
Di pagi hari yang cerah, Gaby dan Jordan kompak bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan. Sebenarnya Gaby sudah bangun lebih awal, tapi karena semenjak Ele memakan masakan Jordan, Ele jadi tidak mau lagi memakan makanan yang Gaby buat. Awalnya sedih juga sih, tapi mau bagaimana lagi? dia memang dari awal tidak terbiasa dengan dapur. Hidupnya hanya di penuhi dengan berjuang sebagai alat pembalasan dendam dan perkembangan perusahaan milik orang tua angkatnya. Berbeda dengan Jordan, pria itu sudah terbiasa hidup sendiri dan melakukan semuanya sendiri bahkan saat dia sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Hidup dengan seorang Ayah yang memiliki banyak istri dan juga banyak anak, membuatnya begitu tidak sejalan dengan Ayahnya. Karena sudah sangat tidak tahan, Jordan akhirnya memisahkan diri agar bisa tenang.
" Ah! " Gaby memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Iya tentu saja nyeri. Bagaimana tidak? mereka melakukan hubungan suami istri di kursi ruang tamu semalam. Salah mereka sih memang, tapi rumah kecil itu hanya memiliki satu kamar. Dan kamar itu ada Ele yang sedang tidur. Agar Ele tidak terganggu dan terbangun, akhirnya mereka memilih ruang tamu.
Jordan yang tadinya ingin membuat adonan untuk wafle, dia kembali meletakkan nya dan bergegas menolong Gaby. Dia membuat tangannya mengepal dan menekan-nekan pelan di punggung Gaby.
" Bagaimana? "
" Iya, lumayan. "
Jordan menghela nafas nya. Sungguh dia sangat kasihan melihat Gaby seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? rumah itu terlalu kecil dan semua perabotannya juga terbuat dari kayu.
" Ge, kalau memang tidak mau pindah, bagaimana kalau kita dekorasi rumah ini? dan kalau bisa, bangun satu kamar lagi untuk kita. "
Gaby terdiam sembari berpikir. Itu memang bisa saja dilakukan. Tapi tanah yang ia miliki hanya seluas rumah kecilnya. Kalaupun mau membeli tanah lagi, butuh proses yang panjang karena membeli tanah disana juga tidak mudah.
" Proses persetujuan untuk menambah luas tanah pasti akan membutuhkan banyak waktu. " Jawab Gaby.
Jordan kembali menghela nafas.
" Baiklah, kalau begitu. Tapi hari ini aku akan pergi ke tempat penjualan furniture. Sekarang kan banyak tempat tidur yang bisa multi fungsi dan tidak memakan tempat. Kita jadikan saja ruang tamu sebagai kamar kita. Kursi itu juga akan aku buang. Rasanya sangat sakit saat duduk disana. " Gerutu Jordan sembari terus memijat pinggang Gaby.
__ADS_1
" Terserah kau saja. Kau akan pergi sendiri? " Tanya Gaby.
" Apakah me urut mu Ele tidak akan menangis kalau aku tinggal? "
Gaby terdiam setelah menghembuskan nafas kasarnya. Iya memang benar apa yang dia katakan. Jordan dan Ele sudah benar-benar seperti perangko. Apalagi Ele, terpisah sebentar saja sudah kelabakan mencari Ayahnya. Bahkan saat Ayahnya sedang mandi pun, dia rela menunggu Ayahnya di depan kamar mandi sembari terus menangis memnmanggil Ayahnya. Tidak tahu apa yang membuat Ele bisa begitu dekat dengan Jordan meski belum lama bertemu. Tapi sepertinya Ele begitu takut akan hidup tanpa Ayahnya seperti sebelumnya. Memang, adanya Jordan juga mengubah Ele menjadi semakin terlihat bahagia.
Setelah beberapa saat, sarapan yang mereka buat bersama sudah selesai. Ele juga sudah bangun sesuai dengan jam nya. Sebelum menikmati sarapan nya, Gaby membawa Ele untuk pergi ke kamar mandi dulu. Setelah itu, barulah Ele dipindahkan ke tangan Jordan seperti kebiasaan setiap harinya. Gaby memandikan Ele, Jordan merapihkan Ele setelah mandi. Sembari menunggu Ele beres, Gaby memutuskan untuk merapikan tempat tidur.
Deg.....!
Gaby terpaku saat tangannya menyentuh bantal Ele. Rambut Ele kini sudah mulai rontok dan ternyata cukup banyak.
" Ayah, kenapa berhenti? " Tanya Ele karena Jordan berhenti sebelum selesai saat tengah menyisir rambut Ele. Mata Jordan begitu terkejut melihat banyak nya rambut yang terbawa di sisir yang ia gunakan untuk menyisir rambut Ele. Dengan cepat dia menyadarkan dirinya lalu kembali menyisir rambut Ele meski matanya mulai menitipkan air mata. Untunglah, Ele begitu fokus dengan boneka beruang nya dan sama sekali tidak menoleh kebelakang.
" Ele, tunggu di meja makan ya? " Pinta Jordan setelah menyeka air matanya.
" Iya, Ayah. "
Jordan kembali duduk di pinggiran tempat tidur. Dia memandangi rambut Ele yang berada di genggamnya. Tanpa dia sadari, Gaby juga melihat semuanya. Tapi Ibu satu anak itu terap memilih untuk diam tanpa suara meski matanya juga meneteskan air mata. Dia juga tengah memegang rambut Ele yang tertinggal di bantalnya. Tapi yang membuatnya lebih terkejut adalah saat melihat banyaknya rambut di tangan Jordan. Terbesit sebuah pemikiran yang sama di antara mereka berdua.
Bagaimana caranya menjelaskan kepada Ele saat semua rambutnya rontok?
__ADS_1
Gaby tak mau lagi membuat anaknya lama menunggu. Dia menyeka air matanya lalu menyimpan rambut Ele di sebuah kantung. Pergerakan Gaby ternyata membuyarkan Jordan dari lamunannya. Tanpa berkata Gaby mengambil rambut Ele dari tangan Jordan dan memasukkannya juga kesebuah kantung kecil.
" Ayo kita sarapan. " Ajak Gaby lalu meninggalkan kamar mereka.
Jordan mengusap kasar wajah nya. Sebenarnya dia sudah di beri tahu mengenai dampak dari kemoterapi, tapi saat mengalaminya langsung rasanya dia sendiri masih kaget dan sedih. Tapi hentikan! saat ini dia tidak boleh terlihat sedih agar Ele juga semangat. Setelah mengatur dirinya dan menyemangati dirinya sendiri, akhirnya Jordan sudah bisa tersenyum untuk Ele meski itu sangatlah palsu.
Sarapan pagi ini cukup membahagiakan karena Ele banyak memakannya. Menu sarapan memang hanyalah wafle dengan madu, tapi karena melihat Ele begitu bersemangat, Jordan dan Gaby juga ikut semangat untuk menghabiskan sarapannya.
Seperti yang sudah di jadwalkan, Jordan, Gaby dan Ele berangkat ke sebuah tempat penjualan furniture. Tentu Ele juga dalam keadaan terjaga. Dia memakai masker dan duduk di stroler lengkap dengan penutup transparan untuk menghindari debu dan kuman yang akan menempel padanya. Cukup lama mereka menghabiskan waktu disana karena Jordan membeli banyak sekali perabotan. Mulai dari sofa untuk di teras, dua tempat tidur, lampu, meja dan masih banyak beberapa yang lain. Seandainya rumah mereka besar, tentu saja Jordan tidak akan membutuhkan watu selama itu. Tapi karena harus memilih perabotan yang multi fungsi serta sesuai dengan rumah kecilnya, dia agak kerepotan dan harus jeli memilah nya.
Hampir tiga jam disana, akhirnya mereka sudah bisa kembali ke rumah dan menunggu barangnya sampai di rumah.
" Jordan, itu mobil siapa? " Tanya Gany saat melihat mobil terparkir di halaman rumahnya. "
" Tidak tahu. Kita lihat saja nanti. "
Jordan, Gaby dan Ele akhirnya sampai di halaman rumah mereka.
" Tuan? " Sapa pria yang sepertinya pemilik mobil itu.
" Sammy? "
__ADS_1
Bersambung...