Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Bonus Chapter


__ADS_3

Lima belas tahun kemudian. Hari ini adalah ulang tahun seorang wanita yang tak lain adalah Gaby. Seperti biasa, acara ulang tahun itu akan dihadiri oleh keluarga inti. Seperti Rendy dan Diana beserta kedua anaknya, Sammy dan Rose bersama si kembar dan juga satu anak perempuannya, disana juga si kembar Denzo dan Kenzo yang kini sudah tumbuh menjadi pria tampan dan gagah, Norita dan Ron juga hadir bersama ketiga anak mereka. Ibu mertua, Ayah mertua yang kini sudah kembali rujuk, dan juga anak-anak Gaby dan Jordan tentunya.


" Sayang? " Jordan membuka pintu kamar dan menyapa istrinya yang terlihat cantik hari ini.


" Sayang? " Gaby bangkit dari meja riasnya lalu berjalan mendekati suaminya yang kini sudah menutup pintu sembari memandangi wajahnya.


" Kenapa kau terus memandangi wajahku? kau tida sedang menghitung kerutan di wajahku kan? " Gaby tersenyum saat tubuh mereka dalam jarak yang begitu dekat. Mendengar ucapan Gaby, Jordan terkekeh lalu meraih pinggang Gaby agar tubuh mereka menempel dengan sempurna.


" Kau tahu apa yang tidak berubah darimu? "


" Apa? "


" Kau masih sama cantiknya seperti saat kita bertemu pertama kali. Kau masih saja tegas seperti sebelumnya, dan kau juga lembut. " Jordan mengecup kening Gaby lalu memeluknya erat.


" Semakin tua kau semakin pintar merayu ya? " Ucap Gaby lalu melingkarkan kedua lengannya memeluk tubuh Jordan yang kini tengah memeluknya.


" Oh iya sayang, Ele sudah datang. Aku hampir lupa degan tujuanku menyusul mu ke kamar. " Gany sontak menjauhkan tubuhnya, dia berjalan secepat mungkin keluar dari kamar untuk menemui putrinya yang dua bulan terakhir ini pergi keluar negeri. Memang iya mereka selaku melakukan panggilan video, tapi tetap saja dia ingin melihat langsung putrinya dan memeluknya. Jordan yang langsung di abaikan hanya bisa menghela nafas sebalnya.


" Aku di abaikan lagi? "


Gaby menuruni anak tangga satu persatu, diedarkan pandangannya mencari anak gadisnya yang sangat ia rindukan itu. Itu dia! Gaby tersenyum bahagia hingga ingin menangis saat melihat senyum cantik Ele merekah di wajahnya.


" Ele? "


" Ibu... " Mereka saling memeluk karena sangat merindukan satu sama lain.


" Kenapa tidak menemui Ibu di kamar? " Tanya Gaby setelah mengurai pelukannya, lalu menangkup wajah putrinya.


" Aku ingin, Bu. Tapi aku tertahan oleh mereka semua. " Ele menunjuk semua keluarga yang sudah berkumpul di ruang tamu. Hah...! Benar, dia tadi begitu merindukan Ele hingga lupa waktu dan tidak menyadari jika sudah datang semua.


" Baiklah, kita lanjutkan saja acaranya. Mereka sudah lumayan lama menunggu. " Ucap Jorda yang baru saja tiba menyusul Gaby.


Acara berlangsung dengan bahagia. Ucapan selamat dan doa panjang umur Gaby dapatkan dari para keluarga, anak-anak mereka, dan juga suami tentunya.


" Ibu, ini adalah hadiah dari kami. Bukanya kami pelit, tapi ini benar-benar hasil kerja keras kami untuk Ibu. " Ucap Mark mewakili Mike juga. Mereka memegang sebuah kotak berukuran lumayan besar lalu mereka serahkan kepada Ibunya yang sedang duduk bersama Ayahnya. Setelah meletakkan di meja yang ada dihadapan Gaby, tentu Gaby merentangkan tangan untuk memeluk kedua putranya yang kini sudah mulai beranjak dewasa.


" Terimakasih, sayang. Tanpa memberikan ini, kalian sudah memberikan hal yamg lebih berharga dari apapun. "

__ADS_1


" Ayolah, Ibu. Ibu selalu mengucapkan hal seperti ini setiap Ibu ulang tahun. " Ucap Mike dan di angguki oleh Mark. Mereka melepaskan pelukan mereka, Mark dan Mike kompak menghapus air mata Ibunya. Iya, yang pasti itu adalah air mata haru.


" Bukalah Ibu. " Pinta Mark dan Mike. Gaby mengangguk sembari tersenyum. Perlahan dia mengangkat penutup kotak itu, lalu nampak lah sebuah patung yang begitu mirip dengannya. Sebuah patung lilin berukuran sekitar tiga puluh sentimeter, dengan ukiran tubuh yang sempurna dan mirip sekali dengan wajahnya.


" Terimakasih, kalian benar-benar membuat duplikat mini yang begitu cantik. " Gaby tersenyum lalu kembali merentangkan tangannya untuk memeluk kedua putranya. Sekarang giliran Ele, dia memberikan sebuah kotak berukuran lima belas cm. Sembari tersenyum dia menyerahkan kotak itu kepada Ibunya.


" Ibu, ini adalah hadiah yang pertama. Setelah ini akan ada hadiah lagi dariku. " Ele terkekeh begitu juga dengan Gaby.


" Sayang, ini kau yang membuatnya? " Gaby menatap takjub sama seperti dia melihat hadiah dari Mike dan Mark. Ele tersenyum lalu mengangguk.


" Terimakasih. " Sebuah lukisan berukuran dua empat belas cm, lukisan Gaby dan Jordan dengan tema yang luar biasa. Gaby memakai gaun indah berwarna putih, Jordan juga mengenakan pakaian longgar berwarna serba putih. Padangan lembut sepasang orang tua yang bagaikan malaikat, senyum yang begitu manis dan indah, seolah mereka adalah sepasang manusia yang luar biasa di mata anak-anak mereka.


" Ibu, selamat ulang tahun. Doa ku masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kali ini bolehlah aku meminta sesuatu dari Ibu dan Ayah? " Jordan dan Gaby mengeryit saling menatap penuh tanya.


" Apa yang ingin kau minta, princess? " Tanya Jordan.


Ele menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Gaby dan Jordan hanya bisa menatap putri satu-satunya itu dengan tatapan penuh tanya. Ditambah lagi cara Ele ingin berbicara tak biasa, Gaby dan Jordan hanya bisa berharap kalau semua sedang baik-baik saja.


" Ibu, Ayah, aku ingin menikah. "


" Ayah, dan Ibu tidak setuju? " Melihat bagaimana orang tuanya bereaksi, terutama sang Ayah. Jelas sekali kalau dia keberatan dengan permintaannya barusan.


Gaby memaksakan senyumnya, lalu meraih tangan Jordan dan memintanya untuk kembali duduk.


" Dengan siapa nak? selama ini kan kau tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Lagi pula usiamu juga baru dua puluh tiga tahun kan? "


" Dia anak dari seseorang yang Ibu kenal. " Jawab Ele.


" Siapa? "


Ele tersenyum menatap Ibu nya.


" Bibi Vanya, dan paman Nath. "


Gaby terdiam, entah harus bahagia atau bagaimana, di tatapnya lagi bola mata Ele yang terlihat begitu berbinar bahagia dan penuh harap. Perlahan Gaby mengubah ekspresi wajahnya, dari terkejut menjadi tersenyum.


" Apa dia tahu kalau kau anak Ibu? "

__ADS_1


Ele tersenyum lalu menggeleng.


" Ibu, aku banyak mendengar cerita mereka. Mereka adalah sepasang suami istri yang terkenal disana dan dikagumi banyak orang. Mereka sangat baik dan mengutamakan kebahagiaan anak-anak mereka. Ibu, meskipun aku tidak mengenal mereka secara langsung, tapi Sammy sudah menjelaskan bahwa Bibi Vanya dan Paman Nath adalah orang yang baik dan tidak pendendam. "


" Sammy? bukankah putranya Nath dan Vanya adalah Nathan? "


" Iya, Sammy adalah anak adopsi mereka. " Jawab Ele.


" Apa kau benar-benar mencintai dia? " Tanya Jordan. Iya, seorang Ayah yang sedari tadi hanyabisa menahan diri karena akan kehilangan putrinya, tentu saja harus memastikan bahwa putrinya akan hidup bahagia nantinya.


" Iya, Sammy lebih tua tujuh tahun dariku, Ayah. Tapi dia pria yang sangat baik. "


Jordan dan Gaby sudah tidak bisa bicara lagi. Dari mata Ele jelas sekali bahwa dia benar-venar mencintai pria itu. Maka sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendukung keputusan putri mereka asalkan putri mereka bahagia.


Setelah satu minggu untuk mempersiapkan pernikahan Ele, Akhirnya pernikahan akan berlangsung pagi ini. Berdebar tak menentu, inilah yang dirasakan oleh Gaby seperti dia saja yang akan menikah. Sudah puluhan tahun tidak bertemu, bagaimana nanti dia bersikap?


" Sayang, tenanglah. Bukankah kian sudah melakukan panggilan telepon sebelumnya? kalian juga sudah banyak berbincang kan? "


" Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku gugup. "


" Kau ini. " Jordan merangkul pundak istrinya.


Satu jam setelah itu, Vanya, Nath dan semua keluarga mereka datang. Seperti yang Ele katakan, Vanya benar-benar terlihat cantik. Bukan hanya Vanya dan Nath, tapi ada banyak lagi orang yang ia kenal di masa lalu.


" Ge, lama tidak bertemu. " Ucap Vanya lalu tersenyum. Gaby juga ikut tersenyum, air mata juga mulai mengisi Pelupuk matanya. Tak bisa berkata-kata lagi, akhirnya mereka saling memeluk untuk melepaskan segala luka masa lalu.


" Kau hidup dengan baik? " Tanya Nath setelah Vanya melepaskan pekukannya. Gaby mengangguk dengan cepat.


" Syukurlah. " Ujar Nathan.


" Ge? "


"Lexi? " Gaby tersenyum lalu memeluk pria yang pernah ia cintai secara diam-diam itu. Barulah setelahnya Gaby memeluk Devi.


Setelah acara pernikahan selesai, semua anggota keluarga mengambil potret bersama dengan wajah yang bahagia.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2