
Dor......!
Sebuah suara senjata api yang diarahkan ke dada Jordan dengan tujuan untuk menembus jantungnya, kini justru bersarang di tubuh Tuan Edward. Jordan yang terkejut hanya bisa terbelalak sembari memeluk tubuh Ayahnya yang erat mendekapnya. Tak cukup sampai disitu keterkejutannya, satu lagi suara tembakan di arahkan ke Gaby kini lantang terdengar nyata. Bukan dari arah luar, tapi dari salah satu tamu undangan yang hadir. Iya, dialah Tuan Arnold yang menggunakan kumis dan jambang palsu, dia juga mengenakan kaca mata hitam agar tak satu orang pun mengenalinya.
" Ge! " Teriak Jordan saat Gaby mendapatkan tembakan. Jordan kini mulai menangis sembari memegangi kedua tubuh yang bersandar kepadanya. Norita, dan Ron bergegas mendekati Jordan dan Gaby, semenatara Sammy yang baru saja datang langsung meminta para tamu undangan untuk segera meninggalkan tempat.
" Ayah! " Diana berlari ke arah Jordan lalu menggapai tubuh Ayahnya yang sudah mulai lemas. Dengan air mata yang mulai bercucuran, Diana membantu merebahkan tubuh Ayahnya, meletakkan kepala di pangkuanya sembari menunggu ambulans yang datang beberapa menit lagi.
Jordan juga tak kalah syok dan terpukul. Sekarang harus menyaksikan Ayah dan istrinya bersimbah darah, tentu adalah hal yang tidak dia inginkan.
" Tolong, kalian harus bertahan. Aku mohon... " Pinta Jordan sembari memposisikan tubuh istrinya untuk sebentar berbaring di lantai.
Tuan Edward menatap Diana dan Jordan bergantian dengan lelehan air mata yang menghiasai matanya.
" Jordan, Diana, terimakasih karena sudah menjadi anak-anakku. Terimakasih untuk kesabaran kalian karena memiliki Ayah sepertiku, saat ini aku tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan kalian, maka berjanjilah untuk bahagia selalu. "
" Ayah.... " Diana terisak sembari menggeleng pelan. Lidahnya benar-benar kelu, dia hanya bisa menangis tanpa bisa mengatakan apapun.
" Omong kosong apa yang kau bicarakan?! selama ini kau hidup dengan ketangguhan mu kan?! jangan bicara lagi! tetap lah hidup, maka aku akan memaafkan mu. " Ucap Jordan.
" Maaf.... " Tuan Jordan kembali meneteskan air mata.
Sementara Tuan Arnold kini telah berhasil ditangkap setelah beberapa kali mencoba melawannya. Gaby yang sedari mencoba untuk tidak menutup mata meski matanya terasa ingin tertutup, dia perlahan bangkit saat melihat Tuan Arnold di bawa ke arahnya.
" Sayang, apa yang mau kau lakukan?! diamlah, ambulans akan datang sebentar lagi. Itu, itu suara ambulans. "
" Tidak! " Ucap Gaby lirih, dia tetap mencoba untuk bangkit meski tubuhnya terasa lemah.
" Sayang, "
" Bawa Ayahmu ke rumah sakit dulu. Ada hal penting yang harus aku kerjakan. " Jordan menggelengkan kepalanya cepat.
" Kau, jangan bermain-main dengan nyawamu! jika kau mati, maka aku juga akan mati. " Ancam Jordan yang tentu saja dia tidak main-main.
Gaby mencoba mengatur nafasnya yang tersengal. Ditatapnya lagi Jordan yang nampak kacau, bahkan dia terlihat seperti hampir gila.
__ADS_1
" Aku, tidak akan mati semudah itu. Bawa Ayahmu sekarang kerumah sakit, biarkan aku menyelesaikan urusan ini. "
Lelah juga berdebat dengan si keras kepala, Jordan akhirnya membawa Ayahnya ke ambulans.
" Dengar, kalau kau mati, aku akan membencimu seumur hidup. " Ucap Jordan kepada Ayahnya yang setengah sadar. Jordan tidak ikut mengantar, hanya ada Diana dan Rendy saja. Setelah mobil ambulans melaju, Jordan kembali masuk untuk melihat bagaimana keadaan Gaby.
Tuan Arnold yang kini tengah berada dalam posisi berlutut, kedua tangannya ditekan kebelakang oleh Sammy, rupanya masih bisa tersenyum dengan begitu angkuh. Norita yang begitu gemetar hanya bisa berjaga-jaga dibelakang tubuh Gaby yang terlihat lemah tapi masih bersikeras untuk berjalan ke arah Tuan Arnold.
" Sayang sekali, padahal ingin sekali melihatmu menderita karena melihat orang yang kau cintai mati. Tapi si bodoh Edward itu malah menyelamatkan Jordan yang sombong itu. Padahal, aku berniat membunuh anak-anakmu, memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian, lalu melemparnya ke kandang anjing. "
" Diam kau bajingan! " Kesal Sammy yang masih menunggu Ron datang membawa sniper, dan polisi.
Setelah berada di hadapan Tuan Arnold yang menatapnya angkuh walau dengan posisi berlutut, Gaby menjadi semakin ingin merobek mulutnya yang menjijikkan itu.
" Bodoh! " Ucap Gaby dengan tatapan dinginnya.
" Kau?! " Tuan Arnold melotot kesal karena tidak terima dengan perkataan Gaby.
" Kau ingin menembak jantungku kan? kenapa meleset? bahkan sangat jauh dari jantung. Kau hanya bisa menembus pundak ku saja. " Gaby mengangkat sebelah kakinya lalu mendorong wajah Tuan Arnold dengan kaki yang masih beralaskan sepatu heels.
" Brengsek, bajingan, gila, sinting, bangsat, rendahan, tidak tahu diri, dan masih banyak lagi, hanyalah cocok untuk mu. Jika dibandingkan dengan sampah, kau adalah sampah busuk yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan sampah daur ulang. Belatung, dan bakteri untuk mengurai tubuhmu juga pasti enggan dengan mu. " Gaby tahu benar jika tubuhnya tidak baik-baik saja dengan banyaknya darah yang mengalir deras dari pundaknya. Tapi hari ini di benar-benar tidak ingin membuat Tuan Arnold lolos lagi.
" Aku akan memberikan hukuman paling ringan untuk mu. " Gaby meminta pistol yang dipegang Sammy. Meskipun ragu, tai Sammy juga tidak kuasa untuk melarang saat melihat bagaimana ekspresi wajah Gaby.
" Ini, adalah untuk semua kejahatan yang kau lakukan saat aku kecil. " Gaby mengarahkan satu tembakan di salah satu paha Tuan Arnold.
" Jangan! " Ucap Tuan Arnold lantang karena di benar-benar takut.
Dor.....
" Argh......! " Pekik Tuan Arnold yang tidak kuasa menahan sakit saat kulit, serta dagingnya tertusuk peluru, bahkan tulangnya juga terasa sangat nyeri.
" Ini, untuk kegilaan mu saat aku remaja. Saat dimana kau mencoba menodai ku. " Tua Arnold menggelengkan kepala saat Gaby mengarahkan tembakan ke satu lagi pahanya.
" Jangan, aku mohon jangan lakukan itu! "
__ADS_1
Dor.......
" Argh.......! " Pekik lagi Tuan Arnold karena harus merasakan kesakitan yang sama di kedua pahanya. Gaby yang seolah tak kenal ampun berjalan selangkah lebih dekat, dia menginjak kuat satu paha Tuan Arnold hingga membuat Tuan Arnold memekik kesakitan, memohon hingga menangis karena tidak bisa menahan sakitnya.
" Bagaimana? apakah sakit? kau datang dengan rencana yang begitu matang sampai harus membawa pistol dan menyewa sniper. Berarti seharunya kau siap untuk merasakan bagaimana rasanya saat peluru melesat dan mengoyak daging mu kan? "
" Argh......! Hentikan! sakit! "
" Ini, adalah untuk kehidupanku yang sudah kau mainkan sesuka hati. " Gaby mengarahkan tembakan ke arah dada kiri Tuan Arnold.
" Jangan! kau akan dipenjara kalau sampai aku mati! "
Gaby tersenyum dingin.
" Tidak masalah, selama kau mati, aku juga akan bahagia meski hidup di dalam penjara. "
Dor......
" Argh...... " Kali ini Tua Arnold sudah mulai lemas hingga tida bisa berjata-kata lagi.
" Ini, untuk kesedihan dan luka, serta bayi pertamaku yang kau dan Selena bunuh. "
Dor.....
Satu lagi tembakan di dada kanan Tuan Arnold.
" Ini, adalah untuk kebahagian dan keamanan anak-anak, suami, dan seluruh orang yang aku cintai. " Gaby mengarahkan tembakan ke arah kening Tuan Arnold. Sial! disaat seperti ini tangannya begitu gemetar.
Grep...
Jordan meraih tangan Gaby lalu memegang pistol bersamaan. Gaby sesaat menoleh ke arah suaminya lalu fokus kembali dengan Tuan Arnold.
Dor......
Bersambung.
__ADS_1