
Hari ini, Gaby tengah bersiap-sia untuk mengunjungi Dokter. Tidak ada suami, sopir juga tidak siapapun yang menemani. Dia pergi menggunakan mobil Jordan yang sudah lama tidak ia pakai. Kenapa? karena hanya itu yang di perbolehkan oleh Jordan untuk Gaby kendarai. Perlahan tapi pasti. Akhirnya Gaby sampai di rumah sakit yang sudah paling dekat dari rumah Jordan. Dia menjalankan beberapa prosedur yang sudah ditentukan rumah sakit dan kini tengah mengantri seperti ibu hamil lainya. Iri, itulah yang ia rasakan saat melihat para suami yang menemani istrinya memeriksa kandungan. Semetara dia? dia hanya datang sendiri dengan segenap rasa berani yang sudah ia kumpulkan. Miris memang. Tapi mau bagaimana lagi? sebenarnya, Gaby sempat berpikir untuk lari karena tidak ada orang yang mengikutinya hari ini. Tapi, seperti yang sudah-sudah. Dia pasti akan ditemukan di manapun dia bersembunyi lalu dihukum dengan sangat menyakitkan. Mulai dari tidak diberi makan, di pukul oleh Jordan, bahkan di kunci di gudang bawah yang dingin.
" Nyonya Gaby Razita. " Gany bangkit saat namanya di panggil oleh salah satu perawat. Dia mengikuti langkah kaki perawat yang menuntunnya untuk masuk dan duduk terlebih dulu untuk konsultasi dan melakukan beberapa pengecekan.
" Tekanan darah anda rendah sekali, Nyonya. Anda juga terlalu kurus. Padahal, di tahap awal kehamilan anda harus banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi agar bayi anda tumbuh dengan sehat. " Gaby hanya bisa menanggapi nya dengan senyum yang tak tahu harus bagaimana. Tapi dia juga sudah bertekad akan memakan apapun yang ada di meja makan mulai sekarang.
Kini tiba saatnya Gaby melakukan pemeriksaan ultrasonografi atau USG untuk bisa lebih detail dalam melihat perkembangan bayinya. Gaby tersenyum haru saat Dokter menunjukkan janin di dalam perutnya yang sudah berusia enam minggu itu. Dia benar-benar bahagia. Kini ada harapan baginya untuk tetap hidup dan bahagia bersama anaknya nanti.
Gaby terus tersenyum memegangi perut ratanya itu. Sungguh, dia tidak akan lagi memikirkan hidupnya yang menyedihkan. Karena sekarang, dia perlu bahagia agar bayinya juga bahagia di dalam perut sana. Gaby yang tak sengaja melihat lebam di pergelangan tangannya, kini mencoba untuk menurunkan lengan bajunya agar bisa menutupi lebam itu. Dia menghela nafasnya mengingat Dokter dan perawat yang menatapnya iba tadi. Sudah pasti mereka melihat beberapa lebam ditubuhnya kan? tapi karena merasa tidak enak, Dokter dan perawat itu mencoba untuk menahan diri dan enggan menanyakan masalah pribadi pasiennya.
Gaby kembali ke mobil dengan perasaan bahagia. Dia kembali mengeluarkan benda pipih berwarna hitam putih itu. Disana lah photo pertama bayinya yang sedang berada di dalam perutnya. Dia mencium dan mengusap gambar itu dengan perasaan bahagia.
Ibu sangat mencintai mu nak. Ibu janji akan melindungi mu dengan baik.
Gaby memasukkan kembali hasil USG nya dan mulai menyalakan starter mobil. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi ada truk yang tiba-tiba melintas di hadapannya membuatnya terkejut dan mencoba untuk mengerem mobilnya. Sayang, semua kesialan seolah tak terelakkan. Rem mobilnya blong dan truk itu justru berhenti di tengah jalan.
" Ah! " Gaby memeluk perutnya erat-erat untuk melindungi calon anaknya.
Brak.....
Tabrakan pun tak bisa di hindari. Mobil yang di kendarai Gaby ringsek dibagian depan. Semua orang yang melihat kejadian itu sontak beramai-ramai membantu Gaby yang sudah berlumuran darah dan tubuh bagian bawahnya terkunci. Butuh hampir tiga puluh menit untuk mengeluarkan Gaby dari mobilnya. Untunglah semua orang begitu sigap dan langsung menghubungi ambulance sebelum Gaby berhasil di keluarkan.
***
__ADS_1
" Tuan! " Ron menerobos masuk ke ruang rapat dengan wajah paniknya. Jordan dan semua anggota rapat menatap Ron bingung. Ron mendekati Jordan dan membisikkan sesuatu kepadanya.
" Apa?! " Jordan bangkit dan langsung meninggalkan ruang rapat.
" Kenapa bisa terjadi kecelakaan? bagaimana keadaanya? "
Ron terdiam sesaat sebelum menjawab. " Cukup parah, Tuan. Mengenai kronologinya, sedang di selidiki oleh polisi dan orang-orang kita. "
Ron dan Jordan langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Gaby. Wanita itu terbujur tak berdaya dengan tubuh kurus yang dipenuhi luka.
***
" Bagaimana keadaanya, Dok? "
Dokter itu menghela nafas menatap Jordan. Dia mengingat kembali Gaby yang sempat terbangun sesaat dengan mengatakan sesuatu.
" Tapi apa? " Tanya Jordan yang merasa bingung karena Dokter nampak ragu-ragu saat menyampaikan maksudnya.
" Sebenarnya, pasien beruntung karena tidak mengalami kecacatan fisik. Tapi, jiwanya mungkin akan terguncang setelah mengetahui bahwa bayi di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. "
" Apa? bayinya? "
" Pasien sempat sadar beberapa detik sebelum kembali tidak sadarkan diri. Dia mengatakan kata-kata yang membuat hati saya begitu terenyuh. "
__ADS_1
" Apa yang dia katakan? " Jordan mengira, Gaby pasti sedang mengatakan apa yang sudah dia lakukan terhadapnya.
" Dia bilang, Kau harus baik-baik saja nak. Ibu mencintai mu. Ibu akan menjagamu dengan baik. Dia benar-benar melindungi perutnya, Tuan. Bahkan kami kesulitan menjauhkan tangannya dari perutnya. "
Jordan terdiam mendengar penuturan sang Dokter. Dia tidak menyangka jika dia sudah membuat luka yang lebih dalam untuk Gaby. Apalagi hari ini dia sengaja terlihat tidak perduli saat Gaby ingin mengunjungi rumah sakit. Meski jujur di dalam hatinya ingin memperhatikan pertumbuhan anak yang ada di dalam perut Gaby. Tapi mau bagaimana lagi? nasi sudah menjadi bubur. Malang pun tidak bisa di tolak.
" Seterusnya, mungkin akan sulit bagi pasien untuk sembuh dari kesedihan ini. Saya harap, Tuan akan lebih sabar menghadapinya. "
Bagaimana aku harus bersikap? sebelum dia hamil, dia terlihat begitu pasrah dan tidak berniat ingin hidup. Dia juga enggan untuk makan atau bicara. Lalu saat dia tahu dia hamil, dia bisa bicara dengan lantang. Aku bisa melihat semangatnya untuk hidup di matanya. Tapi sekarang semuanya kembali membuatnya terluka. Mungkin, dia benar-benar akan menjadi manusia tanpa rasa setelah ini. Lalu apa yang harus aku lakukan?
Setelah pembicaraannya dengan Dokter, Jordan memutuskan untuk melihat keadaan Gaby yang masih sama. Dia masih tertidur dengan luka-luku di sekujur tubuhnya. Dia menatap pilu istri yang selama ini telah ia sakiti dengan brutal. Ingin melepasnya, tapi ada hal yang ia takutkan. Takut jika ia akan menikahi Ayahnya dan membuat Ibunya terluka.
" Tuan, bisa kita bicara? "
Jordan mengangguk lalu keluar menyusul Ron yang sudah menunggu di luar.
" Ada apa? "
Ron menyerahkan beberapa hasil pemeriksaan kepada Jordan.
" Katakan saja. Aku sedang tidak dalam mood baik untuk membaca ini. "
" Mobil yang dikendarai Nona Gaby sepertinya sengaja di rusak remnya. Dan truk yang ada disana juga sangat mecurigakan. "
__ADS_1
" Maksudmu ini sengaja? "
Bersambung.....