuat salah, jika dia menyesalinya dan siap berbuat baik, maka kita harus memberikan kesempatan itu kan? " Wajah Ele yang begitu polos, dan dihiasi senyum manis itu sungguh tidak bisa kalau Jordan tidak mengangguk setuju.


" Siapa yang mengajari kata-kaya ini? " Tanya Jordan sembari mengusap wajah cantik putrinya.


" Bibi Diana." Iya, tidak heran kalau Ele bisa berkata seperti itu. Selain ajaran dari Ibunya, Diana juga selalu mengajari banyak hal dan nasehat baik untuk semua anak-anaknya. Diana memang wanita yang naif, lembut dan pengertian. Entah bagaimana kabar rumah tangganya sekarang, karena Diana melarang Jordan terus mengintai kehidupannya, maka Jordan juga sudah beberapa bulan terakhir kehilangan kabar tentang hubungan rumah tangga adiknya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Jordan dan Gaby sudah siap untuk menghadiri pesta peringatan hari ulang tahun pernikahan Tuan Ghani dan istrinya. Seperti pengalaman tempo hari, Jordan dan Gaby tidak akan meminum apapun yang disodorkan kepada mereka apapun alasannya. Mereka juga kompak berjanji untuk tidak berpisah di pesta bahkan saat ke toilet, khusunya ini untuk Gaby. Seperti biasa, saat tiba di sebuah acara mewah dan banyak orang, Jordan dan Gaby akan menjadi pusat perhatian semua orang, selain karena rupa mereka yang menawan dan begitu cocok, kali ini ada sedikit yang berbeda. Beberapa orang berbisik dan membicarakan tentang sikap dari istri Jordan yang sangat kejam dan tidak kenal ampun.


" Mereka ini benar-benar, " Ucap Ron yang ikut bersama dengan Jordan dan Gaby seperti biasanya.


Gaby tersenyum miring.


" Tidak apa-apa, Ron. Bagiku, orang seperti itu hanya anjing yang akan menggonggong, tapi tidak melakukan apapun. Jangan jadi seperti mereka agar aku tidak menganggap mu anjing. " Ucap Gaby yang cukup lantang.


Bukanya mereda, mereka malah justru semakin asyik bergerundel karena baru saja disamakan dengan anjing.


" Kita bertemu lagi, Nyonya Presdir. " Maria tersenyum sinis seolah merasa bahwa akan banyak orang yang berada di pihaknya sekarang ini.


" Bisa jangan mengajak istriku bicara? " Tanya Jordan yang sebenarnya ingin memperingatkan Maria agar tidak timbul keributan nantinya.


" Aku hanya menyapa, Jordan. " Maria kembali tersenyum.


" Sayang, aku jijik melihatnya tersenyum. " Ucap Gaby sembari menatap Maria dengan tatapan mengejek.


" Jangan di lihat kalau begitu. " Ucap Jordan.


" Tapi dia selalu mengganggu mataku. Aku sekarang penasaran, dia ini manusia atau bukan? setiap kali melihatnya, mataku seperti kemasukan banyak sampah. " Gaby mengibaskan rambutnya dengan tatapan yang masih saja begitu berani untuk menghina.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2