Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Misi Pertama Dimulai


__ADS_3

Seperti yang Gaby duga. Pria paruh baya yang tadi gemetar menatapnya kini tengah berlutut di hadapannya. Kedua telapak tangannya saling mengatup dan digosoknya terus menerus. Tatapan memohon dan juga air mata nya jatuh membasahi pipinya yang sudah berkerut itu. Bibirnya gemetar begitu juga dengan tangan, bahkan seluruh tubuhnya gemetar hebat.


" Tolong saya, Nyonya dan presdir Jordan. Saya tahu, anda berdua kecewa dengan apa yang saya lakukan. Tapi tolong percayalah kepada saya. Saya tidak memiliki cara lain selain melakukan ini. Cucu saya do culik orang tak di kenal. Dia mengancam saya untuk membuat perusahaan memenangkan tender yang pesaingnya juga adalah perusahaan fiktif. Presdir Jordan, fan Nyonya Presdir, mohon bantulah saya untuk menyelamatkan cucu saya. Saya dan istri sudah tidak memiliki keturunan lagi selain cucu saya. " Pria paruh baya itu bersujud karena merasa jika Gaby dan Jordan tidak akan mudah mempercayai orang yang sudah mencoba untuk menjatuhkan perusahannya.


Gaby tersenyum tipis lalu menatap tegas pria paruh baya itu.


" Tuan, apa anda tahu? sikap takut seperti ini akan menjadikan anda semakin tertekan. Cobalah untuk tenang dan jangan menunjukkan kelemahan apapun, terlebih di dunia bisnis yang berada di posisi antara jurang berbatu tajam dan lembah lahar. "


Pria paruh baya itu menaikkan pandanganya menatap Gaby. Iya, wanita yang duduk dengan posisi kaki menyilang itu benar-benar terlibat begitu ambisius dan cerdik. Dari cara dia tersenyum dan menatap terdapat kekuatan besar yang bisa saja melakukan apa yang dia inginkan dengan mudah.


" Nyonya, apakah anda mempercayai saya? "


Gaby terkekeh sesaat lalu kembali menatap Pria paruh baya itu.


" Percaya? kenapa aku harus percaya kepada orang yang tidak mempercayai kekuatan perusahannya sendiri? "


Pria itu kembali tertunduk. Iya, benar apa yang dikatakan Nyonya Presdir. Saat itu dia begitu panik dan juga sangat ketakutan. Dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih dan dengan serampangan dia mengiyakan semua titah si penculik itu.


" Kenapa anda diam? apa anda sudah menyadari di mana kesalahan terbesar anda sekarang? "


Pria itu terdiam sesaat mengangguk dan terisak menyesali segalanya. Dia begitu merutuki dirinya yang bodoh dan tidak berpikir secara jernih kalau sudah mengenai cucunya.


" Baiklah, karena anda sudah tahu dimana letak kesalahan anda, bagaimana kalau ku berikan satu jalan keluar yang akan memberikan tiga keuntungan untuk anda. "


" Maksud Nyonya? " Pria itu kembali menaikkan wajahnya untuk menatap Gaby yang tengah memberikan tawaran yang membuatnya lebih tenang.


" Iya, anda bisa mendapatkan cucu anda kembali. anda masih bisa bekerja di sini, dan anda juga akan mendapatkan keuntungan yang lumayan besar dari tragedi ini. "


" Bagaimana caranya, Nyonya? "

__ADS_1


Gany tersenyum lalu menyodorkan sebuah amplop yang berukuran besar.


" Katakan pada penculik itu bahwa Jordan's Group sudah sepakat untuk mendapatkan tender itu. Untuk langkah selanjutnya, anda hanya perlu mengikuti instruksi dari Presdir. "


" Baik, Nyonya. " Dengan langkah penuh syukur akhirnya pria paruh baya itu bisa bernafas lega. Entahlah, rasanya dia begitu yakin dengan istri dari Presdir perusahaan tempatnya bekerja. Cara menatap lawan bicaranya pun, wanita itu benar-benar seperti tidak bisa di bohongi. Cara bicaranya yang begitu tepat dan menjanjikan seolah membuat lawan bicaranya tidak bisa membantah nya sedikit pun.


" Sayang, tapi cara yang akan kita jalankan terlalu beresiko. "


Gaby menghela nafasnya lalu menatap Jordan sebal. Lagi-lagi terus memanggilnya sayang. Apa dia tidak tahu kalau dia terus di panggil sayang di tempat kerja mebuatnya ingin cepat pulang.


" Dengar Presdir, tidak ada tindakan yang tidak memiliki resiko. Apa anda tidar pernah dengar? semakin besar resikonya, semakin besar pula peluang kita untuk menang. "


" Hah? " Jordan hanya bisa melongo Heran. Sungguh dia sama sekali tidak pernah mendengar peribahasa seperti itu. Yang ada, semakin kecil resikonya, akan semakin banyak yang terselamatkan.


Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, ini adalah waktu yang tepat untuk Jordan dan Gaby kembali ke rumah. Sebenarnya selama bersama dengan Gaby, Jordan hampir tidak pernah Jordan bekerja lembur. Tentu saja karena semua lebih cepat beres dengan adanya Gaby yang serba bisa.


" Kakak! " Panggil seorang gadis cantik yang Gaby perkirakan sekitar dua puluh lima atau di bawah tiga puluh tahun usianya. Gadis itu menggandeng seorang wanita cantik lalu berjalan menuju ke arah Jordan yang hanya mengeryit menatap kedatangan dua gadis cantik ke arahnya.


Jordan sepertinya terlihat enggan menanggapi gadis ramah itu. Tapi, dia juga terlihat memaksakan diri untuk bersikap ramah meski masih saja terlihat dingin.


" Baik. Bagaimana dengan mu? "


" Aku juga baik. Oh iya kakak. Ini adalah sahabat ku, Mona. Dulu kakak juga pernah dekat dengannya loh. "


Gaby tersenyum miring melihat tingkah kedua gadis muda yang sudah jelas sekali apa maksudnya. Dari cara berbicara, gadis yang sedari memanggil Jordan kakak kemungkinan besar adalah adik tiri Jordan. Dan gadis mudah yang sedari tadi tersenyum malu-malu pasti memiliki rasa di masa lalu dengan Jordan. Tapi tenanglah, Gaby hanya akan melihat sampai dimana usaha adik tiri Jordan itu.


" Kakak, bagaimana kalau kakak ikut kami makan malam? hari ini adalah ulang tahun Mona. Anggap saja kakak memberikan hadiah untuknya. "


" Risa, tidak kah kau melihat ada istriku di sini? "

__ADS_1


" Istri? kakak, apa kakak tida tahu seperti apa istri kakak? dia adalah wanita ular. Dia itu sangat licik dan jahat. Berita tentang masa lalu buruknya bahkan sudah bukan rahasia lagi. " Gaby semakin tersenyum mendengarnya. Tapi Jordan, pria itu terlihat kesal tapi juga malas menanggapi orang yang tidak penting itu.


" Kakak, Mona adalah gadis yang baik. Jauh sekali dari istri kakak ya ga seperti ular berbisa itu."


Jordan tersenyum.


" Benar, sangat jauh perbedaan Mona dan istriku. Mana mungkin mereka bisa berada di tingkatan yang sama. " Mendengar ucapan Jordan, Risa semakin terlihat semangat. Iya, apa yang dia lakukan hari ini juga atas titah Ayahnya. Entah apa maksudnya, tapi dia juga tidak bisa menolak perintah Ayahnya karena kartu kreditnya di sita olehnya.


" Kalau begitu, kakak datang saja ke restauran yang sudah kami pesan. "


" Tidak. " Sela Gaby lalu tersenyum miring.


" Jangan ikut campur. Kau hanyalah seorang istri yang tidak di butuhkan. Kau tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. "


" Benarkah? bukankah kau tadi mengatakan jika aku wanita ular berbisa dan juga licik? oh, aku juga dengar kau mengatakan jika aku sangat jahat? "


" Kakak, mohon jangan marah. Maafkan Risa ya? ini semua salah ku. Mohon jangan marah. " Gaby menghempaskan tangan Mona yang memegang erat lengannya. Menggelikan bukan? mencengkram kuat seakaan ingin mematahkan lengan Gaby, tapi menatap dan memelas seperti anjing.


" Ah! " Pekik Mona yang terhempas ke lantai.


" Dasar jahat! lihat kakak, lihat dia! dia itu sangat jahat. "


Gaby tersenyum melihat betapa menggelikan sekali bakat akting Mona. Bukanya merasa malu karena banyak orang yang tengah menatapnya, Gany justru berjalan dan menginjak tangan Mona dengan heels nya yang tajam.


" Ah! " Pekik Mona lagi sembari memegangi tangannya yang berdarah.


" Oh, terinjak ya? lain kali, jangan menjadi kotoran di tengah jalan. Ayo sayang, kita harus pulang. "


Jordan tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


" Baiklah sayang. "


Bersambung


__ADS_2