
Jordan kembali dengan perasaan bahagia dan lega. Tadinya dia berpikir akan terjadi sesuatu pada Ibunya, tapi Tuhan begitu baik hari ini. Meski Ibunya menangis dan terlihat sangat terpukul, tapi dia cukup kuat dengan keadaan yang sudah terbiasa menekannya seperti ini. Menikah dengan Ayahnya Jordan yang gila perempuan, tentulah membuat hatinya sering terasa sakit meski tak sesakit hari ini. Tapi kebencian yang dihasilkan dari luka yang selalu di torehkan oleh Ayahnya Jordan, membuat Ibunya semakin kuat setiap harinya.
Jordan berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang begitu plong tanpa beban. Sekarang dia hanya akan fokus kepada istri cantiknya. Jordan menarik nafas dan menghembuskan perlahan sebelum memegang handle pintu. Dia sudah bersiap akan memberitahu semua yang terjadi di pesta pernikahan tadi.
" Ge? " Panggil Jordan hingga beberapa kali tapi tak kunjung muncul. Jordan semakin bingung karena tak sengaja melihat beberapa baju Gaby berceceran di lantai. Dia berjalan cepat menuju lemarinya. Memang ada beberapa baju yang tidak ada, tapi Jordan mencoba berpikir positif dan mencari keberadaan Gaby di kamar mandi. Jordan mengetuk pintu beberapa kali tapi tak kunjung mendapat jawaban.
" Ge? " Jordan akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi dan mencari keberadaan Gaby. Dia memegangi keningnya karena tak terlibat Gaby sama sekali di kamar maupun di kamar mandi. Tapi saat akan melangkah keluar, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu dan beruntung matanya tepat melihat ke bawah saat itu. Jordan menunduk lalu mengambil benda kecil itu.
" ini milik Gaby? " Jordan mengeryit lalu berlari keluar meninggalkan kamarnya. Dia berteriak memanggil beberapa pelayan dan memanggil nama Gaby agar segera muncul di hadapannya. Setelah semua pelayan berkumpul, Jordan semakin menatap bingung karena tak mendapati Gaby di antara mereka.
" Dimana istriku? " Tanya Jordan kepada semua pelayan yang ada dihadapannya. Tidak mendapatkan jawaban, mereka justru saling menatap seolah bertanya satu sama lain. Menyadari adanya yang tidak beres, Jordan langsung memanggil security rumahnya. Tapi lagi-lagi dia mendapatkan kebingungan dan bukan jawaban seperti yang dia inginkan.
" Periksa CCTV sekarang! sebagian dari kalian cari istriku di manapun. " Mereka semua mengangguk dan mengambil tugasnya tanpa membuang waktu.
" Bagaimana? " Tanya Jordan setelah hampir dua puluh menit menunggu dengan gelisah.
" Tuan, ada bagian yang hilang, Tuan. "
Jordan memaki penjaga itu lalu pergi ke parkiran mobil untuk mencari Gaby. Jordan tentu saja bisa menebak kalau ada orang terdekatnya yang membantu gaby keluar dari rumahnya. Terbukti dengan awas yang dia mengenai kamera CCTV yang hampir ada di setiap sudut ruangan. Jordan meraih ponselnya untuk menghubungi Ron.
" Ron, perintahkan semua orang untuk mencari istriku di bandara, terminal atau pelabuhan. Suruh orang untuk memeriksa CCTV halte bus juga. Pokonya semua yang berhubungan dengan kendaraan dan transportasi. "
Jordan kembali fokus menyetir menuju bandara terdekat dari rumahnya. Entah kegilaan apa ya g akan terjadi jika dia harus kehilangan Gaby. Apalagi saat ini Gaby tengah mengandung anaknya.
Jordan langsung berlari meninggalkan mobilnya yang ia parkiran sembarangan. Tak henti-hentinya dia memanggil nama Gaby agar segera muncul. Lama dia lari kesana kemari tak perduli banyaknya orang yang ia tabrak dan berapa banyak pula mulutnya mengatakan maaf.
__ADS_1
" Ge! " Entah sudah berapa kali nama itu ia sebut terus menerus. Bahkan hampir semua orang di bandara kebingungan melihat Jordan yang berlarian memanggil satu nama sedari tadi.
Jordan menunduk sembari memegangi lututnya yang terasa lemas karena terus berlarian. Kabar dari orang-orang yang ia perintahkan juga belum ia terima. Tak mau menunggu lama untuk sebuah kabar, Jordan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ron.
" Bagaimana? "
Sepertinya kita terlambat, Nona sudah Chek in dua jam lalu, Tuan.
" Apa?! "
Maaf, Tuan. Saya tidak menyangka kalau ini akan terjadi.
" Kemana tujuannya? "
" Cari tahu dengan cara apapun! "
Baik, Tuan.
Jordan memijat pelipisnya karena menahan kesal yang begitu menusuk hatinya. Tubuhnya juga terasa lemas entah mengapa. Perlahan-lahan pandangannya menjadi meremang dan gelap.
***
Perlahan Jordan mulai membuka mata. Dia sempat mengeryit saat sinar matahari menerpa pori-pori di wajahnya. Jordan memegangi kepalnya lalu perlahan bangkit dari posisinya. Dia melibat jarum infus. bertengger di tangannya saat mengangkat tangannya. Tapi tiba-tiba ingatan apa yang terjadi sebelum itu muncul di kepalanya.
" Ge?! Ge! dimana kamu Ge?! " Jordan melepas paksa jarum infus itu lalu bangkit untuk mencari Gaby.
__ADS_1
" Tuan! " Ron datang lalu menahan tubuh Jordan yang terus meronta ingin mencari Gaby. Cukup lama Ron harus menahan tubuhnya hingga pada akhirnya dia memilih untuk memanggil Dokter. Melihat kondisi Jordan yang begitu tidak baik, Dokter memutuskan untuk memberikan suntikan penenang. Tak butuh waktu lama, akhirnya tubuh Jordan mulai tenang dan kembali tertidur pulas.
Ron menatap melas Tuannya lalu tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Dokter yang memberikan suntikan penenang agar Tuannya bisa beristirahat kembali.
" Tuan, saya tahu setelah anda pilih nanti, mungkin anda akan menyalahkan saya atas apa yang saya lakukan hari ini. Tapi saya hanya ingin anda sehat, Tuan. Lagi pula mencari Nona Gaby bukanlah hal mudah sekarang ini. Saya sudah mengerahkan semua orang untuk terus mencari, Tuan. Bersabarlah dan tetap jaga kesehatan Tuan. "
Ron duduk disebuah bangku yang ada disamping Brankar. Jujur dia juga merasa sangat terpukul atas apa yang terjadi kepada Jordan. Seolah semua kemalangan kini tengah merundung nya. Tapi mau bagaimana lagi? dari awal Jordan lah yang terus membuat luka di hati istrinya. Dan disaat dia mulai menyadari kesalahannya dan berniat memperbaiki semuanya, keadaan justru mematahkan segala semangat nya.
" Ron? " Ron tersentak dan langsung menatap orang yang baru saja datang.
" Nyonya? " Ibunya Jordan kini menatap putranya nanar. Entah kemalangan apa lagi yang menimpa putranya. Takdir begitu senang mempermainkannya. Mulai dari Ayahnya yang begitu membuat putranya hancur dengan sifat bajingan nya. Kemudian pernikahan bodoh yang ternyata juga ulah Ayahnya. Sungguh hatinya hancur melihat keadaan putranya saat ini. Dia begitu sibuk memperhatikan dirinya sendiri dan begitu sering mengeluh sakit di hatinya hingga tidak memliki waktu untuk memperdulikan putranya.
" Ron, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jordan? kenapa semua jadi begini? "
Ron berjalan mendekati Ibunya Jordan dan menuntunnya agar duduk di kursi yang sudah tersedia di ruangan Jordan.
" Nyonya, masalah ini biarkan saya saja yang mengurusnya. Sekarang kita fokus dengan kesembuhan Tuan duku, bagaimana? " Bujuk Ron agar tak menambah beban di hati Ibunya Jordan.
" Tidak Ron! kalian selalu saja mengutamakan ku. Beri tahu aku apa yang terjadi! "
Ron tak memiliki pilihan untuk mengelak lagi. Akhirnya perlahan dia menceritakan dari awal hingga apa yang terjadi beberapa saat lalu.
Bersambung...
Maaf kalau masih banyak Typo ya...❤️
__ADS_1