
Disebuah rumah sakit terbesar dan terkenal memiliki banyak Dokter ahli, di sanalah Jordan dan Gaby membawa putrinya untuk melakukan serangkaian tes yang diperlukan. Setelah menemui seorang Dokter terbaik di rumah sakit itu, Jordan dan Gaby memutuskan untuk mengikuti semua yang dikatakan Dokter. Mulai dari melakukan cek darah, lalu aspirasi dan biopsi tulang sum-sum. Kini mereka hanya tinggal menunggu hasilnya keluar sebentar lagi. Todak ada yang bicara diantara mereka. Mereka kini fokus memikirkan Ele. Jordan yang tengah duduk sembari memeluk erat putrinya, Gaby yang duduk disamping Jordan sembari menggenggam tangan mungil putrinya, mereka berdua begitu larut dengan ketakutan mereka sendiri. Untunglah, Ele banyak tertidur hari ini karena mungkin dia merasa sangat lelah.
Tak berapa lama, Seorang perawat datang menghampiri mereka untuk memberi tahu bahwa Dokter sudah menunggu di ruangannya. Tak menunggu lama, mereka langsung bergegas menuju ruangan Dokter itu. Seksama mereka mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Dokter itu.
Bruk......!
Gaby menjatuhkan tubuhnya setelah mendengar semua ucapan Dokter di dalam ruangan nya tadi. Ketakutan akan kehilangan Ele, adalah momok terbesar baginya.
" Bagaimana mungkin? " Gaby mulai menangis karena memang benar-benar tidak tahan lagi. Sesungguhnya, Jordan juga sama. Pria itu ingin sekali berteriak marah dan protes kepada Tuhan yang ia rasa begitu tidak adil. Padahal dia yang membuat kesalahan, tapi kenapa Tuhan memberikan hukuman kepada putrinya? apakah tidak bisa dia saja yang sakit? ditambah lagi melihat Gaby yang begitu tidak bisa menerima ini, hatinya menjadi semakin berdenyut sakit.
" Ge, ayo bangunlah. Jangan menangis. " Pinta Jordan dengan nada suara yang begitu lembut karena Ele masih tertidur di gendongan nya.
Sebenarnya, ingin sekali Gaby memaki Jordan dan menyalahkannya karena tidak mengerti bagaimana perasaannya yang tengah hancur sekarang ini. Tapi saat melihat mata Jordan yang memerah seolah menahan tangis, dan Ele yang masih terpejam di pelukan Jordan, semuanya menjadikan lidahnya kelu dan tidak bisa lagi berkata apa-apa.
Gaby menghapus air matanya dan mulai bangkit dari posisinya. Dia mengikuti kemana kaki Jordan melangkah meski dia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk menolak. Sesampainya di mobil, Jordan tanpa mengatakan apapun lagi, meminta Ron dan sopirnya untuk mengantarkan mereka kembali ke rumahnya Gaby.
Perlahan-lahan Jordan membaringkan tubuh Ele di tempat tidur. Dia mengusap wajah cantik putrinya yang benar-benar nyenyak sekali tidurnya. Jordan memandangi wajah Ele dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Tuhan, aku dan putriku baru saja kau pertemukan. Tolong, jangan ambil dia dari ku dan dari Ibunya. Dia bukan hanya sekedar putri kami, dia adalah sumber kebahagiaan kami, dan juga alasan istriku hidup selama ini. Tolong hukum aku dengan cara yang lain saja Tuhan. Jangan ambil putri kecilku yang baru saja tiga tahun berada di dunia ini.
Tak terasa, air mata Jordan kini mulai jatuh membasahi pipinya. Sungguh dia tidak sanggup kalau harus kehilangan putrinya. Jordan meraih tangan Ele dan mencium punggung tangan mungil itu.
" Tetaplah kuat dan mari berjuang untuk sehat. Ayah dan Ibu akan selalu bersamamu. Ayah janji, Ayah tidak akan pergi kemanapun. Ayah tidak akan perduli lagi seberapa banyak Ibumu mengusir Ayah. Ayah, akan tetap ada bersamamu. " Ucap Jordan lirih karena takut membangunkan putrinya itu.
Gaby yang melihat mereka dari kejauhan hanya bisa menangis tanpa menimbulkan suara. Sakit, sungguh hatinya sangat sakit. Lagi lagi Tuhan mematahkan hatinya. Entah mengapa, sepertinya Tuhan begitu tidak mau melihatnya bahagia. Padahal, beberapa tahun setelah adanya Ele, Gaby begitu yakin kalau dia akan hidup bahagia bersama putrinya sampai dia tua renta dan memiliki banyak cucu dan cicit. Tapi sungguh khayalan indah itu seakan dipatahkan lagi kenyataan pahit ini.
Gaby menutup kedua telinganya saat kembali mengingat apa yang diucapkan oleh Dokter tadi.
" Tidak! jangan ambil putriku. Kenapa lagi-lagi kau seperti ini, Tuhan? kenapa tidak mau berhenti menyiksaku? hukum saja aku! ambil saja nyawaku! jangan putriku. Dia tidak bersalah, dia sama sekali tidak tahu apapun. " Ucap Gaby lirih. Matanya masih terus meneteskan air mata, dan tangannya mengepal kuat Sembari memukuli dadanya yang terasa sangat sesak.
" Ge? " Panggil Jordan yang langsung membuat Gaby menoleh ke arahnya.
" Ayo kita bicara sebentar di luar. " Jordan sudah lebih dulu melangkahkan kaki keluar dari teras rumah. Tidak ada pilihan lain, Gaby juga harus keluar dari rumah untuk berjaga-jaga agar Ele tidak akan mendengarkan ucapan mereka saat tidak sengaja bangun nanti.
Gaby sudah berada tepat di samping Jordan tanpa mengatakan apapun. Karena dia tahu, Jordan sudah pasti akan lebih dulu menyampaikan maksudnya.
__ADS_1
Jordan sempat menatap Gaby sesaat lalu kembali menatap laut yang terus menyuguhkan ombak yang datang tanpa henti. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskankanya perlahan sebelum menyampaikan maksudnya.
" Ge, aku tahu hatimu masih belum bisa menerima kedatangan ku. Tapi bisakah kita kesampingkan dulu masalah kita? mungkin aku memang tidak layak menjadi Ayahnya Ele, tapi aku benar-benar mencintai putri kita. Tolong untuk kali ini saja. Setelah Ele benar-benar sembuh, aku janji akan mengikuti apa yang kau inginkan untuk kita nantinya. "
Gaby masih menatap laut dengan pandangan kosong. Mau mengatakan apa dan harus melakukan apa untuk saat ini, dia sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik. Otaknya selalu dipenuhi degan Leokimia dan juga bagaimana kalau sampai Ele pergi.
" Ge? " Panggil lagi Jordan karena tidak mendapat jawaban apapun dari Gaby.
Bukanya menjawab, Gaby malah mulai terisak dan kini kembali menjatuhkan tubuhnya. Hati Ibu mana yang tidak akan patah saat mengetahui anaknya mengidap penyakit serius yang mengerikan? hati Ibu mana yang bisa menahan air mata di saat seperti ini? Gaby mulai terisak tanpa mengatakan sepatah katapun. Jordan yang juga ikut berjongkok hanya bisa menahan tangannya yang ingin sekali mengusap punggung gaby, mengakan bahwa semua akan baik-baik saja, lalu memeluknya.
Ge, aku juga sama sedihnya seperti mu. Aku mungkin baru dua hari bersama Ele. Tapi hatiku bersama mu dan putri kita selama ini. Aku ingin sekali menangis dan memprotes ini kepada Tuhan Sembari berteriak dengan lantang. Tapi Ge, aku semakin menderita saat melihat mu begitu menderita seperti ini. Sejujurnya, aku juga butuh untuk dikuatkan, tapi melihat mu yang seperti ini, aku tiba-tiba tersadar, kau pasti tidak akan sempat memikirkan bagaimana perasaan ku.
" Ge, mari kita bersama sampai putri kita benar-benar sembuh. Aku tidak akan lagi mengganggu mu lagi setelah itu. "
Gaby mulai menatap Jordan sembari menghapus air matanya. Benar, saat ini Ele membutuhkan semangat dari orang-orang yang dia sayangi. Dengan adanya Jordan sebagai seorang Ayah yang selama ini Ele inginkan, Ele pasti akan memiliki semangat yang lebih banyak lagi.
Bersambung...
__ADS_1