
Gaby bangkit dari tempat tidurnya dan perlahan-lahan melangkahkan kaki menuju kamar mandi meski langkah kakinya gontai karena gemetar dan tubuh yang kelelahan. Dia langsung mengguyur seluruh tubuhnya di bawah Shower. Rasanya sudah lelah menangis, tapi entah apa yang membuat air matanya kembali jatuh bersamaan dengan air yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Pikirannya melayang memikirkan apa dan bagaimana semua ini terjadi menimpanya. Ingin meminta jawaban tapi kepada siapa? kepada Tuhan yang sama sekali tidak memperdulikannya? Memikirkan itu saja Gaby kembali murung dan malas untuk untuk hidup. Jadilah dia kembali memikirkan hal apa yang membuat Jordan begitu ambigu dan membelenggunya dengan alasan cinta yang tidak bisa masuk di akal sehatnya.
Sebenarnya apa yang ada dipikiran mu, Jordan? kenapa kau begitu aneh. Kenapa tidak menerima bayimu dan merawatnya saja? aku memang membenci kenyataan ini. Tapi aku lebih benci rasa kehilangan bayi yang bahkan belum pernah ku lihat.
Gaby memang sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi. Tapi dia benar-benar merasa nyaman di ruangan itu. Entah mengapa rasanya begitu damai dan sunyi dari suara manusia yang membuat dirinya merasa tenang.
Tok...Tok...
" Ge? " Panggil Jordan yang merasa cukup lama Gaby berada di dalam. Takutnya terjadi sesuatu, Jordan terus mengetuk pintu karena Gaby tak menyahut panggilannya.
" Ge! buka pintunya! apa yang terjadi didalam?! Ge! "
Gaby yang tidak tahan lagi mendengar pintu yang terus saja diketuk, akhirnya membuka pintu itu.
" Ge? kau baik-baik saja? " Tanya Jordan sembari menatap dan menelusuri tubuh Gaby yang hanya terbalut handuk untuk mencari bagian yang luka.
__ADS_1
Gaby yang tak mau lagi berlama-lama dengan Jordan memutuskan untuk meninggalkannya dan berjalan menuju kemari dan menekannya. Tidak ada polesan make up ataupun perawatan kulit seperti para wanita lainya. Semenjak tinggal dirumah Jordan Gaby memang tida lagi memperhatikan kebutuhan-kebutuhan untuk kecantikan. Bahkan niat untuk hidup saja sudah lama menghilang. Jadi mana mungkin dia sempat memikirkan hal semacam itu?
Jordan tahu, bahkan sangat tahu kalau dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun selain kediaman yang diberikan istrinya. Tapi inilah takdir yang ia tentukan tanpa kesengajaan. Mau tidak mau dia hanya bisa bersabar dan menjalaninya dengan tulus.
Ge, seberapa besarnya kebencian mu terhadap ku, aku akan tetap mencintai mu. Rasa cintaku akan membesar setiap hari bahkan setiap detiknya. Ge, tidak perduli sekeras apa hatimu saat ini, karena aku yakin dengan rasa cintaku dan keteguhan ku akan bisa meluluhkan hatimu. Entah itu setahun, dua tahun, atau lima bahkan sepuluh tahun pun aku tidak perduli. Aku mencintai mu, Ge.
Jordan melangkahkan kaki menuju kamar mandi setelah memandangi punggung istrinya yang enggan untuk berbalik untuk sekedar menatapnya. Dia membasahi tubuhnya di bawah aliran air yang keluar dari shower kamar mandinya. Jujur saja tubuhnya juga merasa lelah, tapi demi membuat Gaby hamil, dia mengesampingkan itu semua. Mungkin ini terdengar gila, tapi dia benar-benar tidak mau kehilangan Gaby dan membiarkan pria lain menggantikan posisinya. Bahkan membayangkan adanya pria lain di hidup Gaby, dia sudah mengeraskan rahangnya seolah tidak rela.
Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau dan aku akan terikat pernikahan sampai mati, Ge. Bahkan jika kau mati lebih dulu, jasad mu juga adalah milikku seorang.
Beberapa hari berlalu. Jordan masih dengan kegilaannya untuk membuat Gaby hamil. Dan Ron juga masih meminta satu hari untuk menyelesaikan petunjuk yang seperti puzzle itu. Tapi masalahnya, satu hari itu bertepatan dengan hari ditentukannya pernikahan Jordan dan Selena.
" Sial! Sebenarnya siapa orang yang membantu menutupi ini? " Kesal Jordan sembari menyingkirkan semua barang di meja kerjanya dengan satu gerakan. Rasanya sulit sekali ingin menyakinkan semua bukti agar tidak terbantahkan. Tapi semua seolah ditutupi dengan rapat oleh seseorang. Lebih panik lagi karena besok adalah hari pernikahan yang sudah ditentukan oleh keluarganya. Tentulah dia tidak akan datang apapun yang terjadi, tapi membersihkan namanya juga sangat penting saat ini. Selain untuk membuktikan kepada Ibunya, dia juga ingin membuktikan kepada Gaby bahwa dia tidak pernah meniduri Selena seperti yang dia tuduhkan.
Jordan membasuh wajahnya untuk menghilangkan penat dan stres yang kini melanda dirinya. Dia berjalan meninggalkan ruang kerja yang begitu berantakan untuk menuju ke kamarnya. Kamar dimana dia menghabiskan malam bersama dengan Gaby. Jordan perlahan membuka pintu karena takut akan mengganggu tidur Gaby. Tapi nyatanya dugaan itu salah. Mata Gaby justru masih terbuka lebar meski tubuhnya tengah berbaring.
__ADS_1
" Belum tidur Ge? " Tanya Jordan sembari berjalan mendekat.
Tidak menjawab, Gaby justru memiringkan tubuhnya membelakangi Jordan. Jordan yang sudah terbiasa dengan itu hanya tersenyum lalu perlahan mengambil posisi untuk membaringkan tubuhnya. Dia juga ikut memiringkan tubuh menatap punggung Gaby. Entah apa jadinya kalau semua kegilaannya berlangsung lama, karena tiga bulan waktu bersama Gaby sudah cukup membuatnya dibenci oleh Gaby sampai ke ubun-ubun. Tapi nas sudah menjadi bubur, semua yang terjadi sungguh diluar kendali dan akal sehatnya yang berujung penyesalan dan kebencian dari Gaby.
Ge, tidak apa-apa jika kau selalu membelakangi ku saat ini. Tapi suatu saat nanti kau akan terus menatapku dengan perasaan cinta. Aku berjanji untuk itu.
Gaby yang kini menatap gorden berwarna silver itu terdiam dengan hati yang kacau balau dan tidak tahu mana perasaan yang lebih condong. Rasa marah, benci, sedih, kecewa, dan entah berapa banyak rasa yang ikut berkecamuk bergulat dihatinya. Selah semua meronta ingin meminta pelepasan. Tapi seorang Gaby yang sekarang ini bahkan tidak bisa menyelamatkan hidupnya, mana mungkin dia akan memikirkan kebahagiaan agar hidupnya bahagia.
Aku bersumpah! jika nanti ada yang mau membantu ku lepas dari Jordan, aku tidak akan membuang waktu sia-sia dan pergi sejauh mungkin. Benar aku akan sedih jauh dari pria yang sejatinya masih ada di hatiku. Tapi melepaskan cinta yang menyakitkan dan menyambut cinta lain pasti akan lebih baik. Jika Tuhan itu memang ada, maka dia seharusnya membantuku dan me membalikan semua harapan dan memujudkan nya. Dan jika itu terjadi, aku bersumpah akan menjadi orang baik dan hidup hanya untuk Tuhan.
Jordan memeluk tubuh Gaby dan perlahan menutup matanya meski ia tidak merasa ngantuk. Saat ini yang dia butuhkan adalah dukungan dari orang yang dia cintai, tapi dengan keadaan Gaby seperti ini, maka itu tidak akan mungkin. Jadilah Jordan yang memeluk dan menghirup aroma tubuh Gaby agar penat di hatinya sedikit berkurang.
" Aku mencintai mu, Ge. Entah sampai kapan kau akan seperti ini, tapi aku akan tetap bersabar dan mencoba yang terbaik agar kau bisa memaafkan ku dan hidup bahagia bersamaku. "
Bersambung...
__ADS_1