
Seperti yang sudah di jelaskan oleh Rose, saat malam semakin larut, angin laut juga semakin dingin menusuk kulit tipis yang hanya berbalut kain lengan kemeja pendek. Jordan semakin erat memeluk kedua lututnya dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa hanya dijelaskan melalui kata-kata saja. Pria itu terkadang tersenyum, lalu tiba-tiba menangis, lalu marah, lalu kecewa, dan kembali tersenyum, tapi juga kembali bersedih. Seperti itulah yang kini tengah berkecamuk bagaikan drama realita yang mengolok dirinya atas perbuatan jahat yang tidak hanya bisa dihitung dengan jari. Rasa sakit yang menjadi akibat dari perbuatannya juga entah seberapa besar dan menyakitkannya bagi seorang Gaby Wanita cantik yang dari awal tidak pernah hilang dan terkunci rapat di hatinya.
Sesekali Jordan memang memanggil nama Istri dan anaknya, bukan untuk di bukakan pintu, tapi hanya untuk memastikan bahwa mereka masih ada di dalam. Bahkan karena sangking takut dan khawatirnya, Jordan sampai mengitari rumah kecil itu dan pada akhirnya dia bisa tersenyum karena ternyata hanya ada satu pintu dibagian depan saja.
Sungguh sangat dingin hembusan-hembusan angin laut yang seakan membekukan kulit dan darahnya. Tapi mau bagaimana lagi? ke kekehan laki-laki itu seolah seperti batu kokoh yang tidak mudah diremukkan. Dengan harapan-harapan yang bersemayam begitu lama di hatinya, Jordan tidak akan perduli seberapa dingin angin laut sampai saat pagi tiba.
Ron yang tidak tahan lagi, sudah dari tadi datang ke rumah Rose untuk meminta selimut dan menontonnya saja disana. Bukanya tidak mau memberikan selimut kepada Jordan, hanya saja, Rose memiliki satu selimut yang menganggur, bolehlah dia menjadi egois dan memilih untuk melindungi dirinya sendiri.
" Kau masuk saja ke dalam. Biarkan pria itu yang memakai selimutnya. " Ujar Rose yang entah sejak kapan ada dibalik punggung Ron yang fokus memperhatikan Jordan.
" Tapi aku khawatir kalau tidak melihatnya terus menerus. " Jawab Ron tapi masih enggan mengalihkan pandangannya dari Jordan.
" Kau bisa mengawasinya dari jendela kan? "
Ron akhirnya memutar posisinya menatap Rose yang keheranan dengan sifat bodoh Ron.
Ron meringis malu lalu mengangguk. Setelah itu, dia berjalan menuju ke tempat Jordan lalu memberikan selimut yang tadi ia gunakan sebagai penghangat tubuhnya.
__ADS_1
" Ini, Tuan. " Jordan menerima selimut itu dengan perasaan kesal sebenarnya dia sudah melihat Ron sedari tadi menggunakan selimut tebal, tapi dia mau berteriak meminta selimut itu takut mengganggu tidur anak dan istrinya di dalam. Kakinya yang panjang dan jenjang juga seolah tak memiliki energi untuk berjalan ke arah Ron karena gemetar hebat menahan dingin.
" Seharusnya dari tadi kau memberikan ini padaku. "
Ron tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Yah, memang benar tadi dia lebih memerintahkan diri sendiri. Walau bagaimanpun, dia bukanlah malaikat yang siap mengorbankan apa saja kan?
" Maaf Tuan. " Hanya kata itulah yang bisa Ron katakan. Tapi setidaknya dia sudah bisa sedikit lebih tenang karena bisa melihat tatapan kebahagian yang begitu terpancar dengan nada bicara yang begitu semangat. Sungguh, ini sangat berbeda jauh dari Jordan beberapa tahun belakangan.
Melihat wajah Jordan hati ini, Ron benar-benar merasa sangat bahagia. Akhirnya empat tahun yang bagaikan menemani gundukan es akan segera berakhir. Tatapan putus asa seolah sekarang setiap waktu juga sudah tak terlihat lagi. Ron kembali teringat dengan empat tahun yang dia lalui bersama Jordan dengan begitu luar biasa. Mulai dari Jordan yang mengidam meminta makan ini dan makan itu, mual nya Jordan setiap pagi, setelah fase itu berakhir, tinggallah Jordan yang merenung dan menghakimi diri sendiri atas kesalahan yang membuat anak dan istrinya menjauh hingga tak bisa ia lihat meski sudah berusaha sangat keras untuk mencari.
" Kau masih ingin disini? " Tanya Jordan heran karena Ton justru menatapnya terus menerus tiada henti.
" Maaf, Tuan. Aku akan menunggu di rumah Rose. "
" Cih! sok akrab sekali. " Gerutu Jordan yang hanya mendapati senyuman dari Ron.
Sementara di dalam rumah, Gaby sejujurnya tidak berhenti menangis setelah masuk kedalam rumah. Saat menidurkan Ele, dia selalu membelakangi wajah Ele agar tidak bisa melihatnya menangis. Tapi setelah Ele tidur, Gaby mulai kesulitan mengendalikan diri. Ia pergi ke dapur dan memutuskan untuk menangis disana diam-diam. Dia juga menutup mulutnya rapat mengunakan telapak tangan agar tak mengeluarkan suara.
__ADS_1
Membayangkan semua yang Jordan lakukan terhadapnya masih saja terasa sakit seolah-olah luka-luka memar itu masih menempel erat di tubuhnya. Apalagi saat Jordan dengan terang-terangan bermesraan dengan wanita yang entah siapa dan juga Selena yang tak lain adalah saudari angkatnya. Hatinya berdenyut nyeri meski sudah pernah mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa itu adalah masa lalu. Mungkin hal yang paling menyakitkan dunia ini adalah disakiti oleh orang yang dicintai. Sekuat apapun Gaby di masa lalu, jika menyangkut tentang hati, dia sendiri tidak bisa bertindak sok kuat laku me masabodohkan saja perkara masa lalu dan hanya menganggapnya angin lalu saja.
" Kenapa kau harus muncul di hadapan ku? kenapa kau bisa menemukan ku? aku sudah berusaha sebisa mungkin agar kau dan Rendy tidak menemukan ku. Kenapa masih saja bisa bertemu? aku kesakitan, Jordan. Aku sungguh kesakitan meski itu sudah berlalu. Pukulan, tendangan, makian, hinaan, penghianatan mu, semua kembali merasai tubuh ku. Aku tidak sanggup lagi kalau merasakan ini lagi. "
Gaby yang tadinya menyender di dinding kayu tapi kokoh itu perlahan-lahan menjatuhkan tubuhnya hingga ke posisi duduk dengan tubuh yang masih menyender. Sebenarnya dia sedari mendengar apa yang Jordan ucapkan dari balik pintu. Mulai dari menanyakan kabar, lalu tentang Ele yang dia sendiri kaget. Bagaimana Jordan bisa tahu kalau dia memiliki anak darinya. Ditambah lagi Ele juga terus bertanya Jordan itu siapa? tentulah Gaby tidak menjawab dan memilih untuk mengalihkan pertanyaan itu dengan membacakan cerita untuk mengantar tidur putrinya.
Perlahan Gaby mulai bangkit dan berjalan mendekati pintu. Rasanya dia ingin membuka pintu itu dan memberikan selimut kepada Jordan. Tapi belum sempat keinginannya terwujud, samar-samar dia mendengar suara Ron yang sepertinya tengah memberikan selimut kepada Jordan. Gany yang menyadari jika Jordan masih berada di balik pintu, dia juga ikut duduk dengan posisi yang sama. Dia mendengar semua apa yang di katakan oleh Jordan.
Ge, aku mencintaimu, maaf, maaf, maaf.
Ge, aku menyayangimu dan putri kita. Tolong berikan aku satu kali kesempatan terakhir. Demi Tuhan, nyawa ku sendiri yang akan aku jadikan taruhannya. Aku akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Aku bersumpah.
Gaby menangis dan tentulah telapak tangannya membekap kuat mulutnya agar tak mengeluarkan suara isakkan.
Aku masih sulit menghilangkan rasa sakit itu, Jordan. Aku memang masih mencintai mu, tapi aku tidak tahan dengan rasa sakit seperti ini.
Bersambung...
__ADS_1