Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Rencana Rendy


__ADS_3

Sesampainya di tempat yang sudah di infokan, Jordan dan Ron hanya bisa menelan pil pahit. Bagaimana tidak, Gaby sepertinya sudah menyadari jika ada seseorang yang diam-diam mengintainya. Dia dengan cerdiknya melarikan diri tanpa bisa disadari oleh orang suruhan dari pihak yang membantu Jordan.


Ron keluar dari rumah kecil yang berada di pinggiran hutan itu. Rasanya memang meyakinkan jika Gaby sebelumnya tinggal disana. Tapi dengan keterbatasan informasi, harusnya Gaby tidak menyadari ini. Ron semakin mengeryit karena tengah menerka-nerka dan merangkaikan setiap kejadian dengan orang yang tengah ia curigai.


" Cari tahu dimana Rendy berada pagi sampai malam ini. " Ron langsung memutuskan sambungan teleponnya setelah selesai berucap.


Ron kembali kepada Jordan yang kini tengah duduk dan tertunduk lesu. Dia sudah membayangkan akan bertemu dengan istrinya. Bisa memeluknya dan membujuknya untuk pulang. Mengurus kehamilannya dan membesarkan anak mereka bersama dengan bahagia. Tapi lagi-lagi ini seperti sebuah lampu terang tapi tidak menunjukkan arah.


" Bagaiman ini? kenapa semua nya jadi begini? " Jordan menatap lantai rumah itu dengan tatapan ya g begitu memilukan. Ron yang ada disana mencoba untuk menenangkannya karena selain itu dia tidak bisa melakukan apapun.


" Tuan, tenanglah. Semua orang-orang kita tengah bergerak mencari keberadaan Nona Gaby. "


" Sampai kapan? kenapa dia bisa tahu kalau sedang di lacak? siapa yang membantunya? " Tanya Jordan.


Baru akan menjawab, ponsel Ron sudah lebih dulu berdering.


" Katakan. Baiklah. " Ron mengakhiri sambungan teleponnya.


" Tuan, sepertinya, orang yang ada dibalik semua ini benar Tuan Rendy. "


Jordan langsung menegakkan kepalanya menatap Ron. Sebenarnya dia ingin marah dan memprotes Ron, tapi Ron bukanlah orang yang bisa berspekulasi tanpa bukti yang kongkrit. Akhirnya Rendy memutuskan untuk mempercayai Ron. Pria yang selama ini mengabdikan dirinya hanya untuk Jordan seorang.


" Baiklah, ayo bergegas mencari Rendy. "


Satu jam tiga puluh menit, perjalanan yang di habiskan oleh Jordan dan yang lain untuk menuju tempat tinggal Rendy dan adik perempuannya.


Sesampainya disana, Jordan langsung saja masuk tanpa izin dan di ikuti oleh Ron yang setia di belakang Jordan.


" Rendy! " Panggil Jordan dengan begitu lantang.


Bukan Rendy yang datang, tapi satu asisten rumah tangga yang menemui Jordan dengan wajah takut.

__ADS_1


" Maaf, Tuan Jordan. Tua Rendy sedang ada urusan mendadak di kantor. " Ucap asisten rumah tangga paruh baya itu.


" Berarti benar dugaan saya, Tuan. " Sela Ron yang semakin yakin dengan pendapatnya.


" Panggil Diana sekarang. " Titah Jordan kepada asisten rumah tangga itu.


" Tapi Nona Diana sedang tidak enak badan, Tuan Jordan. Beliau baru saja tertidur. " Ucap asisten rumah tangga yang masih terlihat ketakutan.


" Panggil! " Bentak Jordan yang semakin kesal mendengar alasan dari asisten rumah tangga itu. Entahlah, biasanya dia tidak akan pernah mau mengganggu istirahat adik perempuan yang paling dia sayangi itu. Tapi karena keadaan dan suasana hati yang sedang kacau, membuat Jordan tidak lagi perduli apapun.


" Kakak? " Belum juga asisten rumah tangga itu beranjak untuk memanggil Diana, justru Diana lah yang datang karena merasa terganggu dengan suara lantang kakaknya yang menggema ke seluruh ruangan.


" Hubungi Rendy! " Titah Jordan.


" Ada apa kak? " Tanya Diana yang merasa aneh dengan ekspresi kakaknya yang begitu asing baginya.


" Hubungi dia dan jangan banyak bertanya! " Jordan semakin mengeraskan suara tanpa perduli Diana yang mulai menggigil ketakutan.


Ada apa?


" Ren, kau dimana? " Tanya Diana.


Kenapa?


" Ada yang ingin di bicarakan. Kau ada di mana? "


Tidak usah mengurusi yang bukan urusan mu. Lagi pula kita tidak sedekat itu kan? hal apa yang harus dibicarakan? aku sibuk sekarang. Jangan menggangguku. Sambungan telepon terputus.


Jordan semakin mengepalkan tangan kuat. Bagaimana tidak? selain tengah menculik istrinya, Rendy ternyata memperlakukan adiknya dengan begitu dingin. Jordan menatap Diana yang kini tertunduk dengan buliran air mata yang menetes di pipinya. Dia tidak tahu harus bagaimana meledakkan amarahnya saat ini. Tapi melihat Diana yang begitu menyedihkan membuat dirinya menahan segala amarahnya meski sebenarnya sungguh sulit.


" Sejak kapan? " Tanya Jordan geram.

__ADS_1


" Apa yang kakak maksud? " Tanya Diana tapi dia masih tertunduk karena tidak berani menatap mata kakaknya yang sudah pasti mengobarkan kemarahan.


" Sejak kapan dia memperlakukan mu seperti itu? " Jordan semakin dibuat kesal oleh Diana yang justru bertele-tele dan terkesan enggan untuk menjawab pertanyaan darinya.


Diana semakin menunduk pilu. Mau berbohong pun tidak bisa. Jadi mau tidak mau dia hanya bisa mengakui segalanya kepada Jordan.


" Dari awal, kami seperti ini dari awal, kakak. " Diana menunduk lalu menangis pilu. Rasanya begitu menyakitkan harus menceritakan ini dan membiarkan orang terdekat nya mengetahui segala hal menyakitkan yang sengaja ia tutupi agar tak membuat kakak nya merasa khawatir.


Jordan menggebrak meja lalu mengusap wajahnya kasar. Entah setan apa yang membuatnya begitu buta saat itu. Awalnya dia sengaja menjodohkan Rendy dan Diana karena kecocokan di antara mereka. Rendy adalah pria yang teguh pendirian dan lembut. Tapi dia benar-benar tidak menyangka, dua wanita yang ia cintai kini tengah menjadi mainan pria brengsek itu.


" Ron, kerahkan semua orang yang kita punya untuk melacak Rendy dari sinyal ponselnya. Kau ikut aku dan cari kemungkinan terbesar dimana keberadaan Rendy sekarang. "


" Baik. " Ron bangkit dan beranjak menjauh. Tapi sebelum itu, Ron sempat menatap sesaat ke arah Diana. Gadis yang sedari dulu sudah ia anggap sebagai seorang adik. Rasanya dia juga marah. Tapi dia juga tidak memiliki hak untuk ikut campur masalah rumah tangga Diana. Semoga semuanya akan membaik. Doa Ron di dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Ron dan Jordan meninggalkan kediaman Rendy dan Diana. Saat ini yang ada di otak Ron dan Jordan adalah menemukan Rendy dan menghajarnya habis. Air mata yang hampir tidak pernah Jordan dan Ron lihat dari seorang Diana, kini cukup menyadarkan mereka jika Rendy pasti sangat menyakiti Diana.


" Dimana? "


" Ada kemungkinan bandara, Tuan. Tapi ini hanyalah kemungkinan saja. Rendy adalah orang yang cerdik Tuan. Karena sepertinya, dia sengaja membuat mempermainkan kita. " Ujar Ron yang merasa janggal dengan semua ini. Posisi Rendy yang selalu bertolak arah, seolah membuatnya menyadari jika ini sudah direncanakan dengan matang.


" Berhenti! " Ucap Ron.


" Kenapa? " Tanya Jordan bingung.


" Semua ini jebakan, Tuan. Percuma saja kita bergerak sekarang. Rendy sudah merencanakan semua ini dengan matang. "


***


Disebuah rumah sederhana yang terletak dipinggiran pantai. Gaby terduduk menikmati hembusan-hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Rasanya lumayan damai dengan tidak adanya Jordan atau bahkan Rendy yang menolongnya tanpa alasan yang jelas.


" Jordan, apa yang sedang kau lakukan sekarang? "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2