
Setelah kesepakatan yang Jordan buat bersama Gaby, akhirnya Jordan memutuskan untuk menetap disana sampai keadaan Ele membaik. Mungkin, ada saatnya Jordan harus pergi ke negara asal untuk beberapa urusan bisnis. Tapi setidaknya dia tida perlu khawatir karena akan terus berkomunikasi dengan Gaby agar bisa bersama memantau keadaan Ele. Dan malam ini, Jordan dan Ron bertemu untuk membicarakan beberapa hal yang memang harus di bahas.
" Ron, aku minta kau kembali saja ke negara asal. Tolong bantu aku urus pekerjaan disana. Jika ada yang mendesak dan mengharuskan aku datang, akan ku coba untuk datang kalau Keadaan Ele baik-baik saja. "
" Baik, Tuan. " Ron terdiam sesaat sembari memikirkan rencananya beberapa saat lalu. Padahal, dia berniat mempergunakan Ele sebagai alasan agar Jordan dan Gaby bersatu, tapi sepertinya Tuhan tidak mengizinkan itu terjadi. Ron menatap wajah Jordan yang terlihat begitu penat.
" Tuan, apa aku perlu mengirimkan Sammy untuk datang? "
Jordan menghela nafasnya. Sammy adalah keponakannya dan juga salah satu orang kepercayaannya. Saat ini, Sammy ia tugaskan untuk terus memantau Rendy dan Diana.
" Tidak, Ron. Sudah cukup ada aku. Aku akan berusaha menyelesaikan ini bersama Gaby. Lagi pula, penting bagiku untuk terus mengawasi Rendy. Pria itu tidak boleh lepas dari pengawasan, Ron. "
Ron mengangguk paham. Sammy memang berperan besar dalam memantau gerak-gerik Rendy. Mungkin, saat ini juga dia tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat, karena Rendy adalah pria yang memiliki banyak cara untuk mengelabuhi mata-mata yang mengintainya.
" Tuan, menurut anda, apakah saya perlu bergerak cepat setelah sampai di negara asal untuk memastikan kecurigaan kita dengan Deon dan Leon? "
Jordan sontak menatap Ron. Benar, dia terlalu sibuk memikirkan Ele dan Gaby hingga lupa masalah ini.
" Iya. Jangan terlalu memfokuskan ini. Pastikan pekerjaan kantor selesai dan dalam keadaan aman. "
" Baik, Tuan. "
" Bagaimana keadaan Ibuku? " Tanya Jordan. Selama beberapa hari pergi, Ibunya pasti sudah sangat panik mencarinya.
" Saya sudah mengabari Nyonya saat hari pertama kita datang ke sini, Tuan. "
__ADS_1
Jordan tersenyum lalu menepuk bahu Ron pelan dan beberapa kali.
" Terimakasih, Ron. Kau adalah salah satu orang yang paling setia dan memahami ku setiap saat. Aku kadang berpikir, bagaimana caraku membalas semua itu. "
Ron tersenyum setelah menghela nafas panjangnya.
" Tuan, dengan anda baik-baik saja. Saya sudah merasa amat sangat senang. Jangan berpikir sampai sejauh itu, Tuan. Kebaikan yang anda berikan kepadaku dan juga keluargaku, tidak bisa dibandingkan dengan apa yang aku lakukan selama ini. "
Jordan sungguh terharu dengan Ron yang selalu setia kepadanya. Dibandingkan bawahan, Jordan kadang merasa jika Din sangat cocok menjadi seorang kakak atau bahkan, seorang Ayah. Yah, karena Ron begitu dewasa dan sifat melindungi Jordan benar-benaf tidak di ragukan lagi.
Seandainya aku menikahkan mu dengan Diana waktu itu, Diana adikku pasti tidak akan semenderita ini, Ron.
Kau benar-benar pria yang luar biasa.
Ron terdiam sesaat. Miris dan sedih, itulah yang ia rasakan saat membicarakan Diana. Gadis cantik yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Dulu, Diana adalah gadis yang begitu murah senyum dan terlihat bahagia. Tapi sekarang, dia sering terlihat murung dan menangis secara diam-diam. Matanya yang dulu memancarkan kedamaian dan semangat yang tinggi, kini berubah menjadi sayu dan menyedihkan.
" Sepertinya masih seperti itu, Tuan. "
Jordan menghela nafas kasarnya.
" Aku benar-benar tidak mengerti dengan Diana. Sebenarnya, apa yang membuatnya begitu tidak ingin lepas dari Rendy? "
" Cinta, Tuan. " Jawab Ron. Meskipun Diana terlihat menyedihkan, tapi saat matanya melihat Rendy, tatapan itu mengandung cinta. Ron tentulah memperhatikan segala gerak-gerik Diana, mengajaknya bicara dari hati ke hati, semua itu bisa ia simpulkan sebagai bentuk dari cinta.
" Cinta? " Jordan menatap langit-langit yang nampak begitu cerah dan dihiasi oleh bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.
__ADS_1
" Kadang aku berpikir, apakah ini karma untukku? aku menyakiti Gaby, dan aku harus menyaksikan adikku diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Ibuku juga mengalami nasib yang tidak baik, sekarang putriku. " Jordan mengeraskan rahangnya menahan tangis. Sejahat dan sebrutal apapun dia beberapa tahun lalu, tapi dia juga tidak bisa mengalahkan sisi lembut dan penuh kasih yang sebenarnya itu adalah jati dirinya.
" Kadang aku juga berpikir, apakah ini semua terjadi karena perbuatan jahat ku terhadap istriku? sampai-sampai semua wanita yang ku cintai di dalam hidupku menderita. Apakah lebih baik aku mati saja? "
" Tuan, jangan mengatakan omong kosong seperti itu. " Ron menatap tegas Jordan yang masih saja menatap langit. Dan hatinya semakin terenyuh saat air mata Jordan menetes dari ujung matanya. Ron mengira, jika sudah bertemu dengan Gaby dan anak mereka, Jordan akan kembali bangkit dan menjadi seperti dulu kala. Tapi siapa yang sangka, semua masalah berbondong-bondong menyerangnya seolah membuat artian menjadi karma.
" Tuan, anda adalah orang yang kuat. Itu mengapa Tuhan selalu menguji kesabaran anda. "
" Jika boleh jujur, aku merasa sangat hancur, aku merasa ingin mati saja. Tapi aku juga takut tidak bisa melihat mereka lagi. Jadi aku harus bagaimana? "
Ron meraih pundak Jordan dan mencengkram nya kuat. Dia memang bukan Jordan, tapi setidaknya dia tahu dan bisa merasakan kedukaan yang dirasakan oleh Jordan.
" Tuan, jadilah kuat seperti dulu. Anak anda, Istri anda, Ibu anda dan Diana. Mereka sangat membutuhkan sosok yang kuat agar bisa melindungi mereka. Jadilah seorang Ayah yang seperti Ele inginkan. Ayah yang seperti pahlawan dalam cerita dongeng yang ia baca sebelum tidur. "
Jordan menatap Ron, menghapus air matanya, lalu mengangguk. Benar, sudah cukup seperti ini. Besok, dia harus menjadi Jordan yang kuat lebih kuat dari Jordan yang dulu. Sekarang dia harus melindungi semua wanitanya agar tidak ada lagi dari mereka yang menangis atau kesakitan.
" Aku akan berusaha menjadi apa yang Ele inginkan. "
Ron dan Jordan tersenyum saling menatap. Benar, inilah Jordan yang seharusnya. Batin Ron.
Dari balik pintu, Gaby yang tadinya ingin mengantarkan selimut pada Jordan, tak sengaja mendengar obrolan mereka. Karena merasa penasaran, dia memutuskan untuk mendengar semua yang mereka obrolkan. Karena merasa tidak tahan lagi, dia memilih untuk kembali ke kamar dan meletakkan selimut di kursi panjang yang akan digunakan Jordan untuk tidur. Gaby menutup bibirnya agar tak mengeluarkan suara tangisnya. Sungguh dia merasa iba dengan Jordan. Dia sama sekali tidak percaya jika dia mengalami banyak hal yang sama menyakitkannya. Ditambah lagi sekarang Ele sakit. Padahal, baru saja mereka bertemu.
Jordan, meskipun rasa sakit di hatiku masih begitu terasa, tapi sepertinya Tuhan juga sudah memberimu hukuman. Aku akan mencoba untuk memaafkan mu, demi Ele.
Bersambung...
__ADS_1