Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Good by, World


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Tidak ada satupun yang datang untuk menjenguk Gaby. Bahkan Dokter dan perawat disana merasa iba melihat kondisi pasien mereka yang terlihat sangat terpuruk. Ditambah lagi, tidak ada lagi sosok suami yang kemarin bersamanya. Tidak juga satupun orang yang hanya sekedar bertanya bagaimana keadaannya sekarang.


" Nyonya, anda sudah di izinkan pulang hari ini. "


" Kemana aku harus pulang? " Gaby bertanya dengan tatapan yang hampa dan menyedihkan.


Perawat itu terdiam menatap Gaby iba. Bagaimana yang terjadi beberapa hari terakhir ini telah menunjukkan betapa malang nasib pasiennya itu. Selain adanya luka saat kecelakaan, dia dan Dokter yang juga menyadari ada yang banyak luka lebam di tubuhnya. Entah sudah berapa banyak dia menderita.


" Nyonya, biarkan saya membantu membereskan barang-barang anda. "


Gaby tak menyahut. Wanita itu hanya diam dengan tatapan yang masih kosong. Entah kemana dia harus pergi setelah ini. Lama berpikir, akhirnya dia bisa tersenyum dan sudah menentukan kemana dia akan pergi.


" Ini barang anda, Nyonya. " Perawat itu menyerahkan tas yang berisi barang-barang milik Gaby.


" Terimakasih. " Gaby menerima tas itu dengan wajah yang sudah terlihat lega. Perawat itu sebenarnya terkejut melihat perubahan drastis pada pasien yang sepertinya mengalami gangguan psikis itu. Tapi dia mencoba untuk. berpikir positif dan membalas senyumnya sopan.


Gaby berjalan dengan wajah yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Dia terus melangkahkan kaki sembari menikmati detik demi detik waktu serta oksigen yang ia hirup. Rasanya semua akan lepas dari dirinya. Penderitaan dan rasa bersalah kepada anaknya juga akan menghilang dari diri nya. Dan sampailah dia di atap gedung rumah sakit. Perlahan dia semakin menepi dan berdiri di pembatas bangunan. Dia tersenyum melihat ke bawah.


Nak, Ibu datang untuk menemui mu. Ibu akan mengasuh dan menjagamu disana. Tunggu Ibu sayang, Ibu akan segera datang.


Gaby merentangkan tangannya dan menikmati sinar matahari terakhir yang menyinari tubuhnya.


" Good by, World.... "


Grep....


Sebuah tangan pria lebih dulu menarik tangan Gaby dan membuatnya terjatuh kebelakang yang otomatis telah menggagalkan rencana indahnya.


" Apa yang kau lakukan?! " Gaby memberontak agar orang yang mencengkram kuat tangannya segera melepaskannya.


" Kau ini bodoh atau apa?! tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan bunuh diri. "


" Bukan urusan mu. Aku tidak memiliki masalah. Aku hanya ingin bertemu anak ku! lepas!! "

__ADS_1


Pria itu semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Gaby. Sebenarnya dia sudah mengikuti Gaby saat tak senagaja melihat seorang wanita berjalan menuju arah atap gedung. Dia yang akhirnya merasa curiga memutuskan untuk mengikutinya.


Pria itu terdiam sesaat. Dia mencoba mencerna dan menyimpulkan masalah yang tengah di hadapi oleh Gaby. Setelah cukup mengerti, dia mencoba membujuk sebisa mungkin agar wanita yang ada di dekatnya itu berhenti berbuat nekat.


" Dari pada melakukan hal tidak masuk akal itu, lebih baik kau menggantinya dengan berbaur bersama anak-anak. Setelah itu, kau akan tahu pentingnya dirimu bagi mereka. Ikutlah bersamaku sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidup mu. "


Pria itu menarik tangan Gaby dan membawanya pergi.


" Selamat siang, Tuan. " Sapa seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah supir dari pria itu.


" Buka pintunya. " Titah pria itu sembari menuntun Gaby untuk duduk.


Tak ada pembicaraan apapun, Gaby maupun pria itu hanya diam dalam pemikiran mereka masing-masing. Setelah hampir satu jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah panti asuhan yang terlihat begitu ramai.


Sesampainya disana, anak-anak kecil berlarian mengelilingi pria itu dengan wajah yang terlihat bahagia. Gany yang tadinya tak tertarik sama sekali, lama kelamaan dia mulai tersenyum saat anak-anak yang mengelilingi pria itu terus merengek manja.


" Paman, dimana boneka milikku? Paman, dimana sepatu ku, permen untukku dimana? pakaian baruku mana? " Dan masih banyak lagi yang lainya.


Pria itu menoleh ke arah Gaby yang masih saja enggan untuk turun.


" Kemari lah, kau bisa turun dan lihatlah ke adaan disini. "


Gaby memang masih merasa enggan. Tapi terus berada di mobil orang yang tidak ia kenal juga tidak membuatnya nyaman. Jadilah dia memilih untuk turun dan melihat anak-anak kecil yang begitu lucu dan menggemaskan.


" Paman dia siapa? " Tanya salah satu anak kepada pria itu.


" Pergi dan ajaklah dia berkenalan dengan mu. " Anak itu mengangguk lalu berlari ke arah Gaby.


" Bibi, namaku Velisa. Nama Bibi siapa? " Gaby terdiam lalu mulai menangis. Rasanya melihat senyum Velisa membuatnya semakin mengingat anaknya sendiri.


Velisa yang kebingungan melihat Gany menangis mencoba menenangkannya seperti menenangkan sahabatnya saat menangis karena berebut mainan tau saat bertengkar.


" Bibi, jangan menangis. Apapun yang Bibi minta Tuhan akan memberikanya. Bibi hanya perlu bersabar dan jadilah anak yang baik. "

__ADS_1


Gaby mengangguk sembari menghapus air matanya. Dia tidak mau membenarkan apa yang dikatakan Velisa kepadanya. Tetapi, senyum dan sentuhan Velisa mampu membuat nya lebih baik dan lebih tenang sekarang. Gaby menyeimbangkan tubuhnya dengan tinggi badan Velisa. Dia tersenyum sembari mengusap wajah Velisa yang begitu lucu dan sedikit manja.


" Bibi, ternyata Bibi sangat cantik ya? " Velisa terperangah melihat Gaby dari dekat.


" Benarkah? " Velisa mengangguk dengan cepat hingga beberapa kali.


" Terimakasih. "


Gaby dan Velisa semakin akrab. Velisa juga dengan bahagianya mengenalkan Gaby kepada teman-temannya yang lain. Inilah kali pertama Gaby bisa tersenyum bahagia tanpa mengingat beban ataupun keinginannya untuk mati beberapa saat lalu.


" Bibi, ini adik baru kami. Namanya Nino. " Velisa menunjuk boks bayi yang berisi seorang balita yang tengah tertidur pulas.


Gaby menatapnya lekat, hingga tanpa terasa tangannya terulur ulur mengelus pipi bocah kecil yang bernama Nino itu. Rasanya sungguh bahagia saat bisa menyentuh pipi balita seperti itu.


" Hai Nino? apa kabar? senang bertemu dengan mu. "


Pria yang sedari tadi tersenyum melihat Gaby yang kini sudah jauh lebih baik. Wanita yang beberapa saat lalu tidak memiliki gairah hidup, kini sudah bisa merasakan pentingnya hidup walaupun hanya sedikit.


Gaby terus tersenyum saat Nino menggeliat karena sentuhan jemari Gaby yang mengganggunya. Dia semakin tersenyum senang saat Nino menggenggam jari telunjuknya erat seolah enggan untuk Gaby pergi.


" Kau pasti sedang bermimpi indah ya, Nino. " Gaby sempat mengingat kapan dia bermimpi indah terakhir kali. Dia hanya bisa menghela nafas karena tak menemukan jawaban itu.


" Rasanya begitu menyenangkan menjadi anak-anak. Aku benar-benar tidak rela menjadi dewasa. "


Gaby memalingkan wajah mencari suara tawa yang sudah jelas menertawainya.


" kau?! kenapa kau mengikuti ku? "


" Maaf, aku hanya takut tiba-tiba kau ingin kembali bunuh diri. "


Gaby menatap kesal lalu secepat mungkin dia memalingkan wajah dan kini kembali menatap Nino.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2