Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Jalan dari Tuhan


__ADS_3

Jordan keluar dari mobilnya dengan langkah kaki yang begitu cepat. R-n sudah memintanya untuk sedikit mengurangi kecepatannya karena sulit baginya mengimbangi langkah kaki Jordan yang begitu cepat dan semangat. Ditambah lagi, kaki Jordan yang panjang mempermudahnya untuk mempercepat durasinya. Sepanjang perjalanan menyusuri pesisir pantai yang begitu bersih dan terawat, karena pemerintah di pusat kota itu sangat menjaga baik setiap pantai yang ada disana.


Ge, aku datang. Aku datang untuk membawamu dan anak kita pulang.


Meski agak kesal karena harus berjalan setengah berlari, tapi melihat Jorda. yang begitu antusias dan selalu tersenyum membuat hatinya juga merasa senang. Sudah beberapa tahun terakhir dia melihat wajah sendu penuh duka lara dari wajah Jordan. Kali ini dia berharap Gaby akan memberinya sedikit kesempatan untuk Jordan membuktikan cinta dan kesungguhannya. Tidak bisa dikatakan memperbaiki karena apa yang sudah terjadi tidak akan bisa diperbaiki. Hal paling penting saat ini adalah tindakan Jordan yang akan menentukan masa depannya sendiri.


" Ron, disana hanya ada dua rumah kecil. Apa Gaby dan anakku tinggal disalah satu rumah itu? " Tanya Jordan saat melihat dua rumah ditepian pesisir pantai. Langkah kakinya juga terhenti untuk sesaat menatap dengan hati yang terasa berdenyut nyeri. Melihat rumah yang sebenarnya lebih pantas disebut gubuk itu menjadi tempat tinggal anak dan istrinya, membuat Jordan begitu menyesali lambatnya dia menemukan anak dan istrinya.


" Kita cek saja, Tuan. " Ron kembali mengiringi langkah Jordan yang jelas sekali sudah tidak sabaran.


Jordan menarik nafas dan menghembuskan perlahan mencari kekuatan di sana. Perlahan dia mendekati rumah kecil yang terbuat dari kayu dan mengetuknya beberapa kali.


" Mungkin sedang pergi, Tuan. " Ujar Ron karena sudah beberapa kali Jordan mengetuk pintu tak ada jawaban sama sekali. Rumah kecil itu juga nampak sepi karena tak terdengar aktivitas apapun didalam sana.


" Mari kita coba rumah yang disebelah sana, Tuan. " Jordan mengangguk lalu berjalan menuju rumah satu lagi yang lumayan juga jaraknya untuk disebut tetangga.


Tok....! Tok...!


" Permisi? " Kini giliran Ron yamg mengetuk pintu hingga beberapa kali tapi tak mendapat jawaban juga.


" Sepertinya rumah ini juga kosong, Tuan. "


Ucapan Ron tadi benar-benar membuatnya ingin ambruk lunglai. Padahal baru saja dia begitu bergairah untuk bertahan hidup. Tapi sekarang harus mendapati kekecewaan lagi. Entah sampai kapan hal seperti ini akan terus terjadi kepadanya. Seolah takdir begitu kejam dan enggan mempertemukannya dengan Gaby dan juga anak mereka.


Jordan memegangi sebuah kayu untuk menopang tubuhnya yang seolah kehilangan energi. Untunglah kayu yang digunakan untuk memagari halaman rumah kecil itu lumayan kokoh dan mampu menjaga keseimbangan Jordan untuk tetao berdiri meski sudah sulit untuk tegak seperti beberapa saat lalu.


" Apa kali ini juga harapan palsu? apa semua ini juga permainan Rendy? kenapa begitu sulit mencari keberadaan anak dan istriku. Kenapa Tuhan belum cukup puas setelah bertahun-tahun alu menjalani hidup dengan penuh hukuman? kenapa Tuhan? tidakkah kau merasa iba walau hanya sedikit? "


Ron mendekati Jordan dan memegang pundaknya untuk memberi semangat walau itu mustahil dalam keadaan ini.


" Tuan, percayalah pada keyakinan anda. Tuhan tidaklah sejahat yang Tuan pikirkan. Nona dan anak anda pasti akan anda temukan. Ini adalah cara Tuhan untuk membuktikan kepada diri anda, bahwa anda sangat mencintai Nona Gaby. Jika nanti bertemu dengan Nona, mohon perlakukan lah dengan baik, Tuan. Cintai dan sayangi dia dengan sebaik mungkin. Karena saat dia menghilang, anda lah yang akan kesakitan. "


Ron sebenarnya begitu tidak tega mengatakan hal-hal yang tanpa senagaja menyudutkan Jordan. Tapi dari awal dia sudah memperingatkan Jordan agar tidak gegabah dan jangan terlalu bringas. Tapi semua peringatan Ron dianggap angin lalu saja yang tidak memiliki arti. Sekarang Jordan sudah tahu bagaimana rasanya jauh dari orang yang dia cintai tapi dia sia-siakan. Ini adalah pembelajaran yanh sangat berarti baginya. Cintailah pasanganmu, habiskan lah waktu bersama pasangan dengan bahagia. Karena kalau salah satu dari pasangan pergi, akan ada banyak hal yang membuat menyesal, bahkan juga jadi membenci diri sendiri.

__ADS_1


" Jika saja, jika saja aku tidak mengikuti egoku. Jika saja aku lebih mempercayai wanita yang kucintai, jika saja aku tidak menyakitinya separah itu, jika saja aku membiarkan dia pergi saat itu, mungkin aku masih bisa melihatnya meski bukan sebagai pasangan suami istri lagi. Aku benar-benar menyesal. " Jordan yang sudah tidak bisa menahan diri akhirnya mulai menangis meski tak terlaku lantang suaranya.


" Tuan, tenangkan diri anda. " Ron mengusap punggung Jordan perlahan tapi tak menuntut untuk menghentikan tangisannya. Kenapa? karena menangis dapat membuat hati menjadi sedikit lebih lega.


" Tuan, tidak apa-apa anda menangis. Tapi tolong jangan sakiti diri anda dengan terus menyalahkan diri. Teruslah kuat dan bertahan, Tuan. Pasti sudah ada jalan yang disiapkan Tuhan untuk anda dan Nona Gaby bertemu. "


" Paman, kenapa menangis dirumah kami? kami mau lewat, bisa tolong beri jalan? "


Ron dan Jordan kompak menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang tengah berbicara.


" Kalian siapa? " Tanya Ron.


" Aku Leon dan ini adik kembar ku Deon. Kami pemilik rumah ini. "


Jordan dan Ron kompak menatap wajah kedua bocah itu lalu mengeryit bingung.


" Tuan, apa anda memikirkan hal yang sama seperti yang saya pikirkan? " Tanya Ron.


" Meskipun alu tidak tahu apa yang kau pikirkan, aku rasa aku sependapat dengan pemikiran mu. "


" Tapi kita fokus untuk tujuan utama kita saja dulu, Tuan. " Jordan mengangguk.


" Boleh kami tahu, dimana penghuni rumah itu? " Tunjuk Ron mewakili Jordan.


Dua anak yang hampir remaja itu saling bertatapan penuh tanya.


" Paman siapa? "


Ron tersenyum, dia mencoba selues mungkin agar tak membuat kedua anak itu berpikir negatif tentang dirinya dan Jordan.


" Jadi begini, anak-anak tampan. Kami berdua sedang melakukan wawancara tentang pantai ini. Dan penduduk yang tinggal paling dekat dengan pantai kan hanya dua rumah ini. Jadi kami harus mewawancarai pemilik rumah ini. Tapi kalian masih belum paham kan? "


Kedua bocah yang tengah memanggul jaring dan ikan di ember itu hanya bisa menatap dan keheranan.

__ADS_1


" Kalau masalah pantai, kami juga tahu dengan baik, paman. "


Jordan menghela nafas lalu ikut berbicara karena merasa Ron sangat membingungkan.


" Begini anak-anak. Kalian kan belum masuk kategori dewasa, jadi kami tidak bisa mewawancarai kalian. Ngomong-ngomong, dimana ayah dan Ibumu? lalu, dimana penghuni rumah itu? "


Meskipun malas, Deon dan Leon akhirnya memberi tahu kemana Ibunya pergi hari ini.


" Aku tidak memiliki Ayah. Ibuku, Bibi dan Ele sedang pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. "


Jordan menarik nafas perlahan untuk menguasai kembali dirinya.


" Bibi dan Ele itu tinggal disini juga? "


" Bibi dan Ele tinggal disana. " Tunjuk Leon ke rumah yang berada tak jauh dari rumahnya.


" Siapa nama Bibi mu? dia tinggal disana bersama siapa? "


" Kami memanggilnya Bibi Gege. Dia hanya tinggal berdua dengan Ele, anak nya. "


" Ron? " Jordan menatap Ron seolah memintanya untuk menguatkannya. Ron dengan sigap tersenyum lalu mengangguk.


" Bagaimana ciri-ciri Bibi Gege itu? " Tanya lagi Jordan yang kini mulai berusaha tersenyum.


" Bibi itu sangat cantik. Sama seperti Ele. "


Ele? jadi itu nama putriku? anak kami perempuan? ya Tuhan, tolong pertemukan aku dengan istri dan putriku. Aku mohon...


Jordan yang tak mau lagi membuang waktu akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka galery photo untuk ditunjukkan kepada Deon dan Leon.


" Apa seperti ini wajah Bibi Gege yang kau maksud? "


Jordan menunjukkan photo Gaby dan dirinya saat berpacaran dulu. Deon dan Leon mengamati gambar itu lalu mengangguk setelahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2