
Gaby masih terdiam tak bisa bereaksi melihat sosok pria yang memang sedari tadi ia amati kini berada tepat dihadapannya. Pria yang telah memberinya banyak luka, pria yang telah memberinya harapan dan semangat untuk tetap hidup karena hadirnya seorang putri kecil yang cantik.
Gaby yang saat itu tengah menggendong Ele memundurkan langkahnya pelan sembari menggeleng dan mata yang mulai berair. Takut, sakit, dan ingatan-ingatan masa lalu yang tiba-tiba kembali mengingatkan nya tentang luka dari semua rasa sakit yang ia rasakan terdahulu seakan kembali menghunus seluruh tubuhnya dengan kejam.
Jordan yang melihat ekspresi ketakutan, dia mencoba untuk selembut mungkin menatap wanita yang amat dia rindukan itu. Sejenak ia juga mencoba untuk menenangkan hatinya yang langsung ingin memeluk Gaby. Tapi hanya bisa ia tahan karena tidak mau lagi melihat wanita yang ia cintai begitu ketakutan. Matanya teralihkan seketika dengan seorang putri kecil yang tengah berada di gendongan Gaby. Jordan tak kuasa menahan tangis dan mulai berkaca-kaca matanya. Bibirnya juga bergetar menatap gadis kecil nan cantik yang sudah bisa ia pastikan jika dia adalah putrinya. Matanya yang bulat persis seperti mata Gaby, hidungnya yang proporsional juga sama seperti Gaby. Tapi bibir dan warna rambut mirip dengan Jordan.
" Ge, " Jordan tak bisa lagi menahan diri dan akhirnya berjalan cepat untuk memeluk Gaby dan Ele bersamaan. Tumpah sudah semua air mata yang sempat tertahan. Seperti mimpi rasanya bisa memeluk istri dan anaknya bersamaan seperti ini.
" Lepas! " Gaby mendorong jauh tubuh Jordan lalu berlari memasuki rumahnya. Jordan memang mengejar, tapi Gany sudah lebih dulu menutup pintu dan menguncinya dengan rapat.
Jordan mengetuk-ngetuk pintu kayu itu terus menerus sembari memohon untuk diberikan kesempatan untuk bicara dengannya, tapi sayang karena Gaby terdengar tak menggubrisnya dan justru mematikan lampu di teras rumahnya.
" Ge, tolong berikan aku waktu sebentar saja untuk bicara. Ge, selama empat tahun aku mencari mu seperti orang gila. Tolong, beri sedikit saja waktu untuk bicara dan menemui putriku. "
Jordan menjatuhkan tubuhnya lemas karena tak kunjung mendapatkan respon dari Gaby. Putri mereka memang terdengar samar-samar berbicara, tapi Jordan tahu kalau Gany pasti memintanya untuk diam dan jangan bicara lagi.
" Ge, aku akan menunggumu sampai kau mau bicara dengan ku. Aku tidak akan beranjak satu senti pun dari pintu ini. "
Masih tak mendapatkan jawaban, Jordan akhirnya memutuskan untuk duduk menyender di pintu yang tertutup rapat itu.
Ge, aku akan tetap menunggumu dan tidak akan pernah menyerah sedikitpun.
Rose yang sedari tadi memperhatikan Gaby dan Jordan dengan bingung, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Jordan yang terlihat begitu menyedihkan.
" Tuan, saya sarankan untuk tidak berada terus disini. Karena semakin malam, angin laut akan terasa dingin hingga menusuk tulang. " Ucap Rose.
Jordan tersenyum tipis menatap Rose yang ia lupakan keberadaanya, padahal Rose adalah salah satu tetangganya Gaby kan?
" Tidak apa-apa. Apa anda Ibunya Leon dan Deon? "
Rose mengangguk dengan dahi yang mengeryit bingung.
" Dari mana anda tahu nama putra kembar ku? "
__ADS_1
Jordan tersenyum sesaat sebelum menjawab pertanyaan Rose.
" Aku terlebih dulu bertemu dengan mereka tadi. "
Rose menganggukkan kepalanya mengerti.
" Lalu, anda ini siapanya Gege? "
Jordan menatap kedua tangannya yang sempat menyentuh dan memeluk Gaby dan putrinya beberapa saat lalu.
" Gege adalah istriku, dia membawa putriku pergi karena kemarahannya dan kesalahpahaman yang begitu banyak diantara kami. "
" Jadi anda ini adalah Ayahnya Ele? "
Jordan sontak menatap Rose yang masih menatapnya penuh tanya.
" Jadi nama putriku, Ele? "
" Kalau boleh tahu, siapa nama panjang Ele? " Tanya Jordan dengan tatapan yang penuh harap tapi juga terlihat begitu sendu.
" Velerie Joreby. " Jawab Rose singkat.
Jordan tersenyum karena merasa bahagia dengan nama yang diberikan Gaby kepada putri mereka. Dulu saat mereka dalam masa pacaran, Jordan dan Gaby pernah menjanjikan untuk memberi nama gabungan dari Jordan Dan Gaby sebagai lambang persatuan hati mereka.
" Joreby? kau benar-benar menepati semua janji mu, Ge. Hanya aku yang begitu bodoh dan buta. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membahagiakan mu saat kau bersamaku. Terimakasih karena tidak mengingkari janji itu. "
Rose sebenarnya tidak terlalu paham dengan ucapan Jordan, yang dia pahami adalah Jordan dalam keadaan yang tidak baik sekarang ini. Rose yang tidak mau lagi ikut campur terlalu jauh akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya dan menemui anak kembarnya yang seharian ini dia tinggalkan.
" Leon, Deon? " Panggil Rose sembari berjalan masuk. Tapi langkah kakinya terhenti mendadak saat melihat pria asing tengah mengobrol dengan kedua putranya.
" Anda siapa? " Tanya Rose ketus.
Ron bangkit dengan bibir yang tersenyum ramah. Untunglah dia sangat paham dengan bahasa negara A ini.
__ADS_1
" Selamat malam? maaf saya menumpang terlalu lama dirumah anda. Saya temannya Jordan. Suami dari Gaby. "
Rose menganggukkan kepala paham. Sekarang dia sudah amat paham kenapa Jordan terlihat begitu kacau tadi saat bertemu dengan Gaby. Gaby juga sama, dia terlihat ketakutan akan sesuatu yang seolah akan direbut dari Jordan.
" Tidak apa-apa. Aku hanya tidak pernah menerima tamu sebelumnya. Dan anak-ankku juga biasanya tidak betah mengobrol dengan orang asing. " Ujar Rose ramah.
Ron nampak terkejut mendengar kata anak-anak dari mulut Rose.
" Mereka anak-anak mu? " Tanya Ron kaget.
" Iya. "
" Berapa usia anda? " Tanya Ron yang semakin penasaran.
" Dua puluh sembilan tahun. Kenapa? " Tanya Rose yang malah menjadi bingung sekarang ini.
Meski sangat terkejut, Ron mencoba untuk terus menyembunyikannya dari Rose. Dia kira Rose adalah kakaknya. Karena Rose masih terlihat sangat muda. Ditambah lagi, tubuh Rose yang masih sangat langsing tidak seperti sudah pernah memiliki anak.
" Begitu ya? " Ron tersenyum sembari mengusap tengkuknya karena merasa malu. Padahal dia lebih tua dari Rose, tapi kenapa dia terlihat seperti bapak-bapak yang sudah memiliki banyak anak?
" Ngomong-ngomong, apa kau melihat teman ku? "
" Dia ada di depan rumah Gaby. Aku sudah memberi tahunya kalau angin malam pasti akan sangat dingin. Tapi sepertinya dia tidak mau mendengar. "
" Baiklah, terimakasih. " Ron berjalan cepat untuk menyusul Jordan. Benar saja, pria itu tengah menyender di pintu dengan wajah yang menyedihkan. Perlahan Ron berjalan mendekati Jordan dan membujuknya untuk ikut kembali ke hotel.
" Tuan, angin laut sudah semakin dingin, mari kita kembali ke hotel dan kembali besok pagi ya? "
Jordan menggeleng dengan cepat.
" Tidak mau! aku sudah bertahun-tahun mencari keberadaan mereka dengan susah payah. Kalau aku kembali ke hotel sekarang, lalu besok pagi saat kita kembali dia sudah pergi, kemana lagi kita akan mencarinya? aku tidak mau lagi kehilangan mereka. "
Bersambung.....
__ADS_1