Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Niat Meminta Maaf


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Tuan Edaward yang biasanya begitu aktif menjalani bisnisnya, kini memilih untuk mengurung diri dan menutup semua informasi yang terus menanyakan perihal menghilangnya Tuan Edward. Bahkan Tuan Edward juga tidak menghadiri acara penting yang sudah disepakati beberapa minggu lalu bersama dengan rekan bisnisnya. Tidak seperti beberapa waktu lalu yang memperlihatkan betapa berani dan angkuh dirinya, sekarang tuan Edward nampak lesu seperti tak memiliki semangat dalam hal apapun. Photo pernikahan bersama Ibunya Jordan, photo Jordan saat kecil, Photo Diana juga kini terjejer rapih di hadapan Tuan Edward yang tengah berderai air mata. Iya, dia merasa menyesal dengan segala yang terjadi di dalan hidupnya. Menyesal karena hidup dengan kemarahan yang palsu, hidup dengan begitu arogan hanya untuk menyiksa anak dan istrinya yang tidak bersalah, bahkan dia juga sempat memiliki niat untuk kurang ajar dengan istri dari anaknya yang tak lain adalah menantunya sendiri.


Semua rasa marahnya kini terasa menyakiti dirinya sendiri melalui rasa menyesal yang begitu amat terlambat. Istri, serta anak-anak yang seharusnya ia cintai dengan sepenuh hati malah dengan teganya dia menyakiti sampai tak terkesan memiliki perasaan dan hati. Tidak berhenti sampai disitu saja, semenjak dia mengetahui bagaimana perjalanan hidup Jordan, dan juga Diana yang tak kalah menderita. Sekarang ini bahkan Diana masih di uji dengan terkuaknya masa lalu Rendy yang ternyata telah memiliki dua anak kembar. Marah? tentu dia marah, tapi bukan kepada Rendy atau siapapun karena dia marah terhadap dirinya sendiri. Marah karena tidak bisa menjaga putra dan putrinya dengan baik, marah karena tidak pernah memberi kesan baik kepada Jordan, terlebih Diana yang sama sekali tidak mendapati kasih sayang darinya semenjak dia dilahirkan ke dunia.


" Diana, Jordan, dan juga kau. " Tuan Edward menyentuh sebuah photo yang tak lain adalah Photo Jordan, Diana dan juga mantan istrinya. Pelan-pelan perasaan sakit kembali menusuk hati, gambaran-gambaran perbuatannya di masa lalu juga berkelebatan seolah terus mengingatkannya betapa memalukan dirinya hingga rasanya tidak pantas menyebut dirinya sebagai seorang ayah.


" Bahkan Ayah sangat malu saat berbicara didepan photo kalian, lalu bagaimana jadinya kalau kalian semua ada dihadapan ku? kenyataan ini sungguh mengolok-olok Ayah yang memang pantas mendapatkannya. Maaf untuk segalanya, Ayah janji akan memperbaiki segalanya untuk kalian semua. "


Tuan Edward memeluk erat photo itu sebelum ia memutuskan untuk keluar dari kamar yang susah satu minggu ini ia gunakan untuk mengurung dirinya sendiri. Setelah satu minggu tidak keluar kamar, tentulah beberapa orang yang biasanya setia mengikuti Tuan Edward khawatir dan terus menunggunya di depan kamarnya. Tidak mau berbisa basi, dia langsung memberikan perintah agar membantu putrinya yang ia ketahui bahwa rumah tangga putrinya kini kembali dalam masalah besar.


" Bagaimana dengan Arnold? " Tanya Tuan Edward yang beberapa hari lalu sempat meminta beberapa orang untuk mencari keberadaan Arnold setelah terakhir kali dia membantu pelarian Arnold sebelum dia tahu kebenaran tentang semua ini.


" Masih dalam pengejaran, Tuan. Tuan Arnold sangat cepat mengetahui informasi bahwa dia sedang dalam pengejaran dari Jordan, polisi, dan kita. Itulah sebabnya dia tidak pernah muncul di tempat umum ataupun di tempat yang memiliki kamera pengawas. " Jawab salah satu orang kepercayaan Tuan Edward.

__ADS_1


Tua Edward menghela nafasnya. Tentu saja dia tahu bagaimana licik dan lunaknya Arnold dalam ha ini. Tapi dibanding terus memikirkan tentang Arnold yang masih saja sulit ditemukan, dia memilih untuk menemui Jordan, Diana, dan mantan istrinya. Iya, niatan ini sudah ia pikirkan dengan matang-matang. Mungkin dia akan di usir, atau dipukuli, itu benar-benar tidak akan dia permasalahkan, karena yang paling penting adalah meminta maaf secara langsung tanpa perduli dari konsekuensinya nanti.


***


Seperti biasa di akhir pekan. Jordan, Gaby beserta anak-anaknya kini tengah bermain bersama. Mulai dari memainkan game bersama, bermain petak umpet, bermain piano, menceritakan tentang beberapa dongeng kesukaan Mark dan Mike, membimbing Ele yang begitu menyukai melukis. Iya, Ele benar-benar tumbuh menjadi gadis yang manis dan begitu sopan tutur bicaranya.


" Apa kalian belum puas juga? kapan kalian akan pergi ke Nenek dan mengajak Nenek bermain? " Protes Ibunya Jordan yang baru saja tiba di tempat khusus anak-anak Jordan dan Gaby bermain.


" Nenek? " Mark dan Mike berlari menghampiri Neneknya dan mulai berebutan untuk bermain bersama Neneknya. Sementara Ele, hadis kecil yang cantik itu hanya tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya.


" Ibu lelah terlaku bersantai. Biarkan saja Ibu mengajak Mike dan Mark, Ele pasti tidak akan mau meninggalkan kuas nya kan? " Ele mengangguk lalu tersenyum dengan begitu manis dan lugu.


" Maaf, Nenek. Setelah ini selsai, aku akan datang menemui Nenek. " Ujar Ele yang tentu saja mendapat anggukan dari Neneknya.

__ADS_1


Setelah membawa Mike dan Mark, Ibunya Jordan kembali ke ruang tengah untuk membacakan cerita-cerita kesukaan kedua anak kembar itu. Sementara Jordan dan Gaby pergi keruang tamu karena salah satu pelayan mengatakan bahwa ada Tuan Edward yang menunggu di sana. Awalnya tentu saja mengejutkan Jordan dan Gaby, tapi akan lebih baik jika mereka cepat menemui Tuan Edward sebelum Ibu nya Jordan menyadari kedatangan Tuan Edward.


Diruang tamu.


Sekarang ini Jordan dan Gaby sudah duduk bersama dengan Tuan Edward yang terlihat jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Tidak ada lagi tatapan dingin dan tajam, tidak ada lagi keangkuhan yang terasa seperti duku. Tatapannya terkesan pilu, bahkan jelas sekali Tuan Edward tidak begitu berani menatap Jordan dan Gaby.


" Tuan Edward, ngomong-ngomong hal penting apa yang membuat Tuan Edward datang kemari? " Tanya Gaby yang sepertinya Jordan dan Tuan Edward sendiri masih betah membisu saat ini.


" Aku," Tuan Edward menatap pikirannya, begitu juga dengan hatinya agar tak terlalu gugup dan tidak juga membuat dirinya merasa ragu saat meminta maaf nantinya.


" Aku apa? " Gaby kini bisa tersenyum karena dengan jelas ia bisa menebak tujuan dari datangnya Tuan Edward ke rumah itu.


" Ada hal yang secara khusus ingin aku sampaikan kepada kalian, dan juga dengan " Ucapan Tuan Edward terhenti saat ingin menyebut nama mantan istrinya. Tidak tahu lah, tapi hatinya benar-benar merasa begitu sakit karena perasaan bersalah hingga menyebutkan nama saja dia begitu tidak sanggup.

__ADS_1


" Ibu mertua? " Tebak Gaby yang tentu saja dia yakin jika tebakannya benar. Apalagi. saat melihat raut wajah Tuan Edward, dia terlihat mengiyakan dengan ekspresinya.


Bersambung


__ADS_2