Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Tentang Nyonya Pemilik Tanah


__ADS_3

Kurang lebih sudah satu jam Jordan dan Ron menunggu Gaby dan Nyonya pemilik tanah berbicara. Bahkan, sekarang juga ada Tuan Arnold dan Tuan Edward yang tak lain adalah Ayah kandung Jordan. Tak menanggapi kalau mereka berdua ada di hadapannya sembari menatap tajam, Jordan dan Ron justru sengaja bermain Game online.


'' Huh! sialan! senjata ku sudah habis. " Ucap Jordan yang masih saja fokus dengan Game online nya. Ron juga sama. Dia terus saja menjalankan tokoh pada Game nya ke kanan dan ke kiri karena dia tidak tahu bagaimana cara memainkannya. Tapi untunglah, menggerakkan tokoh pada Game itu lumayan asik juga.


Tuan Arnold dan Tuan Edward masih saja tak bisa mengalihkan pandangan. Matanya justru semakin tajam dengan wajah yang jelas terlihat kesal. Kesal karena Jordan dan yang lain tiba lebih cepat, dan juga kesal karena merasa sama sekali tidak di anggap keberadaannya.


" Sayang? sudah selesai? " Jordan yang bisa merasakan kedatangan istrinya tentu saja fokus kepadanya. Gaby dan Nyonya pemilik tanah datang bersamaan dan terlihat lebih dekat seperti sudah mengenal lama.


" Sudah kok. " Gaby kembali tersenyum menatap Nyonya pemilik tanah.


" Selamat pagi, Nyonya. Saya adalah orang yang menghubungi anda kemarin. Dan ini adalah Tuan Edward. Beliau adalah orang yang ingin membahas tentang tanah yang kemarin saya bicarakan. " Ucap Tuan Arnold setelah bangkit dari posisi duduk nya dan sedikit membungkuk agar terlihat sopan.


" Sudah tidak perlu di bicarakan lagi. Tanah itu akan aku jual kepada Gaby. " Ucap Nyonya pemilik tanah. Ron, Jordan tersenyum bahagia atas hasil memuaskan yang dihasilkan oleh Gaby.


" Tapi, kita kan sudah membicarakan tentang ini lebih dulu, Nyonya. " Ucap Tuan Arnold yang merasa tak terima tapi juga tidak berani terlalu menuntut karena Nyonya pemilik rumah bukanlah orang yang sembarangan dan bisa ia gertak sesukanya.


" Kau lah yang terus membicarakannya, bukankah sudah aku katakan padamu kalau aku tidak tertarik dengan tawaran mu? " Ketus Nyonya pemilik tanah.


" Nyonya, bagaimana kalau kami membayar tanah anda dua kali lipat dari harga yang di tawarkan oleh mereka. " Ucap Tuan Arnold yang masih saja terus berusaha untuk menyakinkan Nyonya si pemilik tanah.

__ADS_1


Nyonya pemilik tanah menatap tajam bola mata Tuan Arnold.


" Apa kau pikir, aku miskin dan begitu kekurangan uang? dari awal sudah ku katakan padamu, aku tidak akan menjual tanah itu kepadamu. Biarpun kau menawarkan harga seratus kali lipat dari harga yang mereka berikan, aku tidak akan memberikan tanah itu kepada kalian. "


Tuan Edward yang sedari tadi hanya bisa diam mendengar semua yang dikatakan oleh Nyonya si pemilik tentu aja paham kalau Gaby pasti mengetahui sesuatu tentang Nyonya pemilik tanah sehingga Nyonya pemilik tanah menyetujui untuk menjual tanahnya kepada Gaby.


" Arnold, kita kembali saja. " Ucap Tuan Edward lalu berjalan meninggalkan mereka begitu saja. Seperti itulah Tuan Edward. Tidak banyak bicara saat merasa kesal dan memilih untuk diam memikirkan cara selanjutnya untuk bertindak.


Setelah beberapa saat, Gaby dan yang lain berpamitan karena harus segera ke kantor. Tidak seperti awal mereka datang, Nyonya pemilik rumah nampak ramah dan terbuka.


" Baiklah, datang lagi lain hari ya? "


" Sayang, kau ini mau main rahasia-rahasiaan ya? " Tanya Jordan sebal karena Gaby yang diam saja tak menjawab.


" Baiklah, kalau kalian begitu penasaran. Tadi saat kita masuk kedalam, aku tidak sengaja melihat photo keluarga Nyonya pemilik rumah. Ada juga photo cucunya yang masih bayi. Kalai di lihat dari photo itu, pasti photo itu diambil sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Saat berada di ruang tamu aku terus mencari dimana photo cucunya saat tumbuh besar, tapi tidak ada. Photo anak laki-lakinya juga tidak ada yang baru. Awalnya aku kurang yakin, tapi saat sedikit memancing Nyonya pemilik tanah dengan mengatakan jika tanah itu memiliki arti sepesial, wajahnya dengan jelas mengiyakan semua dugaan ku. "


" Jadi, bagaimana selanjut nya? " Tanya lagi Jordan.


" Tentu saja aku aku sedikit mengungkit masa lalunya, saat pertama kali aku bertanya tentang photo anak laki-laki dan cucunya, dia terlihat begitu terpukul dan sedih. Aku mencoba membuatnya nyaman dan dia menceritakan bahwa anak laki-laki dan cucu nya meninggal dalam kecelakaan mobil. Dia kemudian memberi tahu bahwa tanah itu awalnya akan dia gunakan untuk membangun sarana bermain sesuai keinginan anak laki-laki nya dan juga cucunya. Karena niat kita membangun hotel, maka aku mengambil ide untuk membangun pusat bermain juga disana. " Sejujurnya Gaby begitu berat menceritakan kisah yang di alami Nyonya pemilik rumah, dia begitu sedih karena harus kehilangan anak pertama dan cucu pertamanya sekaligus. Padahal, belum lama istri dari anak pertamanya meninggal dunia karena sakit yang sudah lama di deritanya. Sebagai seorang Ibu, dia sendiri begitu tahu bagaimana hancurnya hati saat kehilangan anak.

__ADS_1


Jordan dan Ron kompak terdiam. Benar, kisah hidup Nyonya pemilik tanah memang sangat menyedihkan. Mungkin itulah yang membuat nya menjadi amat menjaga jarak dari orang lain dan begitu kesal saat ada yang membicarakan masalah membeli tanah itu.


" Lalu, kapan kita akan melakukan serah terima? " Tanya Ton setelah hening beberapa saat.


" Nyonya tanah itu bilang, lebih cepat lebih bagus. Mengenai segala perihal yang dibutuhkan, dia meminta kita untuk menyelesaikannya, karena dia hanya ingin menyerahkan surat tanah itu dan melihat pusat bermain berdiri secepatnya. "


Jorda terdiam menatap bagaimana istrinya berekspresi. Meskipun di terkenal licik dan jahat, tapi pada kenyataannya dia adalah wanita yang begitu perasa apalagi mengenai anak. Jordan meraih tangan Gaby lalu menggenggamnya erat.


" Kita pulang dulu kerumah dan menemui anak-anak sebentar ya? "


Gaby tersenyum lalu mengangguk dengan semangat. Sungguh sangat mudah kalau hanya untuk memperbaiki suasana hati Gaby. Hanya perlu membawanya bertemu dengan anak-anak nya, lalu dia akan terlihat sangat setelah itu.


Satu jam di dalam perjalanan. Gaby dan Jorda kembali pulang ke rumah dan menemui anak-anak mereka sebentar. Selain suasana hati Gaby yadinya kurang baik, tadi pagi juga mereka tidak sempat berpamitan karena anak-anak mereka masih tertidur.


" Sudah lebih baik? " Tanya Jordan sembari mengusap rambut istrinya.


" Iya, aku sudah lebih baik. "


Sekarang waktunya mereka untuk pergi ke kantor dan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Apalagi sudah ada tamu tak diundang juga sudah menunggu disana. Maka tak perlu berlama-lama, Jordan dan yang lainya segera meluncur ke perusahaan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2